Unggahan masih ada, akun tetap aktif, tetapi penonton mendadak berkurang. Fenomena shadowban memunculkan pertanyaan tentang siapa yang menentukan jangkauan konten.
Bayangkan seseorang yang rutin membuat video di TikTok atau Instagram dan biasanya memperoleh ribuan penayangan. Suatu hari, jumlah penontonnya mendadak merosot, bahkan pengikut yang biasa berinteraksi tidak lagi melihat unggahannya. Kontennya tidak dihapus, akun masih dapat digunakan, dan tidak ada pemberitahuan pelanggaran yang terlihat.
Situasi semacam ini sering membuat pengguna media sosial menduga bahwa akunnya terkena shadowban. Istilah tersebut semakin akrab di kalangan kreator konten, pelaku usaha daring, hingga pengguna biasa yang merasa jangkauan unggahannya tiba-tiba menurun. Masalahnya, tidak semua perubahan jangkauan disebabkan pembatasan platform, sementara keputusan mengenai penyebaran konten memang tidak selalu mudah dipahami oleh pengguna.
Berbeda dari penghapusan konten yang dapat langsung diketahui, pembatasan visibilitas bisa berlangsung tanpa perubahan mencolok pada tampilan akun. Sebuah video mungkin masih dapat dibuka melalui tautan langsung, tetapi tidak lagi muncul dalam rekomendasi atau hasil pencarian tertentu. Pengguna akhirnya menghadapi pertanyaan yang sulit dijawab hanya dengan melihat angka penayangan: apakah kontennya kurang menarik, atau memang sedang dibatasi oleh sistem?
Baca Juga: Ketika Video Penyelamatan Hutan Dihapus, Bagaimana Publik Bisa Memercayai Moderasi Media Sosial?
Apa Sebenarnya yang Disebut ShadowBan?
Secara umum, shadowban merujuk pada praktik membatasi keterlihatan akun atau konten tanpa pemberitahuan yang jelas kepada pihak terdampak. Istilah ini pada awalnya digunakan untuk menggambarkan pembatasan tersembunyi dalam forum internet, ketika seseorang merasa masih dapat mengirim pesan tetapi unggahannya tidak terlihat oleh pengguna lain. Dalam perkembangan media sosial modern, maknanya meluas hingga mencakup penurunan peringkat konten, pembatasan rekomendasi, atau berkurangnya kemunculan akun dalam pencarian.
Marten Risius dan Kevin Marc Blasiak, melalui penelitian berjudul Shadowbanning: An Opaque Form of Content Moderation yang diterbitkan dalam jurnal Business & Information Systems Engineering pada 2024, menjelaskan bahwa praktik tersebut merupakan bentuk moderasi yang membatasi visibilitas konten atau pengguna tanpa pemberitahuan yang memadai. Mereka juga menunjukkan bahwa istilah shadowbanning berkaitan dengan berbagai mekanisme pengendalian jangkauan, bukan satu jenis hukuman yang berlaku sama pada semua platform. Artinya, pembatasan rekomendasi, pengurangan keterlihatan dalam pencarian, dan penyembunyian komentar perlu dibedakan berdasarkan mekanismenya.
TikTok sendiri mengakui adanya kebijakan yang membuat konten tertentu tidak memenuhi syarat untuk direkomendasikan melalui halaman For You atau Saran. Dalam Pusat Bantuan resminya, TikTok menjelaskan bahwa unggahan yang dianggap tidak sesuai dengan standar rekomendasi dapat tetap berada di platform tanpa ditampilkan kepada pengguna melalui halaman tersebut. Untuk pembatasan yang ditetapkan secara resmi, TikTok menyediakan informasi mengenai alasan keputusan dan mekanisme pengajuan banding melalui fitur analitik serta pemberitahuan akun.
Kebijakan semacam itu menunjukkan bahwa sebuah konten tidak harus melanggar aturan sampai perlu dihapus untuk kemudian mengalami pembatasan penyebaran. Platform dapat menerapkan standar yang lebih ketat terhadap konten yang ingin direkomendasikan kepada khalayak luas dibandingkan konten yang sekadar diizinkan untuk tetap tersedia. Tujuannya antara lain mengurangi penyebaran materi berisiko, meskipun penerapannya tetap membutuhkan ketelitian agar tidak merugikan konten yang sebenarnya tidak melanggar ketentuan.
Baca Juga: Kenapa Kita Bisa Menonton Puluhan Video Pendek tetapi Sulit Menyelesaikan Satu Video Panjang?
Penayangan Turun, Apakah Akun Pasti Terkena ShadowBan?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit karena algoritma rekomendasi tidak bekerja seperti daftar pelanggan yang selalu menerima setiap unggahan. TikTok menjelaskan bahwa interaksi pengguna, waktu menonton, informasi konten, dan berbagai sinyal lain memengaruhi distribusi video pada halaman Saran. Akibatnya, unggahan dari akun yang sama dapat memperoleh jangkauan berbeda tanpa harus mengalami sanksi atau pembatasan moderasi.
Penelitian Center for Democracy & Technology [CDT] di Amerika Serikat pada 2022 menemukan bahwa hampir satu dari sepuluh pengguna media sosial yang disurvei meyakini pernah mengalami shadowbanning. Penelitian tersebut juga menyoroti bagaimana kurangnya transparansi moderasi dapat menimbulkan ketidakpercayaan dan berbagai dugaan mengenai cara platform memperlakukan penggunanya. Temuan ini menggambarkan persepsi pengguna, bukan membuktikan bahwa seluruh responden yang merasa dibatasi benar-benar mengalami shadowban.
Penelitian lain oleh Marten Risius dan Kevin Marc Blasiak menjelaskan bahwa pembatasan visibilitas memiliki sisi yang kompleks. Di satu sisi, mekanisme tersebut dapat membantu platform mengurangi penyebaran spam dan konten bermasalah tanpa selalu menghapusnya. Di sisi lain, pengguna yang tidak memahami alasan penurunan jangkauan dapat kesulitan membedakan keputusan moderasi dengan perubahan biasa dalam sistem rekomendasi.
Karena itu, pengguna yang menduga mengalami shadowban sebaiknya tidak langsung mempercayai berbagai cara instan yang menjanjikan pemulihan jangkauan. Pada TikTok, pemeriksaan dapat dimulai melalui fitur analitik konten, pemberitahuan kelayakan rekomendasi, serta pengajuan banding apabila tersedia keputusan yang dianggap keliru. Pengguna Instagram juga dapat memeriksa fitur Account Status untuk mengetahui apakah terdapat persoalan yang memengaruhi kelayakan kontennya direkomendasikan, meskipun hasil pemeriksaan tersebut tidak menjamin setiap unggahan akan memperoleh penayangan tinggi.
Persoalan shadowban sebenarnya lebih besar daripada kekecewaan kreator ketika jumlah penonton menurun. Bagi pelaku usaha kecil, pembatasan distribusi konten dapat memengaruhi kesempatan menjangkau pelanggan, sementara bagi organisasi sosial atau pembuat konten edukasi, berkurangnya visibilitas bisa membatasi penyebaran informasi yang dianggap penting. Karena itulah, transparansi mengenai keputusan moderasi dan kesempatan mengajukan keberatan memiliki nilai yang melampaui kepentingan satu akun.
Media sosial memang tidak berkewajiban membuat setiap unggahan menjadi populer, dan algoritma tidak mungkin menjamin perhatian publik terbagi secara merata. Akan tetapi, ketika sebuah platform secara khusus membatasi keterlihatan konten atas dasar kebijakannya, pengguna memiliki kepentingan yang wajar untuk mengetahui alasan serta mekanisme koreksinya. Masalah terbesar shadowban bukan semata-mata berkurangnya penonton, melainkan ketidakpastian ketika seseorang tidak tahu apakah unggahannya gagal menarik perhatian atau sedang menghadapi pembatasan. Di ruang digital yang semakin menentukan siapa didengar dan siapa terlewatkan, perbedaan itu seharusnya tidak dibiarkan terus menjadi teka-teki. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.