Oleh Rommy Rimbarawa
Ada ancaman yang tidak meledak, tidak bersuara, dan tidak terlihat ketika masuk ke tubuh manusia.
Namanya microplastic. Ia terlalu kecil untuk membuat manusia panik dalam sekali lihat, tetapi cukup luas untuk hadir hampir di mana-mana. Ia ada di air, makanan, udara, tanah, laut, bahkan mulai ditemukan dalam tubuh manusia.
Mungkin karena itulah ancaman ini terasa begitu ganjil. Manusia terbiasa takut pada sesuatu yang besar, keras, dan datang dari luar tubuhnya. Padahal salah satu ancaman paling dekat hari ini justru masuk pelan-pelan melalui hal-hal yang dianggap biasa.
Setiap hari, manusia membuka kemasan plastik, membeli minuman botol, membawa makanan dalam wadah sekali pakai, dan membuang sesuatu yang sering dianggap akan hilang setelah tidak terlihat. Namun plastik tidak benar-benar pergi begitu saja. Ia pecah, mengecil, berpindah, lalu kembali dalam bentuk yang jauh lebih sulit dikenali.
Dunia memproduksi lebih dari 400 juta ton plastik baru setiap tahun, dan produksi itu masih berpotensi meningkat tajam jika tidak ada intervensi serius. Dalam laporan negosiasi perjanjian plastik global, AP News mencatat produksi plastik bisa naik sekitar 70 persen pada 2040 jika pola hari ini terus berlanjut.
Dikutip dari The Guardian, data OECD juga memperlihatkan gambaran yang tidak kalah mengkhawatirkan. Produksi plastik global berlipat dua antara 2000 dan 2019 hingga mencapai 460 juta ton, sementara limbah plastik naik dari 156 juta ton menjadi 353 juta ton pada periode yang sama. Dari jumlah limbah itu, hanya sekitar 9 persen yang akhirnya didaur ulang.
Angka-angka itu membuat plastik tidak bisa lagi dibaca sebagai urusan gaya hidup pribadi. Ia sudah menjadi sistem besar yang menghubungkan industri, konsumsi, sampah, lingkungan, dan tubuh manusia. Dan ketika sistem sebesar itu terus berjalan, ancamannya tidak lagi berada di tempat pembuangan sampah saja.
Baca Juga: Air yang Terlihat Bersih Belum Tentu Aman
Kita Sedang Memakan Dunia yang Kita Buang
Ada ironi yang cukup pahit dalam kehidupan modern hari ini. Plastik dibuat untuk memudahkan hidup manusia, tetapi serpihannya mulai kembali kepada manusia dalam bentuk yang tidak pernah diminta. Ia tidak datang sebagai kantong belanja atau botol minuman, melainkan sebagai partikel kecil yang ikut terbawa air, udara, dan rantai makanan.
Time mencatat, studi pada air minum kemasan pernah menemukan partikel plastik pada 93 persen dari 259 sampel botol air yang diuji dari berbagai negara. Rata-ratanya disebut mencapai 325 partikel per liter, dengan satu sampel bahkan mengandung lebih dari 10.000 partikel per liter. Temuan seperti ini membuat air yang terlihat bersih tidak lagi terasa sesederhana dulu.
Penelitian lain, menurut The Guardian, menemukan microplastic dalam darah manusia untuk pertama kalinya, dengan partikel terdeteksi pada hampir 80 persen dari 22 orang dewasa sehat yang menjadi sampel. Jenis plastik yang ditemukan antara lain PET dari botol minuman, polistirena dari kemasan, dan polietilena dari kantong plastik. Temuan itu belum berarti semua dampak kesehatannya sudah pasti, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa plastik telah melewati batas yang dulu dianggap jauh dari tubuh manusia.
Masih dari The Guardian, yang lebih membuat gelisah, penelitian pada 2024 menemukan microplastic pada seluruh 62 sampel plasenta manusia yang diuji. Plasenta adalah ruang yang sangat penting bagi perkembangan janin, sehingga temuan ini membuat percakapan tentang plastik tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan. Ia mulai menjadi percakapan tentang generasi yang bahkan belum lahir.
Masalahnya, manusia sering merasa masih bisa memilih dengan bebas. Bisa memilih makanan lebih sehat, minum air lebih bersih, atau membeli produk yang terasa lebih aman. Namun, microplastic memperlihatkan bahwa ada jenis ancaman yang tidak sepenuhnya bisa dihindari hanya dengan keputusan personal.
Ia sudah masuk ke sistem produksi dan konsumsi harian. Ia ada di kemasan makanan, pakaian sintetis, debu rumah, sungai, laut, dan tanah. Karena itu, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan membawa tas belanja sendiri atau menolak sedotan plastik sesekali.
Tentu saja kebiasaan kecil tetap penting. Namun, menganggap krisis ini hanya sebagai tanggung jawab individu terasa terlalu ringan untuk masalah sebesar ini. Karena yang sedang terjadi bukan sekadar manusia membuang plastik sembarangan, tetapi dunia yang terlalu lama bergantung pada bahan yang tidak benar-benar punya jalan pulang.
Baca Juga: Apakah Semua Orang Indonesia Harus Makan Nasi?
Ancaman yang Tidak Bisa Kita Lihat
Salah satu alasan microplastic terasa berbahaya adalah karena ia tidak mudah memicu rasa takut. Sampah plastik di sungai bisa membuat orang jijik, asap pabrik bisa membuat orang batuk, dan banjir bisa langsung memperlihatkan kerusakan. Namun microplastic bekerja jauh lebih sunyi daripada semua itu.
Ia tidak selalu berbau. Ia tidak selalu terlihat. Ia tidak selalu mengubah rasa makanan atau air secara jelas. Justru karena itulah banyak orang sulit merasa sedang berhadapan dengan ancaman yang nyata.
Manusia biasanya lebih mudah bergerak ketika masalah terlihat di depan mata. Tetapi microplastic mengganggu logika itu. Ia mengajarkan bahwa sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak sedang bekerja.
Para peneliti memang masih terus mempelajari dampak kesehatan jangka panjangnya. Belum semua hubungan antara microplastic dan penyakit tertentu bisa disimpulkan secara final. Namun semakin banyak temuan memperlihatkan bahwa partikel plastik tidak hanya berada di luar tubuh, melainkan dapat masuk ke ruang biologis manusia.
Di momen ini, pertanyaannya menjadi lebih besar daripada sekadar apakah plastik berbahaya atau tidak. Pertanyaannya adalah bagaimana manusia bisa membangun peradaban yang begitu bergantung pada sesuatu yang serpihannya sulit sekali ditarik kembali. Karena setiap kemudahan yang dipakai hari ini bisa berubah menjadi jejak kecil yang hidup lebih panjang daripada tubuh manusia sendiri.
Menurut saya, seharusnya Indonesia punya alasan khusus untuk tidak menganggap ini sebagai masalah jauh. Dalam studi tahun 2015 yang sering dikutip tentang limbah plastik laut, Indonesia termasuk salah satu penyumbang besar kebocoran plastik ke laut setelah China. Angka lama itu mungkin perlu terus diperbarui, tetapi cukup menunjukkan bahwa persoalan ini sangat dekat dengan cara hidup, tata kelola sampah, dan budaya konsumsi masyarakat sendiri.
Menyebut microplastic sebagai senjata pemusnah massal mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Namun metafora itu punya satu alasan emosional yang kuat. Ia tak membunuh dengan ledakan, tetapi menyusup lewat rutinitas, menyebar lewat sistem, dan memaksa hampir semua orang ikut menanggung akibatnya.
Yang menakutkan dari senjata ini bukan hanya daya rusaknya. Yang menakutkan adalah kenyataan bahwa manusia sendiri yang membuatnya, menggunakannya, membuangnya, lalu menerimanya kembali ke dalam tubuh. []