Istilah burnout sekarang semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Sedikit lelah kerja, malas balas chat, atau kehilangan semangat beberapa hari, semuanya cepat disebut burnout.

Fenomena ini berkembang sangat cepat terutama sejak media sosial dipenuhi pembahasan kesehatan mental. Banyak orang mulai lebih terbuka membicarakan rasa lelah emosional, tekanan pekerjaan, dan kondisi psikologis yang sebelumnya jarang dibahas secara terbuka.

Di satu sisi, hal tersebut sebenarnya membawa perubahan positif. Orang mulai sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Namun di sisi lain, istilah burnout perlahan mulai digunakan terlalu luas. Semua rasa capek terasa seperti burnout, padahal kondisi tersebut memiliki makna psikologis yang jauh lebih serius dibanding sekadar lelah biasa.

Psikolog Dr. Herbert Freudenberger, tokoh yang pertama kali memperkenalkan istilah burnout dalam bukunya Burn-Out: The High Cost of High Achievement [1980], menjelaskan bahwa burnout adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres berkepanjangan yang tidak terselesaikan. Kondisi ini biasanya muncul perlahan setelah seseorang terlalu lama berada dalam tekanan tanpa pemulihan yang cukup.

Artinya, burnout bukan sekadar rasa malas sesaat atau capek setelah hari yang panjang.

Baca Juga: Cara Mudah Berdamai dengan Diri Sendiri

Media Sosial Membuat Banyak Orang Lebih Mudah Mengenali Emosi, Tapi Juga Lebih Mudah Memberi Label

Perkembangan media sosial membuat istilah psikologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang sekarang lebih sering membaca konten tentang trauma, anxiety, toxic relationship, sampai burnout dalam bentuk video pendek dan unggahan ringan. Akibatnya, banyak istilah psikologis terasa semakin akrab dan mudah digunakan.

Namun masalahnya, informasi yang terlalu singkat sering membuat kondisi mental yang kompleks terlihat sederhana. Orang akhirnya mudah menghubungkan semua rasa lelah dengan burnout tanpa benar-benar memahami konteksnya.

Psikolog klinis Dr. Guy Winch dalam Emotional First Aid [2013] menjelaskan bahwa manusia modern semakin sadar terhadap kondisi emosinya, tetapi belum tentu memiliki pemahaman mendalam tentang cara membaca dan mengelola emosi tersebut secara tepat.

Fenomena itu terlihat cukup jelas sekarang. Ada orang yang sebenarnya hanya kurang tidur, terlalu sibuk beberapa hari, atau sedang kehilangan motivasi sementara, tetapi langsung merasa dirinya mengalami burnout berat.

Padahal rasa lelah adalah bagian normal dari kehidupan manusia. Burnout biasanya muncul lebih dalam dari itu. Ada kelelahan emosional berkepanjangan, rasa hampa, kehilangan motivasi secara terus-menerus, bahkan muncul perasaan sinis terhadap pekerjaan atau kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Lihat Harga Dulu, Baru Menilai, Kenapa Kita Sering Begitu?

Banyak Orang Memang Semakin Lelah, Tapi Tidak Semua Kelelahan Memiliki Nama yang Sama

Meski istilah burnout kadang dipakai terlalu longgar, bukan berarti rasa lelah generasi sekarang tidak nyata. Kehidupan modern memang membuat banyak orang mengalami tekanan mental lebih besar dibanding sebelumnya.

Pekerjaan terus masuk lewat ponsel, ritme hidup semakin cepat, media sosial membuat manusia terus membandingkan dirinya dengan orang lain, dan waktu istirahat sering tidak benar-benar terasa tenang.

Profesor dan penulis Dr. Emily Nagoski bersama Amelia Nagoski dalam Burnout: The Secret to Unlocking the Stress Cycle [2019] menjelaskan bahwa tubuh manusia membutuhkan pemulihan emosional yang utuh untuk menyelesaikan stres. Masalahnya, banyak orang modern terus bergerak dari satu tekanan ke tekanan lain tanpa pernah benar-benar pulih.

Karena itu, rasa lelah sekarang memang terasa semakin cepat datang. Mungkin, penting juga untuk memahami bahwa tidak semua rasa capek harus langsung diberi label burnout. Ada kalanya tubuh memang hanya meminta istirahat, tidur cukup, atau jeda kecil dari hidup yang terlalu penuh.

Sebab ketika semua kelelahan langsung dianggap burnout, manusia bisa semakin sulit membedakan antara lelah biasa yang masih wajar dengan kondisi mental serius yang benar-benar membutuhkan bantuan dan perhatian lebih dalam. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.