Media sosial membuat manusia bisa melihat kehidupan orang lain hampir setiap hari. Namun semakin sering melihat, semakin banyak juga orang yang diam-diam merasa hidupnya sendiri mulai tertinggal.

Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern sekarang. Orang membuka media sosial beberapa menit saja, lalu langsung melihat teman menikah, orang lain liburan, seseorang membeli rumah, pindah kerja, membuka bisnis, atau terlihat sangat bahagia dalam hidupnya. Semua bergerak cepat di layar, seolah setiap orang sedang melaju ke arah yang jelas sementara diri sendiri masih berdiri di tempat yang sama.

Padahal yang terlihat di internet sering hanyalah potongan-potongan kecil yang sudah dipilih untuk diperlihatkan. Tidak semua kelelahan, kebingungan, rasa takut, atau kegagalan ikut muncul di sana. Namun otak manusia tetap mudah membandingkan kehidupan utuh miliknya dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang muncul di layar setiap hari.

Psikolog sosial Dr. Leon Festinger melalui teori social comparison pernah menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Dalam era media sosial, proses itu terjadi jauh lebih sering karena manusia sekarang terus-menerus melihat pencapaian, gaya hidup, dan momen personal orang lain hampir tanpa jeda.

Akibatnya, banyak orang mulai merasa hidupnya kurang hanya karena terlalu lama melihat kehidupan orang lain dari layar kecil di tangannya sendiri.

Baca Juga: Produktif Terus Sekarang Terlihat Keren, Tapi Orang Masih Punya Waktu Merenung?

Kita Tidak Selalu Iri, Kadang Kita Hanya Lelah Membandingkan Diri

Menariknya, tidak semua orang yang merasa tertinggal sebenarnya sedang iri pada orang lain. Ada banyak orang yang sebenarnya ikut senang melihat temannya berhasil, tetapi tetap merasa sedih setelah menutup aplikasi media sosial. Perasaan itu muncul pelan-pelan karena otak manusia sulit berhenti mengukur dirinya ketika terus melihat kehidupan orang lain bergerak setiap hari.

Ada yang mulai mempertanyakan kariernya setelah melihat teman seusianya terlihat lebih sukses. Ada yang tiba-tiba merasa hidupnya membosankan karena terlalu sering melihat orang lain bepergian ke banyak tempat. Ada juga yang mulai merasa dirinya gagal hanya karena hidupnya tidak terlihat 'menarik' seperti yang terus muncul di media sosial.

Padahal setiap orang berjalan dalam situasi hidup yang sangat berbeda. Ada yang punya akses lebih besar, ada yang menghadapi tekanan keluarga berbeda, ada yang diam-diam sedang lelah secara mental, dan ada yang berhasil melewati sesuatu yang bahkan tidak pernah terlihat di internet. Namun media sosial sering membuat semua kehidupan tampak rata dan mudah dibandingkan satu sama lain.

Menurut Psikolog klinis Dr. Thema Bryant, paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain di media sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika manusia terlalu sering melihat pencapaian orang lain tanpa memahami konteks hidup di baliknya, rasa tidak cukup bisa tumbuh perlahan tanpa disadari.

Dan itu sebabnya banyak orang sekarang cepat merasa tertinggal meski sebenarnya hidupnya masih berjalan baik-baik saja.

Baca Juga: To Do List Makin Panjang, Tapi Energi Orang Makin Pendek, How Come?

Bisa Jadi Kita Sudah Terlalu Lama Melihat Keluar, Sampai Lupa Melihat Diri Sendiri

Kehidupan digital modern membuat perhatian manusia terus bergerak ke luar dirinya sendiri. Orang terlalu sering melihat siapa yang lebih berhasil, siapa yang lebih cepat menikah, siapa yang hidupnya terlihat lebih tenang, atau siapa yang tampak lebih bahagia setiap hari. Lama-lama, manusia mulai kehilangan hubungan yang tenang dengan hidupnya sendiri karena terlalu sibuk memperhatikan perjalanan orang lain.

Padahal hidup manusia tidak selalu harus bergerak dengan ritme yang sama. Ada fase ketika seseorang memang sedang bertumbuh pelan. Ada masa ketika hidup lebih banyak dipakai untuk bertahan dibanding berlari cepat mengejar pencapaian. Dan ada juga periode ketika seseorang sebenarnya sedang belajar memahami dirinya sendiri sebelum melangkah lebih jauh.

Hal-hal seperti itu sering tidak terlihat menarik di media sosial. Namun, justru proses-proses sunyi itulah yang sering membentuk manusia secara paling dalam. Sayangnya, internet modern lebih mudah menampilkan hasil akhir dibanding perjalanan panjang yang terjadi di belakangnya.

Psikoterapis Esther Perel pernah menyoroti bahwa manusia modern semakin sulit merasa cukup karena terus hidup di bawah paparan kehidupan orang lain yang tidak pernah berhenti. Dalam situasi seperti itu, menjaga hubungan yang sehat dengan diri sendiri menjadi jauh lebih penting dibanding terus mengejar standar hidup yang dibentuk layar digital.

Barangkali yang melelahkan bukan karena hidup orang lain terlalu hebat. Bisa jadi yang membuat manusia cepat kehilangan tenang adalah karena dirinya terlalu lama melihat keluar, sampai lupa memahami perjalanan hidupnya sendiri dengan lebih jujur dan lebih pelan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.