Operasi berhasil. Batu ginjal sudah dikeluarkan. Rasa sakit pun berangsur hilang. Namun, apakah itu berarti seseorang terbebas dari kemungkinan mengalami batu ginjal lagi?

Bagi pasien yang baru menjalani tindakan medis, keberhasilan mengangkat batu ginjal tentu membawa kelegaan. Nyeri yang sebelumnya mengganggu aktivitas dapat berkurang setelah penyebab sumbatan ditangani. Akan tetapi, menghilangkan batu yang sudah terbentuk tidak selalu berarti menghilangkan kondisi yang memungkinkan batu baru terbentuk.

Inilah salah satu hal penting yang perlu dipahami setelah seseorang menjalani pengobatan batu ginjal. Tindakan medis dapat menyelesaikan masalah yang sedang terjadi, tetapi pencegahan kekambuhan membutuhkan perhatian terhadap penyebabnya. Bahkan, sebagian pasien memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui mengapa batu tersebut terbentuk.

Baca Juga: Disebut Super Flu, Benarkah Influenza A H3N2 Subclade K Lebih Berbahaya?

Batu Sudah Dikeluarkan, Mengapa Bisa Terbentuk Lagi?

Batu ginjal terbentuk ketika zat tertentu dalam urine mencapai kondisi yang memungkinkan terbentuknya kristal. Kristal tersebut dapat berkembang menjadi batu, terutama ketika konsentrasi zat pembentuk batu tinggi atau zat yang menghambat pembentukan kristal tidak mencukupi. Proses ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk jumlah cairan yang diminum, komposisi urine, pola makan, kondisi metabolik, dan riwayat kesehatan.

Ketika batu diangkat melalui tindakan medis, dokter menangani batu yang sudah ada. Namun, apabila kondisi yang menyebabkan pembentukan kristal masih berlangsung, batu baru tetap dapat muncul. Karena itu, keberhasilan prosedur dan keberhasilan mencegah kekambuhan merupakan dua hal yang berbeda.

European Association of Urology [EAU], melalui panduan penanganan batu saluran kemih, menegaskan pentingnya penilaian risiko kekambuhan pada pasien. Dalam tinjauan yang menjadi dasar panduan tersebut, angka kekambuhan setelah episode batu pertama diperkirakan sekitar 26 persen dalam lima tahun. Angka itu merupakan gambaran dari populasi penelitian, bukan kepastian bahwa setiap pasien memiliki risiko yang sama.

Risiko kekambuhan dapat berbeda menurut jenis batu dan kondisi kesehatan seseorang. Pasien dengan kelainan metabolik tertentu, riwayat batu berulang, atau jenis batu yang berkaitan dengan infeksi mungkin memerlukan penanganan lebih khusus. Sebaliknya, sebagian pasien dapat menurunkan risiko melalui perubahan kebiasaan dan pemantauan yang sesuai.

Salah satu langkah penting adalah mengetahui jenis batu yang pernah terbentuk. Batu kalsium oksalat merupakan jenis yang umum ditemukan, tetapi ada pula batu kalsium fosfat, asam urat, struvit yang berkaitan dengan infeksi, dan sistin yang berhubungan dengan kelainan genetik tertentu. Masing-masing memiliki faktor pembentukan dan pendekatan pencegahan yang tidak sepenuhnya sama.

Dalam pembaruan panduan EAU yang diterbitkan di jurnal European Urology pada 2024, Andreas Skolarikos dan sejumlah ahli urologi menekankan pentingnya analisis batu serta evaluasi metabolik untuk membantu mencegah kekambuhan. Pemeriksaan tersebut dapat mencakup darah dan urine, sedangkan pasien berisiko tinggi mungkin memerlukan pengumpulan urine selama 24 jam. Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor yang dapat diperbaiki, bukan sekadar menunggu sampai batu berikutnya menimbulkan keluhan.

Ada pula perbedaan antara batu yang benar-benar baru terbentuk dan fragmen batu yang masih tersisa setelah tindakan. Sisa fragmen tertentu dapat membesar atau kembali menimbulkan masalah sehingga memerlukan pemantauan. Karena itu, pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran dokter penting untuk memastikan kondisi saluran kemih setelah pengobatan.

Baca Juga: Saat Alergi Kambuh, Hal Sederhana Apa yang Sebenarnya Bisa Membantu?

Apakah Banyak Minum Sudah Cukup untuk Mencegah Kekambuhan?

Minum air yang cukup merupakan salah satu langkah paling penting dalam pencegahan batu ginjal. Cairan membantu mengencerkan urine sehingga zat pembentuk kristal tidak terlalu terkonsentrasi. Namun, kebutuhan cairan setiap orang dapat berbeda, terutama apabila terdapat gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung, atau kondisi medis lain yang membatasi asupan cairan.

Panduan EAU secara umum menganjurkan asupan cairan sekitar 2,5–3 liter per hari bagi pasien pembentuk batu, dengan sasaran volume urine sekitar 2–2,5 liter sehari. Anjuran tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, aktivitas, dan kehilangan cairan akibat keringat. Banyak minum juga bukan jaminan bahwa batu tidak akan terbentuk kembali.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases [NIDDK] menjelaskan bahwa perubahan pola makan sebaiknya mempertimbangkan jenis batu yang pernah dialami. Pengurangan natrium dapat membantu menurunkan risiko pada jenis batu tertentu, sementara pembatasan protein hewani mungkin diperlukan sesuai kondisi pasien. Pengaturan makanan tinggi oksalat juga tidak perlu dilakukan secara sembarangan tanpa mengetahui jenis batu dan kebutuhan gizi seseorang.

Ada kesalahpahaman yang cukup sering muncul mengenai kalsium. Karena sebagian batu ginjal mengandung kalsium, seseorang mungkin menganggap seluruh makanan berkalsium harus dihindari. Padahal, asupan kalsium dari makanan dalam jumlah yang sesuai justru dapat membantu mengurangi penyerapan oksalat di saluran pencernaan.

National Kidney Foundation juga menekankan bahwa tidak ada satu pola makan yang cocok untuk seluruh pasien batu ginjal. Pencegahan perlu disesuaikan dengan komposisi batu, hasil pemeriksaan, dan faktor risiko masing-masing orang. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat untuk mengurangi pembentukan batu, termasuk obat yang memengaruhi komposisi atau tingkat keasaman urine.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan sehari-hari setelah pasien merasa sehat. Ketika rasa sakit hilang, seseorang mungkin kembali jarang minum, terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam, atau melewatkan pemeriksaan lanjutan. Padahal, pembentukan batu baru dapat berlangsung tanpa langsung menimbulkan gejala.

Karena itu, pasien yang pernah mengalami batu ginjal sebaiknya mendiskusikan hasil analisis batu, kebutuhan pemeriksaan metabolik, serta jadwal kontrol dengan dokter yang merawatnya. Apabila muncul nyeri pinggang hebat disertai demam, menggigil, muntah terus-menerus, atau kesulitan berkemih, pertolongan medis perlu segera dicari. Sumbatan saluran kemih yang disertai infeksi dapat menjadi keadaan darurat.

Keberhasilan mengangkat batu ginjal merupakan langkah penting dalam pengobatan, tetapi perjalanan pasien tidak selalu berhenti di ruang tindakan. Memahami penyebab terbentuknya batu, mengenali faktor risiko, dan menjalankan pencegahan yang sesuai dapat membantu mengurangi kemungkinan kekambuhan. Batu ginjal memang bisa datang lagi setelah diangkat, tetapi risiko tersebut bukan sesuatu yang harus diterima tanpa upaya pencegahan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.