Peptida semakin sering ditemukan dalam serum dan krim wajah. Bahan ini disebut membantu menjaga kekencangan kulit, tetapi apakah semua peptida memiliki manfaat yang sama?
Belakangan ini, nama peptida semakin akrab di telinga pengguna produk perawatan kulit. Bahan yang dahulu lebih sering ditemukan dalam pembahasan ilmiah kini muncul pada kemasan serum, krim wajah, hingga produk yang menawarkan pengurangan tanda penuaan. Klaimnya cukup menarik, mulai dari membantu produksi kolagen sampai membuat kulit terlihat lebih kencang dan awet muda.
Bagi konsumen yang sudah mengenal retinol, niacinamide, atau asam hialuronat, kehadiran peptida mungkin terasa seperti tambahan baru dalam daftar bahan aktif yang perlu dicoba. Apalagi ketika berbagai merek mulai menggunakan istilah multi-peptide atau peptide complex untuk menggambarkan formulasi produknya. Persoalannya, istilah tersebut sering terdengar lebih meyakinkan daripada penjelasan mengenai apa yang sebenarnya dilakukan bahan tersebut pada kulit.
Padahal, peptida bukan satu jenis bahan dengan satu fungsi yang berlaku untuk semua produk kosmetik. Sebagian dikembangkan untuk membantu mendukung struktur kulit, sementara jenis lainnya diteliti untuk fungsi biologis yang berbeda. Memahami perbedaan ini penting agar konsumen tidak menganggap setiap produk yang mengandung peptida pasti memberikan hasil serupa.
Baca Juga: Kosmetik Apa yang Dibutuhkan Kulit Saat Kekeringan dan Asap Karhutla?
Peptida Bukan Satu Bahan dengan Satu Fungsi
Secara sederhana, peptida merupakan rangkaian pendek asam amino, yaitu komponen penyusun protein yang juga ditemukan secara alami dalam tubuh manusia. Kolagen dan elastin, dua protein yang berperan dalam struktur serta elastisitas kulit, tersusun dari rangkaian asam amino yang lebih panjang. Dalam pengembangan kosmetik, peptida tertentu dirancang atau dipilih berdasarkan aktivitas biologis yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kulit.
Salah satu kelompok yang banyak digunakan adalah signal peptides, yakni peptida yang diteliti karena kemampuannya memberikan sinyal kepada sel untuk mendukung proses tertentu, termasuk pembentukan komponen matriks kulit. Ada pula carrier peptides yang berperan membawa mineral tertentu, seperti tembaga, serta kelompok peptida yang dikembangkan untuk memengaruhi aktivitas enzim atau komunikasi antarsel. Perbedaan mekanisme ini menjelaskan mengapa peptida dalam kosmetik tidak bisa diperlakukan sebagai satu bahan aktif yang selalu mempunyai manfaat identik.
Nathalie van Walraven bersama Richard J. FitzGerald, Hans-Jürgen Danneel, dan Miryam Amigo-Benavent mengulas keragaman tersebut dalam jurnal ilmiah Peptides pada 2025. Penelitian mereka mengidentifikasi 102 jenis peptida kosmetik komersial dengan potensi aktivitas yang beragam, mulai dari mendukung pembentukan kolagen dan asam hialuronat hingga aktivitas antioksidan serta pengaturan pigmentasi. Meski demikian, para peneliti menemukan bahwa tingkat pembuktian ilmiah masing-masing peptida berbeda, terutama karena banyak penelitian masih dilakukan melalui pengujian laboratorium atau jaringan kulit di luar tubuh manusia.
Artinya, peptida yang menunjukkan aktivitas menjanjikan dalam penelitian belum tentu menghasilkan perubahan yang sama ketika digunakan sebagai serum atau krim wajah. Kulit memiliki lapisan pelindung yang membatasi masuknya berbagai zat, sementara ukuran dan sifat kimia peptida dapat memengaruhi kemampuannya mencapai lokasi kerja yang diharapkan. Formulasi produk menjadi sangat penting karena bahan aktif harus tetap stabil, dapat digunakan dengan nyaman, dan memberikan manfaat sesuai tujuan pengembangannya.
Baca Juga: Mengapa Kita Sulit Merasa Cantik dengan Wajah Kita Sendiri?
Ada Peptida dalam Serum, Apakah Manfaatnya Pasti Terbukti?
Pertanyaan mengenai efektivitas peptida semakin menarik setelah muncul tinjauan sistematis dalam jurnal Frontiers in Medicine pada Maret 2026. Houriah Y. Nukaly bersama tim peneliti menganalisis 19 uji klinis acak yang melibatkan 1.341 peserta untuk mengevaluasi penggunaan peptida terhadap tanda penuaan kulit. Secara umum, penelitian menemukan manfaat tertentu pada hidrasi, kecerahan, dan pengurangan kerutan, tetapi hasil terhadap elastisitas serta kepadatan kulit belum menunjukkan konsistensi yang sama.
Ada satu detail yang penting diperhatikan sebelum hasil penelitian tersebut digunakan untuk mempromosikan serum peptida. Dari 19 penelitian yang dianalisis, sebanyak 17 membahas peptida oral, sementara hanya dua yang secara khusus menguji sediaan topikal atau produk yang digunakan langsung pada kulit. Karena itu, manfaat yang ditemukan pada peptida yang dikonsumsi tidak dapat langsung dijadikan bukti bahwa krim atau serum dengan kandungan peptida akan memberikan hasil serupa.
Persoalan pembuktian efektivitas kosmetik juga menjadi perhatian Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., bersama Kamila Shiba, Haritsa Nursifa, dan Iyan Sopyan dari lingkungan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Dalam kajian yang diterbitkan jurnal Farmaka pada 2022, mereka membahas pentingnya pengujian komprehensif untuk menilai efektivitas bahan aktif dalam sediaan kosmetik anti-aging. Pengujian tersebut dapat mencakup penelitian laboratorium, pengamatan pada model biologis, hingga uji klinis pada manusia untuk memperoleh gambaran manfaat yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Perspektif tersebut relevan dengan penggunaan peptida karena nama bahan aktif pada kemasan hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan produk. Konsentrasi, kestabilan, interaksi dengan bahan lain, serta kemampuan formulasi menghantarkan bahan aktif ikut menentukan hasil yang mungkin diperoleh pengguna. Dengan demikian, keberadaan peptida dalam daftar komposisi belum cukup untuk membuktikan bahwa sebuah produk mampu meningkatkan produksi kolagen atau mengurangi kerutan sebagaimana dijanjikan dalam iklan.
Bagi konsumen, peptida dapat menjadi salah satu pilihan bahan dalam rutinitas perawatan kulit, terutama ketika produk tersebut memiliki manfaat yang sesuai dengan kebutuhan dan didukung bukti yang memadai. Meski begitu, tidak ada keharusan menggunakan serum peptida hanya karena bahan tersebut sedang populer, terlebih jika kondisi kulit sudah terjaga dengan pembersih lembut, pelembap, dan perlindungan matahari yang sesuai. Pemilik kulit sensitif juga tetap perlu memperhatikan keseluruhan formulasi produk, sebab peptida bukan jaminan bahwa kosmetik terbebas dari risiko iritasi.
Popularitas peptida memperlihatkan bagaimana perkembangan ilmu kosmetik terus menghadirkan bahan dengan potensi yang semakin beragam. Inovasi tersebut tentu memberi peluang bagi konsumen untuk memperoleh produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan kulit, asalkan manfaatnya tidak dibesar-besarkan sebelum terbukti. Sebab, memilih kosmetik seharusnya bukan perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin bahan aktif yang sedang populer, melainkan memahami apa yang dibutuhkan kulit dan seberapa jauh produk benar-benar mampu membantunya. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.