Liburan dulu identik dengan istirahat dan menikmati suasana baru. Sekarang, banyak orang justru pulang dengan galeri penuh foto, video, dan draft konten yang belum sempat diunggah.

Fenomena itu semakin terasa sejak media sosial menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Orang datang ke pantai sambil memikirkan angle foto, masuk kafe sambil mencari pencahayaan terbaik, dan mendaki gunung sambil memastikan momen tertentu terekam kamera. Kadang yang lebih sibuk bukan perjalanannya, melainkan dokumentasinya.

Yang menarik, banyak orang sebenarnya sadar bahwa kebiasaan itu melelahkan. Namun anehnya, dorongan untuk merekam dan mengunggah hampir semua pengalaman tetap terus dilakukan, bahkan ketika tujuan awal liburan adalah mencari ketenangan.

Liburan akhirnya tidak lagi sekadar soal pergi, tetapi juga soal menunjukkan bahwa seseorang sedang pergi.

Penulis dan pengamat budaya digital Nicholas Carr dalam The Shallows [2010] menjelaskan bahwa kehidupan digital modern membuat manusia semakin sulit benar-benar hadir dalam satu momen. Perhatian manusia terus terbagi antara mengalami sesuatu dan mendokumentasikan pengalaman tersebut untuk dilihat kembali atau dibagikan kepada orang lain. Fenomena itu terasa sangat dekat dengan budaya liburan hari ini.

Baca Juga: Bandara Sekarang Lebih Ramai Buat Konten daripada Buat Perjalanan

Banyak Orang Pergi Healing, Tapi Tetap Membawa Tekanan untuk Terlihat Bahagia

Istilah healing sekarang semakin sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Orang pergi ke tempat tenang, mencari suasana alam, atau menginap di tempat estetik dengan harapan bisa merasa lebih ringan dari rutinitas yang melelahkan.

Namun di saat yang sama, muncul tekanan baru yang sering tidak disadari. Liburan terasa belum lengkap kalau belum diunggah ke media sosial. Ada kebutuhan untuk menunjukkan bahwa seseorang sedang menikmati hidup, sedang tenang, atau sedang “baik-baik saja.”

Akibatnya, proses healing kadang berubah menjadi pertunjukan kecil yang harus terus terlihat menarik di layar.

Psikolog Dr. Pamela Rutledge pernah menjelaskan bahwa media sosial membuat manusia semakin terbiasa membangun identitas melalui apa yang mereka tampilkan secara digital. Karena itu, pengalaman pribadi sering berubah menjadi sesuatu yang terasa perlu dibagikan agar dianggap nyata atau bernilai secara sosial.

Hal itu membuat banyak orang sulit benar-benar menikmati jeda tanpa memikirkan bagaimana momen tersebut terlihat di internet.

Baca Juga: Staycation Makin Ramai, karena Banyak Orang Sudah Lelah Sebelum Liburan?

Kadang Kamera Membantu Menyimpan Kenangan, Tapi Kadang Juga Mengambil Sebagian Pengalamannya

Mendokumentasikan perjalanan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Foto dan video sering membantu manusia menyimpan kenangan yang mungkin ingin dilihat kembali beberapa tahun kemudian.

Masalahnya muncul ketika dokumentasi mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam pengalaman itu sendiri. Ada orang yang lebih sibuk mengulang pengambilan video daripada menikmati matahari terbenam yang sedang terjadi di depannya. Lama-lama, liburan terasa seperti proyek konten yang harus selesai dengan baik.

Profesor komunikasi Sherry Turkle dalam Reclaiming Conversation [2015] menjelaskan bahwa teknologi membuat manusia semakin sering mengalami dunia melalui layar. Ketika perhatian terlalu fokus pada dokumentasi digital, pengalaman langsung perlahan bisa terasa lebih dangkal karena manusia tidak benar-benar hadir sepenuhnya di dalam momen tersebut.

Mungkin itu sebabnya banyak orang pulang liburan dengan tubuh yang tetap terasa lelah. Bukan hanya karena perjalanan fisik, tetapi karena selama pergi mereka tetap membawa tekanan untuk merekam, mengedit, memilih, dan membagikan pengalaman kepada dunia digital.

Padahal mungkin tidak semua hal harus selalu dijadikan konten. Kadang ada momen yang justru terasa paling tenang ketika hanya dinikmati sendiri, tanpa kamera, tanpa unggahan, dan tanpa kebutuhan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.