Banyak orang baru menyadari nilai sesuatu setelah kehilangannya. Padahal sering masalahnya bukan kurang bersyukur, melainkan sudah terlalu lama berhenti memperhatikannya.

Hampir semua orang pernah mengalami momen semacam ini. Ada yang baru menyadari betapa berharganya kesehatan setelah tubuh mulai bermasalah. Ada yang baru merindukan kehadiran orangtua setelah rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada pula yang baru memahami arti sebuah hubungan ketika hubungan itu tidak lagi bisa dipertahankan.

Biasanya situasi seperti itu langsung dikaitkan dengan rasa syukur. Orang akan mengatakan bahwa kita kurang menghargai apa yang dimiliki. Meski tidak sepenuhnya salah, penjelasan itu sering kali terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri manusia.

Psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk terbiasa dengan hal-hal yang terus hadir dalam hidupnya. Sesuatu yang awalnya terasa istimewa perlahan berubah menjadi bagian dari rutinitas. Ketika proses itu berlangsung cukup lama, perhatian manusia mulai berpindah ke hal-hal lain yang terasa lebih baru, lebih mendesak, atau lebih menarik.

Baca Juga: Kita Semakin Sulit Diam Tanpa Membuka HP, Why?

Otak Manusia Memang Cepat Terbiasa dengan Hal Baik

Dalam dunia psikologi terdapat konsep yang dikenal sebagai hedonic adaptation. Konsep ini menjelaskan bagaimana manusia cenderung kembali ke tingkat kepuasan yang relatif sama setelah mengalami perubahan, termasuk perubahan yang menyenangkan. Sesuatu yang dulu membuat bahagia perlahan menjadi hal yang dianggap biasa karena otak sudah terbiasa dengannya.

Itulah sebabnya seseorang bisa sangat bersyukur saat pertama kali mendapatkan pekerjaan, lalu beberapa tahun kemudian lebih sering mengeluhkan pekerjaan yang sama. Hal serupa juga terjadi dalam hubungan, persahabatan, bahkan kesehatan. Ketika sesuatu hadir terus-menerus, otak mulai menganggapnya sebagai kondisi normal yang tidak lagi membutuhkan perhatian khusus.

Fenomena ini bukan berarti manusia buruk atau tidak tahu berterima kasih. Justru hal itu merupakan bagian dari cara otak bekerja agar tidak terus-menerus menghabiskan energi untuk memproses hal yang sama setiap hari. Masalahnya, mekanisme yang membantu manusia beradaptasi itu kadang membuat sesuatu yang berharga perlahan menghilang dari kesadaran.

Psikolog Sonja Lyubomirsky yang banyak meneliti tentang kebahagiaan pernah mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi terhadap berbagai kondisi hidup. Kemampuan tersebut membantu manusia bertahan dalam banyak situasi, tetapi pada saat yang sama juga membuat kita mudah berhenti menyadari hal-hal baik yang sebenarnya masih hadir di sekitar kita.

Baca Juga: Kenapa Banyak Orang Takut Mengakui Kesalahan?

Yang Paling Berharga Sering Menjadi Latar Belakang Kehidupan

Ada alasan mengapa manusia lebih mudah memperhatikan kehilangan daripada kehadiran. Kehilangan menciptakan ruang kosong yang langsung terasa. Sebaliknya, sesuatu yang terus ada sering berubah menjadi bagian dari latar belakang kehidupan yang tidak lagi menarik perhatian secara sadar.

Coba perhatikan bagaimana banyak orang memperlakukan waktu bersama keluarga. Ketika kesempatan itu masih tersedia setiap hari, keberadaannya terasa biasa. Namun ketika jarak, kesibukan, atau keadaan membuat pertemuan menjadi semakin jarang, barulah banyak orang menyadari bahwa momen-momen sederhana tersebut ternyata memiliki nilai yang sangat besar.

Hal yang sama juga berlaku pada tubuh. Selama tubuh bekerja dengan baik, banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang otomatis. Baru ketika muncul rasa sakit, gangguan kesehatan, atau keterbatasan tertentu, perhatian kembali tertuju pada sesuatu yang sebenarnya sudah menemani setiap hari tanpa banyak keluhan.

Karena itu, take it for granted sering kali bukan soal syukur yang hilang. Yang lebih sering terjadi adalah perhatian yang bergeser. Kita terlalu fokus pada hal yang belum dimiliki, sampai lupa melihat hal-hal yang selama ini diam-diam menopang kehidupan kita.

Baca Juga: Kita Makin Sering Bilang ‘Capek’, Tapi Jujurnya, Sempat Istirahat Nggak?

Menghargai Tidak Harus Menunggu Kehilangan

Banyak orang mengira penghargaan baru muncul setelah kehilangan. Padahal kehilangan bukan satu-satunya cara untuk menyadari nilai sesuatu. Ada jalan yang lebih lembut, yaitu dengan melatih perhatian terhadap apa yang masih hadir sebelum semuanya berubah.

Perhatian tidak selalu harus diwujudkan dalam tindakan besar. Kadang perhatian hadir melalui hal-hal sederhana seperti mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menjaga kesehatan sebelum sakit, meluangkan waktu untuk orang yang dicintai, atau berhenti sejenak untuk menyadari bahwa ada banyak hal yang selama ini bekerja baik dalam hidup kita.

Psikolog dan peneliti mindfulness Jon Kabat-Zinn sering menekankan pentingnya kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini. Ketika manusia benar-benar hadir dalam apa yang sedang dijalani, ia lebih mampu melihat nilai dari hal-hal yang sebelumnya terasa biasa. Kesadaran semacam itu membuat seseorang tidak harus menunggu kehilangan untuk memahami arti sebuah kehadiran.

Barangkali itulah mengapa take it for granted lebih dekat dengan persoalan perhatian daripada persoalan syukur. Sebab sesuatu yang masih mendapatkan perhatian biasanya masih memiliki tempat dalam kesadaran kita. Dan sesuatu yang tetap hadir dalam kesadaran sering kali lebih mudah dihargai sebelum terlambat disadari nilainya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.