Musik tidak selalu lahir untuk menghibur. Dalam sejarah, sejumlah lagu justru menjadi suara perlawanan terhadap kekerasan, diskriminasi, perang, dan penindasan.
Ada lagu yang membuat orang menari, ada pula yang membuat sebuah ruangan mendadak hening. Bukan karena melodinya terlalu rumit atau penyanyinya kehilangan suara, melainkan karena sesuatu yang dinyanyikan terasa terlalu penting untuk diabaikan. Ketika kata-kata biasa tidak lagi cukup menggambarkan ketidakadilan, musik terkadang menemukan cara untuk menyampaikannya kepada dunia.
Sepanjang sejarah, musisi telah menggunakan karya mereka untuk menentang berbagai bentuk penindasan, dari kekerasan rasial, perang, dan kesewenang-wenangan kekuasaan hingga diskriminasi gender serta identitas. Sebagian lagu lahir sebagai respons langsung terhadap tragedi, sementara karya lainnya memperoleh makna perlawanan setelah dinyanyikan bersama oleh masyarakat. Tidak semuanya berhasil mengubah keadaan, tetapi banyak yang membantu manusia menemukan keberanian untuk menyuarakan sesuatu yang sebelumnya hanya dapat dipendam.
Menariknya, musik perlawanan tidak selalu terdengar seperti teriakan atau mars demonstrasi. Ada kemarahan yang disampaikan melalui jazz, tuntutan kesetaraan dalam musik soul, sindiran melalui Afrobeat, hingga ajakan menerima diri dalam lagu pop. Tujuh karya berikut memperlihatkan bagaimana musik dapat bergerak melampaui panggung pertunjukan dan menjadi bagian dari perjalanan sosial manusia.
Baca Juga: Kenapa Intro Lagu Semakin Pendek, Bahkan Kadang Nyaris Hilang?
1. “Strange Fruit” — Billie Holiday [1939]
Ketika Billie Holiday menyanyikan “Strange Fruit” di Café Society, New York, pada 1939, lagu itu membawa gambaran mengerikan tentang praktik pembunuhan rasial terhadap warga kulit hitam Amerika Serikat. Karya tersebut sebenarnya berasal dari puisi Abel Meeropol, seorang guru dan aktivis yang terguncang oleh foto kekerasan massa terhadap korban kulit hitam, kemudian mengubah puisinya menjadi lagu. Melalui interpretasi Holiday yang begitu kuat, “Strange Fruit” tidak lagi sekadar menjadi karya seni, melainkan kesaksian musikal tentang kekejaman yang selama ini dibiarkan berlangsung. Lagu tersebut menunjukkan bahwa perlawanan terkadang tidak membutuhkan suara lantang, sebab kesedihan yang disampaikan tanpa kompromi pun dapat mengguncang kesadaran masyarakat.
2. “Mississippi Goddam” — Nina Simone [1964]
Kemarahan Nina Simone menemukan bentuk musikalnya setelah pembunuhan aktivis hak sipil Medgar Evers dan pengeboman gereja di Birmingham, Alabama, yang menewaskan empat anak perempuan kulit hitam pada 1963. Tragedi tersebut mendorongnya menulis “Mississippi Goddam”, lagu yang memadukan irama terdengar ceria dengan kritik keras terhadap rasisme dan lambannya perubahan sosial. Simone bukan sekadar penyanyi yang menyampaikan kritik dari kejauhan, karena ia juga terlibat dalam gerakan hak-hak sipil serta mendukung berbagai kegiatan perjuangan kesetaraan. Melalui lagu ini, ia menolak anggapan bahwa masyarakat yang terus mengalami diskriminasi harus selalu bersabar menunggu keadilan datang.
3. “Respect” — Aretha Franklin [1967]
Sebuah lagu ternyata dapat berubah makna ketika dinyanyikan dari sudut pandang yang berbeda, sebagaimana terjadi pada “Respect” yang semula ditulis dan direkam Otis Redding pada 1965. Dua tahun kemudian, Aretha Franklin membawakannya kembali dengan perubahan aransemen, penekanan vokal, dan interpretasi yang membuat tuntutan penghormatan terdengar sebagai pernyataan kemandirian seorang perempuan. Dalam suasana perjuangan hak sipil dan kesetaraan gender di Amerika Serikat, lagu tersebut kemudian diterima sebagai simbol pemberdayaan oleh berbagai kelompok yang merasa dipinggirkan. “Respect” membuktikan bahwa perlawanan tidak selalu menuntut penciptaan sesuatu yang sepenuhnya baru, karena terkadang perubahan suara yang menyampaikannya sudah cukup untuk mengubah makna sebuah karya.
4. “El Derecho de Vivir en Paz” — Víctor Jara [1971]
Di Chile, Víctor Jara menghubungkan tradisi musik rakyat dengan perjuangan sosial melalui gerakan Nueva Canción Chilena. Lagunya, “El Derecho de Vivir en Paz”, yang berarti hak untuk hidup dalam damai, diterbitkan pada 1971 sebagai seruan solidaritas terhadap rakyat Vietnam yang menghadapi perang. Jara menggunakan musik untuk menyampaikan bahwa penderitaan manusia di belahan dunia lain tetap layak menjadi perhatian bersama, meskipun dipisahkan oleh bahasa dan jarak geografis. Setelah ia ditangkap dan dibunuh dalam kekerasan yang menyertai kudeta militer Chile pada 1973, karya-karyanya terus hidup sebagai simbol perlawanan, sementara lagu tersebut kembali digunakan dalam berbagai gerakan sosial pada masa berikutnya.
5. “Zombie” — Fela Kuti [1976]
Musisi Nigeria Fela Kuti memilih sindiran tajam ketika mengkritik militer melalui “Zombie”, sebuah karya Afrobeat yang menggambarkan tentara sebagai orang-orang yang bergerak dan bertindak hanya berdasarkan perintah. Dengan permainan ritme yang panjang, tiupan alat musik yang kuat, dan pengulangan vokal, Fela membuat kritik terhadap kepatuhan buta terdengar sekaligus menghibur dan mengusik. Lagu yang dirilis pada 1976 itu menjadi salah satu karya paling konfrontatif dalam kariernya, di tengah ketegangan panjang antara Fela dan rezim militer Nigeria. Pada Februari 1977, tentara menyerbu dan menghancurkan komunitas Kalakuta Republic miliknya, sebuah peristiwa yang memperlihatkan betapa berbahayanya posisi seorang musisi ketika karyanya berhadapan dengan kekuasaan.
Delapan belas tahun kemudian, band asal Irlandia, The Cranberries, merilis lagu dengan judul sama. Lagu ini juga berisi perlawanan berisi protes anti-perang yang ditulis setelah pengeboman Warrington di Inggris pada tahun 1993 oleh kelompok IRA [Irish Republican Army] yang menewaskan dua anak. Dan suara khas Dolores O’Riordan ini bertransformasi jadi anthem perdamaian dan perlawanan universal yang melampaui batas generasi.
6. “Another Brick in the Wall, Part 2” — Pink Floyd [1979]
Ketika Roger Waters menulis “Another Brick in the Wall, Part 2” untuk album The Wall pada 1979, ia sedang mengkritik sistem pendidikan yang memperlakukan murid sebagai individu yang harus patuh, bukan manusia yang memiliki kebebasan berpikir. Lagu Pink Floyd tersebut menjadi semakin kuat melalui suara anak-anak dari Islington Green School di London yang menyanyikan bagian korusnya, seolah para murid sendiri sedang menolak tekanan yang mereka hadapi. Akan tetapi, kisah perlawanan lagu ini tidak berhenti di Inggris, karena pada 1980 para pelajar di Afrika Selatan menggunakannya dalam aksi menentang sistem pendidikan diskriminatif rezim apartheid. Pemerintah Afrika Selatan kemudian melarang lagu tersebut, memperlihatkan bagaimana sebuah karya yang semula mengkritik otoritarianisme di ruang kelas dapat berubah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang jauh lebih luas.
7. “Bongkar” — Swami [1989]
Di Indonesia, musik kritik sosial memperoleh salah satu simbol kuatnya melalui “Bongkar”, lagu yang dibawakan kelompok Swami pada 1989. Grup yang antara lain beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Inisisri itu menghadirkan karya yang menyuarakan kemarahan terhadap kesewenang-wenangan serta penderitaan masyarakat akibat ketidakadilan. Lagu yang diciptakan Iwan Fals bersama Sawung Jabo tersebut kemudian menjadi akrab dalam berbagai aksi demonstrasi, termasuk dalam ingatan gerakan sosial Indonesia setelah era Orde Baru. Kekuatan “Bongkar” bukan hanya terletak pada kritik yang disampaikannya, tetapi juga pada kemampuannya mengubah kegelisahan banyak orang menjadi nyanyian bersama yang mudah dikenali.
Baca Juga: Ketika Lagu Jadi Viral di TikTok, Apakah Algoritma Benar-Benar Memilih Musiknya?
Musik yang Terus Hidup Setelah Gerakannya Berlalu
Ketujuh karya–well, delapan, karena ada dua lagu dengan judul sama– tersebut lahir dari tempat, zaman, dan pengalaman manusia yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan yang sulit diabaikan. Para musisinya tidak sekadar menyusun melodi atau menulis lirik, melainkan membantu masyarakat menemukan bahasa untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini tidak memperoleh tempat. Sebuah lagu mungkin tidak menghentikan peperangan, menghapus diskriminasi, atau menjatuhkan ketidakadilan dengan sendirinya, tetapi dapat memperkuat keberanian orang-orang yang sedang memperjuangkan perubahan.
Tidak semua musisi yang menciptakan lagu perlawanan menyaksikan sendiri perubahan yang mereka harapkan. Sebagian justru menghadapi intimidasi, pengucilan, bahkan kehilangan nyawa, sementara karya-karyanya terus dinyanyikan oleh generasi yang tidak pernah mengenal mereka secara langsung. Barangkali itulah salah satu kekuatan musik yang paling sulit digantikan oleh bentuk komunikasi lain: ketika sebuah suara sudah tidak terdengar dari pemiliknya, orang lain masih dapat menyanyikannya dan membawa pesan yang sama ke masa depan.
Musik juga tidak harus selalu berbicara tentang persoalan besar untuk memiliki makna perlawanan. Bagi seseorang yang hidup dalam tekanan sosial, lagu tentang penerimaan diri dapat menjadi pengingat bahwa dirinya berhak dihargai, sebagaimana nyanyian tentang ketidakadilan dapat mempertemukan orang-orang yang sebelumnya merasa sendirian. Selama masih ada manusia yang kesulitan membuat suaranya didengar, musik akan selalu memiliki kemungkinan menjadi lebih dari sekadar hiburan, karena sebuah lagu dapat menyimpan keberanian yang kemudian diwariskan dari satu pendengar kepada pendengar lainnya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.