Udara panas, debu, dan asap karhutla menghadirkan tantangan bagi kulit. Perawatan di luar dan dalam ruangan perlu disesuaikan, bukan sekadar ditambah.
Berangkat bekerja ketika matahari terasa menyengat sudah cukup merepotkan, apalagi ketika udara juga dipenuhi debu atau asap kebakaran hutan dan lahan [karhutla]. Wajah terasa lebih cepat kusam, kulit terkadang menjadi kering atau mudah mengalami iritasi, sementara aktivitas tetap harus berjalan. Tidak mengherankan apabila sebagian orang mulai mempertanyakan apakah produk kecantikan yang biasa digunakan masih sesuai dengan kondisi lingkungan tersebut.
Persoalannya, berada di luar ruangan dan menghabiskan waktu di dalam bangunan menghadirkan tantangan yang tidak selalu sama. Paparan sinar ultraviolet, panas, keringat, dan polutan menjadi perhatian ketika seseorang beraktivitas di luar, sedangkan udara ruangan berpendingin dapat memperburuk kekeringan kulit pada sebagian orang. Berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya juga membuat kenyamanan kulit berubah sepanjang hari.
Keadaan semacam ini sering dijawab dengan menambah produk perawatan, mulai dari serum antioksidan, pelembap, hingga kosmetik yang menawarkan perlindungan terhadap polusi. Padahal, tidak setiap produk dengan klaim anti-pollution memiliki kemampuan yang sama, terlebih jika yang dimaksud adalah perlindungan terhadap partikel asap berukuran sangat kecil. Sebelum membeli produk tambahan, konsumen perlu memahami apa yang benar-benar dapat dilakukan kosmetik dan perlindungan apa yang harus diperoleh melalui cara lain.
Baca Juga: Apakah Semua Tanda Penuaan Harus Diatasi dengan Produk Kecantikan?
Kulit di Luar Ruangan Membutuhkan Perlindungan yang Tepat
Ketika kekeringan dan karhutla terjadi, kulit dapat menghadapi beberapa tekanan lingkungan sekaligus. Dr. Maria Wei, profesor dermatologi dari University of California, San Francisco, menjelaskan melalui American Academy of Dermatology [AAD] pada 2023 bahwa paparan polusi asap kebakaran dalam jangka pendek dapat memperburuk kondisi kulit tertentu, termasuk eksim dan psoriasis. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penelitian mengenai cara paling efektif melindungi kulit dari dampak asap tersebut masih terbatas.
Perlindungan terhadap sinar matahari tetap menjadi kebutuhan dasar, terutama bagi mereka yang harus bekerja atau beraktivitas di luar ruangan. AAD merekomendasikan tabir surya dengan perlindungan spektrum luas terhadap UVA dan UVB, SPF minimal 30, serta ketahanan terhadap air ketika diperlukan. Penggunaannya perlu dilengkapi pakaian pelindung, tempat teduh, dan pengaplikasian ulang sekitar dua jam sekali selama terpapar matahari, terutama setelah banyak berkeringat.
Akan tetapi, tabir surya bukanlah penyaring udara yang mampu mencegah partikel PM2,5 masuk melalui pernapasan. Klaim kosmetik yang melindungi dari polusi juga tidak boleh dipahami sebagai jaminan bahwa seseorang aman berada di lingkungan dengan kualitas udara berbahaya. Ketika asap karhutla sedang pekat, mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai tetap jauh lebih penting daripada menambah lapisan kosmetik.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., praktisi formulasi kosmetik yang juga tercatat sebagai tenaga ahli industri dalam lingkungan pendidikan Rekayasa Kosmetika Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, menempatkan keamanan dan efektivitas sebagai bagian penting dalam pengembangan produk. Dalam publikasi mengenai metodologi uji klinik kosmetik bersama perspektif Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., penekanan diberikan pada pentingnya formulasi yang manfaatnya dapat diukur dan dipertanggungjawabkan. Pendekatan ini relevan ketika konsumen menghadapi produk dengan klaim perlindungan lingkungan, sebab keberadaan bahan aktif tertentu belum otomatis membuktikan bahwa produk jadi memberikan perlindungan sebagaimana diiklankan.
Baca Juga: Kulit Terasa Lebih Kering Saat Musim Kemarau. Apa yang Sebenarnya Berubah?
Di Dalam Ruangan, Perawatan Sederhana Justru Lebih Penting
Berada di dalam rumah atau kantor memang dapat mengurangi sebagian paparan lingkungan, tetapi tidak otomatis membuat kulit terbebas dari gangguan. Udara berpendingin yang kering dapat membuat kulit lebih mudah kehilangan kelembapan, terutama pada orang yang sebelumnya memiliki kecenderungan kulit kering atau sensitif. Dalam kondisi ini, pelembap yang sesuai sering lebih dibutuhkan daripada rangkaian bahan aktif yang terlalu banyak.
AAD menyarankan penggunaan pembersih yang lembut dan pelembap tanpa pewangi untuk membantu mengatasi kulit kering. Produk berbentuk krim atau salep dapat lebih sesuai bagi kulit yang sangat kering, sedangkan tekstur lebih ringan bisa dipilih berdasarkan kenyamanan dan kebutuhan kulit. Bahan seperti gliserin, asam hialuronat, atau ceramide dapat menjadi pertimbangan dalam formulasi pelembap, tetapi manfaat akhirnya tetap bergantung pada keseluruhan produk dan kecocokannya dengan kulit pengguna.
Rutinitas membersihkan wajah juga perlu dilakukan dengan bijaksana, terutama setelah seseorang pulang dari lingkungan berdebu atau berasap. Membersihkan kotoran, keringat, dan sisa kosmetik menggunakan pembersih lembut sudah menjadi langkah penting tanpa perlu menggosok wajah berulang kali. Eksfoliasi berlebihan atau penggunaan banyak bahan aktif yang berpotensi mengiritasi justru dapat memperburuk rasa kering dan tidak nyaman, sehingga rutinitas sederhana sering lebih masuk akal ketika kulit sedang sensitif.
Sementara itu, kebutuhan tabir surya di dalam ruangan bergantung pada kemungkinan paparan sinar ultraviolet. Orang yang bekerja jauh dari jendela dan tidak terkena sinar matahari langsung tentu menghadapi kondisi berbeda dari mereka yang duduk berjam-jam di dekat jendela dengan paparan cahaya matahari. Sinar UVA dapat menembus kaca jendela biasa, sehingga perlindungan tetap relevan apabila paparan berlangsung cukup lama, meskipun penggunaan tabir surya bukan berarti setiap orang harus terus mengoleskannya ketika berada di dalam ruangan.
Ada persoalan lain yang sering luput ketika pembicaraan terlalu berpusat pada produk kecantikan, yakni kualitas udara di dalam bangunan itu sendiri. United States Environmental Protection Agency [EPA] menyarankan pembatasan masuknya asap melalui pintu dan jendela serta penggunaan penyaring udara yang sesuai untuk menurunkan paparan partikel halus. Pelembap mungkin membantu kenyamanan kulit, tetapi tidak dapat menggantikan udara yang lebih bersih, sebagaimana kosmetik tidak dapat menggantikan perlindungan kesehatan ketika paparan asap sudah mencapai tingkat berbahaya.
Di tengah kekeringan dan karhutla, konsumen sebenarnya tidak selalu membutuhkan produk kecantikan yang lebih banyak atau lebih mahal. Perlindungan matahari yang tepat, pembersih lembut, pelembap yang sesuai, dan kebiasaan mengurangi paparan polusi merupakan dasar yang lebih masuk akal daripada mengejar setiap klaim baru. Jika muncul kemerahan, gatal berat, atau iritasi yang menetap, pemeriksaan dokter kulit lebih tepat daripada terus mencoba produk secara bergantian. Sebab, merawat kulit ketika lingkungan sedang tidak bersahabat bukan berarti memaksanya selalu tampil sempurna, melainkan membantu kulit tetap nyaman tanpa mengabaikan keselamatan tubuh secara keseluruhan. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.