Cuaca panas melanda sejumlah wilayah Indonesia. Ketika tubuh kesulitan mendinginkan diri, kelelahan akibat panas dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.

Bandung yang selama ini dikenal memiliki udara relatif sejuk belakangan terasa semakin panas, terutama menjelang siang hingga sore hari. Berada di luar ruangan sebentar saja dapat membuat tubuh berkeringat, cepat haus, dan kehilangan kenyamanan. Bagi sebagian orang, cuaca seperti ini mungkin sekadar dianggap sebagai perubahan musim yang harus diterima.

Kondisi panas ternyata tidak hanya menjadi keluhan masyarakat Bandung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [BMKG] dalam laporan 22 Oktober 2026 mencatat suhu udara maksimum mencapai 39,2 derajat Celsius di Lampung, 39 derajat Celsius di Jawa Barat, dan 38,7 derajat Celsius di Kalimantan Selatan. Angka tersebut merupakan catatan pengamatan di wilayah provinsi, sehingga tidak dapat disamakan dengan suhu yang dialami setiap kota, termasuk Bandung.

BMKG menjelaskan bahwa minimnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah daerah berkaitan dengan pengaruh El Niño sangat kuat serta Indian Ocean Dipole positif. Keadaan tersebut dapat meningkatkan pemanasan permukaan pada siang hari, sementara prakiraan periode 23–29 Oktober masih menunjukkan potensi kondisi kering dan panas di sebagian wilayah Indonesia. Di tengah cuaca seperti ini, persoalannya bukan hanya bagaimana membuat tubuh kembali nyaman, melainkan kapan paparan panas mulai membahayakan kesehatan.

Baca Juga: Ketika Ibu Hamil Menghirup Asap Karhutla, Apa yang Terjadi pada Janinnya?

Ketika Tubuh Tidak Lagi Mampu Mengendalikan Panas

Tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menjaga suhu internal tetap stabil, antara lain melalui pelebaran pembuluh darah di kulit dan pengeluaran keringat. Ketika keringat menguap, sebagian panas tubuh ikut dilepaskan ke lingkungan. Akan tetapi, proses tersebut dapat menjadi kurang efektif ketika suhu lingkungan tinggi, kelembapan meningkat, atau seseorang terus melakukan aktivitas fisik yang menghasilkan panas tambahan.

Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] menjelaskan bahwa tekanan panas dipengaruhi kombinasi suhu, kelembapan, aliran udara, radiasi panas, pakaian, dan aktivitas tubuh. Dalam kondisi tertentu, tubuh dapat mengalami kesulitan membuang panas yang dihasilkan maupun panas yang diterima dari lingkungan. Akibatnya, kerja jantung dan ginjal ikut terbebani, sementara risiko gangguan kesehatan akibat panas meningkat.

Salah satu kondisi yang perlu dikenali adalah heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Menurut Centers for Disease Control and Prevention [CDC] Amerika Serikat, gejalanya dapat berupa sakit kepala, pusing, lemah, mual, haus berlebihan, dan banyak berkeringat. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan kehilangan cairan dan garam tubuh akibat paparan panas atau aktivitas berat, sehingga penderitanya perlu segera menghentikan aktivitas dan mendapatkan penanganan.

Keadaan yang jauh lebih berbahaya disebut heat stroke, yakni ketika kemampuan tubuh mengendalikan suhu mengalami kegagalan serius. CDC menyebut tanda yang harus diwaspadai antara lain kebingungan, bicara tidak jelas, perubahan perilaku, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Suhu tubuh dapat meningkat sangat cepat dan menyebabkan kerusakan organ, bahkan kematian, apabila pertolongan terlambat diberikan.

Ada anggapan bahwa orang yang mengalami heat stroke pasti berhenti berkeringat dan memiliki kulit sangat kering. Padahal, CDC menjelaskan bahwa kulit penderita dapat terasa panas dan kering ataupun tetap basah karena keringat, terutama apabila kondisi terjadi saat aktivitas fisik berat. Karena itu, menunggu seseorang berhenti berkeringat atau menunggu hasil pengukuran suhu tubuh sebelum mencari pertolongan justru dapat membahayakan keselamatannya.

Baca Juga: Stres Tidak Menular, tetapi Mengapa Bisa Membuat Kita Lebih Mudah Sakit?

Melindungi Tubuh dari Panas, Apa yang Sebenarnya Perlu Dilakukan?

Pencegahan gangguan kesehatan akibat panas dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang disesuaikan dengan aktivitas sehari-hari. WHO menganjurkan masyarakat mengurangi kegiatan berat pada waktu terpanas, mencari tempat teduh atau ruang yang lebih sejuk, serta minum air secara teratur sebelum rasa haus menjadi berlebihan. Pakaian yang ringan dan longgar, mandi dengan air sejuk, serta mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah juga dapat membantu menjaga kenyamanan tubuh.

Kebutuhan cairan setiap orang tidak selalu sama karena dipengaruhi ukuran tubuh, intensitas aktivitas, kondisi kesehatan, dan banyaknya keringat yang dikeluarkan. Orang yang bekerja di luar ruangan atau melakukan aktivitas fisik berat mungkin membutuhkan pengaturan waktu minum dan istirahat yang lebih sering. Sementara itu, orang dengan pembatasan cairan akibat kondisi medis tertentu sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan, bukan memaksakan jumlah minum berdasarkan saran umum.

Apabila seseorang mulai merasa pusing, mual, lemah, atau sangat lelah setelah terpapar panas, aktivitas perlu segera dihentikan. Pindahkan orang tersebut ke tempat sejuk, longgarkan pakaian, gunakan kompres atau air dingin untuk membantu pendinginan, dan berikan air minum sedikit demi sedikit apabila ia sadar penuh serta mampu menelan dengan aman. Bantuan medis diperlukan jika keluhan memburuk, disertai muntah, atau tidak membaik setelah penanganan awal.

Berbeda dari kelelahan akibat panas, dugaan heat stroke harus diperlakukan sebagai keadaan darurat medis. Segera hubungi layanan darurat atau cari bantuan medis, pindahkan penderita dari sumber panas, lepaskan pakaian berlebih, dan dinginkan tubuh secepat mungkin menggunakan air dingin atau kompres pada leher, ketiak, serta selangkangan. Perendaman air dingin dapat dilakukan jika aman dan memungkinkan, sementara orang dengan gangguan kesadaran tidak boleh dipaksa minum karena berisiko tersedak.

WHO juga mengingatkan bahwa lansia, bayi dan anak kecil, pekerja luar ruangan, serta orang dengan penyakit kronis atau penggunaan obat tertentu dapat menghadapi risiko lebih besar ketika cuaca sangat panas. Mereka mungkin membutuhkan bantuan orang lain untuk mengenali gejala, memperoleh tempat yang sejuk, atau mengurangi aktivitas. Perhatian kepada anggota keluarga, tetangga, dan rekan kerja menjadi penting karena tidak setiap orang mampu melindungi dirinya sendiri dalam situasi tersebut.

Cuaca panas memang dapat dialami siapa saja, tetapi kesempatan untuk menghindarinya tidak terbagi secara merata. Pekerja konstruksi, pengemudi, pedagang kaki lima, dan banyak pekerja lapangan lainnya sering harus tetap beraktivitas ketika suhu sedang tinggi, sementara tempat berteduh atau kesempatan beristirahat belum tentu tersedia. Karena itu, pencegahan penyakit akibat panas juga membutuhkan pengaturan jam kerja, akses air minum, serta ruang istirahat yang memadai. Mengenali tanda bahaya heat stroke merupakan langkah penting, tetapi melindungi kesehatan masyarakat juga berarti memastikan orang memiliki kesempatan untuk tidak terus-menerus dipaksa bertahan dalam panas yang membahayakan tubuh. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.