Liburan dulu identik dengan bepergian jauh. Sekarang, banyak orang justru memilih tinggal di kota yang sama untuk sekadar merasa tenang sebentar.
Fenomena staycation beberapa tahun terakhir berkembang sangat cepat, terutama di kota besar. Hotel-hotel dalam kota tetap ramai meski tanpa musim liburan panjang. Banyak orang memesan kamar bukan untuk wisata besar, tetapi hanya untuk beristirahat dari rutinitas yang terasa terlalu padat.
Perubahan ini bukan sekadar tren gaya hidup. Ada kondisi psikologis yang ikut berubah dalam cara manusia modern menghadapi rasa lelah.
Psikolog klinis Dr. Saundra Dalton-Smith dalam bukunya Sacred Rest [2017] menjelaskan bahwa manusia modern mengalami berbagai jenis kelelahan sekaligus, mulai dari fisik, emosional, mental, sampai digital. Karena itu, banyak orang merasa capek bahkan sebelum benar-benar pergi berlibur.
Kondisi tersebut membuat perjalanan jauh tidak selalu terasa menarik lagi. Sebagian orang justru merasa terlalu lelah untuk menghadapi kemacetan, jadwal padat, atau perjalanan panjang yang melelahkan energi tambahan.
Baca Juga: Awalnya Cuma Liburan Biasa, Tapi Perjalanan Mengubah Cara Kita Melihat Banyak Hal
Banyak Orang Tidak Benar-Benar Mencari Liburan, Tapi Ruang untuk Berhenti
Salah satu alasan staycation terasa menenangkan adalah karena ritmenya lebih lambat. Orang tidak terlalu dikejar jadwal wisata, tidak harus berpindah tempat terus-menerus, dan punya ruang untuk benar-benar diam.
Banyak orang sekarang hidup dalam rutinitas yang hampir tidak memberi jeda. Pekerjaan bercampur dengan notifikasi, media sosial terus bergerak, dan pikiran tetap aktif bahkan saat malam hari.
Dalam The Anxious Generation [2024], profesor psikologi sosial Jonathan Haidt membahas bagaimana kehidupan digital modern membuat otak manusia sulit benar-benar tenang. Tubuh mungkin sedang diam, tetapi pikiran tetap bekerja hampir sepanjang waktu.
Karena itu, kamar hotel sederhana dengan suasana tenang kadang terasa lebih berharga dibanding perjalanan jauh yang penuh agenda. Banyak orang hanya ingin tidur lebih nyaman, bangun tanpa alarm, atau menikmati waktu tanpa tekanan pekerjaan dan rutinitas harian.
Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan cara generasi sekarang memaknai liburan. Dulu, liburan sering diukur dari seberapa jauh seseorang pergi. Sekarang, banyak orang lebih menghargai rasa tenang yang bisa didapat selama beberapa hari.
Baca Juga: Travel Murah vs Mahal, Kenangan yang Dibawa Sama atau Beda?
Staycation Menjadi Cara Baru untuk Mengembalikan Energi
Industri perjalanan ikut membaca perubahan ini dengan cepat. Banyak hotel mulai menawarkan paket staycation lengkap dengan fasilitas relaksasi, ruang kerja tenang, sampai suasana yang dirancang agar pengunjung bisa ‘memutus hubungan’ sejenak dari rutinitas luar.
Namun, di balik tren tersebut, ada hal yang cukup menarik untuk dipikirkan. Banyak orang ternyata hidup dalam kondisi lelah yang berlangsung terus-menerus sampai merasa perlu ‘kabur sebentar’ hanya untuk memulihkan tenaga.
Sosiolog Hartmut Rosa dalam bukunya Social Acceleration [2013] menjelaskan bahwa kehidupan modern bergerak semakin cepat dibanding kemampuan manusia untuk mengimbanginya. Akibatnya, banyak orang merasa selalu sibuk, bahkan ketika sebenarnya tidak sedang melakukan sesuatu yang besar.
Kondisi itu membuat jeda kecil terasa semakin penting. Tidak semua orang membutuhkan perjalanan panjang ke tempat jauh. Kadang, tubuh dan pikiran hanya membutuhkan ruang aman untuk berhenti sejenak tanpa tuntutan apa pun.
Mungkin itu sebabnya staycation terasa semakin dekat dengan kehidupan banyak orang sekarang. Bukan karena manusia modern malas bepergian, tetapi karena terlalu banyak orang yang sudah merasa lelah bahkan sebelum liburan benar-benar dimulai. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.