Oleh Eva Evilia

Setiap kali ada kasus korupsi baru, masyarakat biasanya langsung melihat angkanya. Ada yang miliaran, ada yang triliunan, ada yang begitu besar hingga sulit dibayangkan bentuk fisiknya.

Namun, mungkin ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang yang hilang itu. Sesuatu yang tidak pernah masuk ke laporan kerugian negara, tidak pernah disebut dalam konferensi pers, dan tidak pernah muncul dalam lembar dakwaan. Sesuatu yang berkurang sedikit demi sedikit setiap kali korupsi terjadi, lalu tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Namanya harapan.

Ada alasan mengapa setiap kabar korupsi selalu memicu kemarahan yang lebih besar daripada sekadar nilai uangnya. Sebab yang terluka bukan hanya anggaran negara. Yang terluka adalah keyakinan bahwa hidup bersama masih memiliki arah yang layak diperjuangkan.

Korupsi bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia selalu datang membawa pesan yang lebih dalam kepada masyarakat. Pesan itu tidak pernah diucapkan secara langsung, tetapi perlahan terbaca dari waktu ke waktu. Pesan bahwa aturan bisa dilanggar. Pesan bahwa kepercayaan bisa dikhianati. Pesan bahwa kepentingan pribadi sering kali lebih kuat daripada tanggung jawab kepada publik.

Mungkin karena itulah korupsi tidak pernah benar-benar berhenti menjadi persoalan ekonomi. Ia selalu berubah jadi persoalan sosial, budaya, bahkan psikologis.

Baca Juga: Yang Membuat Orang Takut Bukan Kesalahannya, Tapi Cara Negara Menanggapi Suara Warganya

Yang Hilang Tak Selalu Bisa Dihitung

Ketika sebuah jalan mangkrak karena anggarannya dikorupsi, kerugiannya memang bisa dihitung. Ketika bantuan sosial diselewengkan, ada angka yang bisa dicatat. Ketika proyek publik bermasalah, auditor dapat menghitung nilai kerusakan yang ditimbulkan. Namun, ada kerugian lain yang tidak pernah masuk ke dalam laporan resmi.

Setiap kali masyarakat melihat uang publik disalahgunakan, ada sebagian keyakinan yang ikut terkikis. Ada orang yang mulai bertanya mengapa ia harus taat membayar pajak jika uang itu tidak selalu kembali dalam bentuk pelayanan yang layak. Ada orang yang mulai mempertanyakan mengapa ia harus mematuhi aturan jika aturan yang sama tampak begitu mudah dilanggar oleh mereka yang memiliki kekuasaan. 

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun ketika terus berulang dalam benak banyak orang, ia perlahan membentuk cara pandang baru terhadap negara dan kehidupan bersama. Kepercayaan tidak hilang sekaligus. Ia berkurang sedikit demi sedikit, seperti air yang menetes dari wadah yang retak.

Yang lebih mengkhawatirkan, korupsi juga mencuri sesuatu yang bahkan lebih sulit dipulihkan daripada kepercayaan. Ia mencuri harapan.

Harapan adalah alasan mengapa masyarakat bersedia bersabar menghadapi berbagai keterbatasan. Harapan membuat orang percaya bahwa kerja keras masih memiliki arti. Harapan membuat generasi muda tetap mau belajar, membangun usaha, dan membayangkan masa depan yang lebih baik.

Namun, harapan membutuhkan bukti bahwa usaha dan kejujuran masih memiliki tempat dalam kehidupan sosial. Ketika masyarakat terus-menerus disuguhi kabar tentang penyalahgunaan kewenangan, penggelapan anggaran, atau permainan kekuasaan yang berulang, harapan itu mulai terkikis.

Bukan karena masyarakat tidak ingin percaya. Tetapi karena mereka terlalu sering melihat alasan untuk meragukannya.

Barangkali, inilah yang membuat sebagian orang tak lagi marah seperti dulu. Mereka tidak turun ke jalan. Mereka tidak berteriak. Mereka tidak selalu memperdebatkannya di media sosial. Mereka hanya menghela napas dan berkata, "Oh, korupsi lagi."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun sesungguhnya ia menyimpan sesuatu yang cukup menyedihkan. Sebab di baliknya terdapat rasa lelah yang telah berlangsung terlalu lama.

Baca Juga: Bukan Multitasking, Tapi Kita Kehilangan Bahasa untuk Mengakui Kelelahan 

Ketika Keterkejutan Mulai Menghilang

Ada masa ketika masyarakat benar-benar terkejut setiap kali mendengar kasus korupsi besar. Nama-nama yang terseret menjadi pembicaraan panjang. Orang memperdebatkannya di warung, di kantor, dan di ruang keluarga.

Hari ini, keterkejutan itu terasa semakin pendek. Bukan karena korupsinya berkurang. Justru karena masyarakat mulai terbiasa mendengar kabar serupa. Ketika sesuatu yang seharusnya dianggap luar biasa berubah menjadi rutinitas, ada tanda bahwa sensitivitas kolektif sedang mengalami kelelahan.

Korupsi tak hanya menggerus uang negara. Ia juga menggerus kemampuan masyarakat untuk tetap berharap. Sedikit demi sedikit. Secuil demi secuil.

Yang membuat keadaan ini berbahaya bukan semata-mata besarnya kerugian ekonomi. Yang membuatnya berbahaya adalah kemungkinan lahirnya sikap pasrah atau apatis. Ketika masyarakat mulai percaya bahwa korupsi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bernegara, maka korupsi telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada uang.

Ia memenangkan normalisasi. Dan ketika sebuah penyimpangan berhasil dianggap normal, perlawanan terhadapnya menjadi semakin sulit dilakukan.

Mungkin karena itu, persoalan korupsi tak pernah cukup diselesaikan hanya dengan menghitung angka kerugian. Angka memang penting. Transparansi memang penting. Penegakan hukum memang penting. Namun ada pekerjaan lain yang tidak kalah besar, yaitu menjaga agar masyarakat tidak kehilangan keyakinan bahwa keadaan masih bisa diperbaiki.

Sebab sebuah bangsa tak hanya hidup dari anggaran, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Sebuah bangsa juga hidup dari kepercayaan warganya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan bersama.

Harapan memang tidak terlihat seperti uang. Ia tidak bisa disimpan di rekening, tidak bisa diaudit, dan tidak bisa dipresentasikan dalam grafik. Namun ketika harapan mulai habis, kerugiannya sering kali jauh lebih besar daripada yang mampu dihitung oleh angka mana pun.

Dan mungkin itulah yang paling menyedihkan dari korupsi. Ia tidak selalu merampas sesuatu dalam jumlah besar sekaligus. Ia melakukannya perlahan, hampir tanpa suara. Sedikit demi sedikit. Secuil demi secuil. Hingga suatu hari, yang tersisa bukan hanya laporan kerugian negara, tetapi juga masyarakat yang semakin sulit percaya bahwa segala sesuatu bisa menjadi lebih baik. []

Bandung, 04 Juni 2026