Malam itu rumah mereka lebih ramai daripada biasanya.


Tetangga datang mengucapkan selamat. Saudara mengirim pesan singkat. Di grup keluarga, nama anak sulung itu berulang kali disebut sebagai kebanggaan keluarga karena berhasil diterima di perguruan tinggi negeri. Ibunya beberapa kali mengusap mata. Ayahnya tersenyum lebih banyak daripada biasanya. Selama beberapa jam, rumah sederhana itu dipenuhi perasaan yang telah mereka tunggu bertahun-tahun.


Perjalanan menuju malam itu memang tidak mudah. Anak mereka belajar selama berbulan-bulan, mengikuti berbagai try out, mengurangi waktu bermain, dan berkali-kali menghadapi rasa takut tidak lolos seleksi. Orangtuanya juga ikut berjuang dengan caranya sendiri. Mereka berusaha menyediakan ruang belajar yang tenang, menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli buku atau kuota internet, dan berkali-kali menguatkan anaknya ketika rasa lelah mulai muncul menjelang ujian.


Ketika pengumuman kelulusan akhirnya tiba dan nama anak mereka benar-benar muncul di layar, rasanya seperti seluruh pengorbanan itu menemukan jawabannya. Tak ada pesta besar. Tidak ada perayaan yang mewah. Malam itu, mereka hanya percaya satu hal: hidup mungkin akan berubah menjadi lebih baik. Sayang, harapan itu tidak bertahan lama.


Beberapa hari kemudian, keluarga tersebut mulai membuka halaman demi halaman informasi mengenai proses daftar ulang. Mereka membaca besaran Uang Kuliah Tunggal [UKT]. Mereka mulai menghitung biaya tempat tinggal karena kampus berada di kota lain. Mereka memperkirakan ongkos perjalanan, kebutuhan makan setiap bulan, laptop yang mulai menua, biaya praktikum, buku, hingga berbagai pengeluaran kecil yang sebelumnya tidak pernah benar-benar masuk ke dalam pembicaraan keluarga.


Percakapan di rumah pun berubah. Malam-malam yang sebelumnya dipenuhi ucapan selamat perlahan berganti menjadi hitung-hitungan yang jauh lebih sunyi. Berapa tabungan yang masih tersedia. Apakah motor perlu dijual? Apakah ada keluarga yang bisa membantu? Apakah pinjaman jadi pilihan yang masuk akal? Hingga pada suatu malam, muncul pertanyaan yang mungkin menjadi salah satu kalimat paling berat dalam perjalanan menuju bangku kuliah: "Kalau dipaksakan, kita sanggup tidak?"


Pertanyaan seperti itu mungkin tak pernah tercatat dalam statistik pendidikan. Ia tidak muncul dalam grafik penerimaan mahasiswa baru. Ia juga tidak masuk ke dalam berbagai laporan resmi yang membahas angka partisipasi pendidikan tinggi. Di balik setiap calon mahasiswa yang akhirnya tidak melakukan daftar ulang, hampir selalu ada percakapan-percakapan kecil yang berlangsung di ruang makan, di ruang tamu, atau di teras rumah. Percakapan yang tidak terdengar oleh publik, tetapi menentukan masa depan seseorang.


Beberapa pekan terakhir, perhatian masyarakat tertuju pada kabar mengenai puluhan hingga ratusan ribu calon mahasiswa yang tidak melanjutkan proses daftar ulang setelah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru [SNPMB]. Angka tersebut segera memunculkan berbagai perdebatan. Sebagian mempertanyakan besarnya biaya kuliah. Sebagian lain mengingatkan bahwa banyak kampus telah menyediakan berbagai skema bantuan. Ada pula yang melihat persoalan ini sebagai bagian dari situasi ekonomi yang sedang dihadapi banyak keluarga Indonesia.


Perdebatan itu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang terasa lebih mendasar dan jarang benar-benar dibahas: Mengapa semakin banyak keluarga mulai merasa bahwa kuliah bukan lagi sesuatu yang secara wajar dapat mereka jangkau?


Pertanyaan tersebut berbeda dengan sekadar bertanya apakah biaya kuliah mahal atau tidak. Mahal adalah ukuran yang dapat berbeda bagi setiap orang. Yang satu menganggap biaya tertentu masih masuk akal. Yang lain mungkin merasa biaya yang sama sudah melampaui kemampuan keluarganya. Karena itu, pembahasan mengenai mahal atau murah sering berhenti pada pengalaman masing-masing.


Yang lebih menarik justru adalah perubahan perasaan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat. Ada semakin banyak keluarga yang bahkan sebelum menghitung biaya secara rinci sudah lebih dahulu merasa bahwa perguruan tinggi bukan lagi ruang yang dekat dengan kehidupan mereka. Anak-anak tetap didorong belajar dengan sungguh-sungguh. Orangtua tetap berharap anaknya dapat melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Tetapi ketika pembicaraan mulai menyentuh proses masuk perguruan tinggi, harapan tersebut perlahan bercampur dengan kecemasan yang semakin sulit disembunyikan.


Barangkali di sinilah letak persoalan yang sebenarnya. Barang mewah tidak selalu berarti barang yang paling mahal. Sebuah barang disebut mewah karena ia terasa semakin jauh dari jangkauan kebanyakan orang. Orang masih dapat melihatnya. Orang masih dapat menginginkannya. Namun di saat yang sama, semakin banyak yang mulai merasa bahwa barang tersebut bukan lagi sesuatu yang mungkin mereka miliki.


Apakah perasaan semacam itu perlahan juga mulai muncul terhadap pendidikan tinggi? Kalau pertanyaan itu terdengar berlebihan, mungkin kita perlu mengingat kembali bagaimana pendidikan selama puluhan tahun dipahami oleh banyak keluarga Indonesia. Kuliah bukan hanya tentang memperoleh gelar. Ia dipandang sebagai jalan untuk mengubah kehidupan. Ia menjadi simbol harapan bahwa anak dapat hidup lebih baik daripada orangtuanya. Ia menjadi investasi keluarga, bukan semata dalam arti ekonomi, tetapi juga dalam arti martabat, kesempatan, dan masa depan.


Ketika keyakinan tersebut mulai terganggu, yang sedang berubah bukan hanya cara orang membayar biaya pendidikan. Yang ikut berubah adalah cara masyarakat memandang masa depan.


Boleh jadi, akar persoalan yang perlu kita bicarakan bersama bermula dari sini.



Ketika Surat Kelulusan Tak Lagi Selalu Membawa Kabar Gembira

Diterima di perguruan tinggi pernah menjadi salah satu kabar paling membahagiakan bagi sebuah keluarga. Ia bukan hanya kabar tentang seorang anak yang berhasil melewati seleksi. Ia juga menjadi kabar tentang doa orangtua yang merasa usahanya tidak sia-sia, tentang guru yang bangga kepada muridnya, dan tentang keluarga besar yang melihat satu harapan baru mulai terbuka.


Di banyak rumah, kabar seperti itu biasanya langsung menyebar. Tetangga ikut mendengar. Saudara jauh memberi selamat. Nama kampus mulai disebut dengan rasa bangga. Bahkan orangtua yang biasanya tidak banyak bicara dapat terlihat lebih ringan wajahnya karena merasa anaknya akan masuk ke jalan yang lebih baik daripada jalan yang pernah mereka tempuh.


Selama bertahun-tahun, imajinasi seperti itu hidup kuat di tengah masyarakat. Kuliah dianggap sebagai pintu menuju kehidupan yang lebih layak. Anak yang berhasil masuk perguruan tinggi sering dilihat sebagai anak yang akan membawa keluarganya naik satu anak tangga. Tidak selalu kaya, tidak selalu menjadi pejabat, tetapi setidaknya memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan, penghasilan, dan kehidupan yang lebih stabil.


Karena itu, surat kelulusan tidak pernah hanya menjadi dokumen administratif. Bagi banyak keluarga, ia adalah simbol. Di dalamnya ada kebanggaan, rasa lega, dan bayangan masa depan yang selama ini dibicarakan dengan penuh harap. Sebagian keluarga mungkin tidak benar-benar memahami jurusan yang dipilih anaknya, tetapi mereka memahami satu hal: anak itu sedang mendekati sesuatu yang selama ini dianggap penting.


Masalahnya, dalam beberapa tahun terakhir, kabar diterima kuliah tidak selalu datang bersama rasa lega yang utuh. Setelah kegembiraan pertama berlalu, banyak keluarga segera masuk ke tahap yang jauh lebih berat: menghitung kemampuan. Mereka tidak lagi hanya bertanya kampus mana yang menerima anak mereka, tetapi juga berapa biaya yang harus disiapkan agar anak itu benar-benar bisa duduk di ruang kelas.


Di titik inilah surat kelulusan mulai memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia membawa kebanggaan. Di sisi lain, ia membuka daftar panjang kebutuhan yang harus dipenuhi dalam waktu yang sering terasa sangat singkat. Keluarga yang sebelumnya menangis karena bahagia dapat berubah menjadi keluarga yang diam-diam cemas setelah melihat angka-angka yang harus mereka hadapi.


Uang Kuliah Tunggal biasanya menjadi angka pertama yang diperiksa. Tetapi bagi banyak keluarga, persoalan tidak berhenti di sana. Kuliah membutuhkan tempat tinggal jika kampus berada jauh dari rumah. Ada biaya makan harian, transportasi, perangkat belajar, buku, praktikum, pakaian, kegiatan kampus, dan biaya-biaya kecil lain yang jika dijumlahkan dapat terasa sangat besar.


Sebagian keluarga mungkin masih sanggup membayar UKT, tetapi tidak sanggup menanggung biaya hidup di kota lain. Sebagian lain mungkin dapat mengupayakan uang daftar ulang, tetapi tidak yakin mampu membayar kebutuhan bulanan selama empat tahun. Ada pula keluarga yang sejak awal sudah tahu bahwa angka di layar itu tidak mungkin mereka kejar, meskipun anaknya telah berhasil melewati seleksi yang tidak mudah.


Situasi ini membuat makna ‘lolos’ menjadi lebih rumit. Secara akademik, seorang calon mahasiswa telah berhasil. Namanya tercatat sebagai peserta yang diterima. Ia telah melewati persaingan dengan ribuan peserta lain dan memenuhi standar yang ditetapkan. Tetapi secara sosial dan ekonomi, perjalanan itu belum tentu benar-benar terbuka.


Di sinilah letak luka yang jarang terlihat. Seorang anak dapat merasa berhasil dan gagal hampir pada saat yang sama. Ia berhasil karena diterima. Ia merasa gagal karena mungkin tidak mampu melanjutkan. Padahal kegagalan itu bukan sepenuhnya miliknya. Ia berada di tengah keadaan yang jauh lebih besar daripada kemampuan seorang anak atau satu keluarga untuk menyelesaikannya sendirian.


Bagi orangtua, situasinya tidak kalah berat. Mereka tentu ingin mengatakan iya. Mereka ingin anaknya berangkat. Mereka ingin membuktikan bahwa kerja keras selama ini tidak berhenti di depan pintu kampus. Tetapi mereka juga harus melihat kenyataan dengan mata terbuka. Jika memaksakan diri, ada kebutuhan keluarga lain yang mungkin terganggu. Jika berutang, ada beban panjang yang belum tentu mampu mereka tanggung.


Dalam keluarga yang hidup di tengah ekonomi tidak pasti, keputusan semacam ini tidak pernah sederhana. Satu keputusan bisa memengaruhi banyak hal sekaligus. Biaya kuliah seorang anak dapat berarti berkurangnya biaya sekolah adiknya, tertundanya perbaikan rumah, atau hilangnya simpanan yang selama ini disiapkan untuk keadaan darurat. Ketika pendapatan keluarga tidak stabil, setiap pengeluaran besar selalu membawa risiko yang lebih panjang daripada angka yang terlihat di awal.


Karena itu, ketika seorang calon mahasiswa tidak melakukan daftar ulang, kita sebaiknya tidak cepat menyimpulkan bahwa ia tidak serius. Bisa jadi ia justru terlalu memahami keadaan keluarganya. Bisa jadi ia melihat wajah orangtuanya yang mulai cemas, mendengar percakapan yang makin pelan di rumah, atau menyadari bahwa mimpinya membutuhkan biaya yang terlalu besar untuk ditanggung bersama.


Ada anak-anak yang akhirnya memilih mundur bukan karena tidak ingin belajar. Ada yang menunda kuliah karena ingin bekerja lebih dulu. Ada yang mencari kampus lain yang lebih dekat dan lebih murah. Ada pula yang memilih diam, lalu berpura-pura baik-baik saja ketika orang bertanya mengapa ia tidak jadi berangkat.


Di permukaan, keputusan itu mungkin terlihat seperti urusan administrasi. Seseorang diterima, lalu tidak daftar ulang. Dalam data, ia menjadi angka. Dalam sistem, kursinya mungkin dialihkan kepada orang lain. Tetapi di dalam kehidupan sebuah keluarga, keputusan itu bisa menjadi peristiwa yang membekas lama.


Sebab yang hilang bukan hanya kesempatan kuliah di satu kampus. Yang ikut hilang adalah bayangan masa depan yang sempat terasa begitu dekat. Beberapa hari sebelumnya, keluarga itu mungkin sudah membayangkan hari keberangkatan, kamar kos pertama, foto memakai jas almamater, atau kabar pertama dari kota tempat anaknya belajar. Semua bayangan itu mendadak harus ditata ulang ketika kenyataan ekonomi berbicara dengan suara yang lebih keras.


Pada bagian inilah kita mulai melihat mengapa kuliah terasa semakin seperti barang mewah. Bukan karena semua kampus tidak terjangkau. Bukan karena setiap keluarga pasti tidak mampu. Melainkan karena bagi semakin banyak orang, perjalanan menuju pendidikan tinggi terasa penuh pintu tambahan yang harus dibuka dengan biaya, keberanian, dan ketahanan ekonomi yang tidak semua keluarga miliki.


Surat kelulusan masih membawa kabar gembira. Ia tetap menjadi tanda bahwa seorang anak telah berjuang dan berhasil melewati satu tahap penting. Tetapi bagi sebagian keluarga, kabar gembira itu kini datang bersama pertanyaan yang semakin sulit diabaikan: setelah diterima, apakah jalan menuju kelas benar-benar terbuka?



Kuliah Tak Lagi Hanya Soal Lulus Seleksi

Selama bertahun-tahun, masyarakat mengenal satu kalimat yang hampir selalu diucapkan kepada anak-anak yang sedang mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi: belajarlah yang rajin, supaya bisa masuk kampus negeri.


Kalimat itu lahir dari keyakinan bahwa tantangan terbesar memang berada di pintu masuk. Jika berhasil melewati seleksi, perjalanan berikutnya dianggap akan berjalan lebih ringan. Kampus telah menerima. Artinya, kesempatan sudah berada di depan mata.


Hari ini, keyakinan tersebut mulai bergeser. Lulus seleksi memang tetap menjadi pencapaian yang tidak mudah. Persaingan masuk perguruan tinggi negeri semakin ketat dari tahun ke tahun. Ribuan siswa mempersiapkan diri selama berbulan-bulan untuk memperebutkan kursi yang jumlahnya terbatas. Ketika nama mereka akhirnya muncul sebagai peserta yang diterima, perjuangan akademik itu memang layak dirayakan.


Tetapi bagi banyak keluarga, seleksi ternyata bukan garis akhir. Ia justru menjadi awal dari perjuangan yang berbeda. Perjuangan pertama adalah menghitung biaya yang benar-benar harus dikeluarkan. Banyak orang masih mengira biaya kuliah hanya terdiri atas Uang Kuliah Tunggal. Padahal dalam praktiknya, kehidupan seorang mahasiswa dibentuk oleh berbagai kebutuhan lain yang tidak kalah penting. Tempat tinggal, makan sehari-hari, transportasi, perangkat belajar, akses internet, praktikum, hingga biaya pulang ke kampung halaman pada masa libur menjadi bagian dari pengeluaran yang tidak bisa diabaikan.


Perhitungan itu menjadi semakin berat ketika kampus berada di kota yang berbeda dengan tempat tinggal keluarga. Ada orangtua yang masih sanggup membayar UKT, tetapi tidak mampu membiayai anaknya tinggal di kota lain selama bertahun-tahun. Ada pula yang mampu menanggung biaya hidup, tetapi kesulitan memenuhi pembayaran awal yang harus dilakukan dalam waktu singkat. Tidak sedikit keluarga yang akhirnya menyadari bahwa persoalan mereka bukan terletak pada satu komponen biaya, melainkan akumulasi dari semuanya.


Situasi ekonomi beberapa tahun terakhir ikut memperumit keadaan tersebut. Harga kebutuhan pokok yang meningkat, pendapatan yang tidak selalu stabil, serta ketidakpastian pekerjaan membuat banyak keluarga menjadi jauh lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan jangka panjang. Pengeluaran yang dulu masih mungkin dipaksakan, kini harus dipikirkan berulang kali.


Dalam kondisi seperti itu, kuliah tidak lagi dinilai hanya sebagai cita-cita pendidikan. Ia juga menjadi keputusan ekonomi keluarga.


Keputusan tersebut tentu bukan sesuatu yang salah. Setiap keluarga memang berhak mempertimbangkan kemampuan finansialnya sebelum mengambil langkah besar. Persoalannya, ketika semakin banyak keluarga sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak mampu melanjutkan pendidikan anaknya, kita sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar persoalan anggaran rumah tangga.


Kita sedang melihat bagaimana akses terhadap pendidikan tinggi semakin dipengaruhi oleh kemampuan bertahan menghadapi tekanan ekonomi.


Akibatnya, makna keberhasilan pun ikut berubah. Dahulu, seorang siswa dianggap berhasil ketika ia lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Kini, keberhasilan itu terasa belum lengkap sebelum ia benar-benar dapat duduk di ruang kuliah pada hari pertama. Di antara dua peristiwa tersebut, terdapat jurang yang bagi sebagian keluarga semakin sulit diseberangi.


Jurang itu tidak selalu terlihat dalam berbagai angka resmi. Ia hadir dalam percakapan yang tertunda, rencana yang dibatalkan, dan keputusan-keputusan kecil yang harus diambil sebuah keluarga untuk menjaga keseimbangan hidupnya. Ada orangtua yang memilih menunda pengobatan. Ada yang membatalkan renovasi rumah. Ada yang mengambil pekerjaan tambahan. Ada pula yang akhirnya meminta anaknya menunggu satu tahun lagi sambil bekerja dan menabung.


Tidak semua cerita berakhir dengan kegagalan. Banyak keluarga berhasil menemukan jalan keluarnya melalui beasiswa, bantuan kerabat, pekerjaan sambilan, atau berbagai bentuk dukungan lain. Kisah-kisah seperti itu patut diapresiasi karena menunjukkan besarnya semangat untuk mempertahankan pendidikan.


Meski demikian, kisah-kisah yang berhasil bertahan tidak boleh membuat kita lupa pada mereka yang berhenti di tengah jalan. Mereka sering tidak terlihat karena memilih diam. Mereka tidak membuat pernyataan di media. Mereka tidak menggelar protes. Mereka hanya menghilang dari daftar mahasiswa baru, lalu melanjutkan hidup dengan jalan yang sama sekali berbeda dari yang sempat mereka bayangkan beberapa minggu sebelumnya.


Mungkin di sinilah pertanyaan yang lebih besar mulai muncul. Jika semakin banyak anak berhasil membuktikan kemampuan akademiknya, tetapi tidak semuanya mampu membuktikan kemampuan ekonominya, sesungguhnya ujian apa yang sedang kita selenggarakan? Apakah pendidikan tinggi masih terutama menguji kesiapan belajar, atau perlahan ikut menguji daya tahan finansial sebuah keluarga?



Mengapa Pendidikan Terasa Semakin Mewah?

Tidak semua barang mewah memiliki harga paling mahal.


Sebuah buku edisi langka dapat disebut mewah meskipun harganya lebih murah dibanding sebuah telepon genggam. Sebuah rumah tua di pusat kota dapat terasa mewah bukan semata karena nilainya, tetapi karena semakin sedikit orang yang mampu memilikinya. Kata mewah seringkali tidak hanya berbicara tentang harga. Ia juga berbicara tentang jarak.


Sesuatu mulai terasa mewah ketika masyarakat perlahan berhenti menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar untuk dimiliki. Orang masih melihatnya. Mereka masih menginginkannya. Akan tetapi pada saat yang sama, mereka mulai berkata dalam hati, "Itu bukan untuk orang seperti saya."


Barangkali pergeseran cara pandang itulah yang pelan-pelan mulai terjadi terhadap pendidikan tinggi.


Selama beberapa dasawarsa, kuliah dipahami sebagai cita-cita yang layak diperjuangkan oleh siapa pun. Tidak semua orang berhasil mencapainya, tetapi sebagian besar keluarga masih percaya bahwa dengan belajar keras dan berusaha sungguh-sungguh, kesempatan itu tetap terbuka. Jalan menuju perguruan tinggi memang menanjak, tetapi orang merasa tanjakan itu masih mungkin didaki.


Hari ini, keyakinan tersebut mulai diuji oleh kenyataan yang lebih rumit. Persoalannya bukan karena masyarakat berhenti menghargai pendidikan. Justru sebaliknya. Orangtua tetap ingin anaknya kuliah. Anak-anak tetap percaya bahwa pendidikan dapat mengubah hidup. Yang berubah adalah keyakinan bahwa usaha keras saja cukup untuk membuka pintu tersebut.


Ketika semakin banyak keluarga mulai merasa bahwa keberhasilan akademik belum tentu diikuti oleh kemampuan ekonomi, pendidikan tinggi perlahan bergeser dalam imajinasi sosial kita. Ia tidak lagi sekadar jadi tujuan yang menantang. Ia mulai terasa seperti sesuatu yang membutuhkan sumber daya yang tak dimiliki semua orang.


Perubahan semacam ini layak mendapat perhatian karena ia bekerja secara diam-diam. Tidak ada pengumuman resmi yang mengatakan bahwa perguruan tinggi kini hanya untuk kelompok tertentu. Begitu pula dengan aturan yang secara terang-terangan menutup pintu bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun sebuah masyarakat dapat mengalami perubahan besar bahkan tanpa adanya larangan yang tertulis. Kadang perubahan itu lahir dari perasaan bersama yang tumbuh sedikit demi sedikit.


Ketika semakin banyak keluarga berkata, "Sepertinya kuliah bukan lagi pilihan yang realistis bagi kami," sesungguhnya yang sedang berubah bukan hanya keputusan satu rumah tangga. Yang berubah adalah imajinasi kolektif tentang masa depan.



Ketika Pendidikan Jadi Mimpi yang Harus Dinegosiasikan

Mungkin yang paling menyedihkan dari semua ini bukanlah ketika seorang anak akhirnya tidak jadi kuliah. Yang lebih menyedihkan adalah ketika sebuah keluarga mulai merasa bahwa mereka harus menegosiasikan mimpi yang selama bertahun-tahun mereka rawat bersama.


Negosiasi itu jarang berlangsung dalam satu percakapan besar. Ia muncul sedikit demi sedikit. Orangtua mulai bertanya apakah kampus yang lebih dekat bisa menjadi pilihan. Anak mulai berkata tidak apa-apa jika harus bekerja lebih dulu. Saudara mulai mengusulkan agar kuliah ditunda satu tahun. Kalimat-kalimat tersebut terdengar masuk akal. Bahkan sering diucapkan dengan niat baik. Tetapi jika disusun menjadi satu cerita utuh, kita dapat melihat bahwa sebuah keluarga sedang berusaha menyesuaikan impian mereka dengan kemampuan yang mereka miliki.


Tidak semua penyesuaian berakhir buruk. Ada anak yang berhasil bekerja sambil kuliah. Ada yang memperoleh beasiswa pada kesempatan berikutnya. Ada pula yang menemukan jalan hidup lain dan tetap berhasil. Kehidupan selalu memberi kemungkinan yang beragam, dan pendidikan tinggi bukan satu-satunya jalan menuju masa depan yang baik.


Akan tetapi, kenyataan itu tidak menghapus satu pertanyaan yang tetap mengganggu. Mengapa semakin banyak keluarga merasa harus lebih dahulu berunding dengan keadaan ekonomi sebelum berani memelihara cita-cita anaknya?


Selama ini kita sering mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi. Kalimat itu tidak salah. Pendidikan memang memberi manfaat yang panjang bagi seseorang maupun bagi masyarakat. Namun di banyak rumah, pendidikan belum pernah dirasakan sebagai istilah ekonomi. Ia lebih dulu dipahami sebagai harapan.


Harapan itu tidak selalu diucapkan dengan kata-kata besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Seorang ayah berharap anaknya tidak perlu bekerja sejak usia belasan seperti dirinya dahulu. Seorang ibu ingin anaknya memiliki lebih banyak pilihan ketika dewasa. Ada pula keluarga yang hanya ingin melihat satu anggota keluarganya berhasil menembus dunia yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupan mereka. Di balik semua harapan itu, kuliah dipandang sebagai pintu yang mungkin membawa seseorang menuju kehidupan yang sedikit lebih baik.


Ketika harapan tersebut mulai dipenuhi oleh berbagai perhitungan yang tidak mudah, pendidikan perlahan kehilangan sebagian makna emosionalnya. Ia tetap penting. Ia tetap dihormati. Tetapi ia tak lagi terasa dekat. Ia berubah menjadi sesuatu yang harus dipastikan berkali-kali sebelum berani diraih.


Mungkin di sinilah kata mewah menemukan maknanya.


Sesuatu disebut mewah bukan hanya karena mahal, melainkan karena semakin sedikit orang yang merasa dirinya pantas berharap dapat memilikinya. Perasaan itu bekerja sangat pelan. Tidak ada hari tertentu ketika masyarakat tiba-tiba sepakat mengatakan bahwa kuliah telah menjadi barang mewah. Yang ada hanyalah ribuan keluarga yang, satu per satu, mulai menurunkan harapan mereka agar sesuai dengan kenyataan yang sedang dihadapi.


Perubahan seperti ini sering luput dari perhatian karena ia tidak mudah diukur. Kita dapat menghitung jumlah mahasiswa baru. Kita dapat menghitung besaran UKT. Kita bahkan dapat menghitung berapa banyak calon mahasiswa yang akhirnya tidak melakukan daftar ulang. Meski begitu, jauh lebih sulit menghitung berapa banyak anak yang sejak awal memilih tidak mendaftar karena merasa keluarganya tidak akan mampu membiayai kuliah. Jauh lebih sulit lagi menghitung berapa banyak orangtua yang diam-diam menyimpan rasa bersalah karena tidak dapat membuka jalan yang selama ini mereka impikan untuk anaknya.


Angka selalu penting untuk memahami sebuah persoalan. Tetapi angka tidak pernah sepenuhnya mampu menangkap rasa putus asa yang tumbuh perlahan di dalam sebuah keluarga. Ia juga tidak mampu merekam percakapan-percakapan yang sengaja dipelankan agar anak tidak mendengar kecemasan orangtuanya.


Mungkin karena itu, persoalan pendidikan tidak pernah cukup dibaca sebagai persoalan biaya semata. Di dalamnya ada soal kesempatan, ada soal rasa percaya terhadap masa depan, dan ada soal keyakinan bahwa setiap anak, apa pun latar belakang keluarganya, tetap memiliki ruang untuk bermimpi setinggi mungkin.


Sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung kampus yang megah atau jumlah lulusan yang terus bertambah. Ia juga dibangun oleh keyakinan bersama bahwa pintu-pintu pendidikan tetap terbuka bagi siapa pun yang mau belajar. Ketika keyakinan itu mulai memudar, yang kehilangan bukan hanya mereka yang gagal duduk di bangku kuliah tahun ini.


Yang ikut kehilangan adalah masyarakat itu sendiri.



Untuk Siapa Pendidikan Tinggi Dibangun?

Ketika berbicara tentang pendidikan tinggi, perhatian kita sering berhenti pada satu pertanyaan yang sangat praktis: berapa biaya yang harus dibayar agar seseorang dapat kuliah? Pertanyaan tersebut memang penting karena menyangkut kemampuan nyata setiap keluarga. Tetapi jika berhenti di sana, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk melihat persoalan yang lebih besar.


Sebuah perguruan tinggi tidak pernah dibangun hanya untuk menghasilkan lulusan. Sejak awal, universitas hadir sebagai ruang tempat sebuah masyarakat menyiapkan generasi berikutnya. Di sana ilmu pengetahuan dikembangkan, gagasan diperdebatkan, penelitian dilakukan, dan berbagai persoalan publik dicari jalan keluarnya. Kampus bukan sekadar tempat seseorang memperoleh ijazah, melainkan tempat sebuah bangsa menanam investasi jangka panjang pada kualitas manusianya.


Karena itu, pembicaraan mengenai akses terhadap pendidikan tinggi sesungguhnya tidak hanya menyangkut kepentingan calon mahasiswa. Ia juga menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Ketika semakin banyak anak yang memiliki kemampuan belajar tetapi tidak mampu melanjutkan pendidikan, yang kehilangan bukan hanya mereka sebagai individu. Bangsa ini pun kehilangan sebagian dari potensi yang mungkin tidak pernah sempat berkembang.


Kita sering mendengar ungkapan bahwa Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang unggul untuk menghadapi masa depan. Ungkapan tersebut tidak keliru. Persoalannya, sumber daya manusia tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari proses pendidikan yang panjang, dari kesempatan yang terbuka, dan dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuannya, apa pun latar belakang keluarganya.


Di sinilah pendidikan berbeda dengan banyak layanan publik lainnya. Pendidikan tidak hanya memberi manfaat kepada orang yang menerimanya. Seorang dokter yang lahir dari bangku kuliah akan melayani ribuan pasien sepanjang hidupnya. Seorang guru akan mendidik generasi berikutnya. Seorang peneliti mungkin menemukan solusi atas persoalan yang hari ini bahkan belum kita bayangkan. Dampaknya melampaui individu yang duduk di ruang kelas pada hari pertama kuliah.


Karena itulah banyak negara memandang pendidikan tinggi bukan semata sebagai urusan pribadi antara mahasiswa dan kampus. Ia diperlakukan sebagai bagian dari investasi sosial. Negara, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan sama-sama memiliki kepentingan agar sebanyak mungkin talenta dapat berkembang tanpa terlalu dibatasi oleh keadaan ekonomi keluarganya.


Tentu saja tidak ada sistem yang sepenuhnya sempurna. Perguruan tinggi membutuhkan biaya untuk menjalankan pendidikan, membangun laboratorium, membayar dosen, memperbarui fasilitas, dan mendukung penelitian. Kampus juga menghadapi berbagai tekanan yang tidak sederhana. Di sisi lain, kemampuan negara maupun masyarakat untuk membiayai pendidikan juga memiliki batasnya masing-masing. Karena itu, persoalan akses terhadap pendidikan tinggi tidak pernah dapat diselesaikan dengan satu jawaban yang sederhana.


Justru karena itulah percakapan mengenai pendidikan perlu dijaga agar tidak berhenti pada saling menyalahkan. Jika seluruh energi hanya dihabiskan untuk mencari pihak yang paling bertanggung jawab, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk membahas pertanyaan yang jauh lebih mendasar: seperti apa sistem pendidikan tinggi yang ingin kita bangun bersama?


Pertanyaan tersebut menjadi penting karena setiap keputusan yang diambil hari ini akan memengaruhi kehidupan puluhan tahun ke depan. Anak yang gagal melanjutkan kuliah tahun ini mungkin akan tetap menemukan jalannya sendiri. Banyak orang berhasil tanpa pendidikan tinggi, dan sejarah mencatat cukup banyak contoh tentang hal itu. Tetapi sebuah bangsa tidak dapat menyusun masa depannya dengan mengandalkan pengecualian. Ia harus dibangun di atas sistem yang memberi kesempatan seluas mungkin kepada mereka yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar.


Mungkin itulah sebabnya isu pendidikan selalu menyentuh perasaan banyak orang. Di dalamnya ada harapan pribadi, ada pengorbanan keluarga, ada cita-cita tentang masa depan, sekaligus ada pertanyaan tentang arah sebuah bangsa. Semua lapisan itu bertemu ketika seorang anak menerima surat kelulusan, lalu keluarganya mulai bertanya apakah mereka mampu membuka pintu yang sudah ada di depan mata.


Barangkali kita memang belum memiliki semua jawaban atas persoalan ini. Tetapi satu hal tampaknya layak terus dijaga: jangan sampai pendidikan tinggi perlahan berubah menjadi ruang yang hanya terasa mungkin dimasuki oleh mereka yang sejak awal sudah memiliki banyak pilihan. Sebab jika keyakinan itu benar-benar mengakar, yang kehilangan bukan hanya satu angkatan mahasiswa.


Yang kehilangan adalah kepercayaan bersama bahwa pendidikan masih menjadi jalan yang terbuka bagi siapa saja yang bersedia belajar dan bekerja keras.



Penutup

Sulit memastikan sejak kapan begitu banyak keluarga mulai merasa bahwa kuliah semakin jauh dari jangkauan mereka. Perubahan semacam itu tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan, mengikuti perubahan ekonomi, biaya hidup, kebijakan pendidikan, dan berbagai dinamika lain yang saling bertemu dalam kehidupan sehari-hari.


Karena itu, persoalan ini tidak akan selesai jika hanya dibaca dari satu sisi. Ia bukan semata persoalan besarnya Uang Kuliah Tunggal. Ia juga bukan sekadar soal kemampuan ekonomi keluarga. Di balik keputusan seorang calon mahasiswa untuk melanjutkan atau mengurungkan niatnya kuliah, terdapat persoalan yang jauh lebih berlapis. Ada perubahan cara masyarakat memandang pendidikan. Ada tekanan ekonomi yang membuat banyak keluarga harus menghitung ulang masa depannya. Ada sistem yang terus berkembang mengikuti tuntutan zaman. Ada pula harapan yang perlahan berubah menjadi keraguan.


Barangkali inilah sebabnya isu pendidikan hampir selalu menyentuh begitu banyak orang. Hampir setiap keluarga Indonesia pernah menitipkan harapan kepada sekolah. Banyak orangtua percaya bahwa kehidupan anak-anak mereka dapat menjadi lebih baik melalui pendidikan. Banyak anak tumbuh dengan keyakinan bahwa belajar sungguh-sungguh akan membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.


Keyakinan seperti itu tidak boleh dianggap remeh. Ia adalah salah satu modal sosial terpenting yang dimiliki sebuah bangsa. Ketika masyarakat masih percaya bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan, harapan tetap memiliki tempat untuk tumbuh. Sebaliknya, ketika semakin banyak keluarga mulai merasa bahwa pendidikan tinggi bukan lagi sesuatu yang mungkin mereka capai, yang sedang berubah bukan hanya pilihan individu. Yang ikut berubah adalah cara sebuah masyarakat membayangkan masa depannya sendiri.


Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membawa AKAR KABAR edisi ini mencoba melihat persoalan dari beberapa sudut pandang. Bagaimana perubahan itu dirasakan oleh keluarga? Apa yang terjadi di dalam diri seseorang ketika harapan mulai bertemu dengan kenyataan? Bagaimana cara kita memandang pendidikan ikut berubah dari waktu ke waktu? Dan, yang mungkin paling penting, apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan ketika kuliah perlahan mulai terasa seperti barang mewah?


Tidak semua pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang sederhana. Namun mungkin memang di situlah sebuah percakapan perlu dimulai.


***


AKAR 1

Mereka Lulus, Tetapi Tidak Pernah Sampai Masuk Kelas


Oleh Adrian Damar


Setiap tahun, ribuan keluarga Indonesia mengalami satu momen yang hampir sama.


Ponsel mereka berbunyi lebih sering daripada biasanya. Grup keluarga mendadak ramai. Ada yang mengirim ucapan selamat, ada yang bertanya jurusan apa yang dipilih, dan ada pula yang langsung membicarakan masa depan anak tersebut. Selama beberapa hari, rumah-rumah itu dipenuhi rasa bangga karena satu anggota keluarga berhasil melewati persaingan yang tidak mudah.


Namun, ada satu percakapan lain yang jauh lebih jarang terdengar.


Percakapan itu tidak berlangsung di media sosial. Tidak pula muncul dalam konferensi pers atau laporan statistik. Ia biasanya terjadi setelah para tamu pulang, setelah ucapan selamat mulai berkurang, dan setelah keluarga kembali duduk mengelilingi meja makan. Di situlah pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mulai muncul. Berapa biaya yang harus disiapkan? Dari mana uangnya akan diperoleh? Apakah keluarga benar-benar sanggup menjalani empat tahun ke depan?


Bagi sebagian keluarga, percakapan itu berakhir dengan tekad untuk mencari jalan apa pun agar anak tetap bisa kuliah. Bagi keluarga lain, percakapan tersebut justru menjadi awal dari keputusan yang jauh lebih berat. Bukan karena anaknya tidak lolos. Bukan pula karena ia berubah pikiran. Melainkan karena kehidupan sehari-hari memaksa mereka memilih di antara banyak kebutuhan yang sama-sama penting.


Jika diamati lebih dekat, keputusan untuk melanjutkan kuliah ternyata tidak pernah berdiri sendiri. Ia hampir selalu lahir dari perundingan kecil yang berlangsung di dalam keluarga. Perundingan itu tidak selalu dilakukan secara formal. Kadang ia muncul di sela-sela makan malam, ketika ayah baru pulang kerja. Kadang terjadi ketika ibu sedang menghitung pengeluaran bulanan. Ada pula yang berlangsung hanya melalui saling pandang, tanpa seorang pun benar-benar mengucapkan apa yang sedang mereka khawatirkan.


Di banyak rumah, anak sering menjadi orang terakhir yang mengetahui keadaan keuangan keluarganya. Orangtua berusaha melindungi mereka dari berbagai kecemasan yang sedang dihadapi. Sebaliknya, anak-anak juga tidak jarang berpura-pura tidak mengetahui kesulitan orangtuanya. Mereka tetap berbicara tentang kampus, tentang jurusan, atau tentang kegiatan mahasiswa, meskipun diam-diam mulai menyadari bahwa setiap pembicaraan itu selalu berakhir pada angka-angka yang tidak mudah dipenuhi.


Situasi seperti ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Ketika masyarakat berbicara tentang pendidikan, perhatian kita hampir selalu tertuju pada siswa. Kita bertanya apakah mereka belajar dengan sungguh-sungguh, apakah mereka mampu bersaing, atau apakah mereka cukup pintar untuk diterima di perguruan tinggi. Padahal setelah pengumuman kelulusan keluar, tokoh utama dalam cerita itu seringkali bergeser. Yang kemudian memikul beban terbesar bukan lagi anak yang mengikuti ujian, melainkan seluruh keluarga yang harus memastikan bahwa kesempatan tersebut benar-benar dapat diwujudkan.


Karena itu, perjuangan menuju bangku kuliah di Indonesia seringkali tidak dimulai pada hari pertama seseorang belajar menghadapi ujian masuk. Perjuangan itu justru mencapai babak yang paling berat setelah nama seseorang dinyatakan diterima.


Di sinilah kita melihat bahwa pendidikan tinggi bukan hanya perjalanan akademik. Ia juga merupakan perjalanan sosial. Seorang anak mungkin menjadi orang pertama di keluarganya yang berhasil masuk perguruan tinggi. Keberhasilan itu membawa kebanggaan, tetapi sekaligus menghadirkan tanggung jawab yang tidak kecil. Seluruh keluarga ikut bergerak. Ada yang menambah jam kerja. Ada yang mengurangi pengeluaran rumah tangga. Ada saudara yang menawarkan bantuan. Ada pula tetangga yang ikut mencarikan informasi tentang beasiswa atau tempat tinggal yang lebih terjangkau.


Semua itu memperlihatkan satu kenyataan yang jarang dibicarakan. Di Indonesia, kuliah seringkali bukan proyek seorang anak. Ia adalah proyek sebuah keluarga.


Kesadaran tersebut menjelaskan mengapa keputusan untuk membatalkan kuliah hampir tidak pernah menjadi keputusan pribadi semata. Ketika seorang calon mahasiswa akhirnya memilih tidak melakukan daftar ulang, publik mungkin melihatnya sebagai pilihan individu. Akan tetapi, jika kita masuk lebih jauh ke dalam kehidupan keluarga tersebut, kita akan menemukan bahwa keputusan itu biasanya lahir setelah banyak pertimbangan, banyak percakapan, dan tidak sedikit pengorbanan yang sudah dicoba.


Di titik inilah kita perlu berhati-hati sebelum memberikan penilaian. Sangat mudah mengatakan bahwa seseorang seharusnya tetap berjuang. Sangat mudah pula beranggapan bahwa selalu ada jalan keluar bagi mereka yang benar-benar ingin kuliah. Namun kehidupan tidak selalu memberi pilihan yang sama kepada setiap keluarga. Ada keluarga yang masih memiliki ruang untuk mengambil risiko. Ada keluarga yang hidup dengan cadangan yang sangat tipis, sehingga satu keputusan besar dapat memengaruhi seluruh kehidupan mereka selama bertahun-tahun.


Barangkali karena itulah, setiap kali mendengar kabar tentang calon mahasiswa yang tidak jadi melanjutkan kuliah, kita tidak sedang membaca cerita tentang satu orang. Kita sedang melihat potongan kecil dari kehidupan banyak keluarga Indonesia yang setiap hari berusaha menjaga keseimbangan di tengah keadaan yang seringkali tidak mereka pilih sendiri.


Ada satu perubahan kecil yang mungkin tidak terlalu kita sadari.


Dulu, ketika seorang anak diterima di perguruan tinggi, pertanyaan yang paling sering muncul biasanya sederhana. "Jurusan apa?" "Kampusnya di mana?" atau "Kapan mulai kuliah?" Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa masyarakat menganggap proses berikutnya akan berjalan sebagaimana mestinya. Begitu seseorang diterima, asumsi yang muncul adalah ia akan segera menjadi mahasiswa.


Hari ini, percakapannya mulai berubah. Setelah ucapan selamat disampaikan, tidak sedikit orang yang justru bertanya hal-hal lain. "Sudah daftar ulang?" "UKT-nya berapa?" "Dapat beasiswa tidak?" Bahkan ada yang langsung bertanya apakah kampusnya dekat dengan rumah atau justru mengharuskan tinggal di kota lain.


Perubahan itu mungkin terlihat kecil. Padahal ia menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyadari adanya satu tahap baru yang harus dilewati setelah pengumuman kelulusan. Masuk perguruan tinggi tidak lagi dipahami sebagai satu garis lurus dari belajar, lolos seleksi, lalu kuliah. Di tengah perjalanan itu kini muncul berbagai pertimbangan yang sebelumnya tidak terlalu banyak dibicarakan.


Perubahan cara bertanya seringkali mencerminkan perubahan cara berpikir. Ketika semakin banyak orang merasa perlu memastikan apakah seseorang benar-benar dapat melanjutkan kuliah setelah dinyatakan diterima, berarti masyarakat juga mulai memahami bahwa kelulusan bukan lagi jaminan. Di balik satu surat penerimaan masih ada banyak hal yang dapat mengubah arah perjalanan.


Fenomena semacam ini bukan hanya memengaruhi keluarga yang sedang mengalaminya. Ia juga memengaruhi adik-adik kelas yang sedang mempersiapkan diri. Mereka melihat cerita kakaknya, mendengar percakapan para tetangga, atau menyaksikan sendiri bagaimana sebuah keluarga harus bekerja keras agar satu anak dapat tetap berkuliah. Pengalaman-pengalaman itu perlahan membentuk cara mereka memandang pendidikan tinggi.


Sebagian anak mungkin justru semakin termotivasi untuk belajar lebih giat agar memperoleh beasiswa. Itu tentu kabar baik. Namun ada pula yang sejak awal mulai membatasi mimpinya. Bukan karena mereka tidak mampu belajar, melainkan karena mereka merasa keadaan keluarganya tidak memungkinkan. Perasaan seperti ini jarang diucapkan secara terbuka. Ia tumbuh pelan-pelan, lalu menjadi semacam batas yang dibuat seseorang untuk dirinya sendiri.


Dalam ilmu sosial, batas yang paling kuat seringkali bukan batas yang dibangun oleh pagar atau aturan. Batas yang paling sulit ditembus justru adalah batas yang mulai dipercaya sebagai sesuatu yang wajar. Ketika seseorang berkata, "Kuliah mungkin bukan jalan untuk saya," kita perlu berhati-hati memahami kalimat tersebut. Bisa jadi yang sedang berbicara bukan semata-mata kemampuan akademiknya, melainkan pengalaman hidup yang membuatnya merasa ruang itu semakin jauh.


Di sinilah pendidikan tidak lagi hanya berbicara tentang ruang kelas, dosen, atau kurikulum. Ia juga berbicara tentang harapan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ketika banyak keluarga masih percaya bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan, masyarakat akan terus mendorong anak-anaknya untuk bermimpi lebih tinggi. Sebaliknya, jika keyakinan itu mulai melemah, dampaknya tidak berhenti pada satu angkatan mahasiswa. Ia perlahan ikut mengubah cara sebuah masyarakat membayangkan masa depannya sendiri.


Adrian mungkin tidak memiliki jawaban atas semua persoalan tersebut. Tugasnya memang bukan menawarkan solusi. Ia hanya mengajak kita berhenti sejenak untuk memperhatikan kehidupan yang berlangsung di sekitar kita. Sebab di balik setiap kabar tentang seorang calon mahasiswa yang batal kuliah, ada cerita yang lebih panjang daripada sekadar angka dalam sebuah laporan. Ada keluarga yang telah berjuang sejauh mungkin, sebelum akhirnya harus menerima bahwa tidak semua pintu dapat dibuka hanya dengan kerja keras. []


***


AKAR 2

Kenapa Mimpi Bisa Terasa Terlalu Mahal?


Oleh Vikalena Lasmoskwa


Ada satu hal yang jarang disadari ketika membicarakan mimpi.


Kita sering menganggap mimpi lahir dari keberanian seseorang untuk membayangkan masa depannya. Padahal dalam banyak keadaan, mimpi juga dipengaruhi oleh seberapa mungkin seseorang percaya bahwa masa depan tersebut dapat dicapai.


Seorang anak yang tumbuh di keluarga dokter mungkin tidak merasa aneh ketika bercita-cita menjadi dokter. Anak yang sejak kecil melihat orangtuanya bekerja di kampus juga akan lebih mudah membayangkan dirinya menjadi dosen atau peneliti. Mereka hidup di lingkungan yang membuat cita-cita tersebut terasa dekat. Jalan menuju ke sana memang panjang, tetapi keberadaannya terlihat jelas.


Keadaan berbeda dialami oleh banyak anak yang tumbuh di keluarga dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas. Mereka juga memiliki keinginan untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu, dan menyimpan cita-cita yang sama besarnya. Akan tetapi, sejak awal mereka sering berhadapan dengan berbagai pertanyaan yang tidak sepenuhnya berkaitan dengan kemampuan akademik. Apakah orangtuanya mampu membiayai kuliah? Apakah mereka harus segera bekerja setelah lulus sekolah? Apakah keluarga dapat bertahan jika satu anggota rumah tangga tidak langsung memiliki penghasilan?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlahan ikut membentuk cara seseorang memandang masa depannya.


Dalam psikologi, manusia tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang benar-benar terjadi. Kita juga dipengaruhi oleh apa yang kita anggap mungkin terjadi. Perbedaan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Dua orang dapat memiliki kemampuan yang sama, tetapi mengambil keputusan yang berbeda karena mereka memiliki keyakinan yang berbeda tentang peluang yang tersedia di depan mereka.


Ketika seorang anak berulang kali melihat bahwa kuliah terasa semakin sulit dijangkau oleh keluarganya, yang berubah tidak selalu nilai pelajarannya. Yang lebih dahulu berubah sering kali adalah keyakinannya terhadap kemungkinan hidupnya sendiri. Ia mungkin masih bercita-cita tinggi, tetapi pelan-pelan berhenti percaya bahwa cita-cita tersebut memang ditujukan untuk dirinya.


Dalam psikologi, ada satu konsep yang dikembangkan Albert Bandura dan hingga hari ini masih dianggap penting untuk memahami mengapa seseorang berani mengejar sebuah tujuan. Bandura menyebutnya self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu menyelesaikan suatu tugas atau mencapai tujuan tertentu. Menariknya, konsep ini tidak berbicara tentang kemampuan yang sesungguhnya dimiliki seseorang. Ia berbicara tentang apa yang diyakini seseorang mengenai dirinya sendiri.


Perbedaan itu mungkin terdengar tipis, tetapi dampaknya sangat besar.


Dua siswa dapat memiliki nilai yang sama baiknya. Keduanya sama-sama diterima di perguruan tinggi yang mereka impikan. Akan tetapi, ketika menghadapi kenyataan hidup yang berbeda, keyakinan mereka terhadap masa depan bisa berkembang ke arah yang sama sekali tidak serupa. Seseorang tetap percaya bahwa ia akan menemukan jalan untuk menyelesaikan kuliahnya. Sementara yang lain mulai merasa bahwa jalan tersebut mungkin bukan untuk dirinya.


Perasaan seperti itu jarang muncul secara tiba-tiba. Ia terbentuk dari pengalaman yang berlangsung bertahun-tahun. Anak-anak belajar memahami dunia bukan hanya dari apa yang diajarkan di sekolah, tetapi juga dari kehidupan yang mereka lihat setiap hari. Mereka memperhatikan bagaimana orangtuanya bekerja, bagaimana keluarga menghadapi kesulitan ekonomi, bagaimana keputusan-keputusan besar selalu didahului oleh kekhawatiran tentang biaya, dan bagaimana satu pengeluaran yang tidak direncanakan dapat mengubah banyak hal di rumah.


Semua pengalaman tersebut perlahan membentuk cara seseorang memandang kemungkinan hidupnya sendiri.


Karena itu, ketika seorang anak mulai berkata, "Mungkin saya tidak usah kuliah dulu," kalimat tersebut belum tentu lahir karena ia kehilangan semangat belajar. Bisa jadi ia sedang berusaha melindungi keluarganya dari beban yang ia tahu tidak ringan. Ada pula yang merasa tidak enak melihat orangtuanya harus bekerja lebih keras demi membiayai kuliah. Ada yang mulai berpikir bahwa bekerja lebih dulu adalah pilihan yang lebih bertanggung jawab. Bahkan ada yang diam-diam mengubur cita-citanya sendiri sebelum sempat benar-benar diperjuangkan.


Yang menarik, keputusan-keputusan seperti itu sering dipandang sebagai pilihan pribadi. Padahal psikologi menunjukkan bahwa pilihan manusia hampir selalu dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia bertumbuh. Kita tidak pernah mengambil keputusan dalam ruang yang benar-benar kosong. Ada pengalaman masa kecil, kondisi keluarga, nilai yang diajarkan orangtua, hingga berbagai pengalaman sosial yang ikut membentuk cara kita menilai apa yang mungkin dan apa yang terasa mustahil.


Dalam banyak keluarga Indonesia, anak-anak juga tumbuh dengan satu nilai yang sangat kuat: jangan merepotkan orangtua.


Nilai tersebut mengandung banyak kebaikan. Ia mengajarkan empati, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada keluarga. Akan tetapi, dalam situasi tertentu, nilai yang sama dapat berubah menjadi beban psikologis. Seorang anak mulai merasa bersalah setiap kali mimpinya membutuhkan pengorbanan yang besar dari orangtuanya. Ia tidak lagi bertanya apakah dirinya mampu kuliah. Ia mulai bertanya apakah keluarganya pantas menanggung harga dari mimpinya.


Pertanyaan semacam itu tidak mudah dijawab. Sebab di dalamnya bercampur rasa sayang, rasa tanggung jawab, rasa bersalah, sekaligus keinginan untuk tetap memiliki masa depan yang lebih baik. Semua emosi itu hadir bersamaan, lalu saling memengaruhi ketika seseorang harus mengambil keputusan.


Di sinilah persoalan pendidikan tidak lagi hanya menyentuh aspek ekonomi. Ia masuk ke wilayah psikologi yang jauh lebih sunyi. Yang dipertaruhkan bukan sekadar kemampuan membayar biaya kuliah, tetapi juga kemampuan seseorang untuk tetap memelihara harapan ketika keadaan di sekelilingnya berkali-kali mengatakan bahwa harapan tersebut mungkin terlalu tinggi.


Tidak semua anak yang membatalkan kuliah akan mengatakan bahwa mereka menyerah. Sebagian bahkan akan berkata bahwa keputusan tersebut adalah pilihan terbaik yang dapat mereka ambil saat itu. Mereka memilih bekerja lebih dahulu, membantu orangtua, atau menunggu kesempatan lain yang dianggap lebih mungkin dijangkau.


Semua pilihan tersebut layak dihormati. Kehidupan memang tidak selalu bergerak dalam satu jalur yang sama bagi setiap orang. Ada yang berhasil melalui bangku kuliah, ada yang menemukan jalannya melalui pengalaman kerja, ada pula yang membangun kehidupannya dengan cara yang sama sekali berbeda. Persoalannya bukan pada pilihan itu sendiri, melainkan pada alasan yang melatarbelakanginya.


Psikologi membedakan keputusan yang lahir dari pilihan dengan keputusan yang lahir dari keterpaksaan. Dari luar, keduanya mungkin terlihat sama. Sama-sama memutuskan bekerja. Sama-sama menunda kuliah. Sama-sama memilih jalan yang berbeda. Akan tetapi, pengalaman batin yang menyertainya bisa sangat berbeda.


Seseorang yang memilih karena memang ingin bekerja biasanya tetap merasa memiliki kendali atas hidupnya. Ia melihat keputusan tersebut sebagai bagian dari rencana yang ia susun sendiri. Sebaliknya, seseorang yang memilih karena merasa tidak memiliki alternatif seringkali membawa beban yang lebih panjang. Ia terus bertanya-tanya bagaimana hidupnya mungkin akan berbeda jika keadaan keluarganya tidak seperti sekarang.


Pertanyaan semacam itu tidak selalu diucapkan. Bahkan banyak orang menyimpannya selama bertahun-tahun. Mereka belajar menerima keadaan, bekerja keras, membangun keluarga, lalu melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Namun sesekali, ketika melihat anak-anak mereka mulai berbicara tentang kuliah, pertanyaan lama itu muncul kembali. Bukan lagi tentang diri mereka sendiri, melainkan tentang harapan yang kini berpindah kepada generasi berikutnya.


Di sinilah kita melihat bahwa harapan memiliki sifat yang unik. Ia dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orangtua yang tidak sempat menyelesaikan sekolah berharap anaknya dapat melanjutkan. Anak yang berhasil kuliah berharap adiknya memperoleh kesempatan yang sama. Harapan bergerak seperti estafet yang terus diteruskan, bahkan ketika seseorang merasa dirinya tidak sempat mencapai garis akhir.


Karena itu, ketika sebuah keluarga kehilangan keyakinan bahwa pendidikan tinggi masih mungkin dijangkau, yang terganggu bukan hanya rencana satu anak. Yang ikut berubah adalah cara keluarga tersebut membayangkan masa depannya. Mereka mungkin tetap percaya bahwa pendidikan itu penting. Mereka tetap menyuruh anak belajar dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, di dalam hati mulai tumbuh satu kalimat yang sangat pelan: "Jangan berharap terlalu tinggi."


Kalimat seperti itu terdengar sederhana. Padahal ia dapat menjadi batas yang tidak kasatmata.


Anak-anak tumbuh bukan hanya dari nasihat yang diberikan orangtuanya. Mereka juga belajar dari kecemasan yang mereka lihat setiap hari. Mereka memperhatikan bagaimana orangtuanya berhitung sebelum mengambil keputusan. Mereka memahami kapan rumah sedang menghadapi kesulitan, meskipun tidak ada seorang pun yang menjelaskannya secara langsung. Mereka menangkap kekhawatiran itu sedikit demi sedikit, lalu tanpa sadar ikut menyesuaikan ukuran mimpinya.


Boleh jadi, karena itulah persoalan pendidikan tidak pernah sepenuhnya menjadi persoalan sekolah atau perguruan tinggi. Ia juga menjadi persoalan psikologi sebuah masyarakat. Selama orang masih percaya bahwa belajar membuka peluang untuk kehidupan yang lebih baik, harapan akan terus menemukan tempatnya. Sebaliknya, ketika semakin banyak orang mulai merasa bahwa pendidikan tinggi berada di luar jangkauan mereka, yang mengecil bukan hanya jumlah pendaftar atau mahasiswa baru. Yang perlahan ikut mengecil adalah keberanian untuk bermimpi.


Harapan memang tidak selalu hilang karena seseorang mengalami kegagalan. Seringkali ia justru memudar ketika seseorang terlalu lama merasa bahwa ruang untuk berharap semakin sempit. Di titik itulah mimpi tidak lagi terasa mustahil karena kemampuan yang kurang, melainkan karena seseorang mulai yakin bahwa mimpi tersebut memang bukan untuk dirinya. []



AKAR 3

Kapan Pendidikan Berubah Menjadi Investasi?


Oleh Rudi Tenggarawan


Barangkali perubahan terbesar dalam dunia pendidikan tidak terjadi di ruang kelas. Ia juga tidak selalu lahir dari perubahan kurikulum, pergantian menteri, atau berdirinya kampus-kampus baru. Perubahan yang paling sunyi justru terjadi di dalam cara kita membicarakan pendidikan itu sendiri.


Coba ingat kembali berbagai percakapan tentang kuliah yang sering muncul beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya semakin jarang berhenti pada jurusan apa yang dipilih atau ilmu apa yang ingin dipelajari. Percakapan lebih sering bergeser ke arah yang lain. Berapa biaya kuliahnya? Berapa lama balik modal? Setelah lulus nanti gajinya berapa? Apakah jurusan tersebut masih memiliki prospek kerja yang baik?


Pertanyaan-pertanyaan itu tentu tidak salah. Kuliah memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Wajar jika seseorang ingin mengetahui bagaimana masa depannya setelah menyelesaikan pendidikan. Orangtua juga berhak memastikan bahwa pengorbanan yang mereka lakukan memiliki peluang membawa kehidupan anaknya menjadi lebih baik.


Akan tetapi, ketika bahasa yang kita gunakan untuk membicarakan pendidikan semakin didominasi oleh istilah investasi, keuntungan, prospek, dan pengembalian biaya, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk bertanya: sejak kapan cara pandang itu menjadi begitu dominan?


Selama berabad-abad, manusia mendirikan lembaga pendidikan bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Universitas lahir sebagai ruang untuk mencari pengetahuan, mempertanyakan gagasan yang telah mapan, dan menyiapkan orang-orang yang kelak akan mengembangkan ilmu pengetahuan. Di tempat seperti itulah dokter, guru, ilmuwan, insinyur, seniman, hingga filsuf belajar memahami dunia sebelum mereka ikut mengubahnya.


Tentu saja kehidupan selalu berubah. Dunia kerja berkembang. Teknologi melahirkan profesi-profesi baru yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Kampus pun dituntut menyesuaikan diri agar lulusannya mampu menghadapi kebutuhan zaman. Tidak ada yang keliru dengan upaya tersebut. Pendidikan memang tidak boleh terputus dari kenyataan hidup yang sedang dihadapi masyarakat.


Persoalannya mulai muncul ketika hubungan antara pendidikan dan pekerjaan berubah menjadi hubungan yang nyaris sepenuhnya transaksional.


Kuliah dipandang sebagai biaya yang harus kembali. Jurusan dipilih berdasarkan besarnya peluang memperoleh gaji. Kampus dibandingkan berdasarkan potensi pendapatan lulusannya. Bahkan tidak sedikit anak muda yang merasa harus membenarkan pilihannya dengan menjelaskan berapa lama biaya kuliahnya akan kembali setelah mereka bekerja.


Cara berpikir seperti itu sebenarnya dapat dipahami. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, setiap keluarga berusaha membuat keputusan yang paling aman. Ketika biaya pendidikan semakin besar sementara kehidupan terasa semakin tidak menentu, pendidikan pun perlahan diperlakukan seperti investasi ekonomi lainnya. Orang berharap setiap rupiah yang dikeluarkan dapat menghasilkan manfaat yang sepadan.


Namun pendidikan memiliki sifat yang sedikit berbeda dibanding investasi pada umumnya.


Hasil pendidikan tidak selalu dapat diukur dalam waktu singkat. Ada manfaat yang baru terasa bertahun-tahun kemudian. Ada pula manfaat yang bahkan tidak pernah tercermin dalam angka penghasilan. Seorang guru mungkin tidak pernah menjadi profesi dengan bayaran tertinggi, tetapi pengaruhnya dapat membentuk ribuan kehidupan. Seorang peneliti bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk satu penelitian yang akhirnya menyelamatkan banyak orang. Seorang pekerja sosial mungkin tidak pernah memperoleh keuntungan finansial yang besar, tetapi pekerjaannya memperkuat kehidupan masyarakat di sekitarnya.


Jika seluruh nilai pendidikan hanya diukur dari kemampuan menghasilkan pendapatan, kita berisiko kehilangan banyak hal yang justru menjadi alasan mengapa pendidikan itu sendiri dibangun.


Boleh jadi, cara pandang seperti itu lahir bukan karena masyarakat tiba-tiba berubah menjadi lebih materialistis. Perubahan tersebut lebih mungkin merupakan bentuk penyesuaian terhadap keadaan. Ketika biaya hidup meningkat, lapangan pekerjaan terasa semakin kompetitif, dan masa depan sulit diprediksi, keluarga akan cenderung mencari pilihan yang dianggap paling aman. Dalam situasi seperti itu, pendidikan ikut masuk ke dalam logika yang sama dengan berbagai keputusan ekonomi lainnya.


Akibatnya, pertanyaan tentang makna pendidikan perlahan bergeser menjadi pertanyaan tentang manfaat pendidikan.


Perubahan tersebut terdengar sangat halus. Orang tidak lagi bertanya, "Apa yang ingin kamu pelajari?" Mereka lebih sering bertanya, "Setelah lulus nanti bisa kerja di mana?" Minat seseorang terhadap ilmu pengetahuan masih dihargai, tetapi hampir selalu diikuti dengan pertanyaan tentang peluang karier. Bahkan ketika seorang anak memilih jurusan yang benar-benar ia sukai, tidak sedikit yang merasa perlu menjelaskan bahwa pilihan tersebut juga memiliki prospek kerja yang baik.


Tak ada yang salah dengan keinginan memperoleh pekerjaan yang layak. Pendidikan memang semestinya membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, jika seluruh percakapan tentang kuliah hanya berputar pada besarnya gaji, kecepatan memperoleh pekerjaan, atau lamanya biaya kuliah kembali, kita mungkin sedang kehilangan sebagian fungsi pendidikan yang lain.


Universitas bukan hanya tempat mempersiapkan tenaga kerja.


Ia juga merupakan ruang tempat masyarakat memelihara kemampuan berpikir kritis, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperdebatkan gagasan, memahami kebudayaan, dan menyiapkan warga negara yang mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Semua fungsi tersebut memang tidak selalu menghasilkan keuntungan ekonomi yang dapat dihitung dalam waktu singkat. Namun justru karena itulah masyarakat modern tetap membutuhkan perguruan tinggi.


Di banyak negara, perdebatan mengenai pendidikan tinggi hampir selalu bergerak di antara dua kepentingan tersebut. Di satu sisi, universitas dituntut menghasilkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Di sisi lain, universitas juga diharapkan tetap menjadi ruang yang bebas untuk mencari pengetahuan, bahkan ketika pengetahuan tersebut belum tentu langsung memiliki nilai ekonomi.


Menjaga keseimbangan itu bukan pekerjaan yang mudah.


Jika terlalu jauh mengikuti kebutuhan pasar, kampus berisiko kehilangan sebagian perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, jika sama sekali mengabaikan perubahan dunia kerja, lulusan dapat menghadapi kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan setelah kuliah. Karena itu, persoalannya bukan memilih salah satu di antara keduanya, melainkan menjaga agar keduanya tetap berjalan bersama.


Barangkali di sinilah kita perlu membedakan antara nilai pendidikan dan nilai ekonomi pendidikan.


Nilai ekonomi menjawab pertanyaan yang sangat penting: apakah pendidikan membantu seseorang memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera? Pertanyaan tersebut sah dan tidak dapat diabaikan. Akan tetapi, pendidikan juga memiliki nilai yang lebih luas. Ia membentuk cara seseorang berpikir, memperluas cara memandang dunia, mengajarkan kemampuan bekerja sama, melatih keberanian mempertanyakan sesuatu, dan membantu masyarakat memahami persoalan yang semakin kompleks.


Semua hal tersebut mungkin tidak langsung terlihat ketika seseorang menerima gaji pertamanya. Namun dalam jangka panjang, justru kemampuan-kemampuan itulah yang sering menentukan bagaimana sebuah masyarakat berkembang.


Karena itu, ketika kita membicarakan biaya kuliah yang semakin berat atau akses pendidikan yang semakin sulit dijangkau, sesungguhnya kita tidak hanya sedang membahas kesempatan seseorang memperoleh pekerjaan. Kita juga sedang membicarakan bagaimana sebuah bangsa menjaga ruang bagi lahirnya dokter, guru, peneliti, insinyur, ekonom, seniman, jurnalis, hingga pemikir yang kelak ikut membentuk arah masyarakatnya.


Mungkin pendidikan memang perlu dipandang sebagai investasi. Akan tetapi, investasi terbesar yang dihasilkan pendidikan bukan selalu uang yang kembali kepada satu orang. Seringkali, hasil terbesarnya justru kembali kepada masyarakat dalam bentuk yang jauh lebih sulit dihitung: ilmu pengetahuan yang berkembang, pelayanan publik yang lebih baik, inovasi yang memecahkan persoalan, dan warga negara yang mampu berpikir lebih dewasa.


Barangkali karena itu, pertanyaan yang perlu terus kita jaga bukanlah apakah kuliah akan memberikan keuntungan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: keuntungan untuk siapa?


Jika jawabannya hanya berhenti pada individu yang memperoleh ijazah, kita mungkin sedang melihat pendidikan melalui lensa yang terlalu sempit. Namun jika jawabannya juga mencakup keluarga, masyarakat, dan masa depan bangsa, mungkin kita akan mulai memahami mengapa akses terhadap pendidikan tinggi selalu menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan biaya. []


***

AKAR 4

Apa yang Sebenarnya Dikatakan Angka?


Oleh Rommy Rimbarawa


Ada satu kebiasaan yang hampir selalu muncul setiap kali sebuah angka besar diberitakan.


Semakin besar angkanya, semakin cepat pula orang menarik kesimpulan. Angka yang menyentuh ratusan ribu segera dianggap mewakili seluruh kenyataan. Padahal, dalam dunia riset maupun jurnalisme, angka justru sering menjadi titik awal untuk bertanya, bukan titik akhir untuk menyimpulkan.


Beberapa waktu terakhir, perhatian publik tertuju pada kabar mengenai lebih dari seratus ribu calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang setelah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru. Angka tersebut segera memunculkan berbagai reaksi. Ada yang melihatnya sebagai bukti bahwa biaya kuliah semakin tidak terjangkau. Ada yang mengaitkannya dengan melemahnya kondisi ekonomi masyarakat. Sebagian lain justru mengingatkan bahwa data tersebut perlu dibaca lebih hati-hati sebelum dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan yang lebih luas.


Sikap terakhir itulah yang barangkali perlu kita pelihara.


Angka memang penting. Tanpa data, kita hanya mengandalkan kesan dan pengalaman pribadi. Namun angka juga memiliki keterbatasan. Ia memberi tahu kita apa yang terjadi, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Di situlah data memerlukan konteks, dan konteks memerlukan kehati-hatian.


Sebagai contoh, calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang tidak selalu berarti batal menempuh pendidikan tinggi. Sebagian mungkin memilih perguruan tinggi lain. Sebagian memperoleh kesempatan melalui jalur penerimaan yang berbeda. Ada yang memutuskan mengambil jeda satu tahun sebelum kembali mencoba. Ada pula yang memang memilih langsung bekerja. Semua kemungkinan tersebut berada di balik satu angka yang sama.


Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar berapa jumlahnya: Siapa mereka? Di daerah mana mereka tinggal? Bagaimana kondisi ekonomi keluarganya? Apakah mereka lebih banyak berasal dari kelompok tertentu? Berapa banyak yang akhirnya benar-benar tidak melanjutkan pendidikan?


Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, angka besar hanya memberi gambaran permukaan.


Sikap hati-hati bukan berarti kita mengecilkan persoalan. Justru sebaliknya. Semakin penting sebuah isu, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk membacanya secara utuh. Kesimpulan yang lahir terlalu cepat sering kali terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu membantu kita memahami akar persoalan yang sebenarnya.


Dalam dunia riset, ada satu kebiasaan yang selalu dijaga: sebuah angka hampir tidak pernah dibaca sendirian. Peneliti akan mencari pembandingnya. Mereka melihat tren dari tahun ke tahun, membandingkan dengan kelompok lain, lalu bertanya apakah perubahan yang terlihat memang cukup berarti untuk dijadikan kesimpulan. Cara berpikir seperti itu membuat data tidak berhenti sebagai informasi, melainkan berkembang menjadi pengetahuan.


Pendekatan yang sama sebenarnya juga berguna ketika kita membaca berbagai isu publik.


Misalnya, ketika mendengar bahwa lebih dari seratus ribu calon mahasiswa tidak melakukan daftar ulang, pertanyaan pertama memang wajar tertuju pada besarnya angka tersebut. Akan tetapi, pertanyaan berikutnya seharusnya tidak kalah penting. Apakah jumlah itu meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya? Apakah sebagian besar berasal dari jalur seleksi tertentu? Berapa banyak yang akhirnya memilih perguruan tinggi swasta? Berapa yang menunda kuliah karena bekerja? Dan berapa yang benar-benar menghentikan rencana melanjutkan pendidikan?


Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu kita melihat persoalan dengan lebih jernih. Bisa jadi kesimpulan akhirnya memang menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan semakin berat. Bisa pula ditemukan faktor-faktor lain yang selama ini luput dari perhatian. Apa pun hasilnya, keputusan yang diambil berdasarkan pembacaan yang utuh tentu lebih bermanfaat daripada kesimpulan yang lahir hanya dari satu angka.


Ada satu kecenderungan lain yang juga menarik untuk diperhatikan. Di era media sosial, angka besar hampir selalu memiliki daya tarik yang kuat. Semakin besar angkanya, semakin mudah ia dibagikan. Judul yang memuat "100 ribu", "1 juta", atau "triliunan rupiah" lebih cepat menarik perhatian dibanding penjelasan panjang tentang bagaimana angka tersebut diperoleh. Akibatnya, kita sering mengingat jumlahnya, tetapi lupa memahami maknanya.


Padahal angka tidak pernah berbicara sendiri. Ia selalu lahir dari cara tertentu dalam mengumpulkan data. Ia dipengaruhi oleh definisi yang digunakan, oleh ruang lingkup pengukuran, bahkan oleh pertanyaan yang diajukan sejak awal. Dua penelitian mengenai topik yang sama dapat menghasilkan angka yang berbeda karena menggunakan pendekatan yang berbeda pula. Perbedaan seperti itu bukan berarti salah satunya keliru. Ia hanya mengingatkan bahwa data selalu memerlukan penjelasan.


Karena itu, literasi data sesungguhnya bukan kemampuan menghafal banyak angka. Literasi data adalah kemampuan untuk menunda kesimpulan sampai kita memahami konteks yang melatarbelakanginya.


Kemampuan tersebut terasa semakin penting ketika kita membicarakan pendidikan. Angka dapat memberi tahu berapa banyak mahasiswa yang diterima, berapa banyak yang lulus, atau berapa banyak yang tidak melakukan daftar ulang. Akan tetapi, angka tidak mampu menunjukkan wajah orangtua yang sedang berhitung di meja makan. Ia tidak dapat merekam percakapan yang berlangsung pelan agar anak tidak mengetahui kecemasan keluarganya. Data juga tidak sanggup menangkap perubahan cara sebuah masyarakat memandang pendidikan, sesuatu yang justru menjadi inti pembahasan AKAR KABAR edisi ini.


Di titik itulah data dan cerita manusia saling melengkapi.


Cerita tanpa data dapat berubah menjadi kesan yang terlalu subjektif. Sebaliknya, data tanpa cerita dapat kehilangan wajah manusianya. Kita membutuhkan keduanya agar mampu melihat persoalan secara lebih utuh. Angka membantu kita memahami besarnya fenomena. Cerita membantu kita memahami bagaimana fenomena itu dialami oleh manusia.


Mungkin karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan lagi apakah angka seratus ribu itu besar atau kecil. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apa yang sebenarnya sedang ingin disampaikan angka tersebut kepada kita?


Jika ia mengajak kita membaca lebih dalam, berarti angka itu telah menjalankan fungsinya. Namun jika ia justru membuat kita terburu-buru mengambil kesimpulan, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan datanya, melainkan cara kita memandang data itu sendiri. []


***

AKAR 5

Yang Tidak Pernah Masuk ke Dalam Berita


Oleh Eva Evilia


Perhatikan berita tentang pendidikan tinggi selama beberapa tahun terakhir.


Kita akan menemukan banyak sekali angka. Berapa besaran Uang Kuliah Tunggal. Berapa mahasiswa yang diterima. Berapa yang tidak melakukan daftar ulang. Berapa kuota beasiswa yang disediakan. Berapa anggaran pendidikan yang dialokasikan. Semua angka tersebut memang penting karena membantu kita memahami skala persoalan yang sedang dihadapi.


Di sela berbagai angka itu, ada sesuatu yang hampir selalu tertinggal, yaitu wajah manusia yang menjalani persoalan tersebut. Berita jarang menceritakan bagaimana seorang ibu menghabiskan malam dengan membuka kembali buku tabungannya. Tidak banyak pula cerita tentang seorang ayah yang diam lebih lama daripada biasanya karena sedang mencoba mencari cara agar anaknya tetap bisa kuliah. Bahkan ketika media mewawancarai calon mahasiswa yang akhirnya batal melanjutkan pendidikan, cerita sering berhenti pada alasan ekonomi, seolah seluruh persoalannya selesai setelah satu kata itu disebutkan.


Kehidupan manusia tidak pernah sesederhana sebuah alasan. Di balik kalimat “tidak mampu membayar kuliah”, sering tersembunyi perjalanan yang jauh lebih panjang. Ada keluarga yang telah menyisihkan uang sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Sebagian orangtua menunda kebutuhan mereka sendiri agar tabungan pendidikan anak tetap terjaga, sementara anaknya diam-diam mengurangi pengeluaran sekolah karena tidak ingin menambah beban di rumah. Pengorbanan seperti itu jarang muncul dalam pemberitaan karena sulit diukur dan tidak mudah diringkas menjadi angka.


Sebagai pembaca berita, kita pun terbiasa bergerak cepat. Kita membaca judul, mengetahui pokok peristiwanya, lalu membagikannya kepada orang lain sebelum perhatian berpindah ke isu berikutnya. Kebiasaan tersebut dapat dimengerti karena arus informasi memang terus bergerak. Hanya saja, kecepatan itu sering membuat kita lupa bahwa kehidupan orang-orang di dalam berita tetap berjalan bahkan setelah publik berhenti membicarakannya.


Seorang anak yang batal kuliah tetap harus menjawab pertanyaan dari tetangga. Ia mungkin harus menjelaskan kepada teman-temannya mengapa tidak jadi berangkat, padahal beberapa minggu sebelumnya semua orang telah mengucapkan selamat. Tidak semua orang sanggup mengatakan bahwa keluarganya kesulitan membayar biaya yang diperlukan. Sebagian memilih jawaban yang lebih pendek, seperti ingin bekerja lebih dulu atau sedang mempertimbangkan pilihan lain, karena jawaban semacam itu terasa lebih mudah daripada membuka keadaan rumah kepada orang lain.


Di dalam keluarga, keputusan itu juga tidak langsung selesai setelah batas daftar ulang terlewati. Orangtua bisa terus memikirkan apakah mereka sudah berusaha cukup keras. Anak dapat menyimpan rasa bersalah karena merasa mimpinya membutuhkan terlalu banyak pengorbanan. Percakapan mengenai kampus perlahan berkurang, tetapi bekasnya tetap tinggal dalam cara mereka saling menjaga perasaan.


Ada orangtua yang berusaha terlihat biasa agar anaknya tidak merasa gagal. Mereka mengatakan bahwa kesempatan lain masih tersedia dan kehidupan tidak ditentukan oleh satu kampus. Kalimat itu mungkin benar, tetapi bukan berarti mudah diucapkan. Di balik ketenangan yang mereka tunjukkan, seringkali masih tersimpan pertanyaan tentang apa yang seharusnya dapat mereka lakukan secara berbeda.


Anaknya pun bisa melakukan hal yang sama. Ia mengatakan tidak apa-apa, lalu mulai mencari lowongan kerja atau membantu pekerjaan keluarga. Ia mungkin tampak telah menerima keadaan, meskipun sesekali masih melihat unggahan teman-temannya yang sedang menjalani orientasi kampus. Rasa kehilangan semacam itu tidak selalu hadir dalam bentuk tangisan. Kadang ia hanya muncul sebagai jeda yang sedikit lebih lama ketika seseorang melihat kehidupan yang sempat ia bayangkan sedang dijalani orang lain.


Hal-hal semacam ini jarang masuk ke dalam berita karena tidak memiliki peristiwa yang jelas. Tidak ada konferensi pers, pernyataan resmi, atau kejadian dramatis yang dapat diletakkan sebagai judul. Yang ada hanya kehidupan yang berubah arah secara perlahan. Seorang anak menata ulang rencananya, sebuah keluarga kembali menghitung kemampuan, dan harapan yang sempat terasa dekat harus disimpan untuk waktu yang belum diketahui.


Keheningan itu dapat membuat persoalan terlihat lebih kecil daripada kenyataannya. Ketika orang-orang yang terdampak memilih tidak berbicara, publik hanya melihat jumlah calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang. Kita tidak mengetahui berapa banyak dari mereka yang merasa malu, berapa yang menahan kecewa, atau berapa keluarga yang hingga hari ini masih mempertanyakan keputusan yang mereka ambil. Ketidaktahuan tersebut bukan alasan untuk mengarang cerita tentang mereka, tetapi seharusnya membuat kita lebih berhati-hati ketika menilai pilihan mereka.


Ada kecenderungan untuk mengagumi kisah orang-orang yang berhasil menembus keterbatasan. Kita menyukai cerita anak dari keluarga sederhana yang memperoleh beasiswa, bekerja sambil kuliah, lalu lulus dengan hasil membanggakan. Cerita semacam itu memang layak dirayakan. Ia menunjukkan keberanian, ketekunan, dan daya tahan manusia menghadapi keadaan yang sulit.


Masalah muncul ketika kisah keberhasilan digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua orang semestinya mampu melakukan hal serupa. Tidak setiap keluarga memiliki jaringan bantuan yang sama. Tidak semua calon mahasiswa menemukan informasi beasiswa tepat waktu, memiliki perangkat untuk mengaksesnya, atau sanggup menunggu proses yang hasilnya belum pasti. Ketika satu orang berhasil melewati jalan yang sangat sempit, keberhasilannya tidak membuktikan bahwa jalan tersebut sudah cukup lebar bagi semua orang.


Mungkin karena itu, empati perlu bekerja lebih jauh daripada rasa kasihan. Rasa kasihan sering berhenti pada kesedihan sesaat ketika membaca sebuah cerita. Empati menuntut kita membayangkan kompleksitas yang tidak terlihat, termasuk keputusan-keputusan sulit yang diambil orang lain dalam keadaan yang tidak pernah kita alami sendiri. Ia mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk bertahan. Dalam situasi tertentu, keberanian juga hadir ketika seseorang menerima kenyataan, menyusun ulang rencana, lalu mencoba berjalan lagi tanpa banyak diketahui orang.


Berita membutuhkan angka agar persoalan dapat dilihat dalam skala yang lebih luas. Data membantu publik memahami bahwa sebuah kejadian bukan sekadar pengalaman satu keluarga. Meski begitu, angka tetap memerlukan cerita manusia agar kita tidak kehilangan alasan mengapa persoalan tersebut penting. Tanpa manusia, pendidikan hanya tampak sebagai urusan kuota, biaya, dan tingkat partisipasi. Padahal di dalamnya terdapat cita-cita, relasi keluarga, rasa pantas, serta keyakinan seseorang terhadap masa depannya sendiri.


Tidak semua yang penting akan pernah menjadi berita. Kita mungkin tidak akan mengetahui nama anak yang batal berangkat, apa jurusan yang sempat ia pilih, atau berapa lama orangtuanya menabung. Kita juga mungkin tidak akan mendengar percakapan terakhir mereka sebelum memutuskan melepas kursi tersebut. Kehidupan mereka tetap berharga meskipun tidak pernah muncul di layar atau dicatat dalam laporan.


Karena itu, setiap kali berhadapan dengan angka calon mahasiswa yang tidak melanjutkan daftar ulang, barangkali kita perlu menyisakan sedikit ruang bagi hal-hal yang tidak dapat dilihat. Di balik angka itu ada orang-orang yang pernah merayakan kelulusan, sempat membayangkan masa depan, lalu harus mengubah arah hidupnya dalam waktu yang sangat singkat. Kita tidak selalu tahu bagaimana kisah mereka berlanjut, tetapi ketidaktahuan itu semestinya tidak membuat kita terburu-buru melupakan keberadaan mereka. []


***

AKAR 6

Untuk Siapa Sebuah Universitas Dibangun?


Oleh Liora Maheswari


Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan ketika membicarakan pendidikan tinggi.


Pertanyaan tersebut bukan tentang besarnya biaya kuliah, bukan pula mengenai kualitas sebuah kampus atau prospek kerja setelah lulus. Semua pertanyaan itu penting, tetapi masih berada pada tingkat yang lebih praktis. Di atas semua itu, masih ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: untuk siapa sebenarnya sebuah universitas dibangun?


Jawaban pertama terdengar sederhana. Universitas dibangun untuk mahasiswa. Mereka datang untuk belajar, mengembangkan pengetahuan, memperoleh keterampilan, lalu mempersiapkan diri memasuki kehidupan setelah lulus. Tak ada yang keliru dengan jawaban tersebut. Akan tetapi, ia belum sepenuhnya menjelaskan mengapa hampir setiap negara terus berusaha membangun, mempertahankan, dan mengembangkan perguruan tinggi sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakatnya.


Sebuah universitas tidak pernah hanya melayani orang-orang yang sedang duduk di ruang kuliah. Di dalamnya lahir penelitian yang kelak menjadi dasar berbagai kebijakan publik. Di sana berkembang ilmu kedokteran yang menyelamatkan pasien, teknologi yang mempermudah kehidupan sehari-hari, metode pembelajaran yang membentuk generasi baru, hingga berbagai gagasan yang membantu masyarakat memahami dirinya sendiri. Kampus memang diisi oleh mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan. Namun manfaat yang dihasilkannya jauh melampaui mereka yang setiap hari berada di dalam lingkungan kampus.


Karena itu, ketika sebuah masyarakat berbicara tentang akses terhadap pendidikan tinggi, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Ia sedang menentukan siapa yang diberi kesempatan untuk ikut membangun masa depan bersama.


Selama berabad-abad, berbagai pemikir pendidikan mengingatkan bahwa tujuan pendidikan tidak pernah berhenti pada kemampuan seseorang memperoleh pekerjaan. Ki Hadjar Dewantara berbicara tentang pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia. Paulo Freire melihat pendidikan sebagai jalan agar manusia mampu membaca dan mengubah realitasnya sendiri. Martha Nussbaum mengingatkan bahwa masyarakat demokratis membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis, memahami perbedaan, dan melihat dunia melampaui kepentingan dirinya sendiri.


Menariknya, ketiga gagasan tersebut lahir dari ruang dan waktu yang berbeda. Namun semuanya bertemu pada satu keyakinan yang sama: pendidikan bukan hanya urusan individu. Ia adalah fondasi kehidupan bersama.


Boleh jadi karena itulah, setiap kali akses terhadap pendidikan terasa semakin sempit, persoalannya tidak pernah berhenti pada nasib satu angkatan mahasiswa. Yang dipertaruhkan sesungguhnya adalah seberapa luas sebuah masyarakat membuka kesempatan bagi warganya untuk berkembang.


Kita tentu memahami bahwa perguruan tinggi memerlukan biaya. Kampus membutuhkan laboratorium, perpustakaan, dosen, penelitian, teknologi, dan berbagai fasilitas lain yang tidak mungkin hadir tanpa dukungan pembiayaan yang memadai. Pada saat yang sama, keluarga juga memiliki batas kemampuan yang berbeda-beda. Negara pun menghadapi berbagai kebutuhan publik yang harus dikelola secara bersamaan. Tidak ada rumus sederhana yang dapat menjawab seluruh persoalan tersebut.


Justru karena itulah, percakapan mengenai pendidikan tidak boleh berhenti pada pertentangan antara mahal atau murah, mampu atau tidak mampu, negara atau masyarakat. Semua dikotomi itu terlalu sempit untuk menjelaskan persoalan yang jauh lebih kompleks.


Yang lebih penting adalah menjaga agar arah perjalanan pendidikan tidak berubah.


Selama masyarakat masih percaya bahwa setiap anak yang memiliki kemampuan dan kemauan belajar berhak memperoleh kesempatan untuk berkembang, pendidikan akan tetap menjadi ruang yang menyatukan harapan banyak orang. Akan tetapi, jika perlahan muncul keyakinan bahwa kesempatan tersebut hanya realistis bagi mereka yang memiliki sumber daya tertentu, kita sedang menghadapi perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar naik atau turunnya biaya kuliah.


Perubahan paling mendasar selalu dimulai dari cara manusia memandang dunia.


Suatu masyarakat dapat kehilangan kepercayaan kepada pendidikan jauh sebelum sekolah-sekolahnya runtuh. Ia dapat mulai membatasi cita-citanya sendiri tanpa ada seorang pun yang secara langsung melarang mereka bermimpi. Semua itu berlangsung sangat pelan, hampir tidak terdengar, sampai suatu hari kita menyadari bahwa semakin sedikit anak yang berani berkata, "Aku ingin kuliah di sana," karena mereka lebih dahulu merasa tempat itu bukan untuk mereka. Perasaan semacam itu layak membuat kita berhenti sejenak.


Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Bukan pula untuk menolak kenyataan bahwa pendidikan memang membutuhkan biaya. Melainkan untuk memastikan bahwa di tengah segala perubahan yang sedang berlangsung, kita tidak kehilangan satu keyakinan yang selama ini menjadi tenaga bagi begitu banyak keluarga Indonesia: keyakinan bahwa belajar masih mampu mengubah kehidupan.


AKAR KABAR edisi ini dimulai dari sebuah rumah sederhana yang dipenuhi kegembiraan ketika seorang anak diterima di perguruan tinggi. Perjalanan kita kemudian membawa pembaca melihat ruang makan tempat orangtua menghitung kemampuan, memahami pergulatan batin seorang anak yang tidak ingin menjadi beban keluarganya, mengamati perubahan cara masyarakat memandang pendidikan, membaca data dengan lebih hati-hati, hingga memperhatikan cerita-cerita kecil yang tidak pernah masuk ke dalam berita.


Semua perjalanan itu memperlihatkan satu hal. Persoalan pendidikan tidak pernah berdiri sendirian.


Di dalamnya bertemu ekonomi, psikologi, kebijakan, budaya, keluarga, bahkan cara sebuah bangsa membayangkan masa depannya. Karena itu pula, jawaban atas persoalan tersebut tidak akan pernah lahir dari satu kebijakan, satu lembaga, atau satu kelompok saja. Ia memerlukan percakapan yang terus dijaga, keberanian untuk melihat persoalan secara utuh, dan kesediaan untuk mendengar pengalaman orang lain sebelum terburu-buru menarik kesimpulan.


Mungkin itulah yang ingin dicapai oleh sebuah universitas. Bukan hanya menghasilkan orang-orang yang pandai. Melainkan membantu sebuah masyarakat tetap percaya bahwa pengetahuan adalah ruang yang dapat dimasuki oleh siapa pun yang ingin belajar, tanpa harus terlebih dahulu merasa bahwa dirinya berasal dari keluarga yang tepat, kota yang tepat, atau keadaan yang tepat.


Sebab ketika keyakinan itu masih hidup, pendidikan tidak pernah benar-benar jadi barang mewah.

Ia tetap menjadi harapan yang layak diperjuangkan bersama. []


***

Tentang Peta Akar


AKAR KABAR menutup setiap pembahasan dengan Peta Akar. Bukan sebagai kesimpulan, melainkan sebagai alat bantu membaca sebuah persoalan. Peta ini mengajak pembaca bergerak dari gejala yang tampak di permukaan menuju akar yang membentuknya, agar setiap isu tidak berhenti sebagai peristiwa, tetapi dipahami dalam konteks yang lebih utuh. [][tamat]


Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.