Asap kebakaran hutan tidak hanya mengancam pernapasan ibu hamil. Penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi tersebut juga berkaitan dengan risiko kesehatan janin.

Bayangkan seorang ibu hamil yang tinggal di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan [karhutla]. Setiap pagi, ia membuka pintu rumah dan mendapati udara berbau asap, sementara langit tampak kelabu meskipun matahari sudah terbit. Ia mungkin masih bisa beraktivitas tanpa mengalami batuk atau sesak napas, tetapi kekhawatiran lain muncul ketika mengingat bayi yang sedang tumbuh dalam kandungannya.

Selama ini, dampak kesehatan akibat karhutla lebih sering dibicarakan melalui peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut [ISPA], gangguan pernapasan, dan iritasi mata. Perhatian tersebut memang penting, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan risiko paparan asap terhadap kelompok rentan. Ibu hamil termasuk kelompok yang memerlukan perlindungan khusus karena kondisi kesehatan selama kehamilan turut memengaruhi lingkungan tempat janin berkembang.

Persoalannya, janin tidak harus menghirup asap secara langsung untuk berpotensi mengalami dampak dari polusi udara yang masuk ke tubuh ibunya. Perubahan biologis akibat paparan polutan dapat memengaruhi proses yang berkaitan dengan kesehatan kehamilan, termasuk fungsi plasenta. Inilah yang membuat asap karhutla perlu dipahami sebagai persoalan kesehatan ibu dan anak, bukan semata-mata gangguan kualitas udara yang akan selesai ketika langit kembali cerah.

Baca Juga: Stres Tidak Menular, tetapi Mengapa Bisa Membuat Kita Lebih Mudah Sakit?

Ketika Asap Mempengaruhi Lingkungan Pertumbuhan Janin

Asap karhutla mengandung campuran gas dan partikel berukuran sangat kecil, termasuk partikulat halus PM2,5 yang diameternya tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Partikel ini dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu berbagai respons biologis di dalam tubuh. Pada kehamilan, perhatian ilmiah tidak hanya tertuju pada paru-paru ibu, tetapi juga kemungkinan pengaruh peradangan dan stres oksidatif terhadap pembuluh darah serta fungsi plasenta.

Plasenta memiliki peran penting dalam menyalurkan oksigen dan zat gizi dari tubuh ibu kepada janin sekaligus mendukung berbagai proses biologis selama kehamilan. Gangguan terhadap fungsi organ ini berpotensi memengaruhi lingkungan tempat janin memperoleh kebutuhan untuk tumbuh. Akan tetapi, mekanisme tersebut masih terus diteliti, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap partikel asap yang dihirup ibu secara langsung mencapai janin atau pasti menyebabkan kerusakan.

Penjelasan mengenai kemungkinan mekanisme tersebut antara lain dibahas dalam penelitian yang diterbitkan jurnal Frontiers in Physiology pada 2022 dengan judul Wildfire Smoke Exposure During Pregnancy: A Review of Potential Mechanisms of Placental Toxicity, Impact on Obstetric Outcomes, and Strategies to Reduce Exposure. Kajian itu menyoroti hubungan potensial antara paparan asap, peradangan, stres oksidatif, dan perubahan fungsi pembuluh darah pada sistem ibu serta janin. Para peneliti juga menekankan bahwa bukti khusus mengenai asap kebakaran masih terbatas, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan mekanisme dan besarnya dampak.

Gambaran risiko yang lebih luas disampaikan Damien Foo bersama sejumlah peneliti melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis dalam jurnal Environmental Research pada Januari 2024. Mereka menganalisis 31 penelitian mengenai paparan asap kebakaran selama kehamilan serta berbagai hasil kesehatan ibu dan anak. Secara keseluruhan, penelitian-penelitian tersebut memberikan indikasi adanya peningkatan risiko kelahiran prematur, penurunan berat badan lahir, dan sejumlah komplikasi lainnya. Meski demikian, perbedaan metode dan karakteristik penelitian membuat sebagian hasil analisis gabungan belum dapat menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Baca Juga: Benarkah Walau Sudah Diangkat, Batu Ginjal Masih Bisa Datang Lagi?

Risiko yang Tidak Selalu Terlihat Saat Asap Masih Menyelimuti Rumah

Kelahiran prematur merupakan kondisi ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu, sedangkan berat badan lahir rendah umumnya merujuk pada bayi dengan berat kurang dari 2.500 gram. Keduanya memiliki banyak faktor risiko, mulai dari kondisi kesehatan ibu, gangguan kehamilan, hingga pengaruh lingkungan. Paparan polusi udara merupakan salah satu faktor yang diteliti, bukan penyebab tunggal yang dapat digunakan untuk menjelaskan setiap kasus.

United States Environmental Protection Agency [EPA], badan perlindungan lingkungan Amerika Serikat, juga menempatkan ibu hamil sebagai kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran. Dalam panduan Wildfire Smoke and Pregnancy, EPA menjelaskan bahwa penelitian menemukan peningkatan risiko kelahiran prematur pada perempuan yang terpapar PM2,5 dari asap kebakaran dibandingkan mereka yang tidak terpapar. Informasi tersebut menunjukkan pentingnya upaya mengurangi paparan, tanpa berarti setiap ibu yang menghirup asap akan mengalami persoalan kehamilan.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa perlindungan tidak cukup dilakukan dengan menghindari aktivitas luar rumah. Asap kebakaran dapat masuk melalui celah bangunan, pintu, jendela, atau sistem ventilasi, sehingga udara di dalam rumah pun dapat mengalami pencemaran. EPA menyarankan masyarakat terdampak untuk memantau kualitas udara, mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan, menggunakan penyaring udara yang sesuai apabila tersedia, serta menghindari aktivitas yang menambah polusi di dalam rumah.

Bagi ibu hamil, langkah perlindungan juga mencakup konsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama apabila paparan berlangsung berulang atau muncul keluhan yang mengkhawatirkan. Ketika harus keluar rumah dalam kondisi berasap, respirator yang sesuai dan terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel, meskipun penggunaannya perlu mempertimbangkan kenyamanan serta kondisi kesehatan ibu. Pemeriksaan kehamilan tetap perlu dilakukan sesuai jadwal, sementara keluhan seperti sesak berat, nyeri dada, berkurangnya gerakan janin, atau tanda persalinan prematur memerlukan pemeriksaan medis segera.

Persoalan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kemampuan melindungi diri dari asap tidak selalu dimiliki setiap keluarga. Tidak semua rumah memiliki penyaring udara, pendingin ruangan, atau konstruksi yang cukup rapat untuk membatasi masuknya polusi. Ibu hamil yang harus bekerja di luar rumah atau tinggal di wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas juga dapat menghadapi kesulitan lebih besar untuk mengurangi paparan.

Bagi seorang ibu, kehamilan sering menjadi masa ketika perhatian terhadap makanan, istirahat, dan pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan lebih cermat. Akan terasa ironis apabila semua usaha itu harus berhadapan dengan udara berbahaya yang tidak bisa dikendalikan sendiri. Ketika asap karhutla menyelimuti permukiman, perlindungan terhadap ibu hamil dan janinnya tidak semestinya berhenti pada anjuran mengenakan masker atau menutup jendela. Mereka juga membutuhkan lingkungan yang aman, informasi kualitas udara yang dapat dipercaya, dan layanan kesehatan yang siap melindungi kehidupan bahkan sebelum seorang anak dilahirkan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.