Tidak semua pertanyaan lahir karena seseorang membutuhkan jawaban. Ada kalanya yang dicari justru sesuatu yang lebih sederhana, tetapi sering terlewat dalam percakapan sehari-hari.
Ketika seseorang bertanya, kebanyakan orang akan berusaha memberikan jawaban. Semakin cepat dan semakin tepat jawaban yang diberikan, semakin baik pula respons tersebut dianggap. Cara berpikir seperti ini begitu umum karena sejak lama manusia terbiasa melihat percakapan sebagai proses bertukar informasi.
Namun, kehidupan sehari-hari menunjukkan sesuatu yang sedikit berbeda. Ada orang yang berkali-kali menceritakan masalah yang sama meskipun sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Ada yang meminta pendapat, tetapi tampak tidak benar-benar mencari keputusan. Ada pula yang mengulang pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah ia pahami sejak awal.
Jika diperhatikan lebih jauh, banyak pertanyaan ternyata tidak lahir dari kekurangan informasi. Yang sedang dicari seringkali bukan jawaban, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan kebutuhan emosional manusia.
Baca Juga: Apakah Anda Termasuk yang Lebih Suka Mengirim Reaksi daripada Menulis Balasan?
Tidak Semua Pertanyaan Sedang Mencari Jawaban
Seorang teman mungkin bertanya apakah dirinya sudah mengambil keputusan yang tepat. Seorang pasangan mungkin mengeluhkan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Seorang rekan kerja bisa datang membawa keresahan yang jawabannya sebenarnya sudah tersedia di depan mata. Dalam situasi seperti itu, respons yang paling cepat biasanya adalah memberikan saran atau menawarkan solusi.
Masalahnya, tidak semua orang datang untuk mencari solusi. Ada kalanya seseorang hanya ingin memastikan bahwa apa yang sedang ia rasakan dapat dipahami oleh orang lain. Pertanyaan menjadi cara untuk membuka percakapan, bukan semata-mata untuk memperoleh informasi baru.
Psikolog dan peneliti hubungan antarmanusia, Brené Brown, banyak membahas bagaimana empati bekerja dalam komunikasi. Menurutnya, manusia sering tak membutuhkan seseorang yang mampu memperbaiki masalah mereka saat itu juga. Yang lebih dibutuhkan justru kehadiran orang lain yang bersedia memahami pengalaman yang sedang mereka jalani.
Karena itu, tidak mengherankan jika nasihat yang sangat tepat terkadang terasa kurang membantu. Bukan karena nasihat tersebut salah, melainkan karena kebutuhan yang sedang dibawa ke dalam percakapan berbeda dengan apa yang ditangkap oleh lawan bicara. Seseorang mungkin datang dengan kebutuhan untuk didengar, tetapi pulang dengan daftar solusi yang tidak pernah ia minta.
Di titik inilah banyak percakapan kehilangan maknanya. Kedua pihak sama-sama berbicara, tetapi sesungguhnya sedang berada di jalur yang berbeda. Yang satu berusaha menjawab pertanyaan, sementara yang lain berharap ada orang yang benar-benar memahami apa yang sedang dirasakannya.
Baca Juga: Kenapa Orang Baik Lebih Banyak Diam?
Didengar dan Dipahami Adalah Dua Hal yang Berbeda
Dalam komunikasi, mendengar sering dianggap cukup. Padahal mendengar dan memahami bukanlah hal yang sama. Seseorang dapat mendengar seluruh cerita tanpa melewatkan satu kata pun, tetapi tetap gagal menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Hal tersebut menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan perkembangan kecerdasan buatan. Dalam bukunya The Missing Layer in AI, Wendra Wilendra, M.MT. menulis tentang pengalamannya ketika berinteraksi dengan sistem yang mampu memberikan jawaban yang benar, tetapi tetap terasa kurang memuaskan. Ia menulis, "Kadang jawabannya kayak pintar, tapi kosong. Pintar struktur, tapi nggak punya rasa."
Meskipun ditulis dalam konteks AI, gagasan tersebut ternyata cukup dekat dengan pengalaman komunikasi manusia sehari-hari. Jawaban yang benar belum tentu membuat seseorang merasa dipahami. Ada lapisan lain yang sering dicari manusia ketika berbicara, yaitu perhatian terhadap konteks, pengalaman, emosi, dan makna yang tersembunyi di balik kata-kata.
Wendra juga menyoroti bahwa pemahaman tidak hanya dibangun dari informasi, tetapi juga dari kemampuan menangkap hubungan antarkonteks yang melatarbelakangi sebuah percakapan. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan itulah yang sering membuat seseorang merasa nyaman berbicara kepada orang tertentu, meskipun orang tersebut tidak selalu memiliki solusi atas masalah yang sedang dihadapi.
Pandangan serupa pernah disampaikan oleh ahli linguistik dan komunikasi interpersonal, Deborah Tannen. Menurutnya, banyak percakapan tidak terutama berfungsi untuk bertukar informasi, melainkan untuk membangun dan menjaga hubungan. Dalam kerangka tersebut, nilai sebuah percakapan tidak selalu terletak pada jawaban yang diberikan, tetapi pada kualitas koneksi yang tercipta di antara orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Mungkin itu sebabnya banyak orang bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Mereka bertanya untuk memastikan bahwa apa yang mereka rasakan tidak berjalan sendirian. Mereka bertanya untuk menemukan ruang yang aman bagi pikirannya. Mereka bertanya karena ingin dipahami sebelum diberi solusi. Dan dalam dunia yang semakin dipenuhi respons cepat, kemampuan untuk benar-benar memahami orang lain bisa jadi jauh lebih berharga daripada kemampuan memberikan jawaban yang paling benar. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.