Ada perjalanan yang direncanakan dengan detail, dari hotel, transportasi, hingga daftar tempat yang harus dikunjungi. Ada juga perjalanan yang berjalan lebih sederhana, tanpa banyak persiapan, hanya berangkat dan melihat apa yang ditemui di jalan. Keduanya sama-sama disebut perjalanan, tapi sering dinilai dengan cara yang berbeda.

Perjalanan mahal sering dianggap lebih 'lengkap'. Fasilitasnya nyaman, tempatnya terkurasi, dan pengalaman yang ditawarkan terasa lebih terjamin. Sementara perjalanan murah sering dilihat sebagai alternatif, pilihan kedua yang diambil karena keterbatasan.

Namun setelah perjalanan selesai, yang tersisa tidak selalu sesuai dengan cara kita menilainya di awal. Ada perjalanan sederhana yang justru terasa lebih dekat, dan ada perjalanan yang lebih mahal yang terasa cepat berlalu. Dari sini, muncul pertanyaan yang pelan-pelan mengendap: yang sebenarnya kita bawa pulang itu pengalaman, atau cara kita membingkainya?

Apa yang kita cari dalam perjalanan tidak selalu sama dengan apa yang kita rencanakan. Kadang, yang paling diingat justru bukan tempatnya, tapi momen kecil yang tidak masuk itinerary. Dari sana, nilai sebuah perjalanan mulai terasa lebih personal.

Baca Juga: Di Canggu, Ada yang Menemukan ‘Healing’, Ada yang Justru Ingin Pulang Karena Pusing

Ketika Perjalanan Tidak Lagi Soal Tempat

Dalam banyak cerita perjalanan, yang diceritakan bukan hanya destinasi, tapi bagaimana seseorang berada di dalamnya. Cara berjalan di kota baru, percakapan singkat dengan orang asing, atau momen ketika rencana tidak berjalan seperti yang diharapkan sering justru menjadi bagian yang paling melekat.

Perjalanan mahal memang memberi kenyamanan. Segala sesuatu terasa lebih teratur, lebih mudah, dan lebih terprediksi. Namun dalam keteraturan itu, ruang untuk kejutan sering menjadi lebih kecil.

Sebaliknya, perjalanan yang lebih sederhana sering membuka kemungkinan yang tidak direncanakan. Keterbatasan justru membuat seseorang lebih hadir, lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dari sini, pengalaman tidak selalu dibentuk oleh fasilitas, tapi oleh keterlibatan.

Psikolog Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa manusia cenderung mengingat pengalaman berdasarkan momen puncak dan akhir, bukan keseluruhan prosesnya. Dalam konteks perjalanan, ini berarti kenangan tidak selalu berkaitan dengan seberapa mahal pengalaman tersebut, tetapi seberapa kuat momen tertentu terasa.

Di titik ini, perjalanan mulai bergeser dari sekadar 'ke mana' menjadi 'bagaimana'. Dari sini pula, nilai perjalanan tidak lagi sepenuhnya bisa diukur dari biaya yang dikeluarkan.

Baca Juga: Tanah Merah, Laut Biru, dan Pegunungan Sunyi di Sekitar Selat Hormuz

Yang Dibawa Pulang Tidak Selalu Terlihat

Setelah perjalanan selesai, yang tersisa sering tidak dalam bentuk yang bisa ditunjukkan. Foto mungkin menjadi dokumentasi, tapi tidak selalu mewakili apa yang benar-benar dirasakan. Ada bagian yang tidak terlihat, tapi justru paling terasa.

Dalam banyak kasus, orang cenderung membagikan apa yang terlihat menarik. Hotel yang bagus, tempat yang estetik, atau pengalaman yang terlihat 'layak ditunjukkan' menjadi bagian yang paling sering dibagikan. Namun, tidak semua kenangan berada di sana.

Sosiolog John Urry dalam konsep tourist gaze menjelaskan bahwa cara kita melihat perjalanan sering dipengaruhi oleh apa yang dianggap menarik secara sosial. Dari sini, perjalanan tidak hanya dialami, tapi juga dilihat melalui perspektif yang sudah terbentuk sebelumnya.

Ketika perspektif itu terlalu kuat, kita mulai melihat perjalanan dari luar, bukan dari dalam. Apa yang seharusnya dirasakan, perlahan berubah menjadi sesuatu yang perlu ditampilkan.

Mungkin yang membedakan bukan perjalanan murah atau mahal. Tapi seberapa jauh kita benar-benar hadir di dalamnya. Karena pada akhirnya, yang dibawa pulang bukan hanya tempat yang pernah dikunjungi, tapi cara kita mengalami perjalanan itu sendiri. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.