Awalnya kita mendengarnya sekali. Besok lagu itu muncul lagi. Beberapa hari kemudian, kita hafal potongannya meski tidak pernah sengaja memutarnya.
Begitulah sebuah lagu kadang memasuki kehidupan kita melalui TikTok. Ia muncul dalam video perjalanan, tarian, cerita patah hati, resep makanan, make-up, lelucon, hingga video jualan. Konteksnya terus berubah, tetapi beberapa detik dari lagu yang sama mengikuti kita dari satu video ke video berikutnya.
Dari sana mudah muncul anggapan bahwa algoritma TikTok telah 'memilih' lagu tersebut untuk menjadi viral. Seolah ada sistem yang mendengarkan jutaan lagu, menemukan satu yang dianggap paling menarik, kemudian mendorongnya menuju jutaan pengguna. Cara kerja sistem rekomendasi TikTok sebenarnya tidak sesederhana itu.
TikTok menjelaskan bahwa For You dibangun dengan memberi peringkat pada video berdasarkan sejumlah sinyal. Interaksi pengguna seperti menyukai, membagikan, berkomentar, mengikuti akun, dan menonton menjadi bagian penting, sementara informasi video mencakup teks, tagar, dan sound. Bahkan menonton sebuah video hingga selesai dapat menjadi sinyal yang lebih kuat daripada faktor seperti kesamaan negara pengguna dan pembuat konten.
Baca Juga: Kalau Sebuah Lagu Menyentuh Kita, Masih Pentingkah Siapa yang Membuatnya?
Algoritma Tidak Perlu Menyukai Lagunya
Ini berarti algoritma tidak harus mengetahui apakah sebuah lagu 'bagus' menurut ukuran musikal. Ia juga tidak perlu mempunyai selera terhadap melodi, lirik, atau penyanyinya seperti manusia. Sistem rekomendasi berusaha memperkirakan video mana yang kemungkinan menarik bagi pengguna tertentu berdasarkan berbagai sinyal yang tersedia.
Di sinilah musik memperoleh jalan masuk yang menarik. Ketika sebuah video menggunakan lagu tertentu dan pengguna memberikan respons, sistem memperoleh informasi mengenai video tersebut sekaligus berbagai atribut yang menyertainya, termasuk sound. Interaksi berikutnya terus membantu TikTok mempelajari jenis konten yang mungkin relevan bagi masing-masing pengguna.
Namun kemudian manusia melakukan sesuatu yang tidak kalah penting. Mereka menemukan sound yang terasa cocok untuk sebuah tarian, lelucon, transformasi, cerita, atau suasana tertentu, kemudian menggunakannya lagi dalam video baru. Lagu yang semula hadir sebagai bagian dari sebuah video mulai menjadi bahan yang digunakan orang lain untuk membuat konten mereka sendiri.
Maka jalurnya tidak lagi sekadar lagu bertemu pendengar. Lagu hadir dalam video, video memperoleh respons, pengguna lain menemukan sound tersebut, lalu sebagian dari mereka menciptakan video baru menggunakan potongan yang sama. Setiap penggunaan baru membuka kemungkinan lagu tersebut memasuki konteks dan kelompok penonton yang berbeda.
Inilah alasan kita perlu berhati-hati dengan anggapan bahwa ada formula musikal tertentu yang pasti disukai algoritma. TikTok memang memasukkan sound sebagai salah satu informasi video, tetapi penjelasan resminya tidak mengatakan bahwa lagu dengan tempo, durasi hook, jenis melodi, atau struktur tertentu otomatis memperoleh prioritas. Yang terlihat oleh pengguna sebagai 'lagu pilihan algoritma' bisa merupakan hasil interaksi antara sistem rekomendasi dan perilaku manusia yang terus menggunakan lagu tersebut.
Baca Juga: Kenapa Lagu Lama Bisa Mendadak Populer Lagi Puluhan Tahun Kemudian?
Ketika Beberapa Detik Lagu Mendapat Kehidupannya Sendiri
Menariknya, lagu bahkan tidak harus baru untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Pada 2025, lagu Pretty Little Baby milik Connie Francis yang dirilis pada 1962 menjadi Global Song of the Year TikTok. Pada tahun yang sama, lagu lama dari Radiohead, Rihanna, dan Black Eyed Peas juga kembali ditemukan pengguna melalui platform tersebut.
Fenomena itu memperlihatkan bagaimana umur lagu menjadi kurang menentukan ketika ia memasuki sistem distribusi yang digerakkan rekomendasi dan partisipasi pengguna. Lagu lama dapat memperoleh konteks baru melalui video yang sama sekali tidak pernah dibayangkan ketika lagu tersebut pertama kali dibuat. Generasi yang bahkan belum lahir saat lagu dirilis dapat mengenalnya melalui beberapa detik suara di layar ponsel.
Dampaknya juga tidak selalu berhenti di TikTok. Laporan TikTok dan Luminate berdasarkan data 2024 menyebut 84 persen lagu yang masuk Billboard Global 200 pada tahun tersebut mengalami periode keterlibatan tinggi di TikTok sebelumnya. Laporan itu menunjukkan hubungan kuat antara penemuan musik melalui TikTok dan konsumsi musik di luar platform, meskipun hubungan tersebut tidak berarti setiap lagu yang viral otomatis akan menjadi hit.
Jembatan dari potongan lagu menuju kegiatan mendengarkan secara utuh bahkan semakin pendek. Pada April 2026, TikTok menyatakan fitur Add to Music App telah digunakan untuk menyimpan lebih dari enam miliar lagu ke layanan streaming selama 12 bulan sebelumnya. Artinya, mendengar beberapa detik lagu di sebuah video sekarang dapat segera berubah menjadi keputusan menyimpannya untuk didengarkan di tempat lain.
Namun semua ini tidak berarti musisi cukup membuat lagu yang 'ramah algoritma'. Sistem rekomendasi TikTok juga sengaja menyisipkan keragaman agar pengguna tidak terus menerima konten yang persis sama dengan minat yang sudah terbaca. Jumlah pengikut dan riwayat video yang sebelumnya berkinerja tinggi pun disebut bukan faktor langsung dalam sistem rekomendasinya.
Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa dua lagu yang sama-sama enak dapat mengalami nasib sangat berbeda di TikTok. Salah satunya kebetulan menemukan video, komunitas, momentum, atau bentuk penggunaan yang membuat orang terus berinteraksi dan menciptakan sesuatu dengannya. Lagu lainnya mungkin sama bagusnya ketika didengarkan, tetapi tidak memperoleh rangkaian penggunaan yang sama di dalam platform.
Dahulu kita mengenal lagu karena radio memutarnya berulang kali. Sekarang pengulangan itu dapat datang dari ratusan video yang tidak mempunyai hubungan satu sama lain, kecuali beberapa detik suara yang sama. Tanpa sadar, kita belajar mengenali lagu sebelum pernah benar-benar mendengarkannya secara utuh.
Jadi ketika sebuah lagu menjadi viral di TikTok, mungkin pertanyaannya bukan apakah algoritma memilih musik yang paling bagus. Algoritma membantu menentukan video mana yang mungkin menarik bagi siapa, sementara manusia terus memilih suara yang ingin mereka pakai, tiru, ubah, dan sebarkan. Di antara keputusan mesin dan kreativitas manusia itulah sebuah lagu dapat menemukan jalan menuju jutaan telinga. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.