Oleh Rommy Rimbarawa

Banyak orang merasa air di rumahnya aman hanya karena terlihat jernih dan tidak berbau.

Air dipakai setiap hari tanpa banyak dipikirkan lagi. Digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, menyeduh kopi, sampai membersihkan peralatan makan. Selama warnanya tidak keruh dan rasanya tidak aneh, sebagian besar orang menganggap semuanya baik-baik saja.

Padahal kualitas air tidak selalu bisa dibaca hanya dengan mata. Banyak zat berbahaya justru tidak memiliki warna, bau, atau rasa yang mencolok. Air yang terlihat bersih belum tentu benar-benar aman untuk dipakai setiap hari dalam jangka panjang.

Persoalan ini semakin terasa di banyak kota yang tumbuh terlalu padat. Permukiman makin rapat, penggunaan air tanah terus meningkat, sementara kualitas lingkungan di bawah permukaan tanah jarang benar-benar diperhatikan. Yang terlihat di atas tanah sering menjadi fokus utama, padahal banyak masalah sedang bergerak diam-diam di bawahnya.

Banyak masyarakat masih bergantung pada sumur dan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian memakai pompa air yang sudah digunakan bertahun-tahun tanpa pernah memeriksa kualitas airnya secara berkala. Selama air tetap keluar dari keran, urusan dianggap selesai.

Padahal kondisi tanah di banyak wilayah perkotaan sudah jauh berubah dibanding puluhan tahun lalu. Septic tank semakin banyak, limbah rumah tangga meningkat, deterjen terus mengalir ke tanah, dan pembangunan membuat daya resap lingkungan semakin buruk. Semua itu perlahan memengaruhi kualitas air yang dipakai masyarakat setiap hari.

Persoalannya menjadi lebih rumit karena pencemaran air tanah sering tidak terasa secara langsung. Orang tetap bisa mandi, mencuci, bahkan memasak seperti biasa tanpa menyadari ada kandungan tertentu yang sebenarnya tidak sehat. Dampaknya sering baru terlihat setelah bertahun-tahun.

Ada keluarga yang mulai mengeluhkan air sumurnya terasa lebih asin. Ada yang melihat warna air berubah ketika musim kemarau datang. Ada pula yang mulai bergantung pada air galon untuk minum karena tidak lagi yakin dengan kualitas air di rumahnya sendiri.

Baca Juga: Apakah Semua Orang Indonesia Harus Makan Nasi?

Kita Memakai Air yang Jarang Diperiksa

Banyak rumah tangga sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu kondisi air yang mereka gunakan setiap hari. Pemeriksaan kualitas air masih dianggap sesuatu yang mahal, rumit, atau hanya perlu dilakukan industri besar. Padahal air rumah tangga adalah hal yang langsung bersentuhan dengan tubuh manusia setiap hari.

Sebagian masyarakat masih memakai ukuran yang sangat sederhana untuk menentukan apakah air aman atau tidak. Selama air terlihat jernih dan tidak berbau, air dianggap layak digunakan. Cara pandang seperti itu sudah hidup sangat lama dalam kehidupan sehari-hari.

Saya berpikir, masalahnya karena banyak kontaminasi tidak bekerja dengan cara yang mudah dikenali. Bakteri, logam berat, zat kimia, dan rembesan limbah domestik sering tidak terlihat secara kasat mata. Air bisa tampak bersih di permukaan, tetapi menyimpan persoalan yang tidak pernah benar-benar diperiksa.

Keadaan ini terasa cukup ironis. Masyarakat semakin sadar soal makanan sehat, kualitas udara, dan gaya hidup bersih, tetapi sering lupa pada air yang dipakai setiap hari. Padahal air masuk ke hampir semua aktivitas dasar manusia, mulai dari kebersihan tubuh sampai kebutuhan konsumsi.

Kota-kota besar juga menghadapi tekanan yang semakin berat terhadap air tanah. Pengambilan air terus meningkat karena kebutuhan rumah tangga, industri, dan pembangunan yang semakin padat. Di beberapa wilayah, kondisi ini mulai menyebabkan penurunan kualitas dan penurunan permukaan tanah secara perlahan.

Air tanah sebenarnya membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk pulih secara alami. Ketika pengambilan terlalu besar dan pencemaran terus terjadi, kemampuan tanah menyaring air bersih perlahan menurun. Persoalan ini tidak selalu langsung terasa hari ini, tetapi dampaknya bisa menjadi masalah besar di masa depan.

Banyak orang akhirnya mencari solusi sendiri. Ada yang memasang filter tambahan di rumah, membeli alat penyaring air, atau sepenuhnya beralih ke air kemasan. Namun tidak semua masyarakat memiliki kemampuan ekonomi untuk melakukan hal yang sama.

Keadaan itu membuat akses terhadap air yang benar-benar bersih perlahan menjadi persoalan ketimpangan juga. Kelompok yang memiliki uang bisa membeli sistem penyaringan yang lebih baik. Sementara banyak masyarakat lain hanya bisa memakai air yang tersedia tanpa punya banyak pilihan.

Baca Juga: Ketika Cuaca Panas Tak Lagi Terasa Biasa

Air Bersih dan Kota yang Semakin Padat

Perkembangan kota modern sering membawa persoalan lingkungan yang bergerak diam-diam. Gedung bertambah, jalan semakin padat, dan permukiman terus melebar ke berbagai arah. Namun kemampuan tanah menyerap dan menjaga kualitas air justru semakin berkurang.

Banyak daerah resapan berubah menjadi bangunan permanen. Air hujan yang dulu masuk kembali ke tanah sekarang lebih banyak mengalir ke saluran drainase dan sungai. Siklus alami air perlahan terganggu oleh pembangunan yang bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan lingkungan untuk menyesuaikan diri.

Persoalan air bersih sebenarnya bukan hanya soal teknis lingkungan. Ada hubungan yang cukup dekat antara kualitas air dan cara manusia membangun ruang hidupnya sendiri. Kota modern sering terlalu sibuk tumbuh ke atas, tetapi lupa melihat apa yang sedang terjadi di bawah tanah.

Masyarakat juga hidup dalam kebiasaan yang membuat air terasa seperti sesuatu yang tidak pernah habis. Keran dibuka setiap hari tanpa benar-benar memikirkan dari mana air itu berasal dan bagaimana kualitasnya dijaga. Air baru terasa penting ketika mulai sulit didapat atau kualitasnya memburuk secara nyata.

Padahal hubungan manusia dengan air selalu sangat dekat sejak dulu. Banyak peradaban besar tumbuh karena memiliki sumber air yang baik. Kehidupan masyarakat juga berkembang mengikuti kualitas lingkungan tempat mereka tinggal.

Karena itu, persoalan air tanah seharusnya tidak dianggap sebagai isu kecil yang hanya dibahas ketika terjadi krisis. Air adalah bagian dari kesehatan masyarakat, kualitas hidup, dan keberlanjutan kota itu sendiri. Ketika kualitas air mulai memburuk, sebenarnya ada banyak tanda lain tentang lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja.

Air yang terlihat bersih memang sering membuat manusia merasa tenang. Namun ketenangan seperti itu kadang muncul karena banyak persoalan bergerak tanpa terlihat. Yang masuk ke tubuh setiap hari belum tentu benar-benar seaman yang dibayangkan.

Mungkin karena itu, pertanyaan tentang air bersih tidak lagi cukup berhenti pada “airnya jernih atau tidak.” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah lingkungan tempat manusia hidup masih benar-benar mampu menjaga air tetap aman untuk generasi berikutnya? []