Musim kemarau tidak hanya mengubah suhu udara, tetapi juga memengaruhi kondisi kulit. Banyak orang baru menyadari perubahan itu ketika kulit mulai terasa kering, kasar, bahkan mudah teriritasi.

Saat musim kemarau tiba, sebagian orang mulai mengeluhkan kulit yang terasa lebih kering dari biasanya. Bibir mudah pecah-pecah, tangan terasa kasar, wajah tampak kusam, hingga kulit terasa tertarik setelah mencuci muka. Padahal, produk perawatan yang digunakan tidak berubah.

Kondisi ini sering membuat orang menyalahkan sabun, pelembap, atau bahkan mengira kulitnya sedang bermasalah. Padahal, penyebabnya bisa jadi berasal dari lingkungan yang sedang berubah.

Musim kemarau identik dengan udara yang lebih kering dan kelembapan yang menurun. Perubahan inilah yang membuat kulit harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kadar air alaminya.

Baca Juga: Wajah yang Terlalu Sempurna Justru Mulai Sulit Dipercaya. Apa yang Berubah?

Udara yang Lebih Kering Membuat Kulit Kehilangan Air Lebih Cepat

Kulit memiliki lapisan pelindung alami [skin barrier] yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi tubuh dari berbagai faktor lingkungan. Ketika kelembapan udara menurun, proses penguapan air dari permukaan kulit atau transepidermal water loss [TEWL] dapat meningkat. Akibatnya, kulit lebih mudah kehilangan cairan sehingga terasa kering dan kurang nyaman.

Menurut Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., kondisi ini sering terjadi pada musim kemarau karena lingkungan menjadi lebih kering daripada biasanya. Ketika kadar air di udara menurun, kulit akan lebih mudah kehilangan kelembapannya. Jika lapisan pelindung kulit tidak dijaga dengan baik, kulit dapat menjadi lebih sensitif, terasa kasar, bahkan lebih mudah mengalami iritasi.

Pendapat tersebut sejalan dengan penjelasan Dr. Zoe Diana Draelos, seorang dermatolog dan peneliti kulit dari Amerika Serikat. Dalam berbagai publikasi ilmiahnya, ia menjelaskan bahwa menjaga fungsi skin barrier merupakan kunci utama kesehatan kulit. Bukan hanya jenis kulit kering yang memerlukan perhatian, tetapi juga kulit normal maupun berminyak, karena semuanya tetap dapat mengalami gangguan ketika lapisan pelindung kulit kehilangan kemampuannya mempertahankan kelembapan.

Dengan kata lain, kulit kering saat musim kemarau bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya penggunaan produk perawatan, melainkan juga merupakan respons alami kulit terhadap perubahan lingkungan.

Baca Juga: Apakah Kulit Kita Benar-Benar Membutuhkan Terlalu Banyak Produk?

Merawat Kulit Tidak Selalu Berarti Menambah Banyak Produk

Ketika kulit mulai terasa lebih kering, solusi pertama yang terlintas di benak banyak orang adalah membeli produk baru. Padahal, langkah sederhana sering kali sudah cukup membantu kulit beradaptasi.

Menggunakan pelembap secara rutin setelah mandi atau mencuci wajah dapat membantu menjaga kadar air di lapisan kulit. Selain itu, menghindari mandi dengan air yang terlalu panas, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta menggunakan tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit selama musim kemarau.

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. juga mengingatkan bahwa perawatan kulit sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan, bukan hanya mengikuti tren atau rekomendasi yang sedang populer. Ketika cuaca berubah, kebutuhan kulit pun dapat ikut berubah. Memahami hal tersebut membantu seseorang memilih perawatan yang benar-benar dibutuhkan oleh kulitnya.

Jadi, kulit adalah organ yang terus beradaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Saat musim kemarau membuat udara menjadi lebih kering, kulit pun bekerja lebih keras untuk mempertahankan kelembapannya. Memahami proses ini membuat kita tidak terburu-buru menyalahkan produk yang digunakan ketika kulit terasa berubah. Sebab, yang sedang berubah bukan hanya rutinitas perawatan, melainkan juga alam yang setiap hari berinteraksi langsung dengan kulit kita. [][Eva Evilia/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.