Ada kalanya seseorang merasa seperti mengulang percakapan yang sama berkali-kali. Ceritanya mirip, penjelasannya serupa, bahkan contoh yang digunakan sering tidak banyak berubah. Yang berbeda hanya orang yang mendengarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, situasi seperti itu cukup akrab. Seorang orangtua menjelaskan aturan yang sama kepada anak-anaknya. Seorang karyawan menjelaskan pekerjaannya kepada kerabat yang berbeda. Seorang pemilik usaha menceritakan bisnisnya kepada calon pelanggan yang silih berganti. Bahkan dalam lingkaran pertemanan, seseorang bisa mengulang kisah yang sama kepada orang yang berbeda dalam waktu yang berdekatan.

Sekilas, kebiasaan ini terlihat melelahkan. Jika informasi yang disampaikan sama, mengapa manusia terus melakukannya? Bukankah akan lebih mudah jika satu penjelasan bisa dipahami oleh semua orang sekaligus?

Ternyata, kebutuhan untuk mengulang penjelasan bukan hanya soal menyampaikan informasi. Ada hal lain yang membuat kebiasaan ini terus muncul dalam kehidupan manusia.

Baca Juga: Mengapa Kita Sulit Membuang Barang yang Sudah Tidak Dipakai?

Tidak Semua Orang Memulai dari Titik yang Sama

Salah satu alasan paling sederhana adalah karena setiap orang datang dengan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Sesuatu yang sudah sangat jelas bagi satu orang bisa menjadi hal yang benar-benar baru bagi orang lain.

Seorang dokter mungkin harus menjelaskan kondisi kesehatan yang sama kepada banyak pasien. Seorang guru mengajarkan materi yang sama setiap tahun kepada murid yang berbeda. Seorang pelaku usaha berkali-kali menjelaskan produk yang sama kepada calon pembeli yang belum pernah mendengarnya sebelumnya.

Dari sudut pandang pemberi informasi, penjelasan itu terasa berulang. Namun, dari sudut pandang penerima, bisa jadi itulah kali pertama mereka mendengarnya.

Karena itulah komunikasi tidak pernah benar-benar sesederhana memindahkan informasi dari satu kepala ke kepala lain. Setiap percakapan selalu dimulai dari titik yang berbeda. Ada yang membutuhkan penjelasan singkat. Ada yang membutuhkan contoh. Ada pula yang baru memahami setelah mendengar cerita atau pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupannya.

Yang jarang disadari, kemampuan menjelaskan kembali sering kali menjadi bagian penting dari kemampuan memahami. Ketika seseorang mampu menyampaikan gagasan yang sama kepada orang-orang dengan latar belakang berbeda, ia sebenarnya sedang belajar melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

Baca Juga: Makin Banyak yang Rela Antre Panjang demi Sesuatu yang Viral, Ada di Sekitarmu yang Begini?

Mengulang Tidak Selalu Berarti Sia-Sia

Dalam budaya yang menghargai efisiensi, pengulangan sering dianggap sebagai sesuatu yang kurang ideal. Padahal banyak hal dalam kehidupan justru bertahan karena diulang terus-menerus. Nasihat diulang. Aturan diulang. Cerita keluarga diulang. Nilai-nilai kehidupan juga diwariskan melalui pengulangan yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Psikolog kognitif telah lama menjelaskan bahwa pengulangan membantu manusia memperkuat pemahaman dan ingatan. Informasi yang diterima berkali-kali cenderung lebih mudah diingat dibanding informasi yang hanya muncul sekali.

Namun dalam kehidupan sosial, pengulangan memiliki fungsi yang lebih luas. Ia bukan hanya membantu orang memahami sebuah pesan, tetapi juga membantu membangun hubungan. Ketika seseorang bersedia menjelaskan sesuatu dengan sabar, ada pesan lain yang ikut tersampaikan: bahwa orang yang mendengarkan dianggap penting untuk memahami hal tersebut.

Mungkin itu sebabnya banyak orang tetap bersedia menceritakan pengalaman hidupnya berulang kali. Bukan karena mereka lupa pernah mengatakannya, melainkan karena setiap pendengar menghadirkan percakapan yang berbeda.

Baca Juga: Banyak yang Belanja Barang Lucu yang Tak Pernah Dipakai, Ngapain?

Barangkali yang Berubah Bukan Penjelasannya, Melainkan Manusianya

Menariknya, ketika seseorang merasa sedang mengulang cerita yang sama, sesungguhnya ada satu hal yang sering berubah tanpa disadari: dirinya sendiri.

Pengalaman baru, usia, kegagalan, keberhasilan, dan berbagai peristiwa hidup perlahan mengubah cara seseorang memandang sesuatu. Akibatnya, cerita yang sama bisa memperoleh makna yang berbeda dari waktu ke waktu.

Seseorang mungkin telah menceritakan kisah masa kuliahnya puluhan kali. Namun setiap kali kisah itu diulang, ada detail yang berbeda, sudut pandang yang bergeser, atau pelajaran baru yang baru terlihat setelah bertahun-tahun berlalu.

Karena itu, mengulang penjelasan tidak selalu berarti mengulang hal yang sama persis. Kadang-kadang, pengulangan justru menjadi cara manusia memahami kembali apa yang pernah dialaminya.

Barangkali itulah alasan mengapa kebiasaan ini tidak pernah benar-benar hilang. Selama manusia terus bertemu orang baru, membangun hubungan baru, dan menjalani pengalaman baru, akan selalu ada cerita yang perlu diceritakan kembali. Dan dalam setiap pengulangan itu, bukan hanya pendengarnya yang belajar memahami sesuatu. Sang pencerita pun sering menemukan makna baru yang sebelumnya tidak pernah ia sadari. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.