Oleh Rommy Rimbarawa

Spanduk kuning itu akhirnya turun dari Patung Selamat Datang. Tetapi bagi enam aktivis Greenpeace Indonesia yang membentangkannya, peristiwa Selasa pagi itu belum selesai.

Saya mengikuti kabar dari Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada 20 Oktober 2026 dengan perasaan yang bercampur. Ada kelegaan ketika para aktivis mulai turun dari monumen menggunakan tali penyelamatan. Ada pula kecemasan ketika seorang perempuan yang turun lebih dahulu terlihat lemas dan segera dibawa menuju ambulans kepolisian.

Menurut Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold EP Hutagalung, keenam aktivis kemudian dibawa ke Klinik Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya untuk mendapatkan penanganan medis. Mereka terdiri atas empat laki-laki dan dua perempuan. Salah seorang aktivis perempuan dilaporkan memerlukan bantuan oksigen setelah dievakuasi.

Saya menghargai upaya petugas yang membantu mereka turun dengan selamat. Memanjat monumen setinggi itu jelas membawa risiko, apa pun tujuan yang hendak disampaikan. Keselamatan manusia tidak boleh menjadi persoalan sampingan, termasuk ketika seseorang sedang menggunakan haknya untuk menyampaikan kritik.

Tetapi perhatian saya tidak berhenti pada ambulans yang membawa mereka meninggalkan Bundaran HI. Saya justru terus memikirkan dua spanduk yang sebelumnya menjuntai dari monumen tersebut. Salah satunya meminta pemerintah menangani krisis iklim dan menurunkan biaya hidup, sedangkan spanduk lainnya mempertanyakan pekerjaan pemerintah ketika bencana semakin parah dan kehidupan masyarakat semakin sulit.

Dua kalimat itu membawa persoalan yang jauh lebih besar daripada aksi beberapa jam di pusat Jakarta.

Greenpeace Indonesia sengaja memilih tanggal 20 Oktober, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Organisasi lingkungan tersebut menggunakan momentum itu untuk menyampaikan penilaian kritis terhadap penanganan krisis iklim dan dampaknya pada kehidupan masyarakat. Pemerintah tentu berhak menjelaskan kebijakan, capaian, serta kendala yang dihadapinya, sementara masyarakat berhak mempertanyakan hasil yang mereka rasakan.

Saya tidak mengetahui seluruh pertimbangan para aktivis ketika memutuskan memanjat Patung Selamat Datang. Tetapi saya memahami mengapa pesan tentang krisis iklim dapat mendorong kegelisahan yang begitu besar. Selama bertahun-tahun, kita telah mendengar peringatan mengenai kebakaran hutan, banjir, cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, dan ancaman terhadap sumber penghidupan masyarakat.

Peringatan itu tidak lagi hanya berbicara tentang kemungkinan yang jauh di masa depan. Sebagian dampaknya telah menjadi bagian dari pengalaman hidup masyarakat hari ini.

Baca Juga: Negeri yang Membuang Makanan, tetapi Masih Takut Kekurangan Pangan

Ketika Keselamatan Aktivis Menjadi Perhatian, Bagaimana dengan Pesannya?

Saya membayangkan betapa berbeda perhatian publik terhadap dua hal yang berlangsung pada pagi itu. Di satu sisi, orang-orang menyaksikan aksi yang tidak biasa di salah satu monumen paling dikenal di Indonesia. Di sisi lain, ada persoalan lingkungan yang telah dibicarakan selama bertahun-tahun, tetapi sering kesulitan memperoleh perhatian sebesar peristiwa yang berlangsung dalam beberapa jam.

Spanduk pertama diturunkan sekitar pukul 08.50 WIB, disusul spanduk kedua sekitar pukul 09.20 WIB. Para aktivis masih berada di atas monumen setelah kain-kain tersebut dilepas. Mereka kemudian turun secara bertahap dengan bantuan petugas, dan laporan kepolisian menyebut keenamnya mendapatkan penanganan medis.

Sampai informasi yang tersedia saat tulisan ini disusun, belum ada kepastian yang dapat saya gunakan untuk menyatakan bahwa seluruh aktivis telah dipulangkan. Belum ada pula dasar yang cukup untuk menyebut mereka sebagai tersangka atau tahanan. Karena itu, penting untuk membedakan penanganan kesehatan di fasilitas kepolisian dari kesimpulan mengenai status hukum seseorang.

Saya berharap keselamatan mereka tetap menjadi prioritas, dan setiap perkembangan penanganannya disampaikan secara terbuka. Pendampingan hukum serta kejelasan prosedur juga penting agar masyarakat dapat mengetahui bagaimana aksi tersebut ditangani. Hak menyampaikan pendapat dan tanggung jawab menjaga keselamatan publik semestinya sama-sama memperoleh perhatian.

Tentu ada pertanyaan yang wajar mengenai cara Greenpeace melakukan aksinya. Patung Selamat Datang merupakan monumen publik, sementara kegiatan di ketinggian mempunyai risiko bagi peserta maupun petugas penyelamat. Perdebatan mengenai penggunaan ruang publik, keselamatan, dan ketertiban layak dibicarakan secara terbuka.

Tetapi saya khawatir apabila seluruh pembicaraan berhenti pada persoalan bagaimana para aktivis naik dan turun dari monumen. Kita dapat mengkritisi metode aksi tanpa harus mengabaikan alasan mereka melakukan aksi tersebut. Menilai risiko sebuah demonstrasi tidak dengan sendirinya menjawab persoalan yang hendak disampaikan para demonstran.

Greenpeace membawa pesan yang cukup jelas: krisis iklim mempunyai hubungan dengan biaya hidup. Hubungan itu mungkin tidak langsung terlihat ketika kita membaca berita mengenai kebakaran hutan atau perubahan suhu. Tetapi bagi orang yang penghasilannya bergantung pada cuaca, kualitas lingkungan, dan keberlangsungan pekerjaan, persoalannya jauh lebih dekat.

Nelayan dapat kehilangan kesempatan melaut ketika cuaca berbahaya. Petani menghadapi ketidakpastian musim dan ancaman kerusakan tanaman, sedangkan pekerja luar ruang dapat mengalami gangguan produktivitas ketika panas ekstrem atau banjir menghambat kegiatan mereka. Bencana juga dapat merusak tempat tinggal, mengganggu perjalanan, dan menambah pengeluaran rumah tangga.

Tentu tidak setiap kenaikan harga atau penurunan pendapatan dapat langsung disebabkan oleh krisis iklim. Harga pangan, misalnya, dipengaruhi pula oleh pasokan, distribusi, biaya energi, kebijakan perdagangan, dan keadaan pasar. Meski begitu, gangguan iklim dapat memperberat persoalan-persoalan tersebut, terutama bagi keluarga yang kemampuan ekonominya sudah terbatas.

Dalam siaran pers aksinya, Greenpeace merujuk riset terbaru berjudul Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah. Riset itu mengamati pengalaman kelompok masyarakat di kawasan Jakarta Raya, Bandung Raya, dan Yogyakarta Raya. Greenpeace melaporkan bahwa dampak yang paling banyak dirasakan responden berkaitan dengan konsumsi dan biaya pangan, disusul produktivitas serta pendapatan.

Temuan tersebut perlu dibaca sesuai cakupan dan metode penelitiannya, bukan dianggap mewakili seluruh penduduk Indonesia secara otomatis. Akan tetapi, pertanyaan yang diajukannya penting: bagaimana kebijakan iklim dapat melindungi masyarakat yang menanggung kerugian ekonomi ketika cuaca ekstrem dan bencana ekologis terjadi?

Saya kira pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab daripada sekadar menentukan kapan sebuah spanduk harus diturunkan.

Baca Juga: Hutan Terbakar, Pejabat Berkabar, Siapa yang Benar-Benar Mendengar?

Krisis Iklim Tidak Berakhir Ketika Spanduk Diturunkan

Ada sesuatu yang mengusik saya ketika membayangkan Bundaran HI kembali seperti biasa. Kendaraan melintas, orang-orang bergegas menuju tempat kerja, dan Patung Selamat Datang kembali berdiri tanpa spanduk kuning. Dalam waktu singkat, ruang publik dapat kembali pada pemandangan yang kita kenal sehari-hari.

Sementara itu, persoalan yang tertulis pada spanduk tersebut tidak mengikuti jadwal penurunan kain.

Kebakaran hutan dan lahan tetap memerlukan pencegahan, pengawasan, serta pemulihan ekosistem. Banjir memerlukan penataan ruang, perlindungan daerah resapan, dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem. Masyarakat yang kehilangan penghasilan akibat bencana juga membutuhkan perlindungan yang tidak berhenti pada bantuan ketika keadaan darurat terjadi.

Saya sering merasa pembicaraan tentang lingkungan terlalu mudah dipisahkan dari pembicaraan tentang kesejahteraan. Seolah-olah menjaga hutan hanya berkaitan dengan pohon, melindungi sungai hanya berkaitan dengan air, dan mengurangi emisi hanya berkaitan dengan angka dalam laporan internasional. Padahal, kerusakan lingkungan dapat memengaruhi kesehatan, pekerjaan, pangan, tempat tinggal, dan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika hutan terbakar, dampaknya dapat melampaui kawasan yang dilalap api. Asap mengganggu kesehatan dan kegiatan masyarakat, sementara kerusakan ekosistem mengurangi kemampuan alam menjalankan fungsi-fungsi pentingnya. Ketika banjir melanda permukiman, kerugian tidak berhenti pada barang yang rusak, sebab waktu kerja, kegiatan sekolah, dan biaya pemulihan ikut menjadi beban.

Itulah sebabnya saya memahami alasan Greenpeace mempertemukan krisis iklim dengan biaya hidup dalam satu spanduk. Mereka sedang mengajukan sebuah hubungan yang patut diuji melalui data dan dijawab melalui kebijakan. Kritik tersebut tidak harus diterima seluruhnya tanpa pemeriksaan, tetapi juga tidak sepatutnya hilang hanya karena metode penyampaiannya menjadi pusat perhatian.

Pemerintah mempunyai ruang untuk menunjukkan kebijakan yang telah dijalankan, termasuk upaya pengurangan risiko bencana, pengendalian emisi, perlindungan hutan, dan dukungan terhadap kelompok rentan. Masyarakat juga memerlukan informasi mengenai hasilnya, bukan hanya daftar kegiatan atau besarnya anggaran. Kita perlu mengetahui apakah risiko berkurang, apakah perlindungan membaik, dan apakah warga yang paling terdampak benar-benar memperoleh manfaat.

Saya tidak mengharapkan setiap persoalan lingkungan selesai dalam satu masa pemerintahan. Krisis iklim merupakan tantangan panjang yang melibatkan perubahan sistem energi, penggunaan lahan, pembangunan kota, dan perilaku ekonomi. Tanggung jawabnya melintasi pemerintahan, sektor usaha, serta kehidupan masyarakat, meskipun kewenangan dan kemampuan setiap pihak tentu berbeda.

Justru karena persoalannya panjang dan rumit, ruang untuk menyampaikan kritik perlu tetap terbuka. Pemerintah membutuhkan informasi tentang kebijakan yang tidak berjalan sebagaimana diharapkan, sementara masyarakat membutuhkan saluran untuk menyampaikan pengalaman yang mungkin tidak terlihat dalam laporan resmi. Perbedaan pendapat dapat membantu memperjelas persoalan apabila ditanggapi dengan data dan kesediaan mendengar.

Aksi Greenpeace di Bundaran HI memperlihatkan bagaimana sebuah pesan lingkungan dapat memperoleh perhatian nasional melalui tindakan yang sangat mencolok. Saya tidak ingin menganggap cara seperti itu sebagai satu-satunya jalan agar kritik didengar. Semestinya tersedia banyak ruang yang aman dan efektif bagi masyarakat untuk menyampaikan kekhawatiran tanpa harus mempertaruhkan keselamatan di ketinggian.

Tetapi peristiwa itu membuat saya bertanya apakah kita sudah cukup bersedia mendengarkan peringatan yang disampaikan melalui cara-cara biasa. Laporan ilmiah, pengalaman warga terdampak, kajian organisasi masyarakat sipil, dan pemberitaan tentang kerusakan lingkungan seharusnya memperoleh perhatian berdasarkan pentingnya informasi yang dibawa. Kita tidak semestinya baru menoleh ketika pesan yang sama muncul di tempat yang mengejutkan.

Saya kembali memikirkan keenam aktivis yang dibawa ke klinik setelah turun dari monumen. Semoga mereka segera pulih dan memperoleh kejelasan mengenai penanganan yang mereka jalani. Saya juga berharap perdebatan tentang aksi tersebut berlangsung dengan tetap menghormati keselamatan, hak warga, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Lebih dari itu, saya berharap kita tidak kehilangan kesempatan untuk membicarakan apa yang sebenarnya mereka tuntut. Bagaimana masyarakat dilindungi dari bencana yang semakin merugikan, bagaimana penghidupan kelompok rentan dijaga, dan bagaimana kebijakan lingkungan dapat dinilai melalui perubahan yang sungguh dirasakan warga?

Besok pagi, mungkin tidak ada lagi orang yang membicarakan tali penyelamatan, ambulans, atau spanduk kuning di Patung Selamat Datang. Berita baru akan datang, perhatian berpindah, dan monumen itu kembali menjadi latar foto orang-orang yang melintasi Jakarta. Tetapi persoalan iklim tidak menjadi lebih ringan hanya karena peristiwa yang membuatnya ramai telah berakhir.

Spanduk memang bisa diturunkan dalam hitungan jam. Kegelisahan warga tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sama. Ia membutuhkan jawaban yang dapat diperiksa, kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya, serta kesediaan mendengarkan sebelum orang merasa perlu menyampaikan pesan dari tempat yang begitu tinggi. []

Bandung, 20 Oktober 2026