Pengantar Redaksi
Selamat datang kembali di Pojok Bedah. Kali ini kita membedah buku Indonesian Phytocosmetic Atlas [IPA] yang ditulis tiga ahli: Wendra Wilendra, M.MT., apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dan Prof. Dr. rer. nat. apt. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si. mengulas tentang kekayaan herbal negeri ini dan bagaimana sebaiknya pendekatan dilakukan untuk menjembatani dunia akademik dan dunia bisnis yang berlatar diversitas flora Indonesia.
Pada edisi pertama serial IPA, Adrian Damar berbincang dengan Wendra Wilendra tentang ekosistem dan visi besar. Pada bagian kedua ini, kami hadir dengan perspektif yang berbeda—lebih dekat, lebih personal, dan lebih berdarah daging. Redaksi menugaskan Eva Evilia—jurnalis perempuan yang dikenal dengan gaya wawancaranya yang hangat dan reflektif—untuk duduk berbincang dengan apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., praktisi industri yang telah mengabdikan lebih dari dua puluh lima tahun di dunia kosmetik.
Bagi Cahya, atlas ini bukanlah sekadar daftar tanaman dengan nama ilmiah. Ia adalah cerminan dari apa yang ia alami setiap hari di laboratorium, pabrik, dan percakapan dengan para pelaku industri. Eva menggali pengalaman praktis Cahya: bagaimana rasanya mengekstrak kunyit dengan peralatan sederhana, mengapa lidah buaya sangat sulit diawetkan di iklim tropis, bagaimana menghadapi tantangan bahan baku yang tidak konsisten, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik klaim "100% alami" yang sering kita lihat di kemasan. Bagi Anda yang ingin memahami kosmetik dari sisi pelaku industri—bukan dari menara gading teori—ini adalah percakapan yang akan membuka mata. Selamat menikmati, dan selamat berdiskusi di Pojok Bedah kami.
"Dari Kebun ke Kemasan — Pengalaman Praktis di Balik Atlas Bahan Alam"
Eva: Teh Cahya, buku ini adalah atlas yang sangat kaya data. Tapi saya ingin memulai dari sisi yang lebih personal. Sebagai praktisi yang sudah 25 tahun di industri kosmetik, apa momen paling 'AHA!' yang membuat Anda sadar bahwa bahan alam Indonesia punya potensi besar—tapi juga tantangan besar?
apt. Cahya: Momen itu terjadi ketika saya pertama kali mencoba mengekstrak kunyit untuk produk serum. Saya membeli kunyit dari tiga petani berbeda di tiga daerah. Saya pikir semua kunyit sama. Ternyata kadar kurkuminnya sangat bervariasi—dari 1,5% sampai 6%. Warna, aroma, dan teksturnya juga berbeda. Saya sadar: ini adalah masalah besar.
Untuk membuat produk konsisten, saya harus bisa mengendalikan bahan baku dari hulu. Tapi petani tidak tahu bahwa saya butuh konsistensi. Mereka hanya tahu menjual berdasarkan warna dan ukuran rimpang. Dari situlah saya mulai berpikir: kita tidak akan pernah bisa bersaing dengan produk impor jika bahan baku kita tidak terstandar. Momen itu mengubah cara saya melihat industri—dari sekadar membuat formula, menjadi membangun sistem dari hulu ke hilir.
Eva: Teh Cahya menulis tentang ekstraksi—proses mengubah tanaman mentah menjadi ekstrak yang siap diformulasikan. Menurut Teteh, apa tantangan terbesar bagi UMKM di Indonesia dalam melakukan ekstraksi?
apt. Cahya: Tantangan terbesarnya adalah tiga hal: biaya alat, ketersediaan pelarut, dan konsistensi bahan baku. Alat seperti rotary evaporator dan HPLC harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah—di luar jangkauan sebagian besar UMKM. Pelarut seperti ethanol food grade juga mahal, dan etanol teknis tidak boleh digunakan karena mengandung pengotor. Tapi tantangan paling fundamental adalah bahan baku itu sendiri.
Di Indonesia, membeli bahan baku sering seperti membeli kucing dalam karung—Anda tidak tahu apa yang Anda dapatkan sampai diuji. Banyak UMKM tidak pernah menguji kadar senyawa aktif ekstrak mereka. Mereka mengandalkan ‘feeling’ atau informasi dari pemasok. Ini sangat berisiko. Saya selalu bilang: jika Anda tidak menguji, Anda tidak tahu. Dan jika Anda tidak tahu, Anda tidak bisa mengklaim apa pun dengan percaya diri.
Eva: Teh Cahya menyebut bahwa ekstraksi sederhana dengan etanol 70% adalah pilihan yang baik untuk UMKM. Bisakah Teteh jelaskan bagaimana cara melakukannya, dan apa batasannya?
apt. Cahya: Metode yang paling mudah dan terjangkau adalah maserasi—rendaman dingin dengan etanol 70% selama 3-7 hari. Caranya sederhana: bahan baku dikeringkan, digiling kasar, direndam dalam etanol 70%, lalu diaduk sesekali. Setelah itu, disaring, dan pelarut diuapkan dengan water bath pada suhu 40-50°C. Hasilnya adalah ekstrak kental yang siap diformulasikan. Tapi ada batasannya.
Pertama, etanol 70% tidak cocok untuk semua tanaman. Senyawa yang sangat polar [seperti polisakarida] lebih baik diekstrak dengan air. Senyawa non-polar [seperti karotenoid] lebih baik dengan minyak atau pelarut non-polar. Kedua, kualitas ekstrak sangat tergantung pada kualitas bahan baku—jika bahan baku tidak konsisten, ekstrak tidak konsisten. Ketiga, tanpa alat penguap yang baik, sisa pelarut bisa tertinggal dan mempengaruhi stabilitas produk. Untuk UMKM, metode ini adalah titik awal yang baik, tetapi harus terus diperbaiki dengan riset dan investasi bertahap.
Eva: Lidah buaya adalah salah satu bahan yang Teteh sebut sangat sulit diawetkan. Mengapa lidah buaya begitu menantang, dan apa yang harus dilakukan produsen?
apt. Cahya: Lidah buaya adalah contoh sempurna bagaimana bahan ‘alami’ bisa menjadi mimpi buruk formulator. Gel lidah buaya murni tanpa pengawet akan ditumbuhi jamur dalam 3-5 hari pada suhu kamar. Mengapa? Karena gel lidah buaya kaya akan polisakarida—gula kompleks yang menjadi makanan favorit mikroorganisme. Bahkan dengan pengawet standar, produk berbasis lidah buaya sering gagal uji mikroba karena polisakaridanya melindungi mikroba dari aksi pengawet.
Solusinya: pertama, gunakan lidah buaya dalam bentuk bubuk kering [freeze-dried]—kadar air rendah menghambat pertumbuhan mikroba. Kedua, gunakan kombinasi pengawet yang lebih kuat untuk produk berbasis gel lidah buaya. Ketiga, pasteurisasi gel lidah buaya sebelum diformulasikan. Keempat, pertimbangkan menggunakan lidah buaya sebagai bahan pelengkap, bukan bahan utama, jika Anda tidak memiliki sistem pengawetan yang kuat. Ini pelajaran penting: ‘alami’ bukan alasan untuk mengabaikan keamanan mikrobiologis.
Eva: Teh Cahya menulis bahwa minyak kemiri dan pandan adalah bahan perawatan rambut tradisional yang populer. Apa yang membuat keduanya berbeda, dan apa tantangan formulasi masing-masing?
apt. Cahya: Minyak kemiri dan pandan memiliki pendekatan yang sangat berbeda untuk perawatan rambut. Minyak kemiri kaya akan asam lemak—terutama asam linoleat dan oleat—yang berfungsi sebagai emolien, melembabkan dan menguatkan rambut dari luar. Ini adalah bahan ‘pelapis’ yang melindungi batang rambut. Sementara pandan mengandung senyawa aromatik—terutama 2-asetil-1-pirolin yang memberi aroma khas—serta senyawa fenolik dengan aktivitas antimikroba ringan yang baik untuk kulit kepala.
Tantangan minyak kemiri: stabilitas oksidasi. Minyak kemiri mudah tengik jika tidak distabilkan dengan antioksidan dan disimpan dengan benar. Tantangan pandan: penelitian kosmetik masih sangat terbatas. Kita tahu secara tradisional pandan menyejukkan kulit kepala, tetapi belum banyak studi ilmiah yang menguji efektivitas dan keamanannya secara mendalam. Ini adalah contoh bagaimana tradisi memberi inspirasi, tetapi sains masih perlu mengejar.
Eva: Teh Cahya menulis tentang overclaim—klaim produk yang berlebihan. Sebagai praktisi, seberapa sering Teteh menemukan produk dengan klaim yang tidak didukung data?
apt. Cahya: Sangat sering. Ini adalah salah satu masalah terbesar industri kosmetik Indonesia. Saya melihat produk yang mengklaim "menghilangkan bekas luka dalam 7 hari," "mengecilkan pori secara permanen," atau "menyembuhkan jerawat." Padahal, secara ilmiah dan regulasi, kosmetik tidak bisa melakukan itu. Kosmetik hanya bisa merawat permukaan, bukan menyembuhkan.
Overclaim bukan hanya berisiko secara regulasi—BPOM bisa mencabut izin edar—tetapi juga merusak kepercayaan konsumen. Ketika konsumen kecewa, mereka tidak hanya meninggalkan produk itu, tetapi juga menjadi sinis terhadap produk lokal secara keseluruhan. Saya selalu mengingatkan: brand serius membangun kepercayaan dengan data, bukan dengan iklan. Jika Anda mengklaim "mencerahkan," tunjukkan uji klinisnya. Jika Anda mengklaim "antioksidan," tunjukkan data IC50-nya. Konsumen semakin cerdas—mereka akan mencari tahu.
Eva: Teh Cahya menyebut bahwa CoA [Certificate of Analysis-Red] adalah dokumen wajib untuk bahan baku. Apa yang harus diperhatikan ketika membaca CoA dari pemasok?
apt. Cahya: CoA adalah dokumen yang menyatakan hasil uji kualitas suatu bahan baku. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, kadar marker—apakah sesuai spesifikasi? Misalnya, jika Anda membeli ekstrak kunyit dengan klaim kurkumin 5%, CoA harus menunjukkan kadar kurkumin 5% ± 0,5%. Kedua, kadar air—idealnya di bawah 10%. Jika terlalu tinggi, ekstrak mudah rusak dan ditumbuhi mikroba.
Ketiga, kadar abu—menunjukkan kandungan mineral. Terlalu tinggi bisa berarti kontaminasi tanah. Keempat, logam berat—timbal [Pb] harus di bawah 20 ppm, merkuri [Hg] di bawah 1 ppm, arsen [As] di bawah 3 ppm, kadmium [Cd] di bawah 3 ppm. Kelima, cemaran mikroba—Angka Lempeng Total [ALT] harus di bawah 10³ CFU/g, dan negatif untuk Pseudomonas, Staphylococcus, dan Candida. Jika pemasok tidak bisa memberikan CoA, jangan membeli. Ini adalah tanda bahaya. Anda tidak bisa memproduksi produk yang aman dari bahan baku yang tidak teruji.
Eva: Teh Cahya menulis tentang risiko spesifik bahan alam—iritasi, logam berat, dan kontaminasi mikroba. Dari ketiganya, mana yang paling sering Teteh temui di lapangan?
apt. Cahya: Yang paling sering saya temui adalah kontaminasi mikroba dan logam berat. Mikroba karena banyak bahan baku tidak dicuci, dikeringkan, atau disimpan dengan benar. Saya pernah melihat ekstrak kunyit dengan ALT di atas 10⁵ CFU/g—100 kali lipat dari batas yang diizinkan. Ini terjadi karena petani mengeringkan kunyit di lantai tanah, tanpa penutup.
Logam berat juga sering menjadi masalah. Tanaman menyerap logam berat dari tanah tempat ia tumbuh. Jika petani menanam kunyit di bekas lahan pertambangan atau dekat jalan raya, timbal bisa masuk ke dalam rimpang. Yang paling berbahaya: kita tidak bisa melihat logam berat dengan mata telanjang. Satu-satunya mata yang bisa melihat adalah alat laboratorium dan kesadaran untuk menggunakannya. Saya selalu menekankan: pengujian adalah satu-satunya cara memastikan keamanan. Jangan mengandalkan asumsi "alami pasti aman."
Eva: Teh Cahya menulis tentang upcycled ingredients—mengubah limbah menjadi bahan kosmetik. Apa contoh yang paling menarik menurut Teteh, dan mengapa ini penting?
apt. Cahya: Contoh yang paling menarik adalah limbah batang nanas untuk enzim bromelain. Nanas adalah komoditas besar di Indonesia—Subang, Lampung, dan banyak daerah lain. Selama ini, batang nanas hanya limbah yang dibusukkan. Penelitian menunjukkan bahwa enzim bromelain dari batang nanas memiliki aktivitas fotoprotektif—bisa meningkatkan SPF tabir surya secara alami, tanpa iritasi.
Contoh lain: cangkang telur. Setiap hari, industri makanan menghasilkan tonase cangkang telur yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Padahal, membran cangkang telur mengandung asam hialuronat, kolagen, dan asam amino—bahan-bahan yang biasanya diimpor dengan harga mahal. Ekstrak rambutan juga mulai diteliti sebagai alternatif retinol—merangsang kolagen tanpa efek samping iritasi dan fotosensitifitas. Upcycling penting bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk ekonomi. Limbah yang tadinya harus dibayar untuk dibuang, kini menjadi pemasukan. Di negara yang bijak, limbah adalah bahan baku yang belum selesai ceritanya.
Eva: Sebagai perempuan dan praktisi yang sudah 25 tahun berkecimpung di industri ini, apa pesan Teteh untuk perempuan muda yang ingin berkarier di industri kosmetik?
apt. Cahya: Saya ingin mengatakan bahwa industri kosmetik adalah ruang yang sangat terbuka bagi perempuan. Saya memulai dari R&D, lalu bergerak ke produksi, regulasi, business development, dan akhirnya membangun pabrik sendiri. Jalan itu tidak mudah—ada banyak tantangan, dari teknis hingga politis. Tapi saya belajar bahwa ketekunan dan kejujuran adalah modal yang tidak pernah usang.
Jangan takut dengan regulasi—pelajari, karena regulasi adalah perlindungan, bukan penghalang. Jangan takut dengan sains—bangun produk di atas fondasi data, bukan sekadar cerita. Dan yang paling penting: jangan pernah mengorbankan nilai hanya karena tekanan pasar. Konsumen akan menghargai kejujuran jangka panjang. Industri kosmetik Indonesia membutuhkan lebih banyak perempuan yang berani, cerdas, dan berintegritas. Jangan hanya menjadi pengikut tren. Jadilah pencipta bukti.
Eva: Jika hanya ada satu pesan dari pengalaman 25 tahun Teh Cahya yang ingin disampaikan kepada pembaca, apa itu?
apt. Cahya: "Kejujuran adalah strategi jangka panjang." Itulah satu pesan yang ingin saya tinggalkan. Dalam 25 tahun saya di industri ini, saya melihat banyak brand naik karena klaim berlebihan—lalu jatuh karena konsumen kecewa. Saya juga melihat brand yang tumbuh pelan tapi pasti, karena mereka jujur tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan produk mereka.
Konsumen semakin cerdas. Mereka akan mencari tahu. Mereka akan membaca label, membandingkan, dan bertanya. Brand yang bertahan bukan yang paling viral, tetapi yang paling jujur, paling konsisten, dan paling ilmiah. Dan ingatlah: di balik setiap produk, ada sistem berpikir, ada keputusan, dan ada tanggung jawab yang tidak selalu terlihat. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan—dan kepercayaan adalah mata uang paling mahal di industri ini. [][bersambung]