Oleh Eva Evilia
Dua orang bisa tinggal di kota yang sama, bekerja di lingkungan yang sama, dan menjalani kehidupan yang tidak terlalu berbeda. Namun, ketika mereka membuka layar ponselnya, mereka bisa merasa sedang hidup di dunia yang sama sekali berbeda.
Yang satu melihat krisis di mana-mana. Yang lain melihat kemajuan yang tidak terbantahkan. Yang satu percaya keadaan semakin buruk, sementara yang lain merasa semuanya berjalan ke arah yang benar. Mereka hidup dalam realitas yang sama, tetapi menerima cerita yang berbeda tentang realitas tersebut.
Mungkin itulah salah satu perubahan terbesar yang terjadi dalam kehidupan modern. Dunia tak lagi hadir sebagai ruang bersama yang dilihat banyak orang secara relatif serupa. Dunia sekarang datang dalam versi yang telah dipersonalisasi untuk masing-masing individu.
Awalnya, semua itu terasa menyenangkan. Siapa yang tidak suka menerima rekomendasi yang sesuai dengan minatnya? Siapa yang tidak senang ketika media sosial, mesin pencari, atau platform digital memahami apa yang disukai dan apa yang ingin dilihat? Personalisasi terasa seperti bentuk kemajuan yang membuat hidup lebih nyaman.
Namun semakin lama, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Apa yang terjadi ketika manusia terlalu lama hidup di dalam dunia yang dirancang untuk menyenangkan dirinya sendiri?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan hari ini. Karena banyak dari kita mungkin tidak lagi melihat dunia apa adanya. Kita melihat dunia yang telah dipilihkan, disaring, dan disusun agar terasa cocok dengan keyakinan yang sudah kita miliki sebelumnya.
Dan tanpa banyak disadari, dunia yang semakin personal itu perlahan juga menjadi semakin sempit.
Baca Juga: Yang Membuat Orang Takut Bukan Kesalahannya, Tapi Cara Negara Menanggapi Suara Warganya
Kita Tidak Lagi Menemukan Dunia Secara Kebetulan
Ada masa ketika manusia menemukan sesuatu yang tidak sedang dicarinya.
Orang membeli koran dan membaca berbagai berita dalam satu halaman. Mereka menonton acara televisi yang sama dengan jutaan orang lain. Mereka masuk ke perpustakaan dan menemukan buku yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Mereka bertemu pandangan berbeda karena kehidupan memang mempertemukan manusia dengan banyak hal secara acak.
Hari ini, pengalaman seperti itu semakin jarang terjadi.
Algoritma bekerja untuk mengurangi unsur kebetulan. Setiap klik, pencarian, dan waktu yang dihabiskan di layar menjadi bahan untuk memprediksi apa yang kemungkinan besar ingin dilihat berikutnya. Sistem digital tidak dirancang untuk membuat manusia terkejut. Ia dirancang untuk membuat manusia bertahan lebih lama.
Akibatnya, semakin banyak orang hidup di lingkungan informasi yang terasa nyaman. Mereka melihat lebih banyak hal yang sesuai dengan minatnya, sesuai dengan keyakinannya, dan sesuai dengan pandangan yang sudah dimilikinya sejak awal. Dunia terasa lebih relevan, tetapi juga semakin terbatas.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam politik atau berita. Ia hadir dalam hampir semua aspek kehidupan. Musik yang didengar, film yang ditonton, produk yang dibeli, hingga cara memahami kesehatan mental dan hubungan sosial sering kali dibentuk oleh pola rekomendasi yang terus belajar dari kebiasaan kita sendiri.
Masalahnya, manusia tumbuh bukan hanya karena menerima hal yang disukainya. Manusia juga tumbuh ketika bertemu sesuatu yang berbeda. Banyak pemahaman baru lahir justru dari ketidaknyamanan, dari pertemuan dengan gagasan yang tidak sesuai harapan, atau dari percakapan dengan orang yang tidak berpikir seperti dirinya.
Ketika ruang seperti itu semakin berkurang, dunia memang terasa lebih personal. Namun pada saat yang sama, ia kehilangan sebagian keluasan yang dulu membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan.
Yang lebih menarik, banyak orang tidak merasa sedang hidup dalam ruang yang sempit. Mereka justru merasa memiliki akses informasi yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Padahal jumlah informasi yang diterima tidak selalu berbanding lurus dengan keberagaman perspektif yang ditemui.
Seseorang bisa membaca ratusan konten setiap hari dan tetap berada dalam lingkaran gagasan yang hampir sama. Ia merasa sedang menjelajahi dunia, padahal sebenarnya hanya berjalan berputar di dalam ruang yang telah disusun khusus untuk dirinya: labirin kecil dengan rolling wheel yang bikin kita tak jauh berbeda dengan hamster.
Baca Juga: Bukan Multitasking, Tapi Kita Kehilangan Bahasa untuk Mengakui Kelelahan
Ketika Semua Orang Merasa Paling Tahu
Ada konsekuensi lain dari dunia yang semakin dipersonalisasi. Semakin sering manusia menerima informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri, semakin besar kemungkinan ia merasa bahwa pandangannya adalah yang paling masuk akal. Fenomena ini terlihat di mana-mana.
Dalam politik, orang semakin sulit memahami mengapa pihak lain bisa memiliki pandangan berbeda. Dalam isu ekonomi, setiap kelompok merasa memiliki data yang membenarkan posisinya masing-masing. Dalam kesehatan, pendidikan, bahkan psikologi, semua orang dapat menemukan konten yang memperkuat apa yang sudah ingin mereka percayai sejak awal.
Media sosial mempercepat keadaan itu. Setiap orang dapat membangun lingkaran informasi yang terasa konsisten dengan dirinya. Ketika ada pendapat berbeda masuk ke dalam ruang tersebut, ia sering dianggap sebagai gangguan, bukan kesempatan untuk memahami sesuatu yang baru.
Akibatnya, masyarakat menjadi semakin mudah terpolarisasi. Bukan karena kekurangan informasi, tetapi karena terlalu banyak informasi yang sudah dipilihkan untuk memperkuat keyakinan yang ada. Dunia digital yang seharusnya mempertemukan manusia dengan berbagai perspektif justru sering membuat mereka semakin jauh satu sama lain.
Yang mengkhawatirkan, keadaan ini tidak hanya membuat dunia terasa sempit. Ia mulai terasa menghimpit.
Manusia menjadi lebih mudah marah ketika berhadapan dengan perbedaan. Mereka lebih cepat curiga terhadap kelompok lain. Mereka lebih sulit menerima bahwa persoalan sosial sering memiliki jawaban yang tidak sederhana. Kompleksitas terasa mengganggu karena dunia digital telah melatih manusia untuk melihat segala sesuatu dalam bentuk yang lebih tegas dan lebih mudah dicerna.
Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana itu. Sebagian besar persoalan besar tidak memiliki jawaban tunggal. Banyak pertanyaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama ketidakpastian. Namun ruang gema digital sering membuat manusia lupa bahwa realitas jauh lebih rumit daripada apa yang muncul di feed mereka setiap hari.
Mungkin karena itu, semakin banyak orang merasa tertekan meskipun memiliki akses informasi yang luar biasa besar. Mereka hidup di dunia yang tampak luas, tetapi sebenarnya bergerak dalam lorong-lorong yang semakin sempit. Mereka melihat banyak hal, tetapi semakin jarang bertemu sesuatu yang benar-benar berbeda. Dan ketika semua orang hidup dalam versi dunianya masing-masing, dialog jadi semakin sulit dilakukan.
Mungkin ancaman terbesar dari algoritma bukanlah bahwa ia mengetahui apa yang kita sukai. Ancaman yang jauh lebih besar adalah ketika ia perlahan membuat kita lupa bahwa dunia selalu lebih luas daripada apa yang ingin kita lihat. Ketika itu terjadi, personalisasi tak lagi sekadar membuat hidup lebih nyaman.
Ia mulai mengubah cara manusia memahami kenyataan, memperlakukan perbedaan, dan melihat sesama. Dan dalam dunia yang semakin terhubung seperti sekarang, tak banyak hal yang lebih menghimpit daripada kehilangan kemampuan untuk keluar dari ruang gema yang terus memantulkan suara kita sendiri. []
Bandung, 01 Juni 2026