Banyak orang mampu memberi pengertian kepada orang lain. Namun ketika kesalahan yang sama terjadi kepada dirinya sendiri, sikap yang muncul sering jauh lebih keras.

Ada seseorang yang gagal mencapai target kerja lalu berkata kepada dirinya bahwa ia kurang berusaha. Ada yang melakukan kesalahan kecil dalam sebuah percakapan lalu memikirkannya berhari-hari. Ada pula yang terus mengingat kegagalan lama meski orang lain yang terlibat mungkin sudah melupakannya sejak lama.

Menariknya, orang yang sama sering memberikan respons berbeda ketika melihat orang lain mengalami hal serupa. Mereka bisa memahami bahwa setiap orang pernah gagal, pernah salah mengambil keputusan, atau pernah berada dalam kondisi yang tidak ideal. Empati yang mudah diberikan kepada orang lain ternyata tidak selalu mudah diberikan kepada diri sendiri.

Fenomena ini cukup umum ditemukan. Banyak orang hidup dengan standar yang jauh lebih ketat untuk dirinya dibanding standar yang mereka gunakan untuk menilai orang lain. Akibatnya, keberhasilan sering dianggap biasa, sementara kesalahan kecil terasa jauh lebih besar daripada yang sebenarnya.

Baca Juga: Apa sih yang Kita Lihat dari Hidup Orang Lain?

Kita Mengenal Diri Sendiri Lebih Dalam daripada Orang Lain

Salah satu alasan mengapa seseorang sering lebih keras kepada dirinya sendiri adalah karena ia mengetahui lebih banyak hal tentang dirinya dibanding siapa pun. Seseorang tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga mengetahui keraguan, ketakutan, kesalahan, dan keputusan-keputusan yang pernah dibuat sepanjang hidupnya. Informasi yang begitu lengkap membuat penilaian terhadap diri sendiri sering menjadi lebih berat.

Ketika melihat orang lain gagal, manusia biasanya hanya melihat sebagian kecil dari cerita yang ada. Sebaliknya, ketika menilai diri sendiri, seluruh proses ikut terbawa ke dalam pertimbangan. Hal inilah yang membuat banyak orang merasa bahwa kegagalannya lebih buruk dibanding kegagalan orang lain, padahal belum tentu demikian.

Psikolog dan peneliti self-compassion dari University of Texas at Austin, Kristin Neff, menjelaskan bahwa manusia cenderung terjebak dalam kritik diri yang berlebihan ketika menghadapi kesulitan. Menurutnya, banyak orang memperlakukan dirinya sendiri dengan cara yang tidak akan pernah mereka gunakan kepada sahabat atau orang yang mereka sayangi. Sikap tersebut sering muncul karena seseorang percaya bahwa mengkritik diri secara keras akan membuat dirinya menjadi lebih baik, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.

Akibatnya, kesalahan yang sebenarnya wajar dapat berkembang menjadi sumber tekanan yang berkepanjangan. Pikiran terus mengulang kejadian yang sama, mencari apa yang seharusnya dilakukan, dan menyesali apa yang tidak bisa diubah lagi. Dalam kondisi tertentu, pola seperti ini justru menguras energi mental tanpa menghasilkan perubahan yang berarti.

Baca Juga: Produktif Terus Sekarang Terlihat Keren, Tapi Orang Masih Punya Waktu Merenung?

Menghargai Diri Sendiri Bukan Berarti Menurunkan Standar

Sebagian orang khawatir bahwa bersikap lebih baik kepada diri sendiri akan membuat mereka menjadi kurang disiplin. Padahal menghargai diri sendiri tidak berarti membiarkan kesalahan berlalu tanpa pelajaran. Menghargai diri sendiri berarti mampu melihat kesalahan secara proporsional tanpa menjadikannya sebagai alasan untuk terus menghukum diri.

Penelitian yang dilakukan oleh berbagai ahli psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki self-compassion yang baik justru lebih mampu bangkit setelah mengalami kegagalan. Mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya, mereka lebih fokus memahami apa yang bisa dipelajari dan diperbaiki dari pengalaman tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan ini sering terlihat dalam hal-hal sederhana. Seseorang yang gagal mencapai target mungkin tetap merasa kecewa, tetapi tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak kompeten. Seseorang yang melakukan kesalahan dalam hubungan mungkin tetap mengakui kekeliruannya, tetapi tidak serta-merta menganggap dirinya sebagai orang yang buruk.

Menghargai diri sendiri juga bukan berarti selalu merasa puas terhadap keadaan. Seseorang tetap dapat memiliki ambisi, target, dan keinginan untuk berkembang. Bedanya, proses pertumbuhan tersebut tidak dibangun di atas kebiasaan merendahkan diri sendiri, melainkan di atas kesadaran bahwa manusia memang tidak selalu sempurna.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang lebih mudah berbaik hati kepada orang lain dibanding kepada dirinya sendiri. Mereka terbiasa melihat orang lain sebagai manusia yang wajar melakukan kesalahan, tetapi lupa menerapkan pemahaman yang sama kepada dirinya sendiri. Padahal terkadang, pengertian yang paling dibutuhkan bukan datang dari orang lain, melainkan dari cara seseorang memandang dirinya sendiri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.