Kita mudah menilai sesuatu yang tampak berbeda. Padahal, sebagian orang sedang berjuang menghadapi gerakan atau suara yang muncul di luar kendali mereka.
Belakangan ini, nama Rachel Chaleff atau yang dikenal sebagai Keet semakin banyak diperbincangkan di media sosial. Melalui konten-kontennya di TikTok, ia memperlihatkan bagaimana hidup dengan Tourette Syndrome dan autism tanpa berusaha menutupi kondisinya. Video-videonya sering memancing rasa penasaran, terutama bagi orang yang baru pertama kali mengetahui bahwa ada kondisi neurologis yang membuat seseorang mengalami gerakan atau suara yang sulit dikendalikan. Kehadiran Rachel bukan hanya membuka ruang diskusi, tetapi juga menjadi pintu bagi banyak orang untuk mulai memahami seperti apa Tourette Syndrome dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, tidak semua orang yang melihat kondisi tersebut langsung memahami apa yang sedang terjadi. Sebagian menganggapnya sebagai perilaku yang dibuat-buat, sebagian lain mengira itu sekadar kebiasaan yang bisa dihentikan jika seseorang benar-benar mau. Padahal, Tourette Syndrome jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.
Baca Juga: Tubuh Sering Memberi Tanda Kecil Sebelum Jatuh Sakit. Mengapa Kita Sering Mengabaikannya?
Tourette Syndrome Bukan Kebiasaan, Melainkan Kondisi Neurologis
Tourette Syndrome merupakan gangguan neurodevelopmental yang ditandai dengan munculnya tic, yaitu gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba, berulang, dan sulit dikendalikan. Tic dapat berupa kedipan mata yang berulang, gerakan kepala, mengangkat bahu, hingga suara seperti berdehem, mendengus, atau mengucapkan kata tertentu tanpa disengaja. Gejalanya umumnya mulai muncul pada masa kanak-kanak dan dapat berubah intensitasnya seiring bertambahnya usia.
Banyak orang mengira pengidap Tourette dapat menghentikan tic mereka jika berusaha lebih keras. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Sebagian pengidap memang mampu menahan tic untuk sementara waktu, tetapi upaya tersebut sering diibaratkan seperti menahan bersin. Semakin lama ditahan, dorongan untuk melakukannya justru semakin kuat hingga akhirnya muncul juga.
Hal lain yang kerap disalahpahami adalah anggapan bahwa semua pengidap Tourette akan mengucapkan kata-kata kasar secara tiba-tiba. Kondisi yang dikenal sebagai coprolalia itu memang dapat terjadi, tetapi hanya dialami oleh sebagian kecil pengidap Tourette Syndrome. Sebagian besar justru mengalami tic dalam bentuk gerakan atau suara sederhana yang tidak berkaitan dengan kata-kata kasar.
Baca Juga: Mengapa Tubuh Tidak Selalu Langsung Merasa Sakit?
Yang Sering Terasa Berat Bukan Hanya Tic-nya
Selain menghadapi tic, banyak pengidap Tourette juga harus berhadapan dengan reaksi lingkungan. Tatapan heran, tawa, komentar yang meremehkan, atau anggapan bahwa mereka sedang mencari perhatian sering kali menjadi beban yang tidak kalah melelahkan dibanding kondisi yang mereka alami.
Melalui kontennya, Rachel Chaleff memperlihatkan bahwa seseorang dengan Tourette tetap dapat belajar, bekerja, berkarya, dan menjalani kehidupan seperti orang lain. Ia tidak sedang meminta belas kasihan. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa keterbukaan dapat membantu mengurangi stigma yang selama ini melekat pada Tourette Syndrome. Banyak orang akhirnya memahami bahwa yang mereka lihat bukanlah perilaku yang disengaja, melainkan bagian dari kondisi neurologis yang nyata.
Pemahaman seperti ini menjadi penting karena Tourette Syndrome bukan sesuatu yang dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi dapat dikelola melalui terapi perilaku, dukungan psikologis, maupun pengobatan tertentu apabila tic sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dengan dukungan yang tepat, banyak pengidap Tourette mampu menjalani pendidikan, bekerja, dan membangun kehidupan yang produktif.
Mungkin, yang paling dibutuhkan pengidap Tourette bukanlah tatapan penuh rasa kasihan. Mereka lebih membutuhkan ruang untuk dipahami sebagai manusia yang kebetulan hidup dengan kondisi neurologis tertentu. Sebab, di balik setiap gerakan atau suara yang muncul tanpa diminta, tetap ada seseorang yang memiliki harapan, kemampuan, dan kehidupan yang ingin dijalani sebagaimana orang lain. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.