Bandara sekarang tidak lagi sekadar tempat transit. Banyak orang datang dengan kamera siap merekam bahkan sebelum perjalanan benar-benar dimulai.
Fenomena ini semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Area keberangkatan dipenuhi orang yang membuat story, memotret koper, merekam suasana terminal, sampai membuat video pendek dengan latar pesawat dan papan jadwal penerbangan.
Perjalanan modern perlahan berubah menjadi pengalaman visual yang ingin segera dibagikan. Bahkan bagi sebagian orang, momen di bandara terasa sama pentingnya dengan tujuan wisatanya sendiri. Tak sedikit yang mempersiapkan airport outfit, memilih sudut foto tertentu, atau datang lebih awal agar punya waktu membuat konten sebelum masuk pesawat.
Profesor budaya visual Nicholas Mirzoeff dalam How to See the World [2015] menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam budaya yang semakin visual. Pengalaman sering dianggap lebih 'nyata' ketika bisa dilihat, direkam, dan dibagikan kepada orang lain.
Hal itu membuat bandara berubah menjadi ruang simbolik baru. Bukan hanya tempat bepergian, tetapi juga tempat menunjukkan gaya hidup, mobilitas, dan pengalaman personal.
Baca Juga: Staycation Makin Ramai, karena Banyak Orang Sudah Lelah Sebelum Liburan?
Perjalanan Sekarang Tidak Hanya Dinikmati, Tapi Juga Ditampilkan
Media sosial punya pengaruh besar terhadap cara manusia memandang perjalanan hari ini. Dulu orang bepergian untuk beristirahat, bertemu keluarga, atau menikmati tempat baru.
Sekarang, perjalanan juga membawa unsur identitas sosial. Ada kesan tertentu yang muncul ketika seseorang terlihat sedang berada di bandara, naik pesawat, atau pergi ke kota lain.
Dalam Consuming Life [2007], Sosiolog Zygmunt Bauman menjelaskan bahwa masyarakat modern semakin sering mengonsumsi pengalaman sebagai bagian dari citra diri. Aktivitas sehari-hari perlahan berubah menjadi sesuatu yang juga perlu ditampilkan kepada publik.
Karena itu, perjalanan tidak lagi sepenuhnya bersifat pribadi. Banyak orang merasa pengalaman bepergian menjadi lebih 'lengkap' setelah dibagikan lewat media sosial. Fenomena ini membuat suasana bandara ikut berubah. Orang tidak hanya sibuk mengejar jadwal penerbangan, tetapi juga sibuk mendokumentasikan dirinya sendiri di tengah perjalanan.
Ada yang memotret kopi di ruang tunggu, membuat video berjalan di koridor terminal, atau merekam proses naik pesawat seperti bagian penting dari narasi hidupnya.
Di sisi lain, budaya konten juga membuat manusia semakin sulit benar-benar hadir dalam momen yang sedang dijalani. Fokus sering terpecah antara menikmati perjalanan dan memastikan semuanya terlihat menarik di layar.
Baca Juga: Travel Murah vs Mahal, Kenangan yang Dibawa Sama atau Beda?
Banyak Orang Ingin Terlihat Sedang Menjalani Hidup yang Bergerak
Bandara punya simbol tertentu dalam budaya modern. Tempat itu identik dengan mobilitas, kesibukan, dan kehidupan yang terasa dinamis.
Karena itu, berada di bandara sering memberi kesan bahwa seseorang sedang menjalani hidup yang aktif dan menarik. Media sosial memperkuat simbol tersebut lewat berbagai konten perjalanan yang terlihat estetik dan menyenangkan.
Di buku Alone Together [2011], Profesor komunikasi Sherry Turkle menjelaskan bahwa teknologi membuat manusia semakin terdorong untuk terus menunjukkan dirinya kepada dunia digital. Banyak pengalaman akhirnya dijalani bersamaan dengan kebutuhan untuk mendokumentasikannya.
Hal itu tidak selalu buruk. Banyak orang memang ingin menyimpan kenangan perjalanan mereka. Namun ketika perhatian terlalu banyak berpindah ke kamera dan layar, pengalaman langsung perlahan terasa lebih tipis.
Mungkin itu sebabnya bandara sekarang terasa lebih ramai untuk konten dibanding perjalanan itu sendiri. Bukan karena orang tidak lagi suka bepergian, tetapi karena perjalanan modern sudah ikut berubah menjadi bagian dari budaya visual dan identitas digital manusia hari ini. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.