Ada peristiwa yang datang tiba-tiba. Dan ada peristiwa yang tumbuh perlahan tanpa disadari.

Di banyak diskusi tentang lingkungan, kata 'bencana alam' sering muncul sebagai istilah umum untuk menyebut banjir, tanah longsor, gempa, hingga kebakaran hutan. Namun beberapa tahun terakhir, mulai terdengar suara yang menolak penggunaan istilah itu, terutama untuk peristiwa yang jelas dipicu aktivitas manusia. Banjir yang terjadi karena alih fungsi lahan, longsor akibat pembukaan hutan, atau kebakaran yang meluas karena cuaca ekstrem hasil perubahan iklim—semuanya menyisakan pertanyaan yang menggantung.

Sebagian orang beranggapan bahwa ketika penyebab utamanya adalah perilaku manusia, maka menyebutnya 'bencana alam' terasa seperti menyalahkan alam, seolah-olah alam adalah pihak yang tiba-tiba menyerang. Padahal, dalam banyak kasus, alam hanya merespons tekanan yang diberikan manusia. Ia tidak bermaksud menghukum; ia hanya kembali pada keseimbangannya sendiri.

Perdebatan ini tidak muncul tanpa alasan. Masyarakat mulai lebih sadar bahwa beberapa peristiwa yang dulu dianggap datang 'tiba-tiba', sebenarnya memiliki jejak panjang yang dibiarkan. Ada hutan yang habis sedikit demi sedikit. Ada sungai yang menyempit oleh sampah dan bangunan. Ada hujan yang semakin tidak menentu karena suhu bumi naik perlahan. Semua itu menunjukkan bahwa ketika alam bereaksi, itu bukan tanpa sebab.

Di sinilah letak keruwetannya: kata 'bencana alam' terasa terlalu sederhana untuk menjelaskan kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Baca Juga: Berapa Lama Lingkungan Bisa Pulih Setelah Bencana Besar?

Mengapa Sebagian Orang Menolak Menyebutnya Bencana Alam?

Pemahaman ini tumbuh dari kesadaran bahwa banyak peristiwa yang kita lihat hari ini adalah hasil akumulasi pilihan manusia. Alih fungsi hutan, pembangunan tanpa kajian lingkungan, penambangan yang tak terkendali, pengelolaan sampah yang buruk—semua itu menciptakan kondisi yang membuat suatu wilayah rentan. Ketika hujan turun, tanah yang kehilangan akar pepohonan tak lagi bisa menahan air. Ketika sungai dipersempit, air tidak punya ruang mengalir. Ketika suhu meningkat, cuaca ekstrem menjadi lebih sering.

Karena itu, banyak aktivis dan peneliti lingkungan memilih menyebutnya sebagai 'bencana hidrometeorologi', 'bencana ekologis', atau cukup 'musibah'. Mereka ingin menegaskan bahwa manusia punya peran besar dalam penyebabnya. Istilah ini menjadi pengingat bahwa kerusakan tidak terjadi begitu saja, dan bukan sepenuhnya kesalahan alam.

Namun bagi sebagian orang lainnya, apa pun penyebabnya, sebuah bencana tetaplah bencana. Ia membawa kerugian, kehilangan, dan luka. Penggunaan istilah 'bencana alam' dianggap lebih praktis dan mudah dipahami masyarakat luas. Tetapi di balik kesederhanaannya, ada risiko bahwa kita menjadi abai dan menganggap peristiwa itu hal yang tidak bisa dihindari, padahal banyak yang bisa dicegah.

Perbedaan pandangan ini memperlihatkan bagaimana kata memiliki pengaruh besar terhadap cara kita memahami peristiwa. Istilah yang dipilih menentukan arah perhatian: apakah pada alam, atau pada peran manusia.

Baca Juga: Saat Air Tak Lagi Mengalir Semestinya

Apa Sebenarnya yang Terpenting dari Semua Perdebatan Ini?

Terlepas dari istilah mana yang dipakai, hal terpenting adalah bagaimana kita merespons dan mempelajari penyebab setiap musibah. Jika penyebabnya terkait perilaku manusia, maka perbaikan harus dilakukan dari manusia pula. Rehabilitasi hutan, pengembalian fungsi sungai, pengawasan pembangunan, dan edukasi lingkungan adalah langkah yang memang tidak mudah, tetapi jauh lebih efektif daripada sekadar mencari siapa yang salah.

Memahami penyebab musibah dengan jujur juga membantu membangun kesiapsiagaan. Ketika masyarakat tahu bahwa banjir bukan sekadar hujan deras, tetapi gabungan dari drainase buruk dan hilangnya ruang hijau, maka langkah-langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal. Ketika masyarakat tahu bahwa tanah longsor bukan kejadian tiba-tiba, tetapi hasil perubahan struktur lahan dalam waktu lama, maka kita bisa mulai lebih hati-hati dalam memperlakukan tanah.

Pada akhirnya, bencana tidak mengenal istilah. Ia datang membawa pesan. Dan sering kali, pesan itu mengingatkan bahwa keseimbangan alam bergantung kepada cara manusia memperlakukannya. Menyadari hal itu membuat kita lebih waspada, lebih bertanggung jawab, dan lebih memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga diri sendiri. [][Rommy Rimbarawa/KK]

[penulisan artikel ini dibantu riset AI dan telah melewati kurasi Redaksi]