Dari altar bunga di Meksiko hingga tarian di Nepal, berbagai masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengenang kematian dan menjaga hubungan dengan leluhur.
Di Meksiko, bunga marigold berwarna jingga menghiasi altar keluarga, berdampingan dengan lilin, foto, dan makanan kesukaan orang-orang yang telah meninggal. Di Jepang, lentera dinyalakan sebagai bagian dari penghormatan kepada leluhur, sementara di Nepal, arak-arakan penuh warna disertai musik dan tawa berlangsung untuk mengenang anggota keluarga yang telah tiada.
Pemandangan tersebut mungkin terasa tidak biasa bagi masyarakat yang mengenal peringatan kematian melalui suasana hening dan kesedihan. Bagaimana mungkin kehilangan seseorang justru diperingati dengan tarian, nyanyian, makanan, dan perayaan yang meriah? Apakah kegembiraan tidak bertentangan dengan dukacita?
Pertanyaan itu menjadi menarik ketika Halloween kembali dirayakan setiap 31 Oktober. Di balik kostum menyeramkan, dekorasi tengkorak, dan labu berukir yang kini menjadi bagian dari budaya populer, terdapat sejarah panjang mengenai hubungan manusia dengan kematian dan dunia spiritual. Akan tetapi, Halloween bukan satu-satunya tradisi yang memperlihatkan hubungan tersebut, dan tidak semua kebudayaan mempunyai cara yang sama untuk memaknainya.
Baca Juga: Hari Jisun dan Diplomasi yang Berawal dari Sepiring Makanan
Dari Samhain hingga Obon, Cara Manusia Menjaga Hubungan dengan Leluhur
Halloween modern memiliki salah satu akar sejarahnya pada Samhain, festival masyarakat Kelt kuno yang berkaitan dengan berakhirnya musim panen dan datangnya musim dingin. Dalam kepercayaan yang menyertai perayaan tersebut, peralihan musim dianggap sebagai masa ketika batas antara dunia manusia dan alam roh menjadi lebih terbuka. Api unggun, kegiatan bersama, dan berbagai praktik perlindungan kemudian menjadi bagian dari tradisi yang berkembang selama berabad-abad.
Di Meksiko, Día de los Muertos atau Hari Orang Mati menghadirkan pendekatan berbeda. Peringatan yang berpusat pada akhir Oktober hingga awal November ini menggabungkan warisan kepercayaan masyarakat adat dengan pengaruh keagamaan Katolik. Keluarga menyiapkan ofrenda, yakni altar persembahan yang dapat berisi foto, bunga, lilin, dan makanan kesukaan anggota keluarga yang telah meninggal.
UNESCO mengakui tradisi tersebut sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2008, setelah sebelumnya memproklamasikannya pada 2003. Dalam praktik sejumlah komunitas adat Meksiko, perayaan itu berkaitan dengan keyakinan bahwa arwah orang terkasih dapat kembali sementara untuk mengunjungi keluarga. Makanan dan benda yang disiapkan bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari cara keluarga menunjukkan bahwa mereka masih mengingat orang yang telah meninggal.
Di Jepang, tradisi Obon umumnya berlangsung pada Juli atau Agustus, bergantung pada wilayah dan kalender yang digunakan. Keluarga mengunjungi makam leluhur, menyiapkan persembahan, dan mengikuti berbagai kegiatan penghormatan yang berkaitan dengan tradisi Buddha. Tarian bon odori serta lentera yang dinyalakan atau dihanyutkan di perairan menjadi bagian dari praktik yang dikenal di sejumlah daerah.
Dalam keyakinan yang menyertai Obon, arwah leluhur dipercaya kembali mengunjungi keluarga untuk sementara waktu. Karena itu, masa peringatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi anggota keluarga yang tinggal berjauhan untuk pulang dan berkumpul. Kehadiran tarian dan kegiatan bersama memperlihatkan bahwa penghormatan kepada mereka yang telah meninggal tidak selalu dilakukan dalam suasana muram.
Kamboja memiliki Pchum Ben, tradisi penghormatan leluhur yang berlangsung selama 15 hari menurut kalender Khmer. Masyarakat mengunjungi pagoda, memberikan persembahan makanan kepada para biksu, serta mendedikasikan doa dan kebajikan kepada keluarga yang telah meninggal. Pada 2026, puncak perayaannya berlangsung pada Oktober, beberapa pekan sebelum Halloween.
Pchum Ben juga menjadi waktu untuk memperkuat hubungan keluarga dan mengingat orang-orang yang telah mendahului mereka. Nilai bakti kepada orang tua dan penghormatan terhadap leluhur menempati posisi penting dalam praktik tersebut. Dengan demikian, peringatan kematian sekaligus menjadi sarana meneruskan hubungan antargenerasi.
Di Nepal, Gai Jatra menghadirkan suasana yang mungkin lebih mengejutkan bagi orang yang belum mengenalnya. Festival yang terutama dirayakan di Lembah Kathmandu ini melibatkan keluarga yang kehilangan anggota selama setahun terakhir. Mereka mengikuti arak-arakan yang menggunakan simbol sapi, sementara musik, tarian, dan humor menjadi bagian dari kegiatan masyarakat.
Menurut Nepal Tourism Board, Gai Jatra tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang orang yang meninggal, tetapi juga membantu mereka yang masih hidup menghadapi kesedihan. Salah satu kisah mengenai asal-usul tradisi tersebut menceritakan seorang raja yang mengadakan arak-arakan agar ratunya menyadari bahwa keluarga lain juga mengalami kehilangan. Cerita itu memperlihatkan bagaimana dukacita dapat menjadi pengalaman bersama, bukan penderitaan yang harus ditanggung sendirian.
Filipina juga mengenal Pangangaluluwa, tradisi bernyanyi dari rumah ke rumah yang berhubungan dengan peringatan orang meninggal. Dalam praktik yang dikenal di sejumlah komunitas Tagalog, kelompok penyanyi mewakili jiwa-jiwa yang telah meninggal dan menerima pemberian berupa uang atau makanan. Sekilas kegiatan tersebut mengingatkan pada trick-or-treat, tetapi Pangangaluluwa mempunyai sejarah lokal yang dipengaruhi pertemuan kepercayaan masyarakat setempat dan tradisi Katolik.
Sementara itu, sebagian masyarakat di dataran tinggi Madagaskar mengenal Famadihana, upacara yang melibatkan pengangkatan kembali jenazah leluhur dari makam untuk dibungkus dengan kain baru. Dalam tradisi yang dijalankan komunitas tertentu, keluarga berkumpul, memainkan musik, dan menari sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal. Praktik ini tidak dapat digeneralisasi sebagai kebiasaan seluruh masyarakat Madagaskar, sebab makna dan pelaksanaannya berkaitan dengan komunitas serta garis keturunan tertentu.
Baca Juga: Mengapa Restorasi Bangunan Bersejarah Tidak Boleh Sekadar Membuatnya Terlihat Baru?
Ketika Mengenang Orang Meninggal Menjadi Cara Merayakan Kehidupan
Jika diperhatikan, berbagai tradisi tersebut memiliki kesamaan yang melampaui penggunaan simbol kematian. Semuanya menyediakan ruang bagi manusia untuk mengingat seseorang yang secara fisik sudah tidak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, bentuk penghormatannya dipengaruhi keyakinan, sejarah, hubungan keluarga, dan cara masyarakat memahami kehidupan setelah kematian.
Bagi sebagian komunitas, upacara tersebut berkaitan dengan keyakinan bahwa arwah dapat kembali atau berhubungan dengan dunia manusia. Komunitas lain menekankan doa, penghormatan, atau ungkapan terima kasih kepada generasi terdahulu. Ada pula perayaan yang memberi tempat bagi humor dan kebersamaan sebagai cara untuk menjalani kesedihan.
Perbedaan itu penting dihormati karena kebudayaan tidak bisa dipahami hanya melalui penampilannya. Tarian dalam Gai Jatra, misalnya, tidak memiliki makna yang sama dengan tarian dalam Obon, sebagaimana persembahan makanan di Meksiko tidak dapat disamakan begitu saja dengan praktik keagamaan di Kamboja. Masing-masing tumbuh melalui perjalanan sejarah dan keyakinannya sendiri.
Di Indonesia, penghormatan kepada orang yang telah meninggal juga dikenal melalui berbagai praktik yang berbeda antarwilayah dan komunitas. Ziarah kubur, nyekar, dan tradisi mengenang leluhur menjadi bagian dari kehidupan sejumlah masyarakat, dengan bentuk serta pemaknaan keagamaan yang tidak selalu seragam. Kehadiran tradisi tersebut memperlihatkan bahwa hubungan dengan generasi terdahulu dapat terus dipelihara melalui ingatan, doa, dan kegiatan keluarga.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi ketika seseorang menyiapkan makanan kesukaan anggota keluarganya yang telah meninggal, membersihkan makam, atau menceritakan kembali kebiasaan orang yang dirindukannya. Kegiatan sederhana itu tidak mengembalikan kehadiran fisik seseorang, tetapi dapat membantu mempertahankan tempatnya dalam ingatan keluarga. Anak-anak yang tidak pernah bertemu kakek atau neneknya bahkan mungkin mulai mengenal mereka melalui cerita yang diulang setiap tahun.
Perayaan kematian juga dapat memperlihatkan bagaimana suatu masyarakat menghadapi kenyataan bahwa kehidupan manusia memiliki batas. Sebagian memilih keheningan, sebagian menyalakan lilin, sementara yang lain menghadirkan musik dan warna-warni. Tidak ada alasan untuk menganggap salah satu cara lebih menghormati kematian daripada cara lainnya hanya karena suasananya lebih serius atau lebih meriah.
Halloween mungkin menjadi perayaan yang paling mudah dikenali masyarakat global karena pengaruh film, televisi, dan budaya populer. Tetapi di berbagai belahan dunia, peringatan orang yang telah meninggal telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, dengan makna yang jauh lebih luas daripada kostum atau simbol menyeramkan. Mengenali tradisi-tradisi tersebut dapat membantu manusia memahami bahwa cara menghadapi kehilangan tidak selalu harus menyerupai pengalaman budaya sendiri.
Barangkali hal paling menyentuh dari berbagai perayaan itu justru bukan keyakinan mengenai kemungkinan bertemunya kembali dua dunia. Ada kerinduan yang terus menemukan bentuk, bahkan setelah waktu berlalu dan generasi berganti. Melalui bunga, makanan, doa, tarian, serta cerita yang diwariskan, manusia berusaha menjaga agar orang-orang terkasih tidak sepenuhnya hilang dari ingatan.
Kematian memang mengakhiri kehidupan seseorang, tetapi tidak selalu mengakhiri hubungan yang dibangun selama hidupnya. Dalam berbagai kebudayaan, kenangan itu memperoleh tempat untuk kembali hadir, setidaknya melalui orang-orang yang masih hidup dan terus mengingatnya. Mungkin itulah sebabnya manusia di begitu banyak tempat memiliki cara untuk memperingati orang yang telah tiada: bukan karena mereka menolak kenyataan tentang kematian, melainkan karena kasih sayang tidak selalu selesai bersama perpisahan. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.