Beberapa tahun terakhir, banyak tempat wisata mendadak ramai hanya dalam hitungan hari setelah videonya viral di media sosial. Sebuah air terjun kecil, pantai tersembunyi, desa estetik, sampai warung sederhana bisa tiba-tiba dipenuhi pengunjung setelah muncul di TikTok, Instagram Reels, atau video pendek para kreator perjalanan.

Awalnya fenomena itu terlihat menyenangkan. Tempat-tempat yang sebelumnya sepi akhirnya dikenal banyak orang. Warga lokal mendapat pemasukan tambahan. Pengunjung merasa menemukan destinasi baru yang belum terlalu ramai.

Namun masalahnya, internet bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan banyak tempat wisata untuk bertahan menghadapi ledakan perhatian mendadak.

Tak sedikit lokasi yang akhirnya kewalahan menghadapi lonjakan pengunjung. Sampah mulai menumpuk, alam rusak, suasana berubah terlalu padat, lalu perlahan publik kehilangan minat dan berpindah ke tempat viral berikutnya seperti tidak pernah benar-benar punya hubungan dengan lokasi sebelumnya. Fenomena itu menunjukkan bahwa budaya wisata modern sekarang tidak lagi hanya soal perjalanan, tetapi juga soal kecepatan perhatian digital.

Profesor budaya pariwisata Dr. Greg Richards menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah pola konsumsi wisata menjadi lebih cepat dan berbasis visual. Banyak orang datang ke suatu tempat bukan karena hubungan mendalam dengan lokasi tersebut, tetapi karena dorongan pengalaman digital dan keinginan menjadi bagian dari tren yang sedang berlangsung. Mungkin itu sebabnya banyak tempat wisata sekarang terasa seperti siklus yang bergerak sangat singkat: viral, ramai, rusak, lalu perlahan dilupakan.

Baca Juga: Capek Nggak Sih, Kalau Semua Tempat Kita Liburan Harus Didokumentasikan?

Banyak Orang Datang Bukan untuk Mengenal Tempatnya, Tapi Mengejar Momennya

Kalau diperhatikan, banyak destinasi viral modern sebenarnya dikunjungi dengan ritme yang sangat cepat. Orang datang, mengambil foto atau video beberapa menit, lalu segera berpindah ke titik berikutnya demi mengejar konten lain. Kadang tempatnya sendiri bahkan tidak benar-benar dinikmati.

Fenomena ini terlihat jelas di banyak kota wisata seperti Jogja, Bali, Bandung, sampai kawasan alam yang sebelumnya relatif tenang. Tempat-tempat yang mendadak viral sering mengalami lonjakan pengunjung besar dalam waktu singkat tanpa persiapan infrastruktur yang memadai. Akibatnya, ruang wisata berubah menjadi lokasi antre foto dan produksi konten digital massal.

Padahal sebuah tempat sebenarnya memiliki ritme dan kapasitas alaminya sendiri. Ketika terlalu banyak manusia datang bersamaan hanya demi mengejar momen visual, lingkungan sekitar sering tidak punya waktu cukup untuk beradaptasi.

Peneliti perilaku wisatawan Dr. Eran Ketter menjelaskan bahwa media sosial membuat pengalaman wisata semakin berorientasi pada dokumentasi dan validasi sosial. Dalam banyak kasus, aktivitas membagikan perjalanan menjadi sama pentingnya, bahkan kadang lebih penting, dibanding pengalaman menikmati tempat itu sendiri. Dan ketika perhatian publik bergerak terlalu cepat, tempat wisata perlahan berubah menjadi komoditas tren yang mudah diganti.

Baca Juga: Bandara Sekarang Lebih Ramai Buat Konten daripada Buat Perjalanan

Internet Membuat Tempat Wisata Terasa Sekali Datang Sudah Cukup

Menariknya, banyak tempat viral sekarang juga kehilangan efek ‘ingin kembali’. Orang merasa cukup datang satu kali karena yang dicari sering kali bukan hubungan emosional dengan tempat tersebut, melainkan bukti bahwa dirinya pernah ada di sana. Setelah foto diunggah dan konten selesai dibuat, destinasi itu perlahan kehilangan urgensinya.

Hal ini berbeda dengan cara orang menikmati perjalanan di masa lalu. Dulu banyak orang kembali ke tempat yang sama karena suasana, ketenangan, rasa akrab, atau pengalaman personal yang sulit dijelaskan. Sekarang, budaya digital membuat manusia terus terdorong mencari lokasi baru agar tetap relevan dalam arus konten yang bergerak cepat. Akibatnya, banyak tempat wisata modern hidup dari siklus perhatian yang pendek dan melelahkan.

Ada tempat yang mendadak penuh selama beberapa bulan, lalu sepi kembali ketika algoritma menemukan destinasi viral baru berikutnya. Sementara itu, kerusakan lingkungan, sampah, dan perubahan sosial yang tertinggal di lokasi tersebut sering tidak ikut hilang secepat perhatian internet.

Pakar komunikasi digital Dr. Zizi Papacharissi menjelaskan bahwa budaya media sosial membentuk pola konsumsi pengalaman yang sangat dipengaruhi visibilitas publik. Manusia modern semakin terdorong mengunjungi sesuatu yang sedang ramai diperlihatkan, bukan semata karena hubungan personal dengan tempat tersebut.

Mungkin itu sebabnya banyak destinasi sekarang terasa cepat sekali naik dan cepat sekali tenggelam. Karena di era perhatian digital yang terus bergerak tanpa henti, tempat wisata kadang tidak lagi diperlakukan sebagai ruang untuk mengalami sesuatu secara perlahan, melainkan sebagai bagian dari arus konten yang harus segera dikonsumsi sebelum terlambat. Dan ketika internet mulai bosan, tempat-tempat itu sering ditinggalkan begitu saja bersama keramaian yang pernah datang terlalu cepat. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.