Dulu fitur Close Friends terasa personal. Orang memakainya untuk membagikan hal-hal yang tidak ingin dilihat semua orang, mulai dari curhat, foto absurd, sampai sisi hidup yang terasa lebih santai dan tidak terlalu dipoles.
Namun belakangan, banyak pengguna media sosial mulai merasakan perubahan kecil di sana. Lingkaran hijau yang dulu identik dengan kedekatan sekarang semakin sering berisi promosi produk, info open order, link affiliate, sampai jualan yang muncul hampir setiap hari.
Fenomena itu menarik karena menunjukkan bagaimana ruang personal di media sosial perlahan ikut berubah menjadi ruang ekonomi.
Awalnya mungkin terasa biasa saja. Ada teman yang mulai menjual parfum, makanan rumahan, thrift, atau jasa tertentu lewat Close Friends karena merasa lebih nyaman menawarkan ke lingkaran terdekat terlebih dahulu. Namun lama-lama, fitur yang dulu terasa intim mulai berubah menjadi etalase semi privat. Dan anehnya, banyak orang tetap membiarkan dirinya ada di dalam lingkaran itu.
Profesor komunikasi digital José van Dijck menjelaskan bahwa media sosial modern membuat batas antara hubungan personal dan aktivitas ekonomi menjadi semakin tipis. Ruang pertemanan digital perlahan berubah menjadi ruang pertukaran perhatian, citra, sekaligus transaksi. Close Friends sekarang seperti contoh kecil dari perubahan itu.
Baca Juga: Kenapa Orang Sekarang Lebih Cepat Upload daripada Menikmati Momennya?
Kedekatan Digital Mulai Punya Nilai Jual
Salah satu alasan fitur Close Friends terasa efektif untuk jualan adalah karena ada unsur kedekatan emosional di dalamnya. Ketika seseorang masuk lingkaran hijau, ada rasa bahwa dirinya ‘dipilih’ dan dianggap cukup dekat untuk melihat sesuatu yang lebih personal. Perasaan itu ternyata punya efek besar dalam cara orang menerima promosi.
Jualan di feed utama sering terasa terlalu terbuka dan kompetitif. Sementara di Close Friends, promosi terasa lebih halus karena muncul di ruang yang identik dengan pertemanan dan keseharian. Orang melihat produk sambil melihat aktivitas pribadi pemilik akun, sehingga batas antara rekomendasi personal dan strategi marketing menjadi semakin samar.
Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan budaya kerja generasi digital sekarang. Banyak orang memiliki pekerjaan sampingan, bisnis kecil, atau affiliate yang dijalankan langsung dari akun pribadinya sendiri. Akibatnya, identitas personal dan identitas ekonomi mulai bercampur terus-menerus di media sosial.
Peneliti budaya internet Brooke Erin Duffy menjelaskan bahwa era media sosial membuat kehidupan personal semakin terhubung dengan praktik monetisasi diri. Banyak pengguna tidak lagi memisahkan sepenuhnya antara relasi sosial dan aktivitas mencari penghasilan karena keduanya berlangsung di ruang digital yang sama.
Itu sebabnya sekarang tidak aneh melihat seseorang curhat pagi, sambung upload kopi sore, lalu malamnya menawarkan produk lewat Close Friends. Semua bercampur dalam satu alur keseharian digital.
Baca Juga: Sekarang Orang Lebih Takut Kehilangan HP daripada Dompet, Anda Salah Satunya?
Media Sosial Membuat Semua Orang Pelan-Pelan Jadi Brand untuk Dirinya Sendiri
Menariknya, banyak orang sebenarnya sadar bahwa mereka sedang ‘ditawari jualan’ di Close Friends. Namun dibanding iklan biasa, promosi semacam ini terasa lebih lembut karena datang dari orang yang dianggap familiar. Di situlah media sosial bekerja sangat efektif.
Internet modern membuat manusia lebih mudah percaya pada sesuatu yang terasa dekat secara personal. Karena itu sekarang rekomendasi teman, mutual, atau kreator kecil sering terasa lebih meyakinkan dibanding iklan besar yang terlalu formal.
Masalahnya, ketika semua ruang mulai bisa dimonetisasi, manusia juga perlahan kehilangan ruang yang benar-benar terasa privat.
Close Friends yang dulu dipakai untuk membagikan hal receh sekarang kadang terasa seperti mini marketplace tersembunyi. Orang masuk bukan lagi hanya untuk melihat kehidupan teman dekatnya, tetapi juga untuk melihat apa yang sedang dijual hari itu.
Namun fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Bagi banyak orang, media sosial memang menjadi cara realistis untuk bertahan hidup dan mencari tambahan penghasilan di tengah ekonomi yang semakin tidak pasti.
Mungkin itu sebabnya orang tetap bertahan di lingkaran hijau tersebut. Karena di balik jualan yang muncul diam-diam, ada kenyataan bahwa kehidupan digital modern membuat hubungan sosial dan kebutuhan ekonomi semakin sulit dipisahkan.
Dan sekarang, bahkan ruang yang dulu terasa paling personal di media sosial pun perlahan ikut berubah menjadi tempat transaksi kecil yang berjalan setiap hari. [][Eva Evilia/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.