Oleh Eva Evilia
Tulisan Vika beberapa hari lalu terasa menyakitkan karena terlalu dekat dengan kehidupan banyak orang hari ini.
Dunia kerja memang berubah sangat cepat. Banyak orang sekarang dituntut mengerjakan banyak hal sekaligus, mempelajari kemampuan baru tanpa henti, dan tetap terlihat baik-baik saja di tengah ritme hidup yang semakin padat. Namun mungkin masalah terbesarnya bukan lagi soal multitasking itu sendiri.
Masalah yang lebih diam-diam adalah manusia mulai kehilangan bahasa untuk mengakui bahwa dirinya lelah. Ada tekanan sosial yang membuat banyak orang merasa tidak nyaman mengatakan bahwa hidupnya terlalu berat. Seolah-olah rasa lelah adalah tanda bahwa seseorang gagal mengikuti kecepatan zaman.
Keadaan seperti ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern hari ini. Semua orang terlihat sibuk, semua orang terlihat produktif, dan semua orang seperti terus bergerak tanpa jeda. Namun di balik semua itu, ada banyak manusia yang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan agar tidak tertinggal.
Media sosial ikut memperkuat keadaan itu dengan cara yang sangat halus. Setiap hari orang melihat orang lain terlihat produktif, belajar hal baru, membangun bisnis, membuat konten, bekerja lintas bidang, dan tetap tampak penuh energi. Kehidupan digital membuat manusia terus membandingkan kapasitas dirinya dengan versi terbaik orang lain.
Akhirnya muncul standar sosial baru yang cukup melelahkan. Orang merasa harus selalu berkembang, harus terus belajar, dan harus selalu terlihat aktif. Diam sebentar saja sering membuat seseorang merasa bersalah terhadap hidupnya sendiri.
Padahal, tubuh manusia tidak pernah benar-benar dirancang untuk hidup dalam mode kompetisi terus-menerus. Pikiran membutuhkan jeda, emosi membutuhkan ruang tenang, dan manusia tetap membutuhkan rasa aman untuk mengakui bahwa dirinya tidak selalu kuat. Namun ruang seperti itu terasa semakin sempit dalam budaya kerja modern.
Yang menarik, masyarakat sebenarnya masih sering membicarakan kesehatan mental. Istilah seperti burnout, healing, dan mental health terus muncul di media sosial. Namun dalam praktik sehari-hari, banyak orang tetap kesulitan mengakui kelelahan tanpa merasa sedang mempermalukan dirinya sendiri.
Baca Juga: Loneliness Epidemic: Kita Tidak Sendiri, Tapi Kenapa Tetap Merasa Sendiri?
Kita Hidup di Era yang Memuja Sibuk
Ada perubahan cara pandang yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Sibuk tidak lagi hanya dianggap sebagai kondisi hidup, tetapi mulai berubah menjadi identitas sosial. Semakin sibuk seseorang terlihat, semakin ia dianggap produktif dan bernilai.
Kalimat seperti “lagi banyak kerjaan”, “belum sempat istirahat”, atau “tidur cuma tiga jam” sering terdengar seperti pencapaian. Banyak orang tanpa sadar mulai mengukur harga dirinya dari seberapa penuh hidup mereka setiap hari. Padahal tubuh yang terus dipaksa bergerak juga punya batas yang tidak selalu terlihat dari luar.
Saya rasa budaya seperti ini membuat manusia sulit membedakan antara bertumbuh dan memforsir diri sendiri. Orang terus belajar hal baru bukan hanya karena ingin berkembang, tetapi juga karena takut kalah cepat dari perubahan. Dunia kerja modern akhirnya tidak hanya menciptakan tuntutan teknis, tetapi juga tekanan emosional yang sangat besar.
Keadaan itu terasa semakin berat karena dunia digital tidak pernah benar-benar berhenti. Pekerjaan bisa masuk lewat pesan singkat tengah malam, ide harus selalu muncul setiap saat, dan algoritma terus bergerak bahkan ketika manusia sedang mencoba beristirahat. Banyak orang akhirnya hidup dalam kondisi selalu siaga tanpa sadar.
Ada pekerja yang sebenarnya sudah sangat lelah, tetapi tetap menjawab “aman” ketika ditanya kabarnya. Ada yang tetap tersenyum di kantor meskipun kepalanya penuh tekanan. Ada pula yang terus terlihat aktif di media sosial hanya karena takut dianggap tertinggal dari orang lain.
Lama-kelamaan, kelelahan menjadi sesuatu yang disembunyikan. Orang lebih nyaman mengatakan dirinya sibuk daripada mengakui bahwa dirinya sedang kewalahan. Sibuk masih terdengar keren, sementara lelah sering dianggap sebagai kelemahan.
Padahal manusia tidak selalu membutuhkan solusi besar. Kadang manusia hanya membutuhkan ruang sosial yang membuatnya aman untuk berkata bahwa hidup terasa terlalu berat. Namun ruang seperti itu semakin jarang ditemukan di tengah budaya produktivitas modern.
Mungkin karena itu, banyak orang sekarang merasa kesepian meskipun terus terhubung dengan dunia luar. Mereka bekerja bersama banyak orang, berbicara setiap hari, dan terus aktif secara digital. Namun sangat sedikit ruang yang benar-benar memberi kesempatan untuk jujur terhadap kondisi emosionalnya sendiri.
Baca Juga: Satu Kalimat Bisa Menenangkan, Tapi Juga Bisa Memperkeruh Segalanya
Semua Orang Terlihat Baik-Baik Saja
Ada sesuatu yang cukup ironis dalam kehidupan modern hari ini. Semakin banyak orang membicarakan kesehatan mental, tetapi semakin banyak pula manusia yang merasa harus terlihat kuat sepanjang waktu. Dunia digital menciptakan tekanan untuk selalu tampak stabil bahkan ketika hidup sedang berantakan.
Banyak orang akhirnya belajar menyembunyikan kelelahan dengan sangat rapi. Mereka tetap datang bekerja, tetap membuat konten, tetap membalas pesan, dan tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Dari luar semuanya terlihat normal, padahal di dalam dirinya ada rasa lelah yang terus menumpuk pelan-pelan.
Tulisan Vika tentang dunia kerja sebenarnya memperlihatkan satu hal penting. Masalah manusia modern bukan hanya karena terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu sedikit ruang untuk menjadi manusia biasa. Dunia terus meminta performa, sementara emosi manusia tidak selalu mampu bergerak secepat tuntutan itu.
Keadaan ini membuat banyak orang kehilangan hubungan yang sehat dengan dirinya sendiri. Mereka terus belajar menjadi lebih produktif, tetapi lupa belajar mengenali batas tubuh dan pikirannya sendiri. Hidup akhirnya berubah menjadi proses panjang untuk terus terlihat mampu.
Menurut saya sih, mengakui lelah bukan berarti lemah. Mengatakan bahwa hidup terasa berat bukan berarti gagal. Namun budaya modern sering membuat manusia merasa harus memilih antara terlihat kuat atau dianggap tertinggal.
Mungkin karena itu, tulisan tentang kelelahan sekarang terasa begitu dekat bagi banyak orang. Ada terlalu banyak manusia yang hidup dalam tekanan diam-diam tanpa benar-benar tahu bagaimana menjelaskan perasaannya sendiri. Mereka tidak sepenuhnya hancur, tetapi juga tidak benar-benar baik-baik saja.
Dan mungkin, masalah terbesar generasi hari ini memang bukan karena manusia tidak mampu bekerja keras. Masalahnya adalah dunia sudah terlalu lama meminta manusia terus bergerak tanpa memberi bahasa yang cukup untuk mengakui bahwa dirinya lelah. []