Kulit sawo matang, hidung tidak mancung, atau wajah tanpa filter sering dianggap kekurangan. Siapa sebenarnya yang mengajarkan kita untuk berpikir demikian?
Pernah memperhatikan bagaimana seseorang bisa merasa baik-baik saja dengan wajahnya, sampai orang lain berkomentar tentang penampilannya? Kulit yang dianggap terlalu gelap, hidung yang kurang mancung, atau wajah yang tidak semulus selebritas Korea tiba-tiba berubah menjadi persoalan. Padahal, sebelum komentar itu muncul, mungkin ia bahkan tidak pernah memikirkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Fenomena tersebut terasa akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama ketika pembicaraan mengenai kecantikan semakin mudah ditemukan di media sosial. Berbagai produk, tren perawatan, dan teknik tata rias menawarkan kemungkinan untuk tampil lebih menarik. Sayangnya, di tengah begitu banyak pilihan, muncul kesan bahwa wajah alami seseorang belum tentu cukup untuk memenuhi harapan lingkungan.
Ironisnya, Indonesia justru memiliki keragaman karakter fisik yang luar biasa, mulai dari warna kulit, bentuk mata, hidung, hingga tekstur rambut. Keragaman tersebut semestinya memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk memahami kecantikan. Kenyataannya, standar yang beredar sering kali lebih sempit daripada wajah-wajah yang kita jumpai setiap hari.
Baca Juga: Dari Biji Sacha Inchi ke Serum Wajah, Apa yang Sebenarnya Dibuktikan Peneliti?
Ketika Standar Kecantikan Datang dari Luar Cermin
Anggapan bahwa kulit putih lebih cantik sebenarnya bukan fenomena baru yang muncul bersamaan dengan popularitas budaya Korea. Jauh sebelumnya, warna kulit terang telah memperoleh tempat istimewa dalam berbagai representasi kecantikan di Indonesia. Kondisi ini berkaitan dengan colorism, yakni kecenderungan memberikan penilaian atau perlakuan berbeda kepada seseorang berdasarkan tingkat kecerahan warna kulitnya. Akibatnya, warna kulit yang secara alami dimiliki seseorang dapat dipersepsikan sebagai kekurangan, bukan sekadar perbedaan.
Kehadiran gelombang budaya Korea kemudian memperkenalkan referensi kecantikan yang semakin populer melalui drama, musik, iklan, dan produk perawatan kulit. Santa Maya Pramusita, peneliti dari Universitas Pelita Harapan, mengkaji fenomena tersebut dalam penelitian yang diterbitkan jurnal LingTera pada 2021.
Melalui analisis terhadap iklan Viva, Wardah, dan Laneige dari periode berbeda, ia menemukan pengaruh estetika Korea dalam representasi kecantikan yang menonjolkan wajah putih, mulus, dan bercahaya. Temuan itu memperlihatkan bagaimana iklan dapat ikut membentuk gambaran mengenai penampilan yang dianggap ideal.
Tentu saja, menyukai kecantikan Korea tidak berarti seseorang otomatis kehilangan kebanggaan terhadap wajah Indonesianya. Persoalan baru muncul ketika satu karakter penampilan diperlakukan sebagai ukuran kecantikan yang berlaku untuk semua orang. Perempuan dengan kulit sawo matang, misalnya, bisa merasa perlu menjadi lebih putih meskipun kulitnya sehat, sementara mereka yang memiliki bentuk mata atau hidung berbeda dari figur populer merasa harus mengubah penampilannya.
Pengaruh tersebut semakin kuat ketika lingkungan terdekat ikut mengulang standar yang sama. Komentar keluarga tentang kulit yang menggelap setelah berlibur, candaan teman mengenai hidung pesek, atau pujian berlebihan kepada seseorang karena semakin putih dapat membentuk persepsi tanpa disadari. Barangkali orang yang mengucapkannya menganggap semua itu hanya percakapan ringan, tetapi penerimanya bisa menyimpan penilaian tersebut selama bertahun-tahun. Tidak mengherankan apabila sebagian orang kemudian tumbuh dengan kebiasaan mencari kekurangan pada wajahnya sendiri.
Baca Juga: Kapan Pengetahuan Berubah Jadi Klaim yang Terlalu Sederhana?
Ketika Wajah Sendiri Harus Bersaing dengan Filter
Media sosial membuat persoalan tersebut menjadi lebih rumit karena perbandingan penampilan berlangsung hampir setiap hari. Wajah yang muncul di layar sering terlihat begitu sempurna, dengan kulit tanpa pori-pori, proporsi simetris, serta pencahayaan yang selalu menguntungkan. Padahal, banyak tampilan tersebut dihasilkan melalui kombinasi tata rias, penyuntingan digital, dan filter kecantikan. Lucunya, kita mengetahui semua kemungkinan itu, tetapi tetap saja bisa merasa kalah cantik ketika melihat hasilnya.
Jasmine Fardouly, peneliti psikologi dari UNSW Australia, bersama Phillippa Diedrichs, Lenny Vartanian, dan Emma Halliwell pernah meneliti hubungan media sosial dengan citra tubuh perempuan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Body Image pada 2015 itu melibatkan 112 perempuan yang dibagi ke dalam kelompok pengguna Facebook, pembaca majalah daring, dan pengunjung situs netral. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengakses Facebook mengalami suasana hati lebih negatif dibandingkan kelompok situs netral, sedangkan peserta dengan kecenderungan tinggi membandingkan penampilan lebih merasakan ketidaksesuaian pada wajah, rambut, dan kulitnya. Penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana kebiasaan membandingkan penampilan dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya.
Menariknya, gambaran mengenai kecantikan di Indonesia sebenarnya mulai menunjukkan perubahan. Laporan ZAP Beauty Index 2024 mencatat bahwa proporsi responden yang menjadikan kulit putih sebagai definisi cantik turun dari 13,6 persen pada survei 2021 menjadi 1,1 persen pada 2023. Sebaliknya, sebanyak 30,7 persen responden memilih wajah bersih dan mulus sebagai gambaran kecantikan, disusul penampilan berpakaian baik sebesar 16,4 persen dan kulit cerah bercahaya sebesar 16,3 persen. Meski hasil survei ini tidak mewakili seluruh masyarakat Indonesia, pergeseran tersebut memberikan gambaran menarik mengenai perubahan preferensi kecantikan.
Pertanyaannya, apakah perubahan itu benar-benar membuat perempuan lebih bebas menentukan kecantikannya sendiri? Ketika kulit putih tidak lagi menjadi ukuran utama, tuntutan lain bisa mengambil tempatnya, seperti wajah tanpa jerawat, kulit bercahaya, tubuh proporsional, atau penampilan awet muda. Standar kecantikan mungkin berubah, tetapi tekanan untuk memenuhi standar tersebut belum tentu ikut menghilang. Seseorang bahkan dapat terus mengejar penampilan ideal yang ukurannya berganti setiap kali muncul tren baru.
Situasi ini bukan berarti merawat diri atau menggunakan kosmetik merupakan sesuatu yang keliru. Keinginan mempunyai kulit sehat, mencoba teknik tata rias Korea, atau memperbaiki penampilan adalah bagian dari kebebasan pribadi yang patut dihargai. Persoalannya terletak pada alasan di balik keputusan tersebut, terutama ketika seseorang merasa harus mengubah karakter fisiknya agar memperoleh penerimaan sosial. Perawatan kecantikan semestinya membantu seseorang merasa nyaman dengan dirinya, bukan membuatnya semakin sibuk membuktikan bahwa wajah alaminya belum cukup baik.
Indonesia tidak kekurangan wajah cantik, termasuk wajah-wajah yang selama ini jarang memperoleh tempat dalam gambaran kecantikan populer. Yang masih perlu dipertanyakan adalah mengapa pujian terhadap satu jenis penampilan begitu mudah berubah menjadi penilaian negatif terhadap jenis penampilan lainnya. Selama kulit sawo matang masih dianggap perlu diputihkan, rambut keriting harus diluruskan, atau wajah tanpa filter dinilai kurang menarik, kecantikan akan tetap menjadi perlombaan yang tidak semua orang ingin ikuti. Barangkali sudah saatnya kita lebih berhati-hati ketika memuji kecantikan seseorang, agar pujian itu tidak sekaligus mengajarkan orang lain untuk membenci wajahnya sendiri. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.