Lima menit untuk satu video terasa lama. Anehnya, setengah jam menonton puluhan video pendek bisa berlalu tanpa terasa. Apa yang berbeda?
Kita mungkin pernah berniat membuka media sosial hanya sebentar. Satu video selesai, jempol menggeser layar, video berikutnya muncul, lalu berikutnya lagi. Ketika akhirnya melihat jam, waktu yang kita habiskan ternyata cukup untuk menonton satu episode serial atau menyelesaikan sebuah video dokumenter.
Namun ketika dihadapkan pada video berdurasi 20 atau 30 menit, persoalannya terasa berbeda. Kita melihat durasinya, menimbang apakah cukup menarik, lalu terkadang menyerah bahkan sebelum menit kelima. Padahal jika seluruh video pendek yang baru saja ditonton digabungkan, durasinya mungkin jauh lebih panjang.
Fenomena itu membuat video pendek kerap dituduh menghancurkan rentang perhatian atau attention span. Persoalannya tidak sesederhana itu. Penelitian memang mulai menemukan hubungan antara penggunaan video pendek yang lebih intens dengan persoalan perhatian, tetapi sebagian besar bukti belum dapat memastikan apakah video pendek menyebabkan perubahan tersebut, orang yang memang lebih mudah terdistraksi lebih tertarik pada video pendek, atau keduanya saling memengaruhi.
Baca Juga: Kenapa Kita Bisa Merasa Kenal Dekat dengan Orang yang Tidak Pernah Kita Temui?
Satu Video Pendek Meminta Komitmen yang Sangat Kecil
Ada perbedaan mendasar antara memilih video berdurasi 30 menit dan menggeser layar untuk menonton video berikutnya selama 30 detik. Pada pilihan pertama, kita mengetahui sejak awal bahwa perhatian perlu diberikan cukup lama. Pada pilihan kedua, komitmen itu nyaris tidak terasa karena kita hanya perlu bertahan beberapa detik sebelum mendapat kesempatan memilih lagi.
Setiap geseran juga menawarkan kemungkinan sesuatu yang baru. Topiknya dapat berubah dari resep makanan menjadi lelucon, berita, kucing, sepak bola, gosip selebritas, hingga video perjalanan hanya dalam beberapa menit. Antarmuka dengan guliran tanpa akhir membuat keputusan untuk terus menonton menjadi sangat mudah karena pengguna tidak perlu secara aktif mencari video berikutnya.
Lan Nguyen dari Griffith University bersama timnya mencoba melihat persoalan ini secara lebih luas melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 2025. Mereka menganalisis 71 penelitian dengan total 98.299 partisipan dan menemukan penggunaan video pendek yang lebih tinggi berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk, dengan hubungan terkuat terlihat pada perhatian dan kontrol inhibisi. Temuan tersebut merupakan asosiasi, sehingga tidak berarti setiap orang yang gemar menonton Reels, TikTok, atau Shorts otomatis mengalami gangguan perhatian.
Kontrol inhibisi menarik diperhatikan karena kemampuan inilah yang antara lain membantu kita menahan dorongan untuk segera berpindah ketika muncul pilihan lain. Penelitian menggunakan EEG terhadap 48 partisipan oleh Yan dan koleganya pada 2024 juga menemukan kecenderungan adiksi video pendek berkorelasi negatif dengan indikator kontrol eksekutif perhatian dan kemampuan pengendalian diri. Jumlah partisipannya kecil dan penelitian tersebut bersifat korelasional, sehingga hasilnya lebih tepat dibaca sebagai petunjuk daripada bukti bahwa video pendek telah “merusak otak”.
Inilah bagian yang sering hilang ketika persoalan media sosial dibicarakan. Kesulitan menyelesaikan video panjang belum tentu berarti kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi secara permanen. Bisa jadi kita semakin terbiasa berada dalam lingkungan yang memberikan kesempatan berpindah sebelum rasa bosan sempat dilewati.
Baca Juga: Kenapa Kita Lebih Berani Berkomentar kepada Orang yang Tidak Kita Kenal?
Mungkin Bukan Perhatian Kita yang Pendek, tetapi Pilihannya Terlalu Mudah Diganti
Video panjang meminta jenis hubungan yang berbeda dengan penontonnya. Ada bagian pembukaan yang harus diikuti, argumen yang perlu dibangun, konteks yang harus diingat, atau cerita yang belum memberikan hasil dalam beberapa detik pertama. Imbalannya tertunda, sementara tombol untuk mencari sesuatu yang lebih menarik selalu tersedia hanya beberapa sentuhan dari kita.
Video pendek membalik pola tersebut. Jika satu konten membosankan, kerugiannya kecil karena kita dapat langsung menggesernya. Setelah puluhan kali melakukan perpindahan seperti itu, bertahan pada sesuatu yang belum segera menarik dapat terasa semakin tidak alami.
Kajian terbaru yang dipimpin Sara Arouch dari Coventry University terhadap penelitian pada orang dewasa muda usia 18–29 tahun menemukan bukti awal hubungan penggunaan video pendek yang lebih berat dengan fragmentasi perhatian dan penanda kontrol eksekutif yang lebih rendah. Namun para peneliti juga menekankan kualitas bukti masih dibatasi dominasi penelitian potong lintang dan pengukuran berdasarkan laporan pengguna sendiri. Hubungannya bahkan mungkin berjalan dua arah karena kerentanan perhatian yang sudah ada dapat ikut mendorong seseorang menggunakan video pendek lebih sering.
Peringatan serupa muncul dalam tinjauan sistematis 2026 mengenai video pendek pada kelompok muda. Dari 42 penelitian dengan 46.912 partisipan, 88 persen merupakan studi potong lintang, sedangkan penelitian longitudinal dan eksperimental masih sangat sedikit. Para peneliti menemukan penggunaan berat dan tidak terstruktur berkaitan dengan masalah perhatian, memori kerja, pengendalian diri, dan sejumlah indikator kesehatan mental, tetapi menegaskan penelitian jangka panjang masih diperlukan untuk mengetahui hubungan sebab-akibatnya.
Maka solusi persoalan ini tidak harus berupa larangan menonton video pendek. Kita bisa mulai dengan menyadari bahwa lingkungan media ikut menentukan bagaimana perhatian digunakan. Menonton sesuatu yang panjang tanpa membuka aplikasi lain, mematikan notifikasi, atau sengaja memberi kesempatan beberapa menit sebelum memutuskan sebuah konten membosankan merupakan cara sederhana mengurangi godaan untuk terus berpindah.
Ada perbedaan antara “saya tidak mampu memperhatikan” dan “saya berada di tempat yang terus menawarkan sesuatu yang baru setiap beberapa detik”. Kalimat kedua mungkin lebih adil untuk menggambarkan pengalaman banyak pengguna media sosial hari ini. Perhatian manusia memang terbatas, tetapi lingkungan digital menjadi semakin piawai memperebutkannya.
Itulah mengapa tiga puluh menit dapat terasa panjang ketika tertulis di bawah satu video, tetapi menghilang begitu saja ketika dipecah menjadi puluhan potongan kecil. Yang berubah bukan hanya panjang videonya. Cara kita memilih, menunggu, bosan, dan memutuskan untuk tetap tinggal juga ikut berubah. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.