Oleh Vikalena Lasmoskwa
Belakangan ini, banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi hidup dengan kepala yang tidak pernah benar-benar tenang.
Mereka tetap bekerja, tetap bercanda, tetap datang ke acara keluarga, dan tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Namun di sela-sela semua itu, ada kecemasan kecil yang terus bergerak pelan di dalam pikiran. Tentang ekonomi, pekerjaan, masa depan, kesehatan, perang, teknologi, dan dunia yang terasa semakin sulit diprediksi.
Kecemasan hari ini tidak selalu datang sebagai ledakan besar. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau kepanikan yang mudah dikenali. Kadang ia hadir sebagai rasa lelah yang sulit dijelaskan, tubuh yang tidak benar-benar rileks, dan pikiran yang terus merasa harus bersiap menghadapi sesuatu.
Mungkin karena itu, semakin banyak orang merasa sulit benar-benar beristirahat. Tubuh sedang diam, tetapi kepala tetap berjalan. Tangan berhenti bekerja, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan tagihan, pekerjaan, berita dunia, dan kemungkinan buruk yang bisa datang kapan saja.
Dunia beberapa tahun terakhir memang terasa berat dengan caranya sendiri. Harga hidup naik, pekerjaan semakin tidak stabil, perang muncul di banyak tempat, dan media sosial membuat manusia menerima kecemasan global hampir tanpa jeda. Setiap hari ada sesuatu yang terasa cukup untuk membuat orang kembali khawatir.
Masalahnya, manusia modern tidak hanya menerima informasi. Tubuh juga ikut menyerap suasana emosional dari semua yang dilihatnya setiap hari. Berita buruk yang terus muncul perlahan mengubah cara manusia memandang hidup dan masa depannya sendiri.
Ada generasi yang tumbuh dalam keadaan seperti itu hampir setiap hari. Bangun pagi melihat berita PHK, siang membaca soal perang dan ekonomi global, malam melihat orang lain terlihat sukses di media sosial. Semua bercampur menjadi tekanan emosional yang berjalan terus tanpa benar-benar memberi ruang jeda.
Yang paling melelahkan, menurut saya, adalah karena manusia tetap dituntut terlihat kuat di tengah semua itu.
Baca Juga: Ketika Semua Orang Tiba-Tiba Menjadi Ahli Kepribadian
Dunia Membuat Kita Sulit Benar-Benar Tenang
Ada sesuatu yang berubah dalam cara manusia hidup hari ini. Dulu kecemasan sering datang dari lingkungan terdekat dan hal-hal yang benar-benar disentuh sehari-hari. Sekarang manusia bisa merasa cemas karena peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Perang di negara lain bisa langsung terasa lewat harga kebutuhan pokok. Krisis ekonomi global bisa memengaruhi rasa aman seseorang terhadap pekerjaannya sendiri. Dunia digital membuat manusia hidup dalam keadaan terus terhubung dengan kegelisahan kolektif hampir sepanjang waktu.
Media sosial mempercepat semua itu dengan sangat brutal. Algoritma selalu bergerak mengikuti emosi manusia, dan emosi yang paling cepat menyebar biasanya adalah rasa takut, marah, atau panik. Akibatnya, banyak orang hidup dalam banjir informasi yang membuat tubuhnya sulit benar-benar merasa aman.
Fenomena doomscrolling menjadi bagian dari kehidupan modern tanpa banyak disadari. Orang terus membaca berita buruk bahkan ketika tahu hal itu membuat pikirannya semakin lelah. Ada dorongan aneh untuk terus memantau keadaan dunia, seolah-olah berhenti melihat layar akan membuat seseorang tertinggal dari ancaman berikutnya.
Di saat yang sama, kehidupan juga terasa semakin kompetitif. Dunia kerja berubah cepat, teknologi bergerak tanpa jeda, dan AI membuat banyak orang diam-diam takut tergantikan. Generasi sekarang hidup dengan perasaan bahwa mereka harus terus berlari hanya untuk tetap berada di tempat yang sama.
Tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang untuk hidup dalam mode siaga terus-menerus seperti itu. Pikiran membutuhkan rasa aman untuk bisa beristirahat dengan utuh. Namun dunia modern membuat manusia sulit benar-benar merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mungkin karena itu, banyak orang sekarang merasa lelah bahkan ketika tidak melakukan sesuatu yang terlalu berat secara fisik. Yang terkuras bukan hanya tenaga, tetapi kapasitas emosional untuk terus menghadapi kecemasan kecil setiap hari.
Ironisnya, kelelahan seperti itu sering tidak terlihat. Orang masih bisa bekerja, masih bisa tersenyum, dan masih terlihat produktif. Namun di dalam dirinya, ada rasa tegang yang tidak pernah benar-benar hilang.
Baca Juga: Ketika Dunia Kerja Tidak Lagi Membiarkan Orang Menjadi Satu Hal
Kita Tidak Selalu Butuh Motivasi untuk Tetap Kuat
Ada kecenderungan dalam budaya modern untuk selalu meminta manusia tetap optimistis. Ketika seseorang merasa cemas, respons yang muncul sering berupa motivasi untuk lebih kuat, lebih bersyukur, atau lebih positif menghadapi hidup. Padahal tidak semua rasa lelah bisa selesai hanya dengan kata-kata penyemangat.
Kadang manusia sebenarnya hanya ingin merasa aman sebentar. Ada kebutuhan sederhana untuk hidup tanpa rasa waswas yang terus bergerak di belakang pikiran. Namun dunia hari ini terasa terlalu bising untuk memberi ruang seperti itu.
Banyak orang akhirnya hidup dalam keadaan setengah bertahan. Mereka tidak benar-benar hancur, tetapi juga tidak merasa benar-benar tenang. Hidup berjalan, tetapi tubuh dan pikiran seperti terus berjaga menghadapi sesuatu yang tidak jelas bentuknya.
Keadaan seperti ini membuat banyak manusia sulit menikmati hidup secara utuh. Bahkan ketika sedang tertawa atau berkumpul bersama orang lain, ada bagian kecil dalam dirinya yang tetap cemas tentang masa depan. Tentang uang, pekerjaan, kesehatan, keluarga, dan dunia yang terasa semakin tidak stabil.
Mungkin karena itu, generasi hari ini terlihat lebih mudah merasa lelah dibanding sebelumnya. Bukan karena mereka lebih lemah, tetapi karena mereka hidup dalam tekanan emosional yang bergerak hampir tanpa jeda. Dunia modern membuat manusia menerima terlalu banyak kecemasan sekaligus dalam satu waktu.
Dan mungkin, yang paling dibutuhkan manusia sekarang bukan hanya motivasi untuk terus kuat. Banyak orang sebenarnya lebih membutuhkan ruang untuk bernapas tanpa merasa harus selalu siap menghadapi kemungkinan buruk berikutnya.
Karena ada saat ketika manusia tidak lelah bekerja. Mereka hanya lelah merasa cemas terus-menerus. []