Stres bukan penyakit menular. Meski begitu, tekanan psikologis berkepanjangan dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Hubungan antara pikiran dan kesehatan fisik ternyata lebih erat daripada yang sering dibayangkan.
Seseorang mungkin mengalami sakit kepala setelah menghadapi persoalan pekerjaan, sulit tidur ketika memikirkan masalah keluarga, atau merasa kelelahan meskipun tidak banyak beraktivitas. Keluhan semacam ini sering dianggap sebagai akibat biasa dari kesibukan. Padahal, ketika tekanan berlangsung terus-menerus, tubuh dapat mengalami perubahan biologis yang turut memengaruhi cara sistem imun bekerja.
Dalam kehidupan sehari-hari, stres kerap diperlakukan sebagai persoalan yang sepenuhnya berada di dalam pikiran. Orang yang mengalaminya diminta lebih santai, berhenti memikirkan masalah, atau sekadar mengambil waktu istirahat. Saran tersebut mungkin membantu dalam keadaan tertentu, tetapi tidak menjelaskan mengapa tekanan psikologis juga dapat berkaitan dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.
Hubungan antara stres dan kekebalan tubuh telah lama menjadi perhatian penelitian psikologi kesehatan serta imunologi. Bidang yang dikenal sebagai psychoneuroimmunology mempelajari bagaimana sistem saraf, proses psikologis, hormon, dan sistem imun saling berinteraksi. Temuannya menunjukkan bahwa kondisi emosional bukan sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari proses biologis tubuh.
Baca Juga: Benarkah Walau Sudah Diangkat, Batu Ginjal Masih Bisa Datang Lagi?
Ketika Otak Merasa Terancam, Tubuh Ikut Bersiap
Ketika seseorang menghadapi ancaman, otak mengaktifkan respons stres untuk membantu tubuh beradaptasi. Sistem saraf simpatik bekerja lebih aktif, sementara jalur hormonal yang disebut hypothalamic-pituitary-adrenal axis [HPA] turut mengatur pelepasan hormon stres, termasuk kortisol. Respons tersebut membantu tubuh mengalokasikan energi dan meningkatkan kesiagaan ketika menghadapi situasi yang dianggap menantang.
Dalam jangka pendek, mekanisme ini merupakan bagian dari kemampuan tubuh mempertahankan diri. Detak jantung dapat meningkat, perhatian menjadi lebih terarah, dan sejumlah aktivitas biologis mengalami penyesuaian. Respons stres sesaat bahkan dapat meningkatkan beberapa komponen pertahanan imun, bergantung pada kondisi dan waktu terjadinya.
Persoalan muncul ketika tekanan tidak kunjung mereda. Tuntutan pekerjaan yang terus bertambah, konflik keluarga berkepanjangan, ketidakpastian ekonomi, atau perasaan terancam yang berlangsung lama dapat membuat sistem respons stres terus bekerja. Akibatnya, pengaturan hormon dan komunikasi antarsel imun berpotensi mengalami gangguan.
Kortisol memiliki peran penting dalam mengendalikan peradangan dan mengatur respons kekebalan tubuh. Akan tetapi, paparan stres kronis dapat mengubah sensitivitas sel terhadap sinyal hormonal tersebut, sehingga pengendalian peradangan tidak selalu berlangsung sebagaimana mestinya. Karena itu, pengaruh stres terhadap imunitas tidak sesederhana anggapan bahwa semakin tinggi kortisol, semakin rendah seluruh kekebalan tubuh.
Peneliti psikologi kesehatan Suzanne C. Segerstrom dan Gregory E. Miller mengulas hubungan tersebut melalui analisis terhadap lebih dari 300 penelitian empiris. Dalam kajian yang diterbitkan di Psychological Bulletin pada 2004, mereka menemukan bahwa dampak stres terhadap parameter imun berbeda menurut jenis dan lamanya tekanan. Stres kronis cenderung berkaitan dengan penekanan sejumlah ukuran respons imun, sedangkan stres akut dapat menghasilkan perubahan yang lebih beragam.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa tubuh tidak selalu merespons tekanan psikologis dengan cara yang sama. Ketegangan sebelum presentasi penting, misalnya, berbeda dari kecemasan yang berlangsung berbulan-bulan akibat persoalan keuangan. Durasi, intensitas, kondisi kesehatan, serta kemampuan seseorang menghadapi tekanan ikut memengaruhi dampak biologis yang muncul.
Baca Juga: Disebut Super Flu, Benarkah Influenza A H3N2 Subclade K Lebih Berbahaya?
Mengapa Orang yang Tertekan Bisa Lebih Mudah Terinfeksi?
Salah satu penelitian penting mengenai hubungan stres dan penyakit dilakukan oleh Sheldon Cohen bersama David A. J. Tyrrell dan Andrew P. Smith. Hasilnya diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine pada 1991 dengan judul Psychological Stress and Susceptibility to the Common Cold. Penelitian tersebut melibatkan 394 sukarelawan sehat yang dipaparkan pada virus pernapasan dalam kondisi penelitian terkontrol.
Para peneliti menemukan bahwa tingkat stres psikologis yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan mengalami infeksi dan pilek yang terkonfirmasi secara klinis. Proporsi peserta yang mengalami pilek klinis berkisar sekitar 27 persen pada kelompok dengan tingkat stres lebih rendah hingga 47 persen pada kelompok dengan tingkat stres lebih tinggi. Hasil tersebut memberikan bukti bahwa hubungan antara stres dan penyakit tidak semata-mata berasal dari perasaan seseorang bahwa dirinya sedang tidak sehat.
Meski demikian, penelitian itu tidak berarti stres dengan sendirinya dapat menyebabkan pilek. Infeksi tetap membutuhkan paparan terhadap virus, sementara kemungkinan seseorang jatuh sakit juga dipengaruhi berbagai faktor biologis dan lingkungan. Stres merupakan salah satu faktor yang dapat mengubah kerentanan tubuh, bukan pengganti penjelasan mengenai penyebab infeksi.
Pengaruh tekanan psikologis juga dapat berlangsung melalui kebiasaan sehari-hari. Orang yang sedang menghadapi persoalan berat mungkin mengalami gangguan tidur, melewatkan waktu makan, mengurangi aktivitas fisik, atau semakin sulit mempertahankan rutinitas kesehatan. Perubahan tersebut dapat memperburuk kondisi tubuh, sekaligus membuat proses pemulihan terasa lebih berat.
Ada persoalan lain yang sering luput diperhatikan, yakni kecenderungan menganggap kemampuan bertahan di bawah tekanan sebagai ukuran ketangguhan pribadi. Seseorang yang terus bekerja meskipun kelelahan dapat dipuji sebagai pekerja keras, sementara orang yang meminta waktu pemulihan dianggap kurang mampu menghadapi tantangan. Pandangan semacam ini berisiko membuat kebutuhan istirahat dan dukungan psikologis diabaikan.
Mengelola stres bukan berarti seseorang harus selalu merasa bahagia atau terbebas dari masalah. Tidur yang cukup, aktivitas fisik teratur, hubungan sosial yang mendukung, serta kesempatan beristirahat dapat membantu tubuh menghadapi tekanan. Ketika stres mulai mengganggu fungsi sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau tenaga kesehatan merupakan langkah yang masuk akal, bukan tanda ketidakmampuan.
Di sisi lain, keluhan fisik yang berulang tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat stres. Demam berkepanjangan, infeksi yang sering kambuh, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau keluhan yang semakin berat tetap membutuhkan pemeriksaan medis. Menghubungkan semua penyakit dengan kondisi psikologis justru dapat membuat penyebab kesehatan lain terlambat dikenali.
Stres memang tidak berpindah dari satu orang ke orang lain seperti virus. Akan tetapi, tekanan yang terus berlangsung dapat memengaruhi tidur, perilaku, regulasi hormon, dan respons imun seseorang. Memahami hubungan tersebut membantu kita melihat kesehatan mental dan kesehatan fisik sebagai dua bagian kehidupan yang saling berkaitan, bukan dua persoalan yang harus ditangani secara terpisah. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.