Dulu manusia sering menentukan sesuatu berdasarkan rasa penasaran, rekomendasi orang dekat, atau insting sederhana yang muncul saat melihat sesuatu secara langsung. Orang masuk ke warung karena aromanya enak, memilih penginapan karena terlihat nyaman, atau mencoba makanan baru tanpa harus membuka puluhan ulasan lebih dulu.
Sekarang pola itu berubah cukup jauh.
Banyak orang bahkan tidak jadi masuk ke sebuah tempat hanya karena angka rating-nya terlalu rendah. Ada yang langsung menutup aplikasi ketika membaca beberapa komentar buruk, meski belum pernah benar-benar mencoba sendiri. Ada juga yang merasa cemas membeli sesuatu tanpa melihat ulasan panjang dari orang asing yang bahkan tidak mereka kenal.
Fenomena itu menunjukkan bahwa manusia digital modern perlahan mulai menyerahkan sebagian keputusannya kepada sistem penilaian kolektif. Bukan hanya untuk barang mahal atau keputusan besar, tetapi juga untuk hal-hal kecil sehari-hari yang dulu sering diputuskan secara spontan.
Menurut Profesor psikologi sosial Barry Schwartz, terlalu banyak pilihan dan informasi dapat membuat manusia mengalami kecemasan dalam mengambil keputusan. Dalam kondisi seperti itu, manusia cenderung mencari validasi eksternal agar merasa lebih aman terhadap pilihannya sendiri.
Mungkin itu sebabnya rating sekarang terasa bukan sekadar fitur tambahan, melainkan semacam penentu rasa percaya.
Baca Juga: Kenapa Semua Aplikasi Sekarang Terasa Mirip Satu Sama Lain?
Internet Membuat Manusia Takut Salah Memilih
Kalau diperhatikan, budaya digital modern sangat jarang memberi ruang nyaman untuk salah memilih sesuatu. Hampir semua keputusan sekarang terasa harus optimal, mulai dari memilih tempat makan, membeli barang, menentukan hotel, sampai memilih tontonan untuk malam hari. Karena internet selalu menyediakan 'pilihan terbaik.'
Masalahnya, ketika semua hal bisa dibandingkan secara terus-menerus, manusia mulai kehilangan keberanian untuk mencoba sesuatu tanpa validasi sistem. Orang takut membuang uang untuk makanan yang ternyata biasa saja. Orang takut kecewa karena memilih hotel dengan ulasan buruk. Bahkan kadang orang takut terlihat punya selera yang salah dibanding mayoritas pengguna lain. Akibatnya, rating perlahan berubah jadi alat pengurang kecemasan.
Platform digital memahami pola itu dengan sangat baik. Karena itulah hampir semua aplikasi sekarang menampilkan angka, bintang, skor, komentar, dan sistem rekomendasi yang terus mendorong manusia membuat keputusan berdasarkan akumulasi opini publik. Semakin tinggi angkanya, semakin aman rasanya.
Peneliti budaya digital Shoshana Zuboff menyebutkan bahwa sistem digital modern bekerja dengan cara mengumpulkan perilaku manusia menjadi data yang kemudian dipakai untuk membentuk keputusan berikutnya. Dalam ekosistem seperti itu, manusia perlahan terbiasa mempercayai agregasi sistem dibanding penilaian personalnya sendiri. Dan lama-lama, insting mulai terasa kurang meyakinkan dibanding angka di layar.
Baca Juga: Kenapa Aplikasi Sekarang Minta Akses ke Hampir Semua Hal di HP Kita?
Kita Tidak Lagi Hanya Mencari Sesuatu yang Bagus, Tapi Sesuatu yang Sudah Disetujui Banyak Orang
Menariknya, fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal efisiensi memilih barang atau layanan. Ada perubahan psikologis yang lebih besar di balik kebiasaan melihat rating sebelum memutuskan sesuatu. Karena manusia modern sekarang hidup di lingkungan yang sangat dipengaruhi validasi sosial.
Ketika sebuah tempat punya ribuan ulasan positif, orang merasa lebih tenang datang ke sana karena pilihannya terasa 'didukung' banyak orang lain. Sebaliknya, tempat dengan sedikit ulasan atau rating rendah sering langsung dianggap mencurigakan bahkan sebelum diberi kesempatan. Padahal pengalaman manusia sebenarnya tidak selalu bisa diterjemahkan menjadi angka yang objektif.
Ada restoran kecil yang mungkin tidak terlalu estetik tetapi makanannya mengingatkan seseorang pada rumah. Ada buku dengan nilai biasa saja yang justru terasa sangat personal bagi pembaca tertentu. Ada film dengan ulasan buruk yang ternyata sangat membekas bagi sebagian orang karena menyentuh pengalaman hidupnya sendiri.
Namun budaya digital modern perlahan membuat manusia semakin sulit mempercayai pengalaman subjektif seperti itu.
Profesor komunikasi José van Dijck menyebut platform digital membentuk budaya di mana visibilitas dan legitimasi semakin ditentukan oleh metrik. Dalam situasi seperti itu, angka perlahan menjadi bahasa kepercayaan baru yang dianggap lebih meyakinkan dibanding intuisi pribadi. Inilah perubahan paling besarnya.
Manusia modern tak lagi hanya mencari sesuatu yang baik menurut dirinya sendiri. Banyak orang mulai mencari sesuatu yang sudah lebih dulu dianggap baik oleh sistem dan mayoritas pengguna lain. Akibatnya, keputusan personal perlahan berubah menjadi keputusan kolektif yang dimediasi algoritma, rating, dan pola rekomendasi digital.
Mungkin itu sebabnya sekarang orang lebih percaya pada angka bintang dibanding rasa penasarannya sendiri. Karena di internet modern, insting terasa terlalu sepi untuk melawan ribuan ulasan yang terus berbicara di layar. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.