Dulu, banyak pria lebih mudah membicarakan pekerjaan, hobi, atau olahraga daripada hubungan mereka dengan ayahnya. Kini, percakapan tentang sosok ayah semakin sering muncul di berbagai ruang.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai bentuk. Ada yang berbagi cerita tentang didikan ayah yang keras, ada yang mengenang pengorbanannya, dan ada pula yang mulai membicarakan luka atau jarak emosional yang selama ini tidak pernah diungkapkan. Topik yang dulu terasa pribadi bahkan cenderung sensitif kini mulai hadir dalam percakapan sehari-hari, media sosial, hingga berbagai forum diskusi.

Perubahan ini menarik untuk diamati karena selama bertahun-tahun banyak pria tumbuh dalam budaya yang tidak terbiasa membahas perasaan secara terbuka. Hubungan dengan ayah sering dianggap sebagai sesuatu yang dipahami begitu saja, tanpa perlu dijelaskan atau dipertanyakan. 

Namun seiring waktu, semakin banyak pria yang merasa perlu memahami kembali hubungan tersebut karena menyadari pengaruhnya terhadap kehidupan mereka saat ini.

Tidak sedikit yang baru memahami peran ayah setelah mereka sendiri beranjak dewasa. Ada yang menyadarinya ketika membangun keluarga, ada yang merasakannya saat menghadapi tanggung jawab hidup, dan ada pula yang mulai melihat bahwa banyak keputusan yang mereka ambil ternyata memiliki kaitan dengan pengalaman masa kecil bersama ayahnya.

Baca Juga: Kenapa Pria Sekarang Mulai Lebih Peduli Kesehatan Mentalnya?

Hubungan dengan Ayah Ternyata Membentuk Banyak Hal dalam Hidup Pria

Psikologi modern menunjukkan bahwa hubungan seorang anak laki-laki dengan ayahnya dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan di masa dewasa. Mulai dari cara membangun kepercayaan diri, menghadapi konflik, mengelola emosi, hingga membentuk hubungan dengan orang lain. Pengaruh tersebut tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi sering muncul dalam pola perilaku yang berkembang selama bertahun-tahun.

Psikolog dan peneliti hubungan keluarga dari University of Pennsylvania, Dr. Michael Lamb, dalam berbagai kajiannya mengenai peran ayah, menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak berkontribusi terhadap perkembangan sosial dan emosional mereka. Kehadiran ayah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memberikan contoh tentang bagaimana menghadapi tantangan hidup, membangun relasi, dan memahami tanggung jawab.

Bagi banyak pria, pemahaman ini sering datang belakangan. Ketika masih muda, hubungan dengan ayah mungkin terasa biasa saja atau bahkan penuh ketegangan. Namun setelah memasuki fase kehidupan yang lebih matang, banyak yang mulai melihat kembali pengalaman masa lalu dengan sudut pandang yang berbeda.

Tak mengherankan jika semakin banyak pria mulai membicarakan ayahnya. Mereka tidak selalu sedang mencari kesalahan atau pujian. Sebagian besar hanya sedang mencoba memahami bagaimana sosok tersebut ikut membentuk siapa diri mereka hari ini.

Baca Juga: Hari Gini Cowok Mulai Bawa Skincare Saat Traveling, Anda Juga?

Pria Mulai Lebih Berani Membicarakan Hal yang Dulu Disimpan Sendiri

Perubahan cara pandang terhadap kesehatan mental pria juga turut memengaruhi fenomena ini. Jika dulu banyak pria diajarkan untuk menyimpan kegelisahan dan menyelesaikan semuanya sendiri, kini semakin banyak yang menyadari pentingnya berbicara tentang pengalaman hidup mereka. Termasuk pengalaman yang berkaitan dengan keluarga dan hubungan dengan ayah.

Dalam konteks biologis, pria juga sering dipengaruhi oleh hormon testosteron yang berkaitan dengan dorongan kompetitif, kemandirian, dan kecenderungan menahan kerentanan emosional. Namun para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa kemampuan mengekspresikan perasaan bukanlah tanda kelemahan. Justru kemampuan memahami dan mengelola emosi merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis yang baik.

Psikolog klinis dan penulis asal Amerika Serikat, Dr. Terrence Real, banyak menyoroti bagaimana budaya maskulinitas tradisional membuat sebagian pria terbiasa memendam emosi sejak usia muda. Akibatnya, banyak pengalaman penting dalam hidup yang tidak pernah benar-benar diproses atau dibicarakan. Ketika ruang untuk berdiskusi mulai terbuka, banyak pria akhirnya merasa lebih nyaman membagikan cerita yang selama ini mereka simpan sendiri.

Perbincangan tentang ayah pada akhirnya bukan hanya tentang sosok seorang ayah. Di dalamnya terdapat proses memahami masa lalu, mengenali diri sendiri, dan melihat bagaimana sebuah hubungan dapat meninggalkan jejak yang panjang dalam kehidupan seseorang. Mungkin itulah sebabnya topik ini semakin sering muncul, karena semakin banyak pria yang mulai menyadari bahwa memahami ayahnya juga berarti memahami sebagian dari dirinya sendiri. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.