admin
Psikosomatis merujuk kepada interaksi kompleks antara kondisi psikologis dan kondisi fisik. Ada banyak penelitian yang menyebutkan faktor-faktor psikologis dapat memengaruhi kesehatan fisik seseorang. Apa dan bagaimana mengatasinya?
Dua teman karib, Mia dan Rizky, tengah meniti perjalanan jurnalistik mereka. Mereka berdua adalah pekerja gigih, mengejar berita seperti seorang detektif mengejar petunjuk. Namun, di tengah sorotan kamera dan tenggat waktu yang terus menerus mendekati, kehidupan mereka mulai berubah.
Mia, seorang jurnalis berbakat, menemukan dirinya terjebak dalam karut-marut penulisan yang tanpa henti. Teriakan tekanan redaksi dan kritik tak berkesudahan menghanyutkannya ke sungai psikosomatis. Saat tengah malam, ketika istirahat penuh tak mungkin dicapai, nyeri di bagian bawah punggungnya mulai menyiksanya.
Rizky, seorang fotografer handal, juga merasakan desakan dari bahu-bahunya yang membawa tanggung jawab berat. Setiap klik kameranya adalah tangkapan momen yang berharga. Tetapi di balik itu, tangannya yang memegang kamera seperti merasakan ketegangan tak terucap. Dia mulai merasakan kekakuan di pergelangan tangannya, sebuah gejala dari kisah panjang pekerjaan yang membebani.
Suatu hari, di antara cetak biru berita dan foto-foto yang tak kunjung selesai, Mia dan Rizky bertemu di kafe kesayangan mereka. Di tengah aroma kopi yang menguar, mereka mulai berbicara bukan hanya sebagai kolega, tetapi sebagai teman sejati. Melalui percakapan terbuka, mereka menyadari bahwa beban pekerjaan telah menciptakan koreografi tak diinginkan dalam tubuh mereka.
Bersama, mereka memutuskan untuk bahu membahu mengatasi psikosomatis yang mereka alami. Dengan membagi beban pekerjaan, memberikan dukungan satu sama lain, dan mengejar gaya hidup yang sehat, mereka mulai memperbaiki kesehatan mereka. Yang dulunya tekanan menjadi gerakan yang lebih dinamis, menciptakan kesadaran baru akan keseimbangan antara pekerjaan dan kesejahteraan.
Meski cerita yang dihadapi tak selalu indah, melalui persahabatan dan kesadaran akan tubuh dan pikiran, Mia dan Rizky menemukan bahwa kisah hidup mereka adalah campuran harmonis antara pekerjaan dan kebahagiaan.
Fenomena cerita tentang Mia dan Rizky mencerminkan keterkaitan yang erat antara pikiran dan tubuh. Tekanan, stres, dan emosi dapat memiliki dampak signifikan kepada kesehatan secara keseluruhan. Salah satu contoh yang umum adalah manifestasi gejala fisik sebagai respons terhadap stres atau ketegangan emosional. Seseorang mungkin mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, atau bahkan masalah jantung sebagai hasil dari tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Baca Juga: Mengenali Ciri-Ciri Pengidap Depresi
Faktor-faktor seperti kecemasan, depresi, dan stres kronis dapat memicu respon tubuh yang berdampak kepada sistem kekebalan, sistem hormonal, dan sistem saraf. Beberapa kondisi medis yang sering terkait dengan psikosomatis melibatkan gangguan autoimun, gangguan pencernaan, dan penyakit kardiovaskular. Ini menegaskan bahwa kesehatan mental dan fisik tidak dapat dipisahkan secara tegas dan perlu diperlakukan sebagai kesatuan yang saling memengaruhi.
Penyebab Psikosomatis
Penyebab psikosomatis melibatkan kompleksitas interaksi antara faktor-faktor psikologis dan kondisi fisik. Beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan manifestasi gejala psikosomatis melibatkan stres, kecemasan, dan depresi. Stres kronis atau peristiwa traumatis dapat menjadi pencetus utama, memicu respons fisik yang berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.
1. Stres dan Kecemasan
Ketegangan yang berasal dari tuntutan hidup sehari-hari, pekerjaan, atau hubungan dapat memicu respons stres yang memengaruhi sistem tubuh. Kecemasan yang tidak tertangani juga dapat menjadi pemicu utama.
2. Depresi
Kondisi depresi dapat memanifestasikan dirinya secara fisik melalui gejala seperti kelelahan, gangguan tidur, atau nyeri tubuh. Ini adalah contoh bagaimana kondisi mental dapat berdampak langsung kepada kesehatan fisik.
3. Trauma Emosional
Pengalaman traumatis atau kejadian emosional berat dapat meninggalkan bekas dalam bentuk gejala fisik. Contohnya, seseorang yang mengalami kecelakaan mungkin mengalami nyeri kronis sebagai respons psikosomatis.
ilustrasi psikosomatik - KedaiKata | canva.com
Penanganan Psikosomatis
1. Psikoterapi
Terapi psikologis, seperti kognitif perilaku atau terapi percakapan, dapat membantu seseorang memahami dan mengelola stres, kecemasan, atau depresi yang mungkin menjadi penyebab psikosomatis.
2. Relaksasi dan Meditasi
Teknik-teknik relaksasi, meditasi, dan latihan pernapasan dapat membantu mengurangi stres dan meredakan respons tubuh terhadap tekanan psikologis.
3. Olahraga dan Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik teratur dapat menjadi alat yang efektif untuk melepaskan ketegangan emosional dan memperbaiki keseimbangan antara pikiran dan tubuh.
4. Pengelolaan Stres
Strategi pengelolaan stres, seperti penjadwalan waktu istirahat, mengidentifikasi pemicu stres, dan membangun dukungan sosial, dapat membantu mencegah respons psikosomatis.
Sobat KedaiKata, jika gejala terus berlanjut atau memburuk, sebaiknya segeralah mencari bantuan profesional. Pelayanan kesehatan mental dapat memberikan dukungan dan bimbingan untuk memahami dan mengatasi hubungan antara aspek psikologis dan fisik dari kondisi psikosomatis.
Kita harus menyadari bahwa pendekatan holistik terhadap kesehatan, yang mencakup perawatan baik untuk pikiran maupun tubuh, dapat memainkan peran penting dalam penanganan kondisi psikosomatis. Perawatan psikoterapi, meditasi, dan latihan fisik dapat menjadi bagian dari strategi untuk mengelola tekanan psikologis dan meningkatkan kesehatan secara menyeluruh. Dengan memahami keterkaitan ini, kita dapat membangun kesadaran yang lebih baik tentang bagaimana keadaan pikiran kita dapat memengaruhi kesehatan tubuh kita, dan sebaliknya. [][Eva Evilia/KK]
*penulisan artikel ini dibantu ChatGPT
Belum ada komentar !