Pengantar Redaksi
Selamat datang kembali di Pojok Bedah. Kali ini kita membedah buku Indonesian Phytocosmetic Atlas [IPA] yang ditulis tiga ahli: Wendra Wilendra, M.MT., apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., dan Prof. Dr. rer. nat. apt. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si. mengulas tentang kekayaan herbal negeri ini dan bagaimana sebaiknya pendekatan dilakukan untuk menjembatani dunia akademik dan dunia bisnis yang berlatar diversitas flora Indonesia.
Dua edisi sebelumnya, kita telah mendengar dari Wendra Wilendra tentang ekosistem dan dari Cahya Khairani tentang pengalaman praktis. Kini, kita sampai pada bagian yang paling ilmiah—dan mungkin paling fundamental. Redaksi menugaskan Rommy Rimbarawa—jurnalis muda dengan gaya santai tetapi kritis—untuk duduk berbincang dengan Prof. Dr. rer. nat. apt. Anis Yohana Chaerunisaa, M.Si., Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran yang telah menghabiskan puluhan tahun meneliti bahan alam, sistem penghantaran, dan teknologi farmasi.
Bagi Prof. Anis, buku ini adalah jembatan antara laboratorium dan industri. Rommy menggali sisi ilmiah dari atlas ini: apa itu marker compound dan mengapa penting, bagaimana cara mengekstrak dan menstandarisasi bahan alam, apa tantangan stabilitas di iklim tropis, bagaimana bioteknologi bisa membantu mengatasi keterbatasan pasokan, dan mengapa penelitian tidak boleh berhenti di jurnal—tetapi harus turun ke produk nyata. Ini adalah percakapan untuk mereka yang ingin memahami ‘mengapa’ di balik ‘apa’—sains yang menjadi fondasi dari setiap produk kosmetik berbasis bahan alam. Selamat menikmati, dan selamat berdiskusi di Pojok Bedah kami.
"Sains di Balik Bahan Alam — Dari Laboratorium ke Produk"
Rommy: Prof, saya mau mulai dengan pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana. Dalam buku ini, Anda sering menyebut istilah 'marker compound.' Apa itu sebenarnya, dan mengapa istilah ini sangat penting dalam phytocosmetic?
Prof. Anis: Ini pertanyaan yang sangat bagus, Rommy. Marker compound adalah senyawa spesifik yang digunakan sebagai penanda untuk menjamin kualitas dan konsistensi suatu ekstrak. Bayangkan kamu membeli ekstrak kunyit. Jika ekstrak itu hanya disebut "ekstrak kunyit," Anda tidak tahu berapa banyak kurkumin—senyawa aktif utamanya—yang ada di dalamnya. Kadar kurkumin bisa 1% atau bisa 6%, tergantung varietas, asal, dan cara ekstraksi.
Dengan marker compound—dalam hal ini kurkumin—kita bisa menetapkan standar: "ekstrak kunyit ini mengandung kurkumin 5% ± 0,5%." Ini adalah jaminan bahwa setiap batch produk kamu akan memiliki khasiat yang sama. Tanpa marker compound, konsistensi produk tidak terjamin. Ini adalah fondasi standarisasi—dan standardisasi adalah fondasi kepercayaan. Di Indonesia, temulawak memiliki xanthorrhizol sebagai marker resmi, dan ini membedakannya dari kunyit yang menggunakan kurkumin.
Rommy: Berbicara tentang temulawak dan kunyit, banyak orang menganggap keduanya sama. Padahal di buku ini Prof. Anis menjelaskan perbedaannya dengan sangat jelas. Bisa tolong jelaskan secara sederhana?
Prof. Anis: Ini adalah kesalahpahaman yang sangat umum, Rommy. Secara visual, temulawak dan kunyit memang mirip—keduanya rimpang berwarna oranye-kuning. Tapi secara kimia, mereka sangat berbeda. Kunyit mengandung kurkumin sebagai senyawa utama—antioksidan dan anti-inflamasi yang sangat kuat. Temulawak mengandung xanthorrhizol—senyawa yang tidak ditemukan di kunyit. Xanthorrhizol memiliki aktivitas anti-inflamasi, antioksidan, dan antimikroba yang unik, dengan profil yang berbeda dari kurkumin.
Inilah mengapa temulawak tidak bisa disamakan dengan kunyit. Indonesia telah menetapkan xanthorrhizol sebagai marker resmi untuk standarisasi temulawak—ini adalah keunggulan yang tidak dimiliki negara lain. Temulawak adalah contoh bagaimana biodiversitas Indonesia memiliki senyawa unik yang bisa menjadi nilai jual global, jika kita mengelolanya dengan baik.
Rommy: Prof, di buku ini Anda juga menulis tentang standardisasi ekstrak. Tapi saya dengar standardisasi di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Apa tantangan terbesarnya?
Prof. Anis: Tantangan terbesarnya adalah keterbatasan alat dan biaya, Rommy. Di negara maju, standardisasi ekstrak herbal dilakukan dengan HPLC—alat yang mampu memisahkan dan mengukur senyawa aktif dengan presisi tinggi. Harganya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Hanya laboratorium besar, universitas tertentu, atau pabrik skala besar yang memilikinya. Akibatnya, banyak UMKM tidak pernah menguji kadar senyawa aktif ekstrak mereka. Mereka mengandalkan ‘feeling’ atau informasi dari pemasok.
Tapi ada kabar baik: kita punya alternatif yang lebih terjangkau. KLT [Kromatografi Lapis Tipis] adalah metode sederhana dan murah untuk fingerprint ekstrak—biaya peralatan dasar hanya Rp 5-20 juta. Spektrofotometri UV-Vis juga bisa mengukur kadar total senyawa aktif dengan biaya lebih rendah. Tapi yang terpenting adalah kesadaran: standardisasi bukan tentang memiliki alat yang mahal. Standardisasi adalah tentang konsistensi—dan konsistensi bisa dibangun dengan sumber daya apa pun, selama ada kemauan dan sistem. Saya selalu bilang: membeli ekstrak tanpa CoA [Certificate of Analysis-Red] seperti membeli kucing dalam karung—kamu tidak tahu apa yang kamu dapatkan.
Rommy: Salah satu tantangan terbesar yang disebutkan di buku adalah stabilitas produk di iklim tropis. Mengapa iklim Indonesia begitu menantang untuk produk kosmetik?
Prof. Anis: Ini adalah tantangan yang sangat nyata, Rommy. Indonesia adalah negara tropis dengan dua ciri utama yang sangat mempengaruhi stabilitas produk: suhu tinggi dan kelembaban tinggi. Suhu rata-rata 25-32°C, bisa mencapai 35-40°C di gudang atau truk. Setiap kenaikan 10°C, laju reaksi kimia meningkat 2-3 kali lipat—ini disebut prinsip Q10. Produk yang stabil 24 bulan di Eropa [suhu 20-25°C] bisa rusak dalam 6-8 bulan di Indonesia.
Kelembaban tinggi [70-90%] mempercepat hidrolisis—pemecahan molekul oleh air—dan mendorong pertumbuhan mikroba. Sinar matahari tropis juga sangat kuat—UV index sering mencapai 10-12, yang mempercepat fotodegradasi senyawa aktif. Vitamin C adalah contoh klasik: serum vitamin C yang stabil di Eropa bisa berubah warna dalam 2-3 minggu di Indonesia jika tidak dilindungi dengan baik. Solusinya: formula yang dirancang untuk tropis, kemasan yang melindungi, distribusi terkendali, dan edukasi konsumen tentang cara penyimpanan. Ini adalah pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Rommy: Prof. Anis menyebut bahwa salah satu solusi untuk stabilitas di iklim tropis adalah enkapsulasi. Bisa jelaskan apa itu enkapsulasi dan mengapa penting?
Prof. Anis: Enkapsulasi adalah teknologi di mana bahan aktif—misalnya kurkumin atau vitamin C—dibungkus dalam partikel kecil [mikro atau nano] untuk melindunginya dari degradasi. Bayangkan Anda membungkus permen dengan lapisan gula agar tidak meleleh di tangan. Enkapsulasi bekerja dengan cara yang sama: melindungi bahan aktif dari cahaya, panas, dan oksidasi, serta melepaskannya secara perlahan di kulit. Ini mengurangi iritasi dan meningkatkan efektivitas.
Retinol yang dienkapsulasi pada konsentrasi 0,3% bisa memberikan hasil lebih baik dengan iritasi minimal dibanding retinol 1% dalam formulasi buruk. Di Indonesia, riset enkapsulasi bahan alam sedang berkembang—misalnya kurkumin dalam nanostructured lipid carriers [NLC] atau ekstrak sacha inchi untuk anti-aging. Ini adalah contoh bagaimana teknologi modern bisa mengatasi kelemahan bahan alam, sekaligus menjaga kelebihannya. Enkapsulasi adalah jembatan antara alam dan teknologi.
Rommy: Prof. Anis juga menulis tentang bioteknologi—fermentasi, kultur jaringan, dan enzim. Menurut Prof, mana yang paling potensial untuk Indonesia?
Prof. Anis: Semuanya potensial, tapi yang paling menarik menurut saya adalah fermentasi dan enzim. Indonesia memiliki tradisi fermentasi yang sangat kaya—tempe, tape, bedak dingin—dan kita bisa mengembangkan ini secara ilmiah. Korea telah membuktikan bahwa fermentasi dapat meningkatkan bioavailabilitas dan menurunkan risiko iritasi bahan herbal. Kita bisa melakukan hal yang sama.
Contoh yang sudah berjalan: BRIN telah mengembangkan enzim lakase dari jamur lokal untuk pemutihan kulit—sebagai alternatif hidrokuinon yang berbahaya. Enzim ini bekerja dengan cara mendegradasi melanin, tanpa efek samping iritasi. Ini adalah contoh sempurna bagaimana bioteknologi berbasis sumber daya lokal bisa menciptakan bahan aktif baru yang unggul. Kultur jaringan juga potensial untuk memperbanyak bibit unggul tanaman langka seperti buah merah atau gaharu, tanpa harus menebang hutan. Bioteknologi adalah sekutu yang membantu alam berbicara lebih keras.
Rommy: Di buku ini Prof. Anis juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan industri. Tapi di Indonesia, sering ada jurang antara riset dan aplikasi. Mengapa ini terjadi?
Prof. Anis: Ini adalah pertanyaan yang sangat penting, Rommy. Selama bertahun-tahun, ada jurang besar antara penelitian kampus, kebutuhan industri, dan realita pasar. Banyak penelitian bagus berhenti sebagai publikasi ilmiah—mereka tidak pernah sampai ke industri. Mengapa? Karena bahasa akademik dan bahasa industri sering berbeda. Akademisi menulis jurnal dalam bahasa ilmiah yang rumit, dengan fokus pada mekanisme molekuler dan signifikansi statistik.
Industri membutuhkan solusi praktis: "Apakah ini bisa diproduksi dalam skala besar? Apakah stabil di iklim tropis? Apakah ekonomis?" Kedua belah pihak jarang duduk bersama untuk merumuskan masalah. Selain itu, sistem penilaian dosen di Indonesia masih sangat berorientasi pada publikasi—bukan pada hilirisasi. Dosen didorong untuk menulis jurnal, bukan untuk bekerja sama dengan industri. Ini adalah masalah struktural. Tapi saya melihat perubahan. UNPAD, ITB, IPB, UGM, dan BRIN mulai membuka layanan pengujian untuk publik. Labcos adalah contoh nyata bagaimana akademisi dan industri bisa bekerja sama. Ini harus diperluas.
Rommy: Prof. Anis juga menulis tentang 'Level Evidence' untuk setiap bahan dalam atlas ini—dari Tradisi hingga Klinis. Mengapa ini penting bagi pembaca?
Prof. Anis: Level evidence adalah cara untuk mengukur seberapa kuat bukti ilmiah di balik klaim suatu bahan. Ada lima tingkatan: Tradisi [hanya berdasarkan penggunaan turun-temurun], In Vitro [uji laboratorium], In Vivo [uji pada hewan], Klinis [uji pada manusia], dan Meta-Analisis [gabungan banyak studi].
Level evidence penting karena membantu pembaca—baik konsumen, brand owner, maupun formulator—untuk menilai klaim produk dengan kritis. Jika suatu produk mengklaim ‘anti-aging’ tetapi level evidence-nya hanya Tradisi, Anda harus bertanya: apakah klaim itu didukung data? Sebaliknya, bahan dengan level evidence Klinis [seperti pegagan untuk penyembuhan luka] sudah memiliki bukti kuat. Tapi ingat: level evidence yang tinggi tidak otomatis berarti bahan itu terbaik. Bahan dengan level evidence Tradisi bisa memiliki potensi besar—hanya saja belum diteliti. Level evidence adalah alat untuk membantu kita bertanya, bukan untuk menghakimi.
Rommy: Apa saran Prof. Anis untuk mahasiswa farmasi atau kosmetik yang ingin berkarier di bidang bahan alam?
Prof. Anis: Saya punya beberapa saran, Rommy. Pertama, pelajari ilmu dasar dengan sungguh-sungguh—kimia, biologi, farmasetika, dan teknologi farmasi. Ini adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Kedua, jangan hanya di dalam kelas. Keluar, lihatlah petani, kunjungi pabrik, magang di UMKM. Pengetahuan kalian akan bermakna jika diterapkan.
Ketiga, jadilah peneliti yang tidak hanya menerbitkan jurnal, tetapi juga menyelesaikan masalah nyata. Indonesia butuh ilmuwan yang tangannya kotor karena pernah menanam kunyit dan matanya pekat membaca kromatogram. Keempat, kolaborasi dengan pelaku industri—jangan hanya dengan sesama akademisi. Kelima, publikasikan hasil riset dalam bahasa yang bisa dipahami oleh industri dan publik. Ingat: ilmu tanpa hilirisasi hanya akan menjadi dokumen. Hilirisasi tanpa ilmu adalah spekulasi. Pilih jalan yang membuat Anda berguna bagi Indonesia.
Rommy: Jika hanya ada satu pesan dari seluruh perjalanan ilmiah Prof. Anis yang ingin disampaikan kepada pembaca, apa itu?
Prof. Anis: "Penelitian yang baik bukan hanya yang dipublikasikan. Tapi yang bisa digunakan." Itulah satu pesan yang ingin saya tinggalkan. Buku ini adalah hasil dari puluhan tahun penelitian, kolaborasi, dan pengabdian. Tapi buku ini bukan akhir dari perjalanan—ia adalah pintu masuk. Pengetahuan tanpa cara berpikir yang benar hanyalah kumpulan fakta yang siap menyesatkan.
Orang bijak tidak hanya mengumpulkan fakta. Ia memiliki peta untuk menempatkan fakta pada tempatnya. Phytocosmetic bukanlah mitos atau sekadar ramuan ajaib. Ia adalah sistem—sistem yang terdiri dari rantai panjang: budidaya, panen, pengeringan, ekstraksi, standardisasi, formulasi, stabilitas, keamanan, regulasi, klaim, dan pemasaran. Jika satu mata rantai putus, produk tidak layak disebut phytocosmetic sejati. Jangan sebut sesuatu phytocosmetic jika ia hanya sebatas ekstrak dalam botol cantik. Phytocosmetic adalah sistem, bukan stiker. [][tamat]