Belakangan ini, rasa capek seperti menjadi bagian tetap dari kehidupan banyak orang. Hampir setiap hari ada saja yang bilang lelah, tapi di saat yang sama, waktu untuk benar-benar berhenti justru semakin jarang benar-benar terjadi.
Fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan modern sekarang. Banyak orang bangun pagi dengan tubuh yang belum terasa pulih, lalu menjalani hari sambil berharap cepat sampai akhir pekan. Namun ketika akhir pekan datang, energi itu tetap tidak sepenuhnya kembali.
Yang menarik, sebagian orang sebenarnya punya waktu untuk berhenti sejenak. Masalahnya, tubuh memang diam, tetapi pikiran tetap terus berjalan tanpa henti memikirkan pekerjaan, notifikasi, target hidup, dan berbagai tekanan lain yang tidak ikut tidur.
Akibatnya, banyak orang merasa sudah 'istirahat' hanya karena tidak sedang bekerja. Padahal otak dan emosi mereka tetap aktif sepanjang waktu. Kondisi itu membuat rasa lelah terasa menumpuk pelan-pelan tanpa benar-benar hilang.
Psikolog dan penulis Dr. Saundra Dalton-Smith dalam Sacred Rest [2017] menjelaskan bahwa manusia modern sering mengalami kekurangan istirahat dalam bentuk yang lebih kompleks daripada sekadar kurang tidur. Tubuh mungkin berhenti bergerak, tetapi mental dan emosi tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk pulih. Karena itu, seseorang bisa merasa sangat lelah bahkan setelah seharian terlihat tidak melakukan aktivitas berat.
Baca Juga: Orang Sekarang Capek Sedikit Langsung Bilang Burnout, Why?
Banyak Orang Sebenarnya Tidak Kekurangan Libur, Tapi Kekurangan Ruang untuk Tenang
Kehidupan digital membuat manusia semakin sulit benar-benar berhenti. Ketika pekerjaan selesai, media sosial mengambil perhatian. Saat tubuh mulai lelah, layar lain kembali menyala untuk mengisi jeda yang seharusnya bisa dipakai untuk memulihkan diri.
Lama-lama, otak terbiasa menerima stimulasi terus-menerus tanpa pernah benar-benar sunyi. Notifikasi, video pendek, percakapan digital, dan arus informasi membuat pikiran tetap aktif bahkan ketika tubuh sedang rebahan. Akibatnya, banyak orang merasa sudah santai padahal sistem sarafnya tidak pernah benar-benar melambat.
Fenomena itu membuat batas antara hiburan dan pemulihan semakin kabur. Menonton video berjam-jam memang terasa menyenangkan sesaat, tetapi belum tentu memberi ketenangan yang benar-benar dibutuhkan tubuh dan pikiran. Dalam banyak kasus, aktivitas itu justru membuat otak tetap bekerja tanpa disadari.
Psikolog Dr. Alex Soojung-Kim Pang dalam Rest: Why You Get More Done When You Work Less [2016] menjelaskan bahwa istirahat yang efektif bukan hanya menghentikan aktivitas fisik, tetapi memberi kesempatan bagi otak memulihkan fokus dan energi emosionalnya. Ketika proses pemulihan itu tidak terjadi, tubuh akan terus membawa rasa lelah yang menumpuk dari hari ke hari. Karena itu, banyak orang merasa tetap kosong meski sudah melewati akhir pekan.
Baca Juga: Kenapa Kita Merasa Tidak Pernah Cukup?
Tubuh Manusia Bisa Dipaksa Terus Jalan, Tapi Tidak Berarti Selalu Baik-Baik Saja
Ada kebiasaan baru dalam kehidupan modern yang membuat manusia merasa harus selalu produktif. Ketika terlalu lama diam, muncul rasa bersalah seolah waktu sedang terbuang percuma. Bahkan saat sedang istirahat pun, sebagian orang tetap merasa harus melakukan sesuatu agar tetap merasa berguna.
Akibatnya, istirahat perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa mewah. Banyak orang mulai menganggap tidur cukup, duduk tenang, atau menikmati waktu tanpa distraksi sebagai hal yang sulit dilakukan secara konsisten. Padahal tubuh manusia memang membutuhkan jeda agar bisa bekerja dengan sehat.
Di buku Why We Sleep [2017], Profesor Matthew Walker menjelaskan bahwa tidur dan pemulihan mental memiliki peran penting terhadap kestabilan emosi, konsentrasi, daya tahan tubuh, dan kesehatan jangka panjang. Ketika tubuh terus dipaksa berjalan tanpa pemulihan yang cukup, dampaknya bisa muncul dalam bentuk stres berkepanjangan, emosi yang lebih sensitif, dan kelelahan yang terasa semakin berat. Masalahnya, banyak orang baru sadar ketika tubuhnya mulai benar-benar menolak diajak terus berlari.
Mungkin itu sebabnya kata 'capek' sekarang terdengar semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Bukan hanya karena hidup modern memang sibuk, tetapi karena semakin banyak orang yang sudah terlalu lama bertahan tanpa benar-benar memberi dirinya ruang untuk pulih dengan utuh. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.