Ada momen ketika seseorang baru sampai di konser, makanan baru datang ke meja, atau matahari baru mulai tenggelam, lalu tangan otomatis bergerak mengambil ponsel. Kadang bahkan sebelum benar-benar menikmati suasananya, kamera sudah lebih dulu menyala.
Fenomena itu sekarang terasa sangat biasa dalam kehidupan sehari-hari. Orang merekam kembang api sambil hampir tidak melihat langsung ke langit, mengambil foto makanan sebelum mencicipinya, dan mendokumentasikan liburan bahkan sebelum benar-benar merasa tenang di tempat yang dikunjungi.
Yang menarik, banyak orang sebenarnya sadar bahwa kebiasaan itu kadang melelahkan. Namun dorongan untuk merekam dan mengunggah sesuatu tetap terasa lebih cepat daripada keinginan menikmati momen itu secara utuh.
Lama-lama, pengalaman terasa seperti belum benar-benar terjadi kalau belum masuk ke media sosial.
Dikutip dari Reclaiming Conversation [2015], Profesor komunikasi Sherry Turkle menjelaskan bahwa teknologi digital perlahan mengubah cara manusia hadir dalam sebuah pengalaman. Ketika perhatian terus terbagi antara mengalami sesuatu dan mendokumentasikannya, manusia sering kehilangan kesempatan untuk benar-benar tenggelam dalam momen yang sedang berlangsung. Fenomena itu terasa sangat dekat dengan kehidupan digital hari ini.
Baca Juga: Sekarang Orang Lebih Takut Kehilangan HP daripada Dompet, Anda Salah Satunya?
Media Sosial Membuat Banyak Orang Terbiasa Mengubah Pengalaman Menjadi Konten
Di era media sosial, hampir semua hal sekarang punya potensi untuk diunggah. Makan siang, suasana jalanan, tiket konser, kopi pagi, sampai momen sedih sekalipun perlahan berubah menjadi sesuatu yang bisa dibagikan ke publik digital.
Akibatnya, banyak orang mulai menjalani pengalaman sambil memikirkan bagaimana momen itu akan terlihat di layar orang lain. Sudut foto dipikirkan, pencahayaan diperhatikan, dan suasana tertentu kadang diulang hanya demi mendapatkan hasil dokumentasi yang terasa pas.
Hal itu membuat pengalaman pribadi perlahan berubah menjadi performa kecil di ruang digital.
Penulis dan pengamat budaya digital Nicholas Carr dalam The Shallows [2010] menjelaskan bahwa arus internet yang cepat membuat manusia semakin terbiasa memproses pengalaman secara singkat dan terus-menerus. Fokus manusia perlahan bergeser dari menikmati sesuatu secara mendalam menjadi terus memikirkan bagaimana pengalaman itu direkam, dibagikan, dan dilihat kembali.
Karena itu, banyak orang sekarang lebih refleks membuka kamera dibanding berhenti sejenak menikmati apa yang sedang ada di depannya.
Baca Juga: Kita Semakin Sulit Menikmati Momen Tanpa Kamera di Tangan, Benarkah?
Kadang yang Dicari Bukan Dokumentasinya, Tapi Validasi bahwa Momen Itu Berharga
Media sosial juga membuat manusia semakin terbiasa mencari respons dari orang lain terhadap pengalaman pribadinya. Ketika sebuah foto mendapat perhatian, komentar, atau likes, muncul rasa bahwa momen tersebut penting dan layak diingat.
Tanpa sadar, banyak orang akhirnya mulai menghubungkan nilai sebuah pengalaman dengan seberapa besar respons digital yang diterima setelah diunggah.
Psikolog sosial Dr. Pamela Rutledge pernah menjelaskan bahwa media sosial memberi efek psikologis berupa kebutuhan akan pengakuan sosial dan koneksi emosional. Ketika seseorang membagikan pengalaman, ada dorongan alami untuk merasa dilihat, dipahami, atau diakui keberadaannya oleh lingkungan digital di sekitarnya.
Masalahnya, proses itu kadang membuat manusia terlalu sibuk membuktikan bahwa mereka sedang bahagia sampai lupa benar-benar merasakan kebahagiaannya sendiri.
Hal itu terlihat jelas dalam banyak momen sehari-hari sekarang. Ada orang yang sibuk merekam konser hampir sepanjang lagu, tetapi setelah pulang justru merasa tidak benar-benar menikmati pertunjukannya. Ada juga yang mengunggah liburan penuh foto indah, tetapi selama perjalanan justru lebih banyak memikirkan konten daripada suasana yang sedang dijalani.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Terus Scroll Tanpa Tujuan?
Manusia Modern Mungkin Tidak Kehilangan Momen, Tapi Kehilangan Cara Hadir Sepenuhnya di Dalamnya
Mendokumentasikan pengalaman sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Foto dan video sering membantu manusia menyimpan kenangan yang mungkin ingin dilihat kembali suatu hari nanti. Masalahnya muncul ketika dokumentasi mulai mengambil terlalu banyak ruang dari pengalaman itu sendiri.
Ketika setiap momen terasa harus direkam, diedit, dan dibagikan, manusia perlahan kehilangan kesempatan untuk sekadar diam dan merasakan sesuatu tanpa gangguan layar.
Dalam konsep flow, Profesor psikologi Mihaly Csikszentmihalyi bercerita bahwa manusia merasakan pengalaman paling utuh ketika perhatian benar-benar tenggelam dalam apa yang sedang dijalani. Kondisi itu semakin sulit terjadi ketika pikiran terus terbagi antara mengalami sesuatu dan memikirkan bagaimana pengalaman itu akan tampil di media sosial.
Mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang lebih cepat upload daripada menikmati momennya. Bukan karena mereka tidak menghargai pengalaman tersebut, tetapi karena kehidupan digital modern perlahan membuat manusia terbiasa melihat hidup sebagai sesuatu yang harus terus dibagikan agar terasa nyata. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.