Di satu sisi, ada orang yang rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk hobi tertentu. Di sisi lain, ada yang tetap setia dengan aktivitas sederhana yang bahkan tidak membutuhkan biaya besar. Keduanya sama-sama disebut hobi, tapi cara kita melihatnya sering berbeda.
Hobi mahal sering dianggap lebih 'serius', lebih 'berkelas', dan kadang terasa lebih layak dibanggakan. Sementara hobi sederhana cenderung dipandang biasa saja, bahkan tidak jarang dianggap kurang menarik. Padahal, kalau ditarik ke inti, keduanya sama-sama berangkat dari satu hal: menikmati waktu.
Perbedaan ini tidak selalu datang dari aktivitasnya, tetapi dari cara kita memberi nilai pada aktivitas tersebut. Dari sini, muncul pertanyaan yang jarang disadari: kita benar-benar menikmati hobi itu, atau sedang membangun kesan dari hobi tersebut.
Baca Juga: Hobi Menulis: Kita Sering Mulai dengan Meniru, Lama-Lama Nemu Gaya Sendiri
Ketika Hobi Menjadi Identitas yang Ingin Ditunjukkan
Dalam banyak kasus, hobi tidak lagi berdiri sebagai aktivitas pribadi. Ia mulai menjadi bagian dari identitas yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Apa yang dilakukan, bagaimana melakukannya, dan seberapa besar biaya yang dikeluarkan, perlahan ikut membentuk cara seseorang dilihat.
Contohnya terlihat pada hobi seperti fotografi dengan gear mahal, koleksi sneakers, bersepeda dengan sepeda high-end, atau bahkan coffee brewing dengan alat lengkap. Aktivitas ini tetap sah sebagai hobi, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada elemen 'ditampilkan' yang ikut bermain.
Psikolog sosial Erving Goffman dalam konsep self-presentation menjelaskan bahwa manusia cenderung mengelola bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Dalam konteks ini, hobi bisa menjadi salah satu medium untuk membentuk citra tersebut.
Dari sini, hobi mahal tidak hanya tentang aktivitas itu sendiri. Ia juga membawa pesan tentang siapa kita, atau setidaknya siapa yang ingin kita tunjukkan.
Baca Juga: Kita Ingin Cepat Bisa, Tapi Tak Siap Jadi Pemula, Mengapa?
Sederhana Bukan Berarti Kurang Bernilai
Di sisi lain, banyak hobi sederhana yang tetap bertahan tanpa perlu ditampilkan. Membaca buku, menulis, berjalan santai, atau sekadar memasak di rumah tetap menjadi pilihan bagi banyak orang. Aktivitas ini tidak selalu terlihat 'wah', tapi sering lebih dekat dengan kebutuhan personal.
Dalam bukunya Flow, Mihaly Csikszentmihalyi menjelaskan bahwa pengalaman terbaik manusia sering datang dari kondisi ketika seseorang benar-benar tenggelam dalam aktivitas yang ia lakukan. Kondisi ini tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan keterlibatan penuh.
Artinya, nilai sebuah hobi tidak selalu ditentukan oleh seberapa mahal atau kompleks aktivitasnya. Ia lebih banyak ditentukan oleh seberapa dalam seseorang terlibat di dalamnya.
Masalahnya, dalam banyak situasi, keterlibatan ini kalah oleh dorongan untuk terlihat. Hobi yang seharusnya menjadi ruang pribadi, perlahan berubah menjadi sesuatu yang perlu divalidasi.
Di titik ini, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi apakah hobi itu mahal atau sederhana. Tapi apakah kita benar-benar menikmatinya, atau hanya memastikan bahwa orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang bernilai. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.