Ada ketakutan yang tumbuh dari bayang-bayang. Dan ada dominasi yang hadir dari ruang yang dibiarkan kosong. Fenomena itu bernama premanisme.
Fenomena premanisme bukan sesuatu yang muncul dalam satu malam, dan bukan pula hal yang hanya terjadi di satu tempat. Indonesia mengalaminya, negara lain juga. Di kota besar, di desa yang sunyi, bahkan di lingkungan yang tampak damai, bentuk-bentuk intimidasi dan kontrol informal ini selalu menemukan caranya untuk hidup. Premanisme tumbuh seperti jamur di sudut-sudut yang jarang diperhatikan, menempati ruang yang terbentuk dari ketidakpastian dan ketimpangan.
Di berbagai negara, premanisme hadir dengan wajah berbeda-beda: geng jalanan, kelompok kriminal kecil, hingga figur lokal yang memanfaatkan kekosongan otoritas. Polanya mirip, meski latarnya berbeda. Mereka muncul ketika masyarakat kehilangan kepercayaan pada penegak hukum, atau ketika kesenjangan sosial membuat sebagian orang merasa tidak punya tempat dalam sistem resmi. Ruang gelap antara rasa takut dan kebutuhan perlindungan itulah yang sering dimanfaatkan.
Premanisme tidak selalu terlihat sebagai kekerasan terbuka. Kadang ia tumbuh halus: dari pungutan kecil yang dianggap “biasa”, dari seseorang yang bisa “mengurus banyak hal” dengan imbalan tertentu, hingga kelompok yang menawarkan keamanan namun justru menjadi ancaman. Di baliknya, ada mekanisme sosial yang perlahan kehilangan keseimbangannya.
Baca Juga: Kala Kata ‘Bencana’ Diperdebatkan
Mengapa Premanisme Muncul dan Mengapa Ia Mudah Tumbuh Subur
Premanisme biasanya muncul dari situasi di mana aturan formal tidak bekerja optimal. Ketika hukum bergerak lambat, atau ketika masyarakat merasa tidak mendapat perlindungan, akan muncul figur-figur yang menawarkan solusi instan. Mereka menawarkan “ketertiban”, meski dengan cara yang merusak. Kebutuhan akan rasa aman membuat banyak orang akhirnya menerima kehadiran mereka, setidaknya untuk sementara.
Masalah ekonomi menjadi pemicu lain yang sering disebutkan. Ketimpangan pendapatan, lapangan kerja yang terbatas, atau lingkungan yang rawan membuat sebagian orang mencari jalan singkat untuk bertahan. Premanisme memberikan ruang bagi mereka yang tidak memiliki akses pada kesempatan yang lebih sehat. Di banyak negara, geng jalanan tumbuh dari frustasi kolektif, bukan sekadar ambisi individu.
Di sisi lain, premanisme juga tumbuh subur ketika kekuasaan informal diberi ruang tanpa batas. Kontrol sosial yang longgar, hubungan patronase, atau pembiaran kecil-kecilan yang dianggap “tidak begitu berbahaya” dapat berkembang menjadi jaringan yang sulit diputus. Ketika kelompok ini berhasil menguasai satu wilayah—kecil sekalipun—mereka bisa membangun legitimasi semu yang membuat masyarakat segan menolak.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa premanisme bukan hanya soal kekerasan fisik. Ia adalah reaksi terhadap celah-celah dalam sistem sosial yang tidak tertangani.
Baca Juga: Ketika Komunikasi Macet karena Jarak AntarGenerasi
Mencegah Premanisme Bukan Sekadar Memerangi Kekerasan
Mengatasi premanisme tidak cukup hanya dengan operasi penertiban atau penangkapan. Langkah-langkah tersebut mungkin menurunkan angka kejadian dalam jangka pendek, tetapi tidak menyentuh akar permasalahan. Cara paling efektif selalu berawal dari memperkuat lingkungan sosial yang membuat masyarakat merasa aman dan dihargai.
Penegakan hukum yang adil dan dapat diandalkan adalah kunci. Ketika masyarakat percaya bahwa laporan mereka didengar dan hak-hak mereka dilindungi, kebutuhan untuk bergantung pada figur dominan di luar hukum akan berkurang. Kepercayaan ini menjadi fondasi yang menghalangi tumbuhnya pola intimidasi.
Selain itu, memperbaiki kondisi ekonomi juga penting. Ketika kesempatan kerja terbuka dan pendidikan bisa diakses, dorongan untuk bergabung dalam kelompok kriminal menjadi jauh lebih kecil. Banyak negara menunjukkan bahwa program pemberdayaan masyarakat mampu menurunkan angka kejahatan lebih signifikan daripada pendekatan represif.
Yang tidak kalah penting adalah memperkuat jaringan sosial di tingkat komunitas. Ketika warga saling menjaga, saling mengenal, dan merasa memiliki ruang hidup bersama, kelompok-kelompok intimidatif akan kehilangan tempat untuk tumbuh. Premanisme tumbuh di ruang kosong; tugas masyarakat adalah memastikan ruang itu tidak pernah benar-benar ada.
Pada akhirnya, premanisme adalah cermin dari ketidakseimbangan sosial. Untuk menghentikannya, kita tidak hanya memerlukan tindakan, tetapi juga perubahan pemahaman: bahwa keamanan bukan barang mewah, dan rasa aman adalah hak yang harus dinikmati setiap orang. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]