Oleh Adrian Damar

Hampir setiap hari, kita mendengar penjelasan dari berbagai institusi. Ada konferensi pers yang disiarkan langsung, unggahan media sosial yang diperbarui nyaris tanpa jeda, siaran pers yang dikirim ke berbagai redaksi, hingga klarifikasi yang muncul hanya beberapa jam setelah sebuah isu menjadi perbincangan publik. 

Jika dilihat sepintas, negara hari ini tampak jauh lebih komunikatif dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Informasi mengalir deras, akses terhadap pejabat publik lebih terbuka, dan masyarakat memiliki lebih banyak saluran untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan pemerintah.

Meski demikian, ada satu ironi yang sulit diabaikan. Di tengah banjir komunikasi itu, kepercayaan publik justru terasa semakin rapuh. Tak sedikit penjelasan resmi yang disambut dengan keraguan, bahkan sebelum selesai dibaca. Klarifikasi sering kali berubah menjadi bahan perdebatan baru, sementara pernyataan yang dimaksudkan untuk meredakan situasi justru memunculkan pertanyaan tambahan. Semakin cepat informasi disampaikan, semakin cepat pula publik mempertanyakan motif, data, atau kepentingan di baliknya.

Fenomena ini terlihat dalam berbagai peristiwa belakangan. Mulai dari kebijakan ekonomi, perpajakan, penegakan hukum, hingga isu pelayanan publik, hampir semuanya diikuti oleh kebutuhan untuk memberikan klarifikasi berulang-ulang. Sayangnya, frekuensi penjelasan yang semakin tinggi tidak selalu diikuti dengan meningkatnya keyakinan masyarakat. Seolah-olah ada sesuatu yang berubah dalam hubungan antara negara dan warga negara, sesuatu yang tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan menambah jumlah konferensi pers atau memperbanyak unggahan di media sosial.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada apa yang disampaikan, tetapi kurang memperhatikan bagaimana kepercayaan sebenarnya terbentuk. Sebab dalam kehidupan publik, komunikasi bukan hanya persoalan mengirimkan pesan. Ia juga berkaitan dengan apakah pesan itu masih memiliki tempat untuk dipercaya.

Baca Juga: Negara Sedang Memperluas Pengawasan Pajaknya, tetapi Sudahkah Mereka Memperdalam Kepercayaannya? 

Kepercayaan Tidak Dibangun oleh Banyaknya Penjelasan

Dalam dunia bisnis, ada satu prinsip sederhana yang sering diabaikan. Ketika sebuah merek harus terlalu sering menjelaskan dirinya sendiri, sering kali masalahnya bukan terletak pada kemampuan berbicara, melainkan pada menurunnya kepercayaan konsumen terhadap merek tersebut. Penjelasan memang penting, tetapi ia tidak pernah bisa menggantikan reputasi yang dibangun melalui pengalaman yang konsisten.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan bernegara. Komunikasi publik merupakan bagian penting dari tata kelola pemerintahan yang baik. Negara memang berkewajiban menjelaskan kebijakan, membuka informasi, dan menjawab pertanyaan masyarakat. Akan tetapi, efektivitas komunikasi tidak pernah hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang diberikan. Ia ditentukan oleh seberapa besar modal kepercayaan yang telah dimiliki sebelum penjelasan itu disampaikan.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Banyak institusi masih menganggap bahwa setiap krisis komunikasi dapat diselesaikan dengan menambah intensitas komunikasi. Padahal masyarakat tidak selalu kekurangan informasi. Yang sering kali mereka rasakan justru kekurangan alasan untuk mempercayai informasi tersebut. Ketika cadangan kepercayaan mulai menipis, setiap penjelasan baru akan diuji lebih keras dibandingkan sebelumnya.

Perubahan ini sebenarnya sangat wajar dalam masyarakat yang semakin terbuka. Akses terhadap informasi membuat publik tidak lagi hanya menerima satu sumber penjelasan. Mereka membandingkan pernyataan resmi dengan laporan media, pengalaman pribadi, analisis para ahli, hingga percakapan di komunitas digital. Kepercayaan tidak lagi lahir karena sebuah informasi datang dari institusi tertentu. Ia harus bersaing dengan begitu banyak sumber lain yang sama-sama menawarkan penafsiran terhadap sebuah peristiwa.

Situasi tersebut memang membuat komunikasi publik menjadi lebih rumit. Namun, kerumitan itu juga mengandung pelajaran penting. Kepercayaan bukan sesuatu yang dapat diproduksi secara instan melalui narasi yang disusun dengan baik. Ia merupakan akumulasi dari konsistensi antara apa yang dikatakan dan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Di Balik Setiap Perkara Besar, Mengapa Publik Selalu Mencari Tangan yang Tak Terlihat? 

Ketika Kredibilitas Menjadi Mata Uang yang Paling Mahal

Barangkali inilah perubahan terbesar yang sedang kita alami. Dahulu, otoritas institusi sering kali cukup untuk membuat sebuah pernyataan dipercaya. Hari ini, otoritas saja tidak lagi memadai. Publik ingin melihat rekam jejak, konsistensi, transparansi, dan kesediaan untuk bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan. Dalam banyak kasus, masyarakat bahkan lebih percaya kepada pengalaman orang lain dibandingkan kepada pernyataan resmi sebuah lembaga.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti masyarakat menjadi lebih sinis. Bisa jadi, standar kepercayaan mereka memang meningkat. Di tengah derasnya arus informasi, publik belajar bahwa setiap klaim layak diuji, setiap data layak diperiksa, dan setiap kebijakan layak dipertanyakan. Sikap seperti ini memang dapat terasa melelahkan bagi institusi, tetapi juga merupakan konsekuensi dari masyarakat yang semakin kritis.

Karena itu, tantangan terbesar negara hari ini mungkin bukan bagaimana berbicara lebih sering, melainkan bagaimana membangun kembali kredibilitas yang membuat setiap kata memiliki bobot. Kredibilitas tidak lahir dari kemampuan menyusun kalimat yang meyakinkan, melainkan dari keberanian menjaga konsistensi antara janji dan pelaksanaan, antara kebijakan dan dampaknya, serta antara kekuasaan dan akuntabilitas.

Dalam konteks ini, komunikasi publik seharusnya dipahami sebagai hasil, bukan pengganti, dari tata kelola yang baik. Penjelasan yang paling efektif adalah penjelasan yang didukung oleh pengalaman nyata masyarakat. Sebaliknya, ketika pengalaman sehari-hari bertolak belakang dengan narasi resmi, sebanyak apa pun klarifikasi yang disampaikan akan selalu berhadapan dengan tembok keraguan yang sulit ditembus.

Mungkin karena itulah kita sering melihat paradoks yang sama berulang kali. Negara semakin aktif berbicara, sementara sebagian masyarakat merasa semakin jauh dari apa yang mereka dengar. Bukan karena kata-kata itu tidak jelas, melainkan karena kepercayaan yang menjadi jembatan antara pembicara dan pendengar mulai mengalami erosi. Ketika jembatan itu melemah, pesan yang paling baik sekalipun akan kesulitan mencapai tujuannya.

Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi bagaimana negara dapat menghasilkan lebih banyak penjelasan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap penjelasan tersebut kembali memiliki daya untuk dipercaya. Sebab dalam kehidupan publik, komunikasi yang baik tidak pernah diukur dari banyaknya kata yang diucapkan, melainkan dari sedikitnya keraguan yang tersisa setelah kata-kata itu selesai disampaikan.

Barangkali itulah tantangan terbesar yang sedang dihadapi bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh hampir semua institusi pada era digital. Di zaman ketika semua orang dapat berbicara, yang benar-benar langka bukanlah informasi, melainkan kredibilitas. Dan ketika kredibilitas menjadi mata uang yang paling mahal, membangun kepercayaan tidak lagi cukup dilakukan melalui mikrofon, kamera, atau media sosial. Ia harus dimulai dari sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu konsistensi dalam tindakan. Sebab masyarakat mungkin masih bersedia mendengar apa yang dikatakan negara, tetapi mereka akan memutuskan untuk percaya hanya jika apa yang mereka lihat berjalan seiring dengan apa yang mereka dengar. []

Bandung, 23 Juli 2026