Manusia dikenal sebagai makhluk yang mampu belajar dari pengalaman. Namun dalam banyak situasi, kesalahan yang pernah terjadi justru muncul lagi dalam bentuk yang berbeda.

Fenomena ini dapat ditemukan hampir di semua aspek kehidupan. Ada orang yang berulang kali terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, ada yang terus menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu, dan ada pula yang berkali-kali mengambil keputusan yang akhirnya menimbulkan penyesalan yang sama. Menariknya, sebagian dari mereka sebenarnya sudah memahami risiko yang mungkin terjadi.

Karena itulah, persoalannya tidak selalu sesederhana kurangnya pengalaman atau pengetahuan. Banyak kesalahan terulang bukan karena seseorang tidak tahu bahwa sesuatu itu keliru. Dalam banyak kasus, manusia justru memahami kesalahannya, tetapi tetap kembali pada pola yang pernah membawanya ke situasi serupa.

Psikologi melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang sangat manusiawi. Cara otak bekerja, pengalaman masa lalu, kebiasaan, hingga kondisi emosional dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons situasi yang dihadapinya dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Take It for Granted Bukan Soal Syukur, Tapi Soal Perhatian

Kita Jarang Mengulang Kejadian, Tapi Sering Mengulang Pola

Ketika orang berbicara tentang kesalahan yang berulang, yang biasanya terulang bukanlah peristiwa yang sama persis. Yang lebih sering terjadi adalah pengulangan pola. Situasinya mungkin berbeda, orang-orang yang terlibat mungkin berganti, tetapi cara seseorang merespons keadaan sering kali tetap serupa.

Psikolog asal Amerika Serikat, Dr. Wendy Wood, yang banyak meneliti tentang kebiasaan dan perilaku manusia, menjelaskan bahwa sebagian besar tindakan sehari-hari sebenarnya dipengaruhi oleh pola yang sudah terbentuk sebelumnya. Ketika suatu respons telah dilakukan berulang kali dalam situasi yang mirip, otak cenderung menggunakannya kembali karena dianggap lebih efisien dibanding membangun respons baru dari awal.

Itulah sebabnya seseorang dapat berulang kali terjebak dalam kebiasaan yang sama meskipun sudah mengetahui dampaknya. Pengetahuan memang penting, tetapi kebiasaan sering bekerja pada jalur yang berbeda. Ketika tekanan muncul atau kondisi tertentu kembali terjadi, manusia cenderung kembali pada pola yang paling dikenalnya.

Hal serupa juga terjadi dalam hubungan sosial. Banyak orang mengira mereka selalu bertemu dengan masalah yang sama dari orang yang berbeda. Padahal yang sering berulang bukan semata-mata karakter orang lain, melainkan pola pilihan, pola komunikasi, atau pola respons yang belum benar-benar berubah dari dalam dirinya sendiri.

Baca Juga: Kenapa Banyak Orang Takut Mengakui Kesalahan?

Menyadari Kesalahan Tidak Selalu Berarti Bisa Mengubahnya

Ada anggapan bahwa begitu seseorang menyadari kesalahannya, perubahan akan terjadi secara otomatis. Kenyataannya tidak selalu demikian. Mengetahui sesuatu dan mampu mengubahnya merupakan dua proses yang berbeda, karena perubahan perilaku sering melibatkan faktor emosional yang lebih kompleks daripada sekadar pemahaman logis.

Profesor psikologi dari Stanford University, Dr. Carol Dweck, dalam berbagai penelitiannya tentang pola pikir dan perubahan perilaku, menunjukkan bahwa manusia sering menghadapi tantangan ketika harus keluar dari pola lama yang sudah terasa akrab. Meskipun pola tersebut tidak selalu membawa hasil yang baik, otak tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang dikenal dan relatif aman dibanding ketidakpastian yang muncul dari perubahan.

Lingkungan juga memiliki peran yang besar. Seseorang mungkin ingin mengubah kebiasaan tertentu, tetapi terus berada dalam situasi yang memicu perilaku yang sama. Ketika pemicu tersebut tidak berubah, peluang munculnya kesalahan yang serupa menjadi lebih besar. Karena itu, perubahan sering membutuhkan lebih dari sekadar niat baik atau kesadaran diri.

Kesalahan yang berulang sebenarnya dapat menjadi petunjuk yang berharga. Alih-alih hanya melihat hasil akhirnya, seseorang dapat mencoba memperhatikan pola yang mendahuluinya. Dengan memahami pola tersebut, peluang untuk memutus siklus yang sama akan menjadi lebih besar dibanding sekadar berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Mungkin itulah sebabnya banyak kesalahan yang sama terus muncul dalam kehidupan manusia. Bukan karena manusia tidak mampu belajar, melainkan karena pelajaran yang paling sulit sering bukan memahami apa yang salah. Pelajaran yang paling menantang justru terletak pada keberanian untuk mengubah pola yang selama ini terasa begitu akrab. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.