Teknologi kamera semakin canggih dan mudah diakses. Namun di tengah kualitas gambar yang terus meningkat, banyak foto justru terlihat semakin seragam.
Beberapa tahun lalu, kamera yang mampu menghasilkan foto berkualitas tinggi hanya dimiliki kalangan tertentu. Kini hampir setiap orang membawa perangkat dengan kemampuan fotografi yang jauh lebih baik daripada kamera profesional beberapa dekade lalu. Hasilnya tajam, warnanya hidup, dan proses pengambilannya pun semakin mudah berkat bantuan teknologi.
Menariknya, kemajuan tersebut tidak selalu diikuti oleh keragaman visual. Saat membuka media sosial, banyak foto terlihat memiliki nuansa yang hampir sama. Warna yang serupa, sudut pengambilan gambar yang mirip, komposisi yang berulang, hingga cara mengedit yang mengikuti pola yang nyaris identik.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang menarik. Jika semakin banyak orang memiliki alat yang mampu menghasilkan foto berkualitas tinggi, mengapa hasil akhirnya justru sering terasa seperti berasal dari sumber yang sama?
Baca Juga: Kenapa Internet Sekarang Terasa ‘Ramai’ Tapi ‘Sepi’?
Ketika Algoritma Ikut Mengajari Kita Cara Memotret
Dahulu seseorang belajar fotografi dari buku, komunitas, atau pengalaman pribadi yang berlangsung dalam waktu cukup lama. Sekarang proses belajar itu banyak terjadi melalui media sosial. Setiap hari jutaan orang melihat foto-foto yang dianggap menarik oleh algoritma, lalu secara tidak sadar menjadikannya sebagai referensi visual.
Ketika sebuah gaya fotografi mendapatkan banyak perhatian, gaya tersebut akan lebih sering muncul di linimasa pengguna lain. Semakin sering terlihat, semakin banyak orang yang menirunya. Dalam waktu tertentu, lahirlah pola visual yang berulang karena banyak orang terinspirasi oleh sumber yang relatif sama.
Profesor media dan budaya digital dari New York University, Lev Manovich, dalam berbagai penelitiannya tentang budaya visual digital menjelaskan bahwa platform modern memiliki pengaruh besar dalam membentuk preferensi visual masyarakat. Algoritma tidak secara langsung memerintah orang untuk membuat foto tertentu, tetapi ia menentukan jenis gambar apa yang paling sering dilihat dan mendapatkan perhatian.
Akibatnya, kreativitas tidak lagi hanya dipengaruhi oleh kemampuan teknis fotografer. Kreativitas juga dipengaruhi oleh lingkungan digital tempat seseorang menghabiskan waktunya. Ketika referensi visual yang beredar semakin seragam, hasil yang muncul dari para pengguna pun cenderung bergerak ke arah yang sama.
Baca Juga: Kenapa Orang Sekarang Lebih Percaya Rating daripada Insting Sendiri?
Kamera Semakin Pintar, Tapi Selera Semakin Seragam?
Perkembangan teknologi fotografi membuat banyak proses yang dahulu rumit menjadi otomatis. Kamera ponsel kini dapat mengatur pencahayaan, warna, ketajaman, hingga efek latar belakang secara instan. Bahkan beberapa perangkat menggunakan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan hasil foto sebelum pengguna sempat melakukan penyuntingan sendiri.
Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat. Lebih banyak orang dapat menghasilkan foto yang baik tanpa harus mempelajari teknik fotografi secara mendalam. Namun pada saat yang sama, sistem otomatis juga cenderung mendorong hasil visual menuju standar tertentu yang dianggap ideal oleh teknologi yang digunakan.
Peneliti teknologi dari Massachusetts Institute of Technology, Profesor Nathaniel Hendren, menyoroti bagaimana teknologi modern sering menciptakan efisiensi melalui standarisasi. Prinsip serupa dapat ditemukan dalam fotografi digital. Ketika perangkat dirancang untuk menghasilkan foto yang dianggap menarik oleh mayoritas pengguna, hasil akhirnya berpotensi bergerak menuju pola yang semakin seragam.
Di sisi lain, media sosial juga memperkuat kecenderungan tersebut. Banyak orang secara tidak sadar memilih gaya visual yang sudah terbukti mendapatkan perhatian. Pilihan itu bukan karena mereka tidak kreatif, melainkan karena manusia memang cenderung belajar dari apa yang sering dianggap berhasil oleh lingkungannya.
Karena itu, persoalannya mungkin bukan terletak pada kualitas kamera yang semakin baik. Yang berubah adalah cara manusia menemukan inspirasi dan mendefinisikan foto yang dianggap menarik. Teknologi telah memberi lebih banyak alat untuk berekspresi, tetapi pada saat yang sama algoritma dan budaya digital juga ikut membentuk arah ekspresi tersebut. Itulah sebabnya, di tengah jutaan kamera yang berbeda, hasil fotonya kadang terasa berasal dari dunia visual yang sama. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.