Jarak terpendek tidak selalu menghasilkan perjalanan tercepat. Aplikasi peta digital memperhitungkan kemacetan, kondisi jalan, dan perkiraan waktu sebelum merekomendasikan rute.
Seorang pengemudi hendak menuju sebuah pusat perbelanjaan yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah. Ia membuka aplikasi peta digital untuk menghindari kemacetan, tetapi justru mendapatkan rekomendasi rute yang memutar melalui jalan besar. Padahal, ia mengetahui jalan pintas yang tampaknya jauh lebih dekat.
Merasa aplikasi tersebut melakukan kesalahan, ia mencoba membandingkan dua pilihan perjalanan. Rute pertama memiliki jarak enam kilometer dengan perkiraan waktu 25 menit, sedangkan rute kedua mencapai sembilan kilometer tetapi diperkirakan hanya membutuhkan 17 menit. Ia pun bertanya-tanya mengapa teknologi navigasi justru menyarankan perjalanan yang lebih panjang.
Situasi ilustratif tersebut memperlihatkan perbedaan antara jarak dan waktu dalam perencanaan perjalanan. Bagi aplikasi navigasi, jalan yang paling dekat secara geografis belum tentu menjadi pilihan paling efisien. Kecepatan kendaraan, persimpangan, kondisi lalu lintas, dan berbagai hambatan perjalanan dapat membuat jalan memutar justru menghasilkan waktu tempuh lebih singkat.
Baca Juga: Kenapa Baterai Laptop Terasa Semakin Cepat Habis Setelah Bertahun-tahun Digunakan?
Mengapa Jarak Terpendek Belum Tentu Menghasilkan Waktu Tercepat?
Secara sederhana, waktu perjalanan dipengaruhi panjang jalan dan kecepatan rata-rata kendaraan ketika melaluinya. Jalan sepanjang lima kilometer yang dipenuhi kemacetan dapat membutuhkan waktu lebih lama daripada jalan delapan kilometer dengan arus kendaraan relatif lancar. Karena itu, aplikasi navigasi tidak cukup hanya menghitung jarak antara titik keberangkatan dan tujuan.
Dalam sistem pemetaan digital, jaringan jalan direpresentasikan sebagai kumpulan titik dan hubungan antartitik yang disebut graph. Persimpangan atau lokasi tertentu dapat menjadi simpul, sedangkan ruas jalan merupakan penghubung yang memiliki karakteristik masing-masing. Teknologi pencarian rute kemudian mengevaluasi berbagai kemungkinan perjalanan untuk menemukan jalur yang sesuai dengan tujuan perhitungan.
Apabila sistem diminta mencari jalan terpendek, jarak menjadi pertimbangan utamanya. Sebaliknya, untuk mencari rute tercepat, setiap ruas jalan dapat diberi perkiraan waktu tempuh berdasarkan kondisi yang diketahui atau diprediksi. Dengan demikian, jalan yang lebih panjang dapat memperoleh nilai waktu lebih kecil apabila kendaraan diperkirakan dapat bergerak lebih lancar.
Google menjelaskan bahwa layanan Maps menggunakan kombinasi data lalu lintas langsung dan pola perjalanan historis untuk memperkirakan kondisi jalan. Informasi tersebut membantu sistem memprediksi kemungkinan kemacetan ketika kendaraan mencapai ruas tertentu, bukan hanya menggambarkan keadaan jalan pada saat pengguna membuka aplikasi.
Model prediksi juga dapat memanfaatkan pembelajaran mesin atau machine learning untuk mengenali pola lalu lintas. Sebuah jalan yang lancar pada pukul sepuluh pagi mungkin mengalami kemacetan setiap sore karena aktivitas pulang kerja. Dengan mempelajari pola tersebut, sistem dapat memperkirakan apakah jalur yang terlihat cepat sekarang berpotensi melambat sebelum pengemudi tiba.
Selain kemacetan, Google Maps mempertimbangkan karakteristik jalan, termasuk kualitas permukaan, ukuran ruas, dan kemudahan dilalui. Jalan besar yang lebih panjang mungkin lebih efisien dibandingkan jalan lingkungan yang sempit, memiliki banyak persimpangan, atau mengharuskan kendaraan sering berhenti. Informasi penutupan jalan, pekerjaan konstruksi, serta laporan kejadian dari pengguna juga dapat memengaruhi rekomendasi.
Google Research dalam publikasi tahun 2023 menjelaskan bahwa pencarian rute melibatkan berbagai pertimbangan yang tidak selalu berkaitan dengan waktu perjalanan. Tarif tol, kondisi permukaan, kelangsungan arah perjalanan, pilihan pengguna, serta karakter wilayah dapat memengaruhi rute yang dinilai paling sesuai. Artinya, istilah rute terbaik tidak selalu memiliki arti yang sepenuhnya sama bagi setiap pengemudi.
Baca Juga: Semakin Banyak Perangkat Pintar di Rumah, Apakah Rumah Kita Juga Semakin Rentan?
Mengapa Rekomendasi Peta Bisa Berubah atau Tetap Meleset?
Perkiraan waktu perjalanan pada aplikasi navigasi bukanlah janji bahwa kendaraan pasti tiba sesuai jadwal. Angka yang ditampilkan merupakan hasil perhitungan berdasarkan data dan kondisi yang tersedia pada saat tertentu. Kecelakaan, hujan lebat, penutupan jalan mendadak, atau peningkatan volume kendaraan dapat membuat perjalanan berlangsung berbeda dari prediksi.
Itulah sebabnya aplikasi terkadang menawarkan rute baru ketika perjalanan sudah berlangsung. Sistem mungkin mendeteksi bahwa jalur sebelumnya mulai mengalami kemacetan, kemudian menghitung ulang pilihan perjalanan yang tersedia. Perubahan tersebut bukan selalu pertanda rekomendasi awal keliru, melainkan dapat menunjukkan bahwa kondisi yang digunakan dalam perhitungan telah berubah.
Meski demikian, kualitas informasi juga memiliki keterbatasan. Jalan kecil yang jarang dilalui dapat memiliki data lalu lintas lebih sedikit dibandingkan jalan utama. Informasi pembatasan kendaraan, perubahan arah jalan, atau gangguan lokal juga mungkin belum sepenuhnya tercermin pada peta. Akibatnya, rute yang terlihat baik secara perhitungan bisa menghadapi hambatan ketika benar-benar dilalui.
Perbedaan tujuan perjalanan turut menentukan pilihan. Sebagian pengemudi lebih mengutamakan waktu, sedangkan yang lain ingin menghindari tol, mengurangi penggunaan bahan bakar, atau memilih jalan yang lebih mudah dilalui. Karena itu, pengaturan navigasi perlu diperiksa sebelum menganggap sebuah rekomendasi sebagai pilihan terbaik.
Google Maps, misalnya, menyediakan fitur rute hemat bahan bakar atau energi di wilayah yang mendukungnya. Dalam perhitungan tersebut, sistem dapat mempertimbangkan kemiringan jalan, jenis ruas, dan pola kendaraan yang sering berhenti lalu berjalan kembali. Jika waktu kedatangan relatif sama, rute yang lebih efisien dalam penggunaan energi dapat menjadi alternatif terhadap rute tercepat.
Bagi pengguna, membandingkan jarak dan perkiraan waktu pada beberapa alternatif rute merupakan langkah yang lebih berguna daripada langsung memilih jalan yang terlihat paling pendek. Informasi mengenai tol, kondisi lalu lintas, dan karakter jalan juga perlu diperhatikan. Ketika aplikasi memberikan arahan yang bertentangan dengan rambu atau kondisi nyata, ketentuan lalu lintas dan keselamatan tetap harus diutamakan.
Pengetahuan pengemudi mengenai kondisi setempat masih memiliki nilai, terutama pada jalan lingkungan yang karakteristiknya belum tentu tergambarkan secara lengkap oleh sistem digital. Akan tetapi, pengalaman pribadi juga memiliki keterbatasan karena kondisi lalu lintas dapat berubah dari hari ke hari. Menggabungkan informasi navigasi dengan pengamatan langsung dapat membantu menghasilkan keputusan perjalanan yang lebih baik.
Pada dasarnya, teknologi navigasi tidak sedang berusaha membuat pengemudi menempuh perjalanan sejauh mungkin. Sistem mencoba memperkirakan jalur yang paling sesuai berdasarkan data, model perhitungan, dan preferensi yang digunakan. Jalan memutar dapat menjadi pilihan tercepat ketika waktu yang dihemat lebih besar daripada tambahan jarak yang ditempuh.
Peta digital memperlihatkan bahwa jalan paling dekat belum tentu menjadi jalan paling cepat. Tetapi rekomendasi teknologi tetap merupakan perkiraan, bukan pengganti kemampuan manusia membaca situasi dan mengambil keputusan yang aman selama perjalanan. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.