Empat tahun sekali, dunia seperti memiliki bahasa yang sama. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan urusannya masing-masing tiba-tiba membicarakan hal yang serupa: sepak bola.
Piala Dunia selalu menghadirkan pemandangan yang menarik. Mereka yang mengikuti sepak bola sepanjang tahun tentu sudah menunggu momen ini sejak lama. Namun yang membuat turnamen ini berbeda adalah kehadiran banyak orang yang biasanya tidak terlalu dekat dengan dunia sepak bola.
Tiba-tiba, obrolan tentang tim unggulan muncul di kantor. Prediksi skor terdengar di meja makan. Grup percakapan keluarga yang biasanya sepi mendadak membahas peluang sebuah negara melaju ke babak berikutnya.
Bahkan orang yang tidak hafal klasemen liga mana pun bisa ikut berdebat soal peluang juara. Fenomena ini berulang hampir setiap kali Piala Dunia digelar. Dan anehnya, tidak pernah terasa membosankan.
Baca Juga: Mengapa Piala Dunia Selalu Terasa Lebih Besar daripada Sekadar Turnamen Sepak Bola?
Ketika Sepak Bola Jadi Milik Semua Orang
Tak banyak peristiwa yang mampu menyatukan perhatian manusia dalam skala sebesar Piala Dunia. Turnamen ini tidak hanya ditonton oleh penggemar sepak bola, tetapi juga oleh orang-orang yang biasanya memiliki minat yang sama sekali berbeda.
Di berbagai kota, layar besar mulai dipasang. Kafe dan warung kopi menyiapkan tempat untuk nobar. Restoran memperpanjang jam operasionalnya. Bahkan orang yang biasanya tidur lebih awal kadang rela begadang demi menyaksikan pertandingan tertentu.
Yang menarik, pembicaraan tentang sepak bola pun ikut meluas. Taktik, susunan pemain, peluang juara, hingga keputusan wasit menjadi bahan diskusi yang muncul hampir di mana-mana.
Bukan karena semua orang mendadak menjadi ahli. Melainkan karena Piala Dunia memberi alasan untuk ikut masuk ke dalam percakapan yang sama.
Dalam kehidupan yang semakin terpecah oleh minat dan algoritma, momen seperti ini justru menjadi semakin langka. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika jutaan orang menyaksikan pertandingan yang sama dan memiliki bahan obrolan yang sama keesokan harinya.
Baca Juga: Stretching, Jalan Kaki, Sampai Push-Up, Kenapa Gerakan Sederhana Sulit Dilakukan?
Jadi Pengamat Kadang Hanya Cara untuk Ikut Merayakan
Lucunya, sebagian besar orang yang mendadak aktif berkomentar saat Piala Dunia mungkin tidak benar-benar ingin menjadi pengamat sepak bola. Mereka tidak sedang menyusun analisis taktik yang rumit. Tidak pula sedang mempersiapkan diri menjadi komentator profesional.
Yang terjadi sering kali jauh lebih sederhana. Manusia senang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Ketika sebuah pertandingan ditonton oleh miliaran orang, muncul dorongan alami untuk ikut terlibat. Memberikan prediksi, memilih tim favorit, atau sekadar berpendapat membuat seseorang merasa menjadi bagian dari peristiwa yang sedang berlangsung.
Hal serupa sebenarnya tidak hanya terjadi dalam sepak bola. Konser besar, pemilu, peluncuran teknologi baru, hingga peristiwa budaya tertentu juga sering memunculkan perilaku yang sama.
Manusia menyukai pengalaman kolektif. Dan Piala Dunia adalah salah satu bentuk pengalaman kolektif terbesar yang masih dimiliki dunia saat ini.
Baca Juga: Olahraga Ringan yang Sering Kita Tunda
Euforia yang Datang Empat Tahun Sekali
Barangkali itu sebabnya Piala Dunia selalu terasa lebih besar daripada sekadar turnamen olahraga. Ia menghadirkan cerita, harapan, kejutan, kekecewaan, dan perayaan dalam waktu yang hampir bersamaan. Selama beberapa pekan, pertandingan sepak bola menjadi semacam panggung bersama tempat berbagai emosi bertemu.
Di satu sudut kota, ada orang yang bersorak karena tim favoritnya menang. Di sudut lain, ada yang kecewa karena negaranya tersingkir. Sementara banyak lainnya hanya menikmati suasana yang tercipta di sekeliling peristiwa tersebut.
Begitu turnamen berakhir, ritme kehidupan perlahan kembali normal. Obrolan tentang formasi dan peluang juara mulai berkurang. Banyak "pengamat sepak bola dadakan" kembali menjalani kesehariannya seperti biasa.
Namun beberapa tahun kemudian, ketika Piala Dunia datang lagi, fenomena yang sama hampir pasti akan terulang. Karena yang dirindukan bukan hanya pertandingan di lapangan.
Ada kegembiraan yang muncul ketika dunia, untuk sesaat, memiliki topik yang sama untuk dibicarakan. Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa Piala Dunia selalu berhasil menarik perhatian begitu banyak orang, termasuk mereka yang sebelumnya tidak pernah merasa jadi pengamat sepak bola. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.