Ada fase ketika menulis terasa seperti meniru tanpa sadar. Kita membaca tulisan orang lain, lalu mencoba menuliskan sesuatu dengan rasa yang mirip. Diksi, alur, bahkan cara menyampaikan terasa seperti bayangan dari apa yang pernah kita baca.
Di awal, itu terasa wajar. Bahkan sering jadi satu-satunya cara untuk mulai. Kita belum tahu suara sendiri, jadi yang paling dekat adalah menggunakan suara yang sudah ada.
Namun di titik tertentu, muncul pertanyaan kecil. Tulisan ini terasa bagus, tapi apakah ini benar-benar 'gue'? Atau hanya versi lain dari sesuatu yang sudah pernah ada.
Baca Juga: Kita Ingin Cepat Bisa, Tapi Tak Siap Jadi Pemula, Mengapa?
Meniru Bukan Berarti Tidak Punya Gaya
Banyak orang merasa tidak percaya diri ketika menyadari tulisannya mirip dengan orang lain. Seolah meniru berarti tidak orisinal, dan tidak punya identitas sendiri. Padahal dalam banyak proses kreatif, meniru adalah bagian yang hampir tidak terhindarkan.
Saat kita belajar menulis, kita juga sedang belajar rasa. Bagaimana kalimat mengalir, bagaimana emosi disampaikan, dan bagaimana ide dibangun. Semua itu sering datang dari apa yang kita konsumsi sebelumnya.
Masalahnya bukan pada meniru, tapi berhenti di situ. Ketika kita hanya menyalin tanpa memahami, tulisan akan terasa kosong. Tapi ketika kita mulai menyadari apa yang kita tiru, di situlah proses menemukan gaya mulai berjalan.
Contohnya sederhana. Seseorang mungkin awalnya menulis dengan gaya yang puitis karena sering membaca tulisan seperti itu. Tapi lama-lama ia merasa lebih nyaman menulis dengan gaya yang lebih langsung. Dari situ, perubahan kecil mulai terjadi.
Baca Juga: Kenapa Hobi Lama Sering Kembali di Usia Dewasa?
Gaya Sendiri Muncul Saat Kita Jujur
Gaya menulis tidak muncul dari satu momen besar. Ia terbentuk dari kebiasaan, dari eksperimen, dan dari keberanian untuk mencoba hal yang terasa lebih dekat dengan diri sendiri. Semakin sering menulis, semakin terlihat pola yang terasa 'pas'.
Di fase ini, kita mulai tidak terlalu sibuk terlihat seperti orang lain. Kita mulai memilih kata yang terasa lebih jujur, alur yang lebih sederhana, atau bahkan cara bercerita yang lebih santai. Dari luar mungkin tidak terasa drastis, tapi dari dalam, perubahan itu jelas.
Menariknya, gaya sering muncul saat kita berhenti mencarinya. Ketika kita fokus pada apa yang ingin disampaikan, bukan bagaimana terlihat, tulisan perlahan menemukan bentuknya sendiri.
Menulis akhirnya bukan lagi tentang menjadi seperti siapa. Tapi tentang memahami bagaimana kita ingin berbicara. Dari situ, tulisan tidak hanya enak dibaca, tapi juga terasa punya suara.
Dan ketika suara itu mulai terasa, kita tidak lagi sibuk membandingkan. Kita cukup menulis, lalu melihat ke mana arah itu membawa. [][Liora Maheswari/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]